
Di salah satu bar di kota Jakarta...
"Bagaimana kabar musang tua itu?" Tanya seorang pria muda berwajah oriental.
"Masih hidup," Jawab wanita muda yang duduk di samping pria muda tadi.
"Sial! Padahal aku sudah menusuknya sekuat tenaga. Musang tua itu masih saja tak mau mengalah ya!" Umpat kesal sang pemuda, seraya menenggak wine putih, langsung dari botolnya.
Mendengar ucapan pemuda itu, sang wanita pun mengernyit tak suka.
"Kau harus berhati-hati dengan ucapanmu, Frans!" Tegur sang wanita. "Setiap dinding memiliki telinga dan mulut yang bisa menyebarkan kata-kata mu ke mana-mana!" Tambah nasihat wanita itu.
Frans bersikap acuh. Ia kembali menenggak wine putih sekehendak hatinya. Hatinya terlanjur kesal saat mengetahui kalau Tuan besar Zion masih bisa diselamatkan setelah upaya penusukan yang telah dilakukannya.
Teringat kembali oleh Frans, kejadian di malam itu..
Flash back kejadian semalam di pesta Ultah..
"Papa mengutusku untuk meminta kebijakan yang lebih baik pada Om, terkait proyek pengamanan di Pelabuhan Angke. Jadi, bagaimana ya Om?" Tanya Frans pada Ayah Zion.
Ayah Zion mulanya hendak pergi ke kamar kecil, ketika tiba-tiba saja putra Jenderal Sihombing itu muncul dan mencegatnya. Pada akhirnya mereka berdua pun mengobrol di salah satu kamar inap tamu yang ada di lantai satu.
"Sampaikan maaf ku pada Papa mu. Perusahaan Zi Tech tak bisa memberikan pelayanan keamanan untuk sesuatu yang termasuk dalam buku hitam," sahut Ayah Zion dengan tenang.
(Buku hitam maksudnya adalah ilegal)
Frans mengepalkan kedua tangannya di samping, merasa kesal. Namun, ia teringat dengan nilai kesuksesan yang bisa diperolehnya jika ia berhasil mendapuk Tim Keamanan Zi Tech untuk proses transaksinya dengan taipan ilegal dari China.
Akhirnya Frans pun berusaha untuk menahan emosi nya.
"Kami siap untuk membayar berapapun biayanya. Tentu untuk harga yang sebanding dan layak untuk keamanan yang bisa Om berikan," Frans kembali membujuk.
"Keputusanku tetap sama. Zion Tech hanya melayani transaksi di atas kertas putih (legal/resmi). Berapapun bayarannya, aku akan selalu menjunjung tinggi integritas perusahaan ini sebagai perusahaan yang legal, profesional, dan memiliki kredibilitas yang tinggi," ucap Ayah Zion kembali.
Ayah Zion lalu berpaling dari Frans dan hendak keluar dari ruangan itu terlebih dulu. Ia merasa tak ada yang bisa diobrolkan lagi dengan pemuda di belakangnya itu.
Namun, tiba-tiba saja Frans mengambil pisau buah yang ada di atas nakas, dan menghujamkan nya ke arah Ayah Zion. Ayah Zion sempat melihat pergerakan dari Frans itu melalui cermin yang tergantung di dinding di depannya.
Namun, sayang sekaki. Pergerakannya tak cukup cepat, sehingga pisau itu masih tetap menusuk ke bagian pinggang nya. Ia lalu tersungkur jatuh, dengan kepala yang membentur meja dan akhirnya berakhir dalam posisi tengkurap, tak sadarkan diri.
Frans yang panik, langsung menghubungi seseorang yang dikenalnya yang tinggal di rumah ini. Dan, wanita yang dikenalnya itu pun mau menolongnya. Sekaligus juga membuat jebakan untuk Anna.
__ADS_1
Flash back selesai.
"Tenang lah.. Tak akan ada yang berani mengatakan apapun pada siapapun di tempat ini. Bukankah kau pemiliknya, Cantik?" Ucap Frans menganggap mudah.
"Tetap saja. Kau harus lebih bisa menjaga mulutmu itu dari berkoar-koar. Dan kurangi juga minuman mu itu untuk sementara waktu. Salah-salah kau nanti malah akan memvideokan pengakuan mu sendiri atas kejadian semalam. Jika sudah begitu, aku tak yakin bisa menolongmu lagi!" Lanjut ucap sang wanita.
Frans masih tetap acuh, tak menghiraukan nasihat teman wanita nya itu. Ia malah sengaja bergelayut manja ke sisi tubuh wanita itu. Membuat wanita di sampingnya itu seketika jijik dan berdiri.
Wanita itu merapihkan kembali penampilannya. Ia meluruskan rok kerjanya yang berwarna burgundi. Juga mengencangkan kembali kancing blazer yang ia kenakan. Bagaimana pun juga, orang-orang di mansion harus melihatnya tampak seperti orang yang baru pulang dari kerja.
Ketika wanita itu merasa penampilannya sudah kembali rapih, ia pun lalu kembali menghadap pada Frans, yang kini sudah terlihat mabuk berat. Dalam pandangan matanya, tampak jelas terlihat kejijikan saat melihat Frans yang sedang teler.
'Sampah!' umpat wanita itu di dalam hati.
Sementara kemudian wanita itu pun akhirnya malah berpamitan.
",Aku harus pulang. Aku akan memberimu kabar terkait Ayah Zion. Sementara ini, kau harus berhati-hati dsn menghindarlah dari tampil di muka umum. Kau juga harus bersiap-siap untuk mengeksekusi Paman Zion, jika sewaktu-waktu ia tersadar. Tapi aku tak mau terlibat untuk hal itu."
"Rencana tahap kedua, akan dimulai besok siang!" Ucap wanita itu kembali .
Dengan posisi kepala yang rebahan di punggung sofa yang ia duduki, serta kedua mata yang nampak tenang terpejam rapat, Frans pun kembali menyahut. "Ya.. ya.. Ya.. Tuan putri!" Sahut Frans asal.
***
Tasya berharap, ia bisa pulang kembali ke Nevarest bersama Daffa, Zizi, Ayah dan juga Kakak nya, Anna. Ia ingin sekaki melihat wajah bahagianya Bunda Rani Elva saat ia membawa Kak Anna pulang ke Nevarest.
'Pasti Bunda akan sangat senang!' pikir Tasya saat itu.
Dan selagi menunggu kabar tentang Kak Anna, Tasya juga ingin membuat perhitungan pada Frans dan juga siapapun yang sudah menjebaknya dalam insiden semalam tadi. Ia tak akan membiarkan orang lain menuduhnya melakukan sesuatu yang tak ia lakukan. Terlebih ini adalah tindak kriminal.
Sesampainya di kampus, Tasya melalui perkuliahannya seperti biasa. Syukurlah ia sudah berbaikan dengan sahabatnya Karina, semalam tadi. Jadi jari ini, ia dan Karina sudah mulai kembali berbicara seperti dulu.
Walau Tasya juga memahami, dan berusaha untuk menghindari topik terkait Daffa saat ia berbincang dengan sahabatnya itu. Agar Karina tak lagi teringat pada hatinya yang patah.
Perkuliahan di hari Selasa itu berakhir sekitar pukul tiga sore hari. Namun, begitu Tasya keluar dari lobi lantai bawah di gedung fakultas nya, tiba-tiba saja Tasya langsung dikerubungi oleh wartawan yang jumlahnya sangat banyak.
Ada sekitar belasan wartawan yang mengerubungi dan menodongi kepala Anna dengan mik atau pun alat perekam. Beberapa wartawan malah terlihat siaga dengan kamera yang tersampir di salah satu bahu mereka.
Tasya yang masih merasa penat usai perkuliahan, tak pelak akhirnya kebingungan dengan situasi yang dihadapinya itu. Ia berusaha mencari celah di antara wartawan yang mengelilinginya. Namun Tasya tak jua bisa segera terbebas.
Tasya masih bisa mendengar suara Karina yang berada di luar lingkaran wartawan dan meneriaki para wartawan itu untuk melepaskan Tasya. Namun usaha Karina juga tak membuahkan hasil.
__ADS_1
Tasya masih tetap berada dalam kurungan wartawan-wartawan itu. Beberapa pertanyaan dari wartawan yang mengelilinginya itu juga mengejutkan Tasya. Semisal pertanyaan seperti berikut ini,
'Siapa sebenarnya suami Anda? Apakah model terkenal Andrew atau pangeran perusahaan raksasa Zion Tech yang misterius?'
'Apakah Anda melakukan hubungan di luar nikah dengan seorang pria selain suami Anda?'
'Menurut sumber terpercaya, Anda diduga telah melakukan upaya pembunuhan terhadap Tuan Besar perusahaan Zi Tech. Apa alasan Anda melakukan itu?!'
Tasya sangat terkejut mendapati semua pertanyaan menuduh yang dilontarkan oleh wartawan-wartawan yang mengelilinginya itu. Ia baru bisa terbebas di saat dua pengawal bayangan yang ditugaskan Daffa membuka jalur secara paksa untuknya. Sehingga akhirnya Tasya pun bisa bergegas masuk ke dalam mobil Bentley Daffa yang sudah terparkir di gerbang depan, entah sejak kapan.
Anna lalu melihat keluar jendela, pada para wartawan yang masih berusaha mengetuk kaca jendela mobil berkali-kali. Tapi Tasya tak menggubris keberadaan para wartawan itu.
Tasya malah sibuk mencari sosok Karina. Yang, syukurlah, terlihat baik-baik saja, tak jauh di belakang para wartawan itu.
Tasya langsung menelpon sahabatnya itu. Dan dari kaca jendela, Tasya melihat Karina mengambil ponselnya dsri dalam saku.
Klik.
"Assalamu'alaikum.. Rin! Maaf ya soak tadi. Aku gak tahu banget bakal ada wartawan yang masih nekat untuk datangin aku lagi.." ucap Tasya seketika saat jaringan telepon tersambung.
"Ya, Anna. Gak apa-apa.. Tapi kamu oke kan?" Tanya Karina merasa cemas.
(Karina memang belum mengetahui identitas Anna yang sebenarnya adalah Tasya. Karena Tasya belum menceritakan juga perihal Nevarest.)
"Iya. Aku oke kok.. kamu juga kan, Rin?" Tanya balik Tasya pada Karina.
"Aku baik kok.. tadi itu kenapa ya?" Tanya Karina tak mengerti.
"Iya. Aku juga gak tahu.. eh, maaf Rin. Ada panggilan masuk dari.." Tasya menggantungkan kalimatnya.
Hampir saja Tasya terlupa dsn menyebut nama Daffa. Meski begitu, Karina nampaknya sudah mengetahui siapa yang hendak Tasya sebut namanya. Dan ia pun tiba-tiba merasa canggung dan buru-buru memutuskan telepon.
"Oh! Ok.. kalau gitu aku tutup ya, Ann.. bye!" Pamit Karina terburu-buru.
Masih dengan perasaan yang tak enak pada sahabatnya itu, Tasya menatap kosong pada tampilan nama Daffa di layar ponsel nya.
Setelah sedetik dalam keraguan, Tasya oun akhirnya mengangkat panggilan dari suaminya itu.
Klik.
"Assalamu'alaikum.. halo, Daff.. sayang.."
__ADS_1
***