Cinta Sang Maharani

Cinta Sang Maharani
Pesta Pernikahan


__ADS_3

"Jadi maksud kamu...?" Tasya mencoba menyimpulkan sesuatu dari cerita Daffa tadi.


"Pintu ajaib itu hanya bisa dilihat oleh saya. Sementara semua anak buah saya yang ada saat itu tidak bisa melihat keajaiban yang ada di pintu itu, Tasy!" Daffa menyimpulkan.


"?! Bagaimana bisa?!"


Daffa mengedikkan kedua bahu nya.


"Entahlah.. saya pun tak bisa menjelaskannya. Tapi jika memang benar begitu, berarti tak semua orang bisa berlalu-lalang melewati pintu ajaib itu," Daffa kembali menyimpulkan.


"Dan hanya orang-orang tertentu saja yang bisa melihat keajaibannya. Sementara bagi orang awam, pintu itu hanya akan terlihat seperti pintu masuk ke rumah kosong yang terbengkalai di pertengahan hutan," Tasya ikut menyimpulkan.


"Benar. Saya pikir juga begitu," Daffa menyetujui pernyataan Tasya tadi.


Selama beberapa waktu, suasana kembali menghening. Pembicaraan kembali berlanjut ketika Tasya mengemukakan rasa penasarannya atas sesuatu.


"Sayang.." panggil Tasya.


"Ya?"


"Menurut kamu, Kak Anna dan Ayah Jordan bisa melihat keajaiban dari pintu itu gak ya, seandainya mereka memang benar ke sana?" Tasya bertanya-tanya.


Daffa sesaat memikirkan jawabannya baik-baik.


"Menurut saya, jika benar Anna dan Baginda Raja Jordan pergi ke rumah itu, maka besar kemungkinan mereka sudah melewati pintu ajaib itu, Tasya Sayang. Pastilah mereka sudah kembali ke Nevarest kini."


"Begitu kah?"


"Ya.. saya pikir begitu."


"..."


"..."


"Aku ingin cepat pulang ke Nevarest, Daff.. rasanya aku sudah sangat merindukan Bunda Rani. Dan juga Kak Anna. Dan juga Ayahanda Raja.." pandangan Tasya melayang ke kejauhan. Tiba-tiba saja dua mata cokelat nan bening itu sudah mulai berembun.


Melihat istrinya yang hendak menangis, Daffa bersegera merengkuh Tasya ke dalam pelukannya.


"Hush.. sabarlah, Sayang.. setelah pesta pernikahan nanti, kita akan langsung pulang ke Nevarest. Bersabarlah sedikit lagi," Daffa mencoba tuk menghibur sang istri.


"Itu masih satu minggu lagi. Rasanya masih lama sekali.." Tasya mengeluh seraya sedikit terisak.


"Hush.. jangan sedih dong, Tasy Sayang.. ingat ada dede janin dalam kandungan mu. Kalau kamu sering nangis, gimana kalau nanti dia jadi anak yang suka nangis juga. Kamu mau kayak gitu?" Daffa menegur.

__ADS_1


Masih dalam pelukan Daffa, Tasya menggeleng pelan.


"Kalau gitu, jangan menangis lagi ya Sayang. Satu minggu itu akan cepat berlalu kok. Bukankah, kamu tadinya malah enggan untuk pulang dan ingin berlama-lama di bumi? Tapi sekarang?" Daffa menggoda sang istri.


Merasa sebal dengan godaan sang suami, Tasya mencubit pinggang Daffa dengan cukup kencang.


"Aw! Sakit, Tasy!" Serta merta Daffa melepas pelukannya pada Tasya dan mengelus-elus pinggangnya yang kesakitan. Tak tanggung-tanggung, dua pinggang di kanan dan di kiri nya jadi korban keganasan cubitan Tasya.


"Lagian kamu nya sih! Nyebelin banget tahu!" Tasya merajuk lalu langsung bangkit berdiri dan berlalu pergi.


Daffa yang masih duduk di sofa, memandang Tasya dengan pandangan nelangsa. Dalam hatinya ia membatin.


'Bumil Tasya suka nya cepat merajuk. Duh. Semoga Dede janin gak meniru sifat merajuk Mommy nya itu!' harap Daffa dalam hati.


Daffa pun bergegas bangun dan mengejar sang istri. Ternyata Tasya menuju ke dapur dan sedang mengambil sesuatu dari dalam kulkas.


Begitu sang istri berbalik, Daffa bisa melihat sekotak es krim Molan yang sedang di pegang oleh istrinya itu.


"Kamu ngapain ikut ke sini? Mau minum es?" Tanya Tasya keheranan.


"Saya.."


Daffa tak jadi melanjutkan ucapannya, kala dilihatnya Tasya tak lagi marah kepadanya.


"Huuh.. gombal!" Tepis Tasya seraya berlalu pergi dari dapur.


Tasya memanyunkan bibirnya sedikit. Sementara rona kemerahan memghiasi kedua pipinya. Daffa juga menyaksikan bola mata sang istri yang jadi lebih tampak berkilau usai menerima gombalannya itu.


Dan Daffa pun tersenyum menang.


***


Satu minggu kemudian..


Pesta pernikahan Tasya dan Daffa digelar di gedung ball room yang ada di samping gedung Zion Tech. Sepanjang jalan masuk utama hingga ke gedung ball room berjajar hiasan bunga hidup mawar putih. Dengan karpet merah yang digelar memanjang hingga menuju ball room.


Di dalam ball room, kemegahan jelas menghiasi setiap inci dalam ruangan itu. Ornamen emas dan putih menjadi tema pilihan bagi nuansa di ruangan ini. Setiap inci dari atap dan dinding ball room telah ditutupi dengan rangkaian bunga mawar putih yang asli serta hiasan pita berwarna keemasan.


Di setiap sisi dinding kanan dan kiri berjajar berbagai panganan yang mengundang selera. Entah itu menu utama, ataupun dessert, semuanya ada di atas meja sana.


Tak hanya itu saja. Yang paling memukau dari dekorasi pesta ini adalah sebuah panggung di ujung dalam ruangan. Di mana lampu-lampu kecil disusun memanjang dan bergantungan layaknya surai-surai panjang dengan warna campuran putih dan biru lembut dari atap langit.


Di atas panggung itu terdapat dua kursi singgasana yang terletak agak lebih tinggi dari lantai panggung lainnya. Pada kursi itulah kelak Tasya dan Daffa akan duduk menjamu para tamu nya.

__ADS_1


Pesta pernikahan rencananya dimulai pukul sepuluh pagi hingga tiga sore. Namun, sedari subuh, jalanan menuju gedung Zi Tech nyatanya telah padat oleh kendaraan milik awak media yang ingin meliput pernikahan megah salah satu keluarga berpengaruh di Indonesia ini.


Tak semua pihak media mendapat akses masuk untuk mengikuti pesta pernikahan ini. Hanya beberapa media besar dan berpemgaruh saja yang sengaja diundang oleh Daffa untuk meliput acara pesta pernikahannya dan Tasya.


Untuk menghindari adanya wartawan atau tamu tak diundang yang akan menyusup, di awal masuk digelarnya karpet merah, telah disiagakan puluhan petugas berseragam hitam yang akan bertugas untuk mengamankan jalannya acara.


Bahkan di beberapa sudut ball room pun terdapat petugas berseragam hitam pula yang bertugas untuk memantau situasi di dalam ruangan.


Jadi, tak ada yang akan berani melewati barisan petugas berpenampilan sangar itu. Karena hampir semuanya tahu, kalau pasukan keamanan Zion Tech bukanlah pasukan keamanan yang biasa.


Setiap tamu yang masuk diharuskan untuk menunjukkan kartu undangan yang akan melalui proses screening untuk mengetahui keaslian kartu undangan itu.


Hari senin sebelumnya Tasya telah memberikan seratus kartu undangan kepada semua teman-teman di kampus nya. Entah itu teman sekelas, teman di BEM, atau pun teman kenal di Donateli.


Semua teman sekelas Tasya itu kompak datang bersama sekitar pukul sepuluh. Hampir semuanya langsung ternganga saat menyaksikan kemegahan ball room tempat pesta pernikahan.


Beberapa pria langsung melipir ke tempat stand makanan tersaji. Sementara para wanita nya tak henti berdecak kagum saat melihat keindahan dekorasi pesta itu.


Sementara sisanya masih berkerumun dalam satu komuni sambil melirik ke arah tamu-tamu lainnya yang telah datang.


"Wah! itu bukannya artis itu ya, yang lagi kena skandal sama manajer nya sendiri?!" seru Bayu, salah satu teman sekelas Tasya.


"Hush! jangan norak ah! gak usah ngomong pake suara TOA bisa kan?! malu-malu in aja!" tegur Sera, salah satu primadona di kelas Tasya.


Bayu menyengir kuda. Menyadari kalau teguran Sera memang benar adanya. Karena beberapa tamu lain kini melihat ke arah Bayu dengan pandangan menelisik. Membuat pemuda bertubuh tambun itu jadi agak merasa malu.


Di atas panggung, dua singgasana masih tampak kosong. Hanya ada MC yang kini sedang membacakan rangkaian acara yang akan berlangsung hari itu.


Dan hampir semua tamu menatap fokus ke depan panggung.


Beberapa waktu kemudian, seorang artis yang sedang naik daun naik ke atas panggung. Para tamu pun lalu menikmati alunan lagu jazz yang dinyanyikan merdu oleh penyanyi wanita itu.


Dan acara pernikahan pun terus berlangsung dengan megah nan meriah.


Sampai akhirnya sekitar jam sebelas, Tasya dan Daffa pun muncul dan menaiki singgasana nya.


Kemunculan pasangan suami istri itu sontak saja mencuri perhatian seluruh tamu dan orang yang ada di ball room. Karena keduanya tampil sangat memesona dengan gaun dan pakaian yang mereka kenakan masing-masing.


"Waahh.. Anna.. eh, Tasya cantik banget ya.. gak dandan aja udah cantik. Eh, sekalinya dandan, ya ampun.. gue kok jadi minder ya? Dia teman sekelas kita, kan?"


Lagi-lagi Bayu berseloroh asal. Membuat beberapa kawannya mencibirnya diam-diam.


'Dasar gelo!' timpal semua kawan yang mendengar selorohan Bayu tadi, di dalam hati.

__ADS_1


***


__ADS_2