
Daffa baru selesai menyapa tamu terakhirnya. Ketika ia menoleh ke tempat terakhir ia melihat Anna duduk, sosok Anna sudah tak ada lagi di sana.
Daffa pun mengedarkan pandangannya ke sekeliling halaman rumah, dan hasilnya nihil. 'sepertinya Anna sudah masuk ke dalam rumah.' Daffa menerka.
"Tuan mencari Nona Anna? Tadi saya lihat non Anna ada di kamar Den Tedi," Suara seorang wanita terdengar dari belakang Daffa.
Spontan Daffa berbalik dan mendapati pembantu di rumah Anna berdiri memegang baki. Seperti hendak membereskan kekacauan usai acara pernikahan.
"... "
Daffa merasa sedikit kesal karena Anna meninggalkannya. Tapi mengingat kejadian luar biasa sebelum acara akad, kekesalan Daffa pun langsung surut.
'Anna pasti kelelahan,' gumam Daffa.
Melihat Tuan barunya tampak diam termenung, Bi Inem pun kembali menawarkan bantuan.
"Ayo, Tuan masuk saja dulu ke dalam. Nanti saya panggilkan Non Anna. Sepertinya tadi Non Anna sedang menemani Den Tedi tidur."
Daffa lalu mengikuti langkah Bi Inem ke dalam rumah.
"Kamar Tedi yang mana, Bi? Biar saya yang cari Anna sendiri," Ucap Daffa tiba-tiba.
"Oo.. yang dekat dapur, Tuan. Mari saya antar."
"Gak usah, Bi. Yang dekat dapur kan?" Sahut Daffa memastikan.
"Iya, Tuan. Gak saya antar?"
"Gak apa-apa. Takutnya Anna ikut ketiduran. Kasihan kan kalau dibangunin. Saya cuma pingin lihat Anna aja," Tutur Daffa.
"Oo.. kalau gitu Bibi tinggal dulu gak apa-apa ya, Tuan."
Daffa menjawab dengan anggukan pelan.
Ketika Bi Inem sudah berbalik dan hendak kembali membereskan halaman, Daffa memanggilnya lagi. "Bi, nanti ada orang yang akan membereskan sisa acara. Bibi cukup pantau aja ya."
"Oo.. baik, Tuan." Dan Bi Inem pun kembali melangkah menuju luar rumah. Sementara Daffa mencari kamar Tedi yang berada di dekat dapur.
Tak butuh waktu lama, Daffa menemukan kamar Tedi. Saat itu pintunya tampak terbuka sedikit.
Daffa mendorong pelan pintu di hadapannya hingga terbuka. Seketika itu pula matanya bersirobok dengan mata milik Anna.
Gadis itu, atau yang kini bisa dengan leluasanya ia panggil sebagai istrinya, sedang mengusap-usap punggung Tedi. Daffa menyelinap masuk ke dalam kamar bocah lima tahun itu. Ia lalu berdiri di pinggir kasur di bagian Anna merebahkan badannya.
"Udah tidur?" Bisik Daffa bertanya.
"Aku gak tidur. Cuma nemenin Tedi," Balas Anna dengan bisikan pula.
Daffa menahan senyum yang hampir saja terlepas. "Maksudku Tedi, dia udah tidur? Kalo udah, kita makan yuk. Tadi kamu makannya dikit," Ajak Daffa.
Anna tersipu malu saat menyadari kalau ia tadi salah sangka. Ia juga tak menyangka kalau Daffa memperhatikan ia yang memang tadi tak nafsu makan.
"Oh.. hmm.. sebentar."
__ADS_1
Anna lalu melirik wajah Tedi. Adik bungsunya itu tertidur menelungkup dengan arah wajah yang membelakanginya.
Setelah memastikan kalau Tedi sudah lelap, Anna pun perlahan bangkit.
Saat kakinya baru menjejak selangkah, serta-merta Daffa mendekat dan menopang bahunya.
"Saya gendong lagi ya?" Tawar Daffa.
Anna spontan menggeleng keras. Mukanya pun langsung berubah warna layaknya tomat merah oleh sebab rasa jengah.
Anna merasa malu bila mengingat saat Daffa menggendongnya tadi. Terutama saat banyak pasang mata yang memperhatikan mereka. Malu. Sungguh malu.
Melihat Anna yang begitu enggan digendong, Daffa pun kembali mengalah.
"oke. Saya bantu pegang aja ya?"
Anna mengiyakan tawaran Daffa dalam diam. Sebenarnya ia merasa bisa jalan sendiri, walau langkahnya tertatih-tatih.
Tapi Daffa pikirnya pasti akan tetap memaksa untuk menolongnya, jadi ya sudah lah. Anna pasrah.
"Kamu mau makan apa?" Tanya Daffa.
"Terserah."
"Seafood? atau lokal?" Tanya Daffa kembali.
"Terserah kamu, Daff. Aku lagi ngerasa pahit." Jawab Anna.
"Kamu suka steik?"
"Medium atau well done?"
"Hah?" Tanya Anna kebingungan.
"Setengah matang atau matang? Steiknya.." papar Daffa.
"Oo.. matang aja."
"Kita keluar gak apa-apa?" Tanya Daffa lagi.
"Pesan go foood aja gimana? Tedi kayaknya lagi kurang sehat. Mama gak ada. Aku khawatir," Anna menerangkan.
"Kakak kalau mau keluar gak apa-apa. Biar Dodi yang nemenin Tedi." Dodi tiba-tiba muncul dari dapur.
Anna memandang Dodi selama beberapa detik. Adik tirinya itu terlihat lebih dewasa dalam balutan kemeja batik warna keemasan.
"Gak apa-apa, Dod?" Tanya Anna memastikan.
"Gak apa-apa, Kak," Ujar Dodi menenangkan.
"Mama kemana ya, Dod?" Tanya Anna.
"Tadi sih Mama dapat telepon. Terus langsung keluar rumah. Tapi Dodi gak tahu kemana nya."
__ADS_1
"O..hm.."
"Udah, Kak. Kakak kalau mau keluar dulu gak apa-apa," Ujar Dodi meyakinkan.
"Tapi nanti kalau ada apa-apa, telpon Kakak ya!" Pinta Anna.
"Iya, Kak!" Angguk Dodi.
"Makasih ya, Dod!" Daffa menyela.
Selama sesaat Dodi terlihat canggung. Ia tak mengira bisa memiliki kakak ipar secepat ini. Pernikahan ini bak guntur yang mengguncangkan dunia Dodi.
Sekilas Dodi melirik kakak tirinya, Anna. Kilat kesedihan muncul dan menghilang cepat di wajah pemuda yang akan meninggalkan bangku SMA nya pada tahun ini.
Dodi merasa getir dan agak tak rela untuk melepas Anna menikahi pria lain. Oleh sebab sebenarnya ia memiliki rasa yang lebih terhadap kakak tirinya itu. Tapi sekarang..
Nampaknya ia harus belajar mengikhlaskan Anna dengan Daffa. Se-iyanya ia masih bisa melihat Anna setiap hari, walau hanya terbatas menjadi adik tirinya saja. Begitu pikir Dodi.
Dodi pun mencoba untuk meneguhkan diri dan menjawab ucapan Daffa dengan senyuman terbaik yang bisa diusahakannya.
"Sama-sama, Kak. Tolong jaga Kak Anna ya, Kak."
Dan Daffa pun menyahut dengan yakin, "Baik. Saya akan jaga Anna baik-baik."
Anna yang menjadi topik pembicaraan kedua lelaki itu malah merasa malu.
"Apaan sih kalian. yaudah. Kalau gitu aku ganti baju dulu ya. Kamu juga Daff, ganti baju dulu, sana!" Perintah Anna.
Anna bergegas meninggalkan Daffa dengan langkah tertatih. Sementara Daffa dan Dodi terlihat berpandangan selama beberapa saat.
Sepertinya Daffa bisa mengenali perasaan khusus milik Dodi yang ditujukannya kepada Anna. Tapi Daffa menghormati Dodi, oleh sebab pemuda itu bersikap ksatria dengan mengakui kekalahannya.
Daffa memberikan senyuman singkat untuk Dodi sebelum akhirnya menyusul Anna yang sudah berada beberapa langkah di depannya.
Begitu dekat dengan Anna, Daffa langsung meraih tubuh Anna dalam sekali tangkap. Dan menggendong istrinya itu dengan gaya princess.
"Daff! Turunin aku! Malu tahu!" Omel Anna.
"Enggak mau. Kamu kan udah jadi istriku, Anna. Jadi kamu harus terbiasa dengan semua perhatianku ini. Be aware."
"eh, tapi aku mau ganti baju dulu!" sergah Anna.
"enggak perlu. Kamu cantik pake baju ini. Lagipula tanpa veil di kepala, baju itu tampak seperti dress biasa," Seloroh Daffa.
"Mana bisa terlihat biasa. Walau tanpa veil yang menutupi kepala seperti akad tadi, siapapun juga bisa melihat kalau ini adalah gaun untuk acara formal," gerutu Anna.
"Sudah. Kamu ikuti saja saya. Saya akan bawa kamu ke tempat yang private kok. Jadi mau kamu pakai baju apapun, kamu gak perlu mikirin malu. Kan ada saya. oke," Ujar Daffa kembali.
"Terserah deh!" Anna mengalah pasrah.
Daffa pun menggendong Anna hingga memasuki mobil. Keduanya lalu pergi meninggalkan jejak debu yang bergumul di aspal jalanan.
Sementara itu, Dodi menatap kepergian Anna dan Daffa dengan pandangan sendu. Ia akan belajar untuk melepas perasaan khususnya kepada Anna secara perlahan-lahan.
__ADS_1
"Tuhan, bantu kuatkan aku!" Bisik Dodi kepada udara kosong.
***