
~Laa taghdhab, wa lakal jannah..
Jangan lah marah, maka bagimu syurga..~
***
Sekitar dua menit kemudian, pintu ruangan kembali terbuka. Kali ini Jason lah yang datang dan mendekati Anna.
Melihat kepala wanita itu tertelungkup di pangkuannya, Jason tahu kalau Anna sedang menangis. Ia merasa bersalah telah menyebabkan pertengkaran di antara Daffa dan Anna.
Walau ini baru pertama kalinya ia bertemu dengan Anna, tapi entah kenapa Jason sudah merasakan iba pada wanita berpenampilan polos itu.
Perlahan Jason mendekati Anna lalu duduk di sofa samping Anna duduk. Sesekali isakan kecil terdengar keluar dari mulut Anna. Membuat Jason jadi kian merasa bersalah.
Jason lalu menepuk pelan pundak Anna berkali-kali. Ia tak menyuruh Anna untuk berhenti menangis.
Justru Jason berharap Anna bisa merasa lebih baik usai melampiaskan tangisnya. Karena menurut pemahamannya, seorang wanita akan kembali tegar usai ia melampiaskan tangisnya.
Menurut Jason, pada dasarnya wanita adalah makhluk terkuat dibanding lelaki manapun. Seorang wanita selalu tahu caranya untuk bangkit, meski dunia menjatuhkannya. Wanita selalu mampu berdiri tegap, meski dunia mengucilkannya.
Dan seorang wanita akan selalu bisa menemukan kembali senyumannya, walau ia didera oleh derita seberat apapun.
"Anna.. ay minta maaf kalau ucapan ay dah buat you dan Uda Daffa bertengkar. Ay tak bermaksud buat kekacauan ini. Sungguh.." sesal Jason.
Anna masih diam dalam tangisnya. Dalam hatinya bergumul pikiran-pikiran terkait kejadian yang dihadapinya beberapa hari terakhir ini.
Pernikahan dengan Daffa ini terlalu cepat baginya. Ia masih merasa ragu untuk melanjutkan pernikahan ini sebenarnya. Tapi mendengar pengakuan dari Dodi, Anna merasa dunianya dihimpit dari segala sisi.
Di satu sisi ia masih gamang dengan Daffa. Ia tak mengenal pemuda itu. Di mana rumah pemuda itu dan siapa keluarganya pun Anna tak tahu. Jadi bagaimana ia bisa merasa tenang dengan rencana pernikahan ini?
Tapi keadaan memaksanya untuk mengambil pilihan secepat mungkin. Ia juga tak akan mau bersanding dengan Frans. Ia tak mau melalui masa-masa pernikahan dengan pemuda breng*ek itu.
Membayangkan hidup menua bersama Frans saja sudah membuat Anna ngeri. Apalagi jika itu benar akan terjadi. Anna mengenal beberapa wanita korban kebreng*ekan lelaki itu. Jadi bagaimana Anna bisa menutup mata dari semua hal buruk yang ada pada Frans?
__ADS_1
"Anna. You dapat jaminan dari ay kalau Daffa adalah pria yang baik. Uda memang sedikit angkuh dan menyebalkan. Tapi walau sekalipun juga ay tak pernah mendengar ataupun melihat uda merendahkan perempuan. Dia lelaki yang serius sama ucapannya," Suara Jason kembali terdengar di dekat Anna.
"Tentang Elma. Dia jelas bukan siapa-siapanya uda. Gadis itu memang berkali-kali menyatakan cintanya pada uda, tapi uda selalu menolaknya dengan tegas. Uda pun tak pernah sekalipun terlihat dekat dengan wanita lain.
"Jadi ketika tadi uda kata nak nikah, ay pikir ia akhirnya menerima Elma. Ay tak terpikirkan tentang gadis lain. Bahkan you sekalipun tak terlintas di benak ay tadi. Sebab penampilan you tadi itu agak.."
Jason berhenti bicara. Ia merasa malu karena ketahuan telah salah berasumsi tentang Anna, setelah hanya menilai dari penampilannya yang biasa.
"Maafkan ay yang sudah berpikir picik soal penampilan. You tahulah ay ini desainer. Jadi tanpa sadar ay akan selalu memperhatikan penampilan orang-orang. Termasuk penampilan you tadi," Jelas Jason lagi.
Anna menegakkan badan. Ia sudah berhenti menangis kini. Jelas, ia tak bisa berlama-lama menangisi keadaannya. Mama Ira sudah menyudutkannya dengan persiapan pertunangan dengan Frans besok.
Setelah mempertimbangkan segalanya lagi, akhirnya Anna sampai pada keputusan akhirnya.
Anna segera bangun berdiri. Diedarkannya pandangan ke segala arah, mencari keberadaan sosok Daffa.
"Daffa?" Anna bertanya pada Jason.
Anna pun meraih ransel bututnya dan hendak menyusul Daffa. Tapi beberapa langkah kemudian ia menyadari sesuatu.
Dengan wajah malu, Anna kembali masuk ke dalam ruangan tadi dan mendapati Jason masih duduk di sofa.
"Mm.. maaf Jason. Aku lupa belum ganti baju. Bisa tolong panggilkan kakak yang tadi untuk membantuku melepas ritsleting belakang gaun ini? Aku sendiri gak bisa.." ujar Anna dengan wajah menunduk malu.
"Oh iya. Ay hampir-hampir ikut lupa. Baju itu benar-benar cocok untuk unni, jadi ay sampai tak ingat kalau itu gaun punya ay," Kilah Jason.
"Jadi.."
"Tunggu di sini. Ay akan panggil asisten ay tuk bantu unni," Ucap Jason sebelum menghilang keluar ruangan.
***
Dalam mobil. Daffa duduk bersandar di kursi belakang. Di depan kemudi, berkali-kali Pak Kiman memperhatikan sikap Tuan Mudanya itu.
__ADS_1
'Nampaknya terjadi hal yang kurang menyenangkan di dalam butik,' tebak Pak Kiman.
Berkali-kali dilihatnya Tuan Daffa menghela napas. Berkali-kali juga dilihatnya Tuan Daffa memukul jok mobil tanpa alasan.
Terlebih lagi Nona Anna yang tadi masuk ke dalam butik tak kunjung keluar juga. 'Ada apa sebenarnya?' tanya Pak Kiman penasaran pada dirinya sendiri.
Tuk. Tuk. Tuk.
Terdengar suara ketukan di kaca mobil belakang. Pak Kiman melirik sumber suara dan mendapati Den Jason di luar mobil.
Pak Kiman lalu melirik ke arah Tuan Mudanya. Dan terlihat Daffa juga menyadari kehadiran Janson di luar mobil.
"Apa?" Tanya Daffa ketus pada kawan karibnya itu. 'Jika bukan karena mulut besar Jason, Anna mungkin tak akan semarah ini padanya,' pikir Daffa dalam hati.
Mengingat Anna yang marah padanya, membuat Daffa ingin menyarangkan bogem mentah ke wajah feminim milik Jason itu.
"Unni cari you. Nampaknya ia dah tenang. Sekarang dia sedang ganti baju," Jelas Jason dalam satu tarikan napas.
Jason pun nampaknya menyadari kalau ia sudah membuat blunder besar kali ini. Lihat saja dari sikap Daffa kini. Kawan karibnya itu terlihat sangat marah padanya. Dan ini adalah pertama kalinya hubungan di antara keduanya goyah.
Daffa terlihat menghela napas sekali lagi sebelum akhirnya keluar mobil. Jason pun bergegas mengikuti langkah Daffa kembali ke dalam butik.
"Ay minta maaf lah, Da. Ay know ay salah. You boleh lah minta apapun asal you maafin ay. Kita ini kan, dah sahabat lama ya," Kejar Jason.
"Hei. Ay pun dah jelaskan pada unni tentang Elma, tadi. Jadi you tak usah khawatir kalau unni akan salah paham lagi sama you," Jelas Jason lagi.
"Hei. Uda! Daffa! Wait me lah.." kalimat Jason itu terhenti di muka pintu. Lantaran Daffa yang menutup pintu ruangan tempat Anna berada, tepat di wajahnya.
Jason mencebik kesal. Ia memutuskan untuk meninggalkan dua sejoli itu menyelesaikan masalahnya sendiri.
Langkah kakinya pun diseretnya ke lantai atas, tempat dimana kantor utama nya berada.
***
__ADS_1