Cinta Sang Maharani

Cinta Sang Maharani
Hadiah dari Daffa


__ADS_3

Sekitar keesokan harinya, dunia maya dihebohkan dengan berita tentang "Anna, Andrew dan cinta yang lainnya". Kebanyakan judul berita di media on line berisi seputar topik itu.


Dari berita ini, hampir semua netizen yang membacanya, memberikan tudingan salah kepada Anna. Sehingga entah bagaimana, Anna pun jadi bahan hujatan warga se Indonesia.


Sementara itu, Anna, atau yang kita ketahui adalah Tasya, malah tak tahu menahu perihal berita tentangnya itu. Ia masih asik menikmati perhatian dari Daffa saat ini.


Usai kejadian sore kemarin, Daffa yang kaget dengan laporan petugas bayangan padanya pun sempat meminta Tasya untuk tak kuliah terlebih dahulu. Namun Tasya jelas menolaknya.


Katanya, "Aku gak salah apa-apa, Sayang.. Jadi ngapain aku ngumpet? Aku gak mau kuliah ku terganggu, cuma untuk orang-orang yang gak kukenal. Lagian kan ada dua bodyguard yang udah kamu utus untuk jagain aku. Jadi insya Allah aman lah ya!" Tutur Tasya dengan santainya.


"Ya. Tapi bagaimana kalau ada kejadian yang di luar kontrol lagi, Tasya Dear? .. Saya gak mau terjadi apapun sama kamu, Sayang.. Saya malah pinginnya kita langsung pulang aja ke Nevarest sekarang juga," ucap Daffa.


"Tapi terus kenapa kamu akhirnya memutuskan untuk stay dulu di sini? Karena Ayah Zion ya?" Tanya Tasya kembali.


"Ya.. salah satunya memang itu. Selain yang utama adalah nemenin kamu ya, Sayang. Sampai kita menemukan titik terang tentang keberadaan Ayah dan Kakak kamu, baru kita bisa pulang. Iya kan?"


Tasya memandang haru pada suaminya itu. "Makasih ya, Sayang.."


***


Dan, untuk lebih menenangkan hatinya yang cemas, Daffa pun mengatakan pada Tasya bahwa ia akan menambah personil bodyguard untuk menjaga Tasya. Hingga kini ada lima petugas bayangan yang selalu memantau dan mengekori Tasya kemana pun ia pergi.


Kemudian, di dalam mobil Bentley, Daffa tiba-tiba memberikan sepasang anting kepada Tasya saat keduanya belum berangkat menuju kampus.


"Dear, Tasya sayang.. ini adalah kado ulang tahun pertama dari saya.." ucap Daffa di dalam mobil Bentley nya.


Tasya memandang haru pada kotak kecil yang disodorkan oleh suaminya itu.


"Apa ini, Sayang?" Tanya Tasya spontan.


"Buka lah, Dear.." Daffa memberi titah.


Perlahan, Tasya lalu membuka bungkusan kado di tangannya. Dan, ia mendapati sepasang anting yang modelnya terlihat sederhana.


"Anting?"


"Ya. Sebenarnya, ini adalah hadiah kedua yang saya belikan untuk kamu. Sayangnya, hadiah pertama untuk kamu malah hilang di awal perjalanan kita honeymoon kemarin. Kamu ingat kan, waktu saya nanya ke kamu pas kita baru sampai banget di Lombok, apa ada barang-barang kamu yang hilang?"


Samar-samar, Tasya mengingat momen liburannya bersama Daffa kala itu.


"Ya.. jadi, waktu itu kamu kehilangan hadiah untukku?" tanya Anna kemudian.


Daffa lalu mengangguk pelan. "Jadi, akhirnya saya pesan lagi yang baru. Saya sengaja pesan anting yang modelnya terlihat sederhana. Biar gak menarik perhatian orang-orang jahat," papar Daffa.


"Makasih ya, Sayang!" Ucap Tasya seraya memberi pelukan pada suaminya itu.


"Dan ini, tolong terima hadiah yang kedua ini juga ya, Dear.." Daffa kembali menyodorkan sebuah kotak.


"Apalagi ini, Sayang?"

__ADS_1


"Buka saja, Tasya Dear.."


Tasya kembali membuka kotak hadiah pemberian dari Daffa. Dan, ia dibuat terkejut dengan isi dari kotak itu.


"Ponsel?"


"Ya.. Mulai saat ini, saya harap kamu memakai ponsel baru ini ya, Dear? Di dalam ponsel nya saya sudah menyertakan fitur pelacak. Jadi saya bisa tahu ke mana pun kamu berada saat ini. Untuk jaga-jaga aja ya, Sayang?" Papar Daffa panjang lebar.


Tasya lalu teringat pada kalung yang ia duga berasal dari Frans. Kalung itu masih ada di dalam tas nya kini. Ia masih belum menyampaikan dugaannya perihal tracker dalam kalung itu kepada Daffa.


'Waktunya belum lah tepat!' batin Tasya memutuskan.


"Tasy..? Kamu gak suka sama hadiah ponsel ini kah?" Panggilan dari Daffa seketika membuyarkan lamunan Tasya.


"Eh?? Aku.. aku suka kok, Sayang! Maaf ya. Aku tadi cuma teringat sama sesuatu.."


"Ingat apa, Tasya Dear?" Daffa bertanya penasaran.


"Bukan hal penting sih!" Sahut Tasya menganggap angin lalu perihal apa yang tadi ada dalam benaknya.


'Jika waktunya sudah tepat, aku akan mengatakannya langsung padamu, Daff.. Tolong bersabar sedikit lagi..' Tasya memberi suaminya itu pandangan intens. Yang dibalas oleh Daffa dengan pandangan intens pula.


Perlahan, wajah Daffa mendekati wajah Tasya. Dan.. adegan sweet moment pun kembali terjadi di bangku belakang mobil yang masih bergerak menuju kampus nya Tasya itu.


Di depan kemudi, Pak Kiman sudah bisa menebak kegiatan rutin Tuan dan Nyonya Muda nya itu di bangku belakang. Hatinya sedikit merasa iri. Karena kisah cintanya sendiri masih seperti benang kusut semrawut, yang sangat sulit tuk diurai.


***


Inginnya sih, Daffa membawa serta Tasya ke manapun ia pergi. Apalagi setelah kini ia mengetahui kalau ternyata Anna adalah tunangannya, Tasya, yang ia cari-cari hingga ia terjebak di dunia bumi ini.


Tapi Daffa tahu itu tak mungkin. Setelah mengantarkan Tasya ke kampus, ia berencana untuk kembali ke kantor bawah tanah tempat ia menahan komplotan pelaku penyerangan Ayah Zion.


Menurut anak buahnya Daffa, tahanan mereka akhirnya mau membuka suara. Tapi ia mensyaratkan hanya Daffa seorang yang bisa mendengar pengakuannya itu.


Daffa kembali memfokuskan pandangannya ke wajah Tasya. Istrinya itu kini tampak malu dan memilih untuk memandang ke luar jendela.


Daffa pun mengikuti arah pandang Tasya.


Mereka hampir tiba di depan gerbang kampus Tasya.


"Hati-hati ya, Sayang! Kalau ada apa-apa, bel saya, ok!" Ucap Daffa berpamitan.


"Kamu yang hati-hati lah, Daff, Sayang.. kamu kan yang masih harus melakukan perjalanan menuju kantor. Aku mah udah sampai di kampus!" Kilah Tasya dengan senyuman geli.


Daffa membalas senyuman Tasya. Sebelum istrinya itu keluar dari mobil, ia kembali menarik Tasya dalam pelukan erat.


Daffa lalu mencium pucuk kepala Tasya dengan sayang, sebelum akhirnya membalas ucapan Tasya kembali.


"Di manapun kamu berada, kamu harus tetap hati-hati ya, Sayang.. Bahkan kamu juga harus menjaga diri dari duri yang ada di taman kampus kamu. Saya berharap ketika saya jemput kamu sore nanti, kamu gak kurang suatu apapun! Deal?!"

__ADS_1


Tasya memandang haru pada suaminya itu.


"Ok. Deal!" ucapnya menyanggupi.


"Soal hadiah balasan untuk saya.." ucap Daffa kemudian.


"Huh?" Tasya memberi suaminya itu tatapan bingung.


"Iya. Hadiah balasan dari kamu untuk saya. Kan saya udah ngasih kamu hadiah. Jadi kamu kasih saya hadiah juga dong, Sayang!"


"Iih! Kok pamrih sih! Gak boleh loh!" Tasya memberi jawaban menggoda.


"Bolehlah kalau buat saya mah! Pokonya saya mau dapat hadiah dari kamu juga!"


Tasya tertawa pelan, mendengar permintaan konyol dari suaminya itu.


"Oke.. oke.. nanti aku kasih kamu.. donat aja ya! Tiga donat! Deal?!" Tasya bergurau.


"Jangan donat lah, Tasy! Masa anting sama handphone ku senilai sama donat sih!" Daffa seketika misah misuh, merajuk.


"Lha terus mau kamu apa, Sayang?" Tasya spontan saja bertanya.


Pertanyaan yang kemudian langsung Tasya sesali, kala ia mendengar jawaban dari Daffa berikutnya.


"Dua ronde nanti malam?"


"NO!" Tasya spontan membelalakkan matanya pada suaminya itu.


"Kenapa NO?" Daffa protes.


"Kamu tuh gak capek apa? Biasanya orang-orang tuh cuma seminggu sekali atau dua kali. Ini kamu malah minta dua kali sehari!" Tasya berbisik pelan, saat mobil yang mereka kendarai kini telah berhenti di depan gerbang kampus.


"Kamu kata siapa?"


"Aku baca.." Tasya kembali kelepasan bicara. Seketika itu juga wajahnya merona malu akibat tertangkap basah telah mengaku membaca perihal hubungan suami istri di website.


"Ooh.. kamu ternyata suka baca-baca tentang itu ya.. terus, kamu baca apalagi, Sayang? Baca tentang macam-macam posisi yang enak, gak?.." bisik Daffa di dekat telinga Tasya.


"Aiishh!! Dasar mesum!" Tasya langsung mendorong Daffa menjauh. Membuka pintu mobil, keluar , dan setengah membanting pintu mobil saat menutupnya kembali.


Namun baru juga beberapa langkah, Tasya kembali balik mendekati mobil Bentley nya Daffa.


Dengan malu-malu, ia meraih tangan Daffa melalui jendela yang telah terbuka kacanya. Dan Tasya lalu menciumi punggung tangan suaminya itu. Sambil berucap dengan suara pelan menahan malu.


"Aku kuliah ya, Sayang.." ucap singkat Tasya, sebelum kembali berbalik pergi menuju gedung perkuliahannya.


Di dalam mobil, Daffa menutup kembali kaca jendela, usai sosok Tasya menghilang dari pandangannya. Wajahnya seketika berubah serius.


"Kita ke kantor bawah tanah, sekarang!" Daffa memberi titah pada Pak Kiman.

__ADS_1


***


__ADS_2