
"Seperti yang sudah saya katakan, saya berasal dari negeri yang tak ada di bumi ini. Saya juga tak bisa menjelaskan dengan pasti di mana sebenarnya Nevarest itu berada. Karena saya ke dunia ini pun secara tak sengaja," tutur Daffa mengawali.
"Kamu.. beneran serius, Daff? Kamu gak lagi nge prank aku kan?" Tanya Anna kembali. Ia masih sulit mempercayai ucapan Daffa tentang Nevarest itu.
Dengan tatapan kukuh, Daffa menjawab pasti. "Ya, Anna. Saya serius soal ini," aku Daffa.
"Apa mungkin itu ada di luar negeri?" Anna menerka. Yang langsung dijawab Daffa dengan gelengan kepala.
"Bumi kan luas banget, Daff. Mungkin negara kamu itu ada di pulau terpencil entah di mana?" Anna mencoba menerka lagi.
Dan Daffa menghembuskan napasnya pelan. "Entahlah. Mungkin. Bisa jadi.. saya gak tahu juga, Anna. Tapi, sekali pun Nevarest benar berada di bumi ini. Saya yakin jika peradaban Nevarest dan negara-negara yang ada di dunia saat ini sangat berbeda," jelas Daffa.
"Maksud kamu, Daff?"
"Kebanyakan negara saat ini sistem pemerintahannya parlementer atau presidensial. Sangat sedikit yang masih memakai sistem monarki. Dan Nevarest, serta negeri-negeri tetangganya di dunia asal saya termasuk negara yang memakai sistem monarki," papar Daffa.
"Selain itu, ketika saya melihat peta dunia ini untuk pertama kalinya, saya menyadari sesuatu yang sangat penting. Melalui peta dunia ini, saya mendapati kalau di dunia ini terdapat 241 negara dan teritori yang tersebar di enam benua yang berbeda. Sementara di dunia asal saya, Nevarest adalah satu dari empat negeri besar yang ada di dunia. Ketiga negeri lainnya adalah negeri Goluth, Enmar, dan juga Allain. Selain empat negeri besar itu, tak ada negeri yang lain,"
"Tapi bahasa yang kita gunakan sama? Atau.. apa kamu baru mempelajari bahasa dunia ini?" Tukas Anna kembali melempar tanya.
"Tentang bahasa, saya juga bingung. Karena bahasa Nevarest anehnya memiliki kemiripan dengan bahasa Melayu. Saya juga pernah belajar ke negeri Enmar, dan bahasanya mirip seperti bahasa Latin Inggris. Dan seorang teman belajar saya berasal dari negeri Allain, dan dia pernah beberapa kali menggumamkan kalimat yang ketika saya bandingkan dengan bahasa di dunia ini, teramat mirip dengan bahasa Arab," tutur Daffa menjelaskan.
"Kok bisa gitu ya?" Anna menunjukkan keheranannya pada Daffa. Yang dijawab gelengan kepala oleh suaminya itu.
"Lalu, bagaimana dengan negeri satunya lagi? Bahasa nya mirip dengan bahasa apa di dunia ini?" Tanya Anna kembali. Ia mulai tertarik dengan kisahnya Daffa terkait negeri asalnya itu.
"Goluth? Saya tak tahu. Negeri itu adalah negeri yang paling tertutup dibandingkan negeri lainnya. Hampir tak ada pelajar dari Nevarest yang kembali pulang setelah berkelana atau berdagang ke area Goluth. Menurut desas-desus, negeri Goluth membangun sebuah kekuatan mega di suatu wilayah terpencil di salah satu pegunungan es yang ada di sana. Kekuatan mega itu diduga akan digunakannya untuk melakukan invasi (penyerangan) ke tiga negeri lainnya."
"Maksudnya, Goluth mau nyerang dan nguasain tiga negeri lainnya, gitu? Itu rencana peperangan namanya!" Potong Anna berapi-api.
__ADS_1
Daffa mengangguk sekali, sebelum melanjutkan ceritanya lagi.
"Itu baru desas-desus. Tak ada yang tahu pasti dengan apa yang dipikirkan oleh raja Goluth. Tapi memang, hanya negeri Goluth saja yang tak ikut menandatangani perjanjian damai Pizlof enMuah. Perjanjian itu adalah perjanjian yang mengikat negeri-negeri yang menandatanganinya untuk tidak mengganggu otoritas negeri lainnya dan menjunjung tinggi kedamaian di dunia."
Sampai sini, Daffa berhenti sejenak. Merasa haus, Ia lalu menenggak separo isi gelas di hadapannya.
"Ceritakan tentang negeri asal kamu, Daff. Bagaimana dengan kebudayaannya? Orang-orangnya? Juga bagaimana kamu bisa datang ke sini? Ke dunia ini?" Tanya Anna lagi. Ia sedikit mulai mempercayai cerita Daffa. Pikirnya, Daffa tak mungkin mengarang cerita serumit itu jika hanga untuk mencandainya.
"Saya berasal dari negeri Nevarest. Negeri paling subur sumber daya alam nya, dibandingkan tiga negeri lainnya. Jika Goluth berdiri di atas pegunungan-pegunungan es yang dingin. Allain adalah negeri pasir. Dan Enmar negeri yang terkenal dengan batu-batuan mulianya. Nevarest membanggakan diri sebagai negeri yang paling melimpah keanekaragaman hayati nya."
"Ketiga negeri lain amat tergantung dengan eksport hasil perkebunan Nevarest. Mirip seperti negara Indonesia, saya rasa. Tapi negeri Nevarest tidak se bising di sini."
"Maksudnya?" Tukas Anna tak mengerti.
"Di Nevarest, kamu bisa menghitung jumlah mobil yang terlihat di sepanjang jalan besarnya. Mendiang raja sebelumnya telah menetapkan Okre yang sangat tinggi untuk setiap pemilik mobil, sehingga hanya beberapa dari menteri yang kaya serta keluarga kerajaan saja yang memiliki mobil. Sementara yang lain, umumnya memakai Kuter, kalau di sini, mirip seperti skuter."
"Dan apa itu Okre?" Tanya Anna kembali.
"Okre itu seperti pajak, mungkin. Ada sedikit barang-barang di Nevarest yang dikenakan pajak. Setahu saya, hanya mobil, kepemilikan tanah yang melebihi 10 acre (1 acre \= 4000 meter persegi), serta semua batu mulia yang termasuk golongan A-grade saja yang dikenakan Okre."
"Jika berbentuk monarki, berarti pemilihan raja berdasarkan garis keturunan ya?" Tanya Anna tiba-tiba.
"Ya. Putri Tasya adalah pewaris tunggal di negeri Nevarest, sebelum ia akhirnya dinyatakan menghilang," jawab Daffa.
"Tasya itu.. maksudku, putri Tasya itu kamu bilang adalah tunangan mu?" Tanya Anna dengan nada hati-hati.
Tiba-tiba Daffa memandang ke samping kanan. Pandangannya menembus kaca jendela yang kini menampilkan warna senja yang ke merah-merahan. Pertanda hari yang hendak berganti malam.
Setelah mengambil jeda selama beberapa saat, Daffa pun menjawab pertanyaan dari Anna.
__ADS_1
"Ya. Dulu kami telah terikat janji suci Lovarina di altar suci. Itu mirip seperti pertunangan di dunia ini. Sekitar lima tahun lalu, ketika saya masih berguru di kota Benhill, pusat negeri Enmar, saya mendapat surat yang mengabarkan kalau Putri Tasya telah menghilang."
"..."
"Saya memutuskan untuk pulang saat itu juga. Dan ketika saya tiba di Nevarest, saya mendengar laporan dari pengawal pribadi saya kalau Tasya menghilang pergi ke sebuah menara yang terasing. Maka diam-diam saya mengelabui keluarga saya dan pergi ke menara asing itu. Di lantai teratas yang ada di menara itulah saya melihat sebuah pintu berdiri tanpa tiang penyangga."
"Karena rasa penasaran, saya pun membuka pintu itu dan mendapati sebuah ruangan lain. Ruangan itu mirip seperti halaman yang sangat luas. Menurut saya, keberadaan halaman terbuka di balik pintu itu sungguhlah aneh. Karena pintu itu kan berada di lantai menara yang paling atas. Jadi bagaimana bisa pintu itu menghubungkan menara tertinggi ke halaman luas secara langsung?"
"Akhirnya karena rasa penasaran, saya pun mengambil langkah dan melewati pintu aneh itu. Dan, saya dibuat terkejut, karena halaman yang saya jejaki saat itu benar-benar seperti halaman, atau mungkin lapangan. Entahlah. Saya juga bingung untuk menjelaskannya, Anna."
Daffa mengambil jeda sejenak, dengan masih menatap senja melalui kaca jendela.
"Kemudian di kejauhan saya melihat kembali pintu-pintu serupa pintu aneh yang baru saja saya lewati. Pintu yang berdiri sendiri tanpa tiang penyangga. Ada enam pintu yang seperti itu. Dan saya pun mendekati salah satunya yang paling menarik di mata saya, dan melewati pintu yang kedua. Hingga saya tahu-tahu sudah berada di rumah terbengkalai di tengah hutan."
"Dengan perasaan linglung, saya terus berjalan sambil memanggil nama Tasya. Saya takut jika Tasya menghilang dan tersesat di hutan itu. Pikiran saya selalu terfokus mencarinya. Sampai saya tak menyadari keberadaan babi hutan di dekat saya."
"Babi itu menerjang saya tanpa ampun. Dan saya tak bisa memberikan perlawanan oleh sebab serangan tiba-tiba dari babi hutan itu. Ketika babi itu sudah pergi, saya sudah terluka cukup parah. Tapi saya tetap melanjutkan langkah dan akhirnya tiba di pinggir hutan. Di tempat itulah saya akhirnya diselamatkan oleh Ayah Zion."
"..."
"..."
Selama beberapa saat, keheningan merangkul dua insan itu. Daffa yang terfokus melihat senja melalui kaca. Dan Anna yang terfokus memperhatikan wajah Daffa. Keduanya menikmati keheningan yang ada. Dengan Anna yang berusaha mencerna kisah yang baru saja dituturkan oleh suaminya itu.
Hingga tak lama kemudian terdengarlah panggilan adzan yang saling bersahutan di seantero pulau Gili Trawangan.
"Allahu Akbar! Allahu Akbar!"
***
__ADS_1