
"Allaahummaftah 'alaina futuuhal 'aarifiin.. waja'alanaa imaamal muttaqiin.. wa ja'alanaa 'ulamaa a 'aamiliin.. walaadan shoolihiin.. mahfuuzhiin.. marzuuqiin.. mukhlishiin.. mubaarokiin.. ainamaa kunnaa birohmatika yaa arhamar roohimiin.. aamiin"
Daffa menutup doa nya dengan pujian kepada Allah. Di belakangnya, Anna yang menjadi makmum ikutan mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Keduanya baru saja selesai menunaikan ibadah shalat subuh berjamaah.
Daffa kemudian berbalik dan menghadap ke Anna. Dengan otomatis Anna langsung meraih tangan Daffa untuk ia ciumi punggungnya. Begitu selesai, Anna sudah akan kembali ke posisi duduknya semula, tapi Daffa tiba-tiba menarik bahunya untuk mendekat.
Sebuah kecupan pun bersarang di kening Anna. Selama tiga detik lamanya Daffa mencium kening istrinya itu. Membuat aliran listrik yang tiba-tiba menyengat ke keseluruhan diri Anna.
Anna menikmati momen ini dalam diam. Juga penuh rasa syukur. Ia berharap bisa melalui pernikahannya dan Daffa ini dengan penuh rasa sakinah, mawaddah serta dilimpahi rahmah.
Usai mencium kening Anna, Daffa langsung memindahkan tangannya dari bahu Anna ke pinggang istrinya itu. Secara perlahan ia mengangkat tubuh Anna hingga istrinya itu berada di pangkuannya yang masih duduk bersila.
Anna yang dibuat terkejut dengan aksi Daffa hanya bisa diam dan mengikuti arahan tangan Daffa pada dirinya.
Ketika Anna sudah berada di pangkuan Daffa dengan posisi memunggungi suaminya itu, Daffa pun menarik lembut kepala Anna hingga bersandar pada dadanya. Lalu melingkarkan lengannya ke sekitar perut Anna.
"Please, Anna.. let me hug you like this for a bit (kumohon.. Biarkan saya memeluk kamu seperti ini sebentar saja)," pinta Daffa kepada Anna.
Kedua insan itu duduk berpangku seraya menatap jendela di sebelah kanan ruangan. Dari kacanya, Anna dan Daffa bisa menikmati perubahan warna pada langit yang sudah mulai kembali terang. Pertanda pagi yang kembali hadir membawa takdir yang harus mereka jemput lagi.
Sekitar tiga menit duduk dengan posisi seperti itu, Anna akhirnya merasa tak nyaman. Ia lalu sedikit bergeser ke sana dan ke sini demi mendapatkan posisi yang nyaman. Tapi Daffa lalu menegurnya.
"Just sit quietly, Anna!" tegur Daffa.
Anna langsung diam saat menerima teguran Daffa itu. Tapi kediamannya tak bertahan lama, karena sekitar satu menit kemudian Anna kembali bergerak-gerak mencari posisi duduk yang nyaman di pangkuan suaminya itu.
"Anna! Please just sit quietly, or you will wake up my.." ucapan Daffa itu terhenti tiba-tiba.
Alasan pemuda tampan itu terdiam tiba-tiba pun langsung diketahui oleh Anna di waktu yang bersamaan ketika Daffa terdiam. Karena Anna tiba-tiba saja merasakan 'sesuatu' di bawah tempatnya duduk, bergerak dan menekan anggota tubuh bagian bawahnya.
Seketika itu juga Anna diam membeku layaknya patung. Sebuah visual "makhluk besar" yang sempat dilihatnya saat bangun tidur tadi, kini kembali menjelma di pikirannya.
Membayangkan sesuatu yang sebesar 'itu' lah yang sudah mengoyak liang suci miliknya saja sudah membuat Anna meringis ngilu. Belum lagi nyeri yang diakibatkannya semalam tadi belum lah hilang.
Anna merasa tak yakin bisa melalui aksi seperti semalam tadi dalam waktu yang dekat dari sekarang.
Akhirnya Anna memutuskan untuk tak lagi bergerak di pangkuan suaminya itu. Berharap makhluk besar itu akan kembali tertidur.
Sementara itu Daffa mengecam dirinya sendiri yang sangat tak sabar untuk kembali bercin*ta dengan Anna. Ia tahu ia harus mengistirahatkan junior nya sampai Anna siap untuk menerimanya lagi.
"Ehem!" Daffa berdehem pelan. Mencoba mengalihkan suasana di antara mereka yang terasa canggung.
__ADS_1
Dengan lembut, Daffa memindahkan Anna dari pangkuannya ke lantai di hadapannya. Ia lalu beringsut mundur dan beranjak bangun. Sebelum ia benar-benar tegak berdiri, Daffa mengecup pucuk kepala Anna sekali lagi.
Setelahnya Daffa berucap, "Saya mau joging sebentar ya, Ann. Sekalian beli sarapan buat kita. Kamu mau nasi uduk yang kemarin atau apa?" Tanya Daffa seraya mengambil sesuatu di lemari.
Anna yang mengikuti pergerakan Daffa dengan kedua matanya pun asal menjawab, "apa aja oke".
"Oke. Saya mau.. err.. ganti baju dulu deh ya," ucap Daffa dengan ekspresi aneh yang sepintas berhasil Anna lihat.
"I..ya," sahut Anna masih dengan mengamati pergerakan Daffa yang langsung menghilang ke dalam kamar mandi.
Setelah Daffa masuk ke dalam kamar mandi, Anna bergumam pelan.
"Syukurlah Daffa gak jadi minta jatah. Tapi.. barusan ekspresinya aneh banget," gumam Anna.
Kemudian Anna bangun, melepaskan mukenah yang ia kenakan, dan merapihkan dua sajadah miliknya dan milik Daffa yang masih terhampar di atas lantai.
Usai merapihkan semuanya, Anna dilanda kebingungan karena sudah sepuluh menit berlalu namun Daffa tak jua keluar dari kamar mandi. Akhirnya Anna mendekati pintu kamar mandi untuk mengecek kondisi Daffa.
Tapi, belum sempat Anna memanggil suaminya itu ataupun mengetuk pintu kamar mandi nya, samar-samar Anna mendengar suara erangan Daffa dari dalam kamar mandi.
Seketika itu juga Anna berbalik dan menjauh dari pintu yang hampir diketuk nya itu. Wajah Anna pun langsung seperti kepiting rebus saat menyadari arti erangan yang di dengarnya barusan.
Anna menangkap dengar suara Daffa yang sedang melakukan aktivitas joging tangan di dalam kamar mandi.
***
Salahkan junior nya yang ingin dimanjakan lagi setelah menikmati Anna semalam tadi. Daffa tak tega untuk meminta Anna melayaninya lagi di kasur, mengingat istrinya itu pasti masih merasakan nyeri. Akhirnya, ia putuskan untuk bersolo ria di dalam kamar mandi.
Usai memanjakan Juniornya, otomatis Daffa pun harus kembali mandi junub (junub \= hadas besar). Karena setelah ini, ia harus membeli sarapan untuk Anna. Rasa-rasanya ia tak merasa betah jika harus keluar rumah dalam keadaan masih junub.
Begitu keluar dari kamar mandi, Daffa tak melihat Anna di kamar tidur. Saat pandangannya melihat kondisi kasur yang sudah rapih, Daffa kembali terbayang dengan malam panasnya bersama Anna. Dan, secara tiba-tiba saja, Junior nya menunjukkan sedikit pergerakan.
"Stop it, J. You have to hold on (berhentilah J. Kamu harus menahannya)," Daffa bergumam pelan.
Langkah Daffa kemudian mendekati kasur. Ia lalu menyadari kalau sprei nya telah diganti. Untuk sesaat ia tercenung. Lalu langkahnya ditujukannya untuk mencari Anna.
Daffa menemukan Anna di pantry. Dua buah cangkir berada di atas nampan yang kini sedang dibawa oleh istrinya itu.
Saat Daffa masuk ke pantry, Daffa merasa Anna menghindari tatapannya. Ia hanya mendengar istrinya itu berujar dengan suara pelan, "Aku buatin kopi non gula untuk kamu."
Setelah itu Daffa menghampiri Anna.
__ADS_1
"Biar saya yang bawa nampannya, ya!" tawar Daffa mengajukan diri.
Anna tak menepis tawaran Daffa ataupun berkata apa. Ia membiarkan nampan yang dipegangnya beralih tangan.
Setelahnya, Daffa membawa nampan berisi dua cangkir itu ke meja kecil di dalam kamar. Setelah meletakkan nampan di atas meja, ia bergegas menarik kursi yang akan diduduki oleh Anna sebelum istrinya itu sempat menarik kursi nya.
Baru setelah Anna duduk lah akhirnya Daffa juga ikutan duduk. Keduanya menikmati minuman pagi mereka dalam keheningan pagi.
Setelah menyesap kopi nya sedikit-sedikit, Daffa tiba-tiba saja bertanya.
"Sprei kasur, kamu ganti?" Tanya Daffa tiba-tiba.
Anna yang masih menyesap teh nya yang masih agak panas, sempat hampir tersedak angin saat mendengar pertanyaan Daffa barusan.
"Hati-hati!" Tegur Daffa yang langsung menawarkan Anna segelas air putih untuk mengurangi panas di mulutnya.
Setelah Anna meneguk air putih yang ditawarkan Daffa, barulah ia menjawab pertanyaan Daffa.
"... Iya. Aku ganti sprei nya," jawab Anna dengan kepala agak menunduk, seraya memandangi cangkir teh dalam genggaman tangannya. "Soalnya kotor. Kena noda.. semalam," ucap Anna menambahkan.
"..."
"..."
"Ehem. Sprei kotornya ada di mana? Biar saya yang bawa ke pinatu deh. Sekalian saya ke bawah cari sarapan," kembali Daffa bertanya.
Anna mengangkat pandangannya ke wajah Daffa. Merasa sedikit bingung dengan kerajinan suami nya itu yang tak biasa.
'Bukankah biasanya kami cukup menelpon, dan nanti akan ada orang pinatu yang mengambilnya ke sini? Jadi kenapa Daff mau susah payah bawa sprei kotornya ke lantai bawah? Dasar aneh!' Anna membatin dalam hati.
"Itu udah ku bungkus di dekat pintu," jawab Anna akhirnya.
"Oh.. oke. Kalau gitu saya ke bawah sebentar ya, beli uduk buat kita sarapan," ucap Daffa setelah menghabiskan kopi di cangkirnya.
"Sekalian anter sprei kotornya juga.." ucap Daffa menambahkan, seraya berdiri dari kursi yang ia duduki.
Daffa lalu memutari meja untuk mencium kening Anna. Yang langsung membuat Anna ikutan spontan mengambil tangan kanan Daffa untuk ia cium. Selepas itu, Daffa pun melangkah keluar dari kamar.
Dalam hatinya, Daffa membatin. 'Saya harus langsung mengemas sprei itu ke apartemen di Jakarta. Syukurlah Anna belum sempat mencucinya. Padahal itu kan saksi malam pertama kami..' batin Daffa bermonolog.
Pemuda itu lalu mengambil bungkusan plastik besar yang berisi sprei kasur bernoda merah. Ia merasa senang karena berhasil mengoleksi bukti kebersamaannya dengan Anna lagi. Kini, ia sudah memiliki tiga barang berharga tentangnya dan Anna.
__ADS_1
'Oh, indahnya dunia!' batin Daffa bernyanyi.
***