Cinta Sang Maharani

Cinta Sang Maharani
Restu Mama Ira


__ADS_3

~Sebelum menikah, bakti seorang wanita fokus pada kedua orang tuanya..


Dan setelah menikah, maka bakti yang mesti didahulukan oleh seorang wanita adalah kepada suaminya.


Jika ia berbakti pada suami nya, maka pahala kebaikan atas kebaktian nya itu pun akan mengalir kepada kedua orang tua nya.


Begitu pun sebaliknya jika ia berbuat dosa.


Dosa nya pun akan mengalir pada kedua orang tuanya.~


***


Anna terkejut mendengar suara pintu yang dibanting. Ia pun bergegas memakai kembali kemeja kotaknya dengan tergesa-gesa.


"Anna?" Terdengar suara Daffa memanggil.


"Sebentar," Jawab Anna dari balik bilik ganti.


Daffa kemudian memilih beberapa jas untuk pernikahannya besok. Setelah memilih dua setel jas, ia pun duduk di sofa.


Tak lama kemudian Anna keluar dari bilik ganti. Ia sudah kembali ke penampilan awalnya saat memasuki butik bersama Daffa tadi. Kemeja kotak dan celana jins yang lusuh.


Daffa memperhatikan Anna lebih mendetail. Terlihat hidung dan mata gadis itu masih meninggalkan kesan habis menangis. Hatinya langsung nyeri saat membayangkan Anna menangis.


Daffa akhirnya menyesal karena membiarkan pertengkaran terjadi sehingga Anna menangis. Ia mengingatkan dirinya lagi untuk bisa lebih bersabar dalam menghadapi Anna.


Anna kini berdiri canggung. Ia tak tahu harus mulai bicara darimana. Alhasil ia hanya berdiri seraya memainkan tali ranselnya. Berharap Daffa yang akan memulai pembicaraan.


"..."


"..."


"Hmm.. Sudah selesai? Ayo kita cari makan. Ini sudah jam 1," ujar Daffa.


Anna mengangguk, tanda mengiyakan ajakan Daffa. Keduanya lalu pergi meninggalkan butik milik Jason itu.


***


Dalam mobil, suasana masih saja dingin. Tak ada yang mau memecah kebisuan yang mulai memekakkan hati ini. Anna memilih untuk memandang pemandangan di luar kaca jendela. Sementara Daffa sibuk dengan smartphone nya. Lalu...


"Besok, aku ikut rencana kamu. Kita menikah besok," ujar Anna tiba-tiba.


Daffa tertegun. Ia berhenti sejenak dari mengetik pesan untuk Jason. Ia pun melihat Anna. Sayangnya Daffa tak bisa membaca emosi gadis itu lantaran wajahnya yang masih berpaling darinya.


Daffa hampir menduga kalau ia baru saja berhalusinasi mendengar suara Anna. Jika saja Anna tak kembali bicara.

__ADS_1


"Jam berapa kita akan menikah?" Tanya Anna kembali dengan nada seperti seorang yang kalah.


Kali ini Anna menatap langsung mata Daffa. Daffa tertahan dalam pandangan bening milik Anna. "Jam 11," Jawab Daffa akhirnya.


"Oh. Oke!" Dan Anna kembali menatap keluar jendela. Sementara Daffa masih tak mampu memalingkan pandangannya dari sosok Anna untuk waktu yang cukup lama.


Tak ada pembicaraan setelahnya. Hanya sunyi dan deru mobil yang menjadi melodi pengantar mereka menuju tempat makan.


***


Daffa mengajak Anna makan di salah satu restoran terkenal di kota. Daffa berharap dengan makanan yang enak bisa membuat mood Anna membaik. Pada kenyataannya asumsi Daffa meleset. Anna terlihat kurang nafsu makan dan tetap diam sepanjang jalan pulang.


Setibanya di depan rumah Anna, Daffa ikut turun dari mobil. Sesuai rencana Daffa, malam ini juga ia akan melamar Anna langsung kepada Mama Ira.


Menghadapi Mama Ira, anehnya Anna yang tadi terlihat tak bersemangat kini terlihat sangat gugup. Berkali-kali ia memainkan tali ransel di pangkuannya saat keduanya duduk di hadapan Mama Ira di ruang tamu.


"Jadi, kamu toh yang namanya Daffa," Tegur Mama Ira.


"Maafkan ketidaksopanan saya yang baru memperkenalkan diri saat ini, Tante. Saya baru menemukan waktu luang saat ini," Ujar Daffa.


"Sebenarnya kalian berdua ini berpacaran atau apa?" Tanya Mama Ira lagi.


"Kami.. sudah memutuskan untuk melanjutkan hubungan yang lebih serius, Tante."


"Tapi Anna sudah mau bertunangan," Tukas Mama Ira.


Seketika Mama Ira berang mendengar pernyataan berani yang disampaikan oleh Daffa itu.


"Siapa kamu hingga berani meminta putri saya begitu mudahnya!" Kecam Mama Ira.


Daffa masih bersikap santai menanggapi Mama Ira yang mulai emosi. Ia lalu mengeluarkan sebuah kartu nama dan menyodorkannya pada Mama Ira.


Dengan sikap enggan, Mama Ira mengambil kartu itu dan melihatnya. Tertera di sana nama lengkap Daffa sekaligus profesi dan alamatnya.


Daffa Skolinszki. Chief Director PT. Zion Technology.


Mama Ira tercenung menatap tulisan yang tertera pada kartu itu.


'Dia bukan orang sembarangan. Semuda itu dia sudah menjadi kepala direktur Zi- Tech yang mendunia. Aku harus berhati-hati menghadapi pemuda ini,' Mama Ira membatin.


Kemudian nada Mama Ira kembali melunak.


"Kartu saja tak memiliki arti apapun. Semua orang pun bisa membuat kartu," Ucap Mama Ira.


Daffa tersenyum tipis. Lalu kembali mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya.

__ADS_1


"Cek ini bernilai 1 milyar. Mohon Tante menerimanya sebagai tanda sayang saya kepada Anna. Saya berharap Tante menerimanya," Ucap Daffa dengan sopan.


Mama Ira segera menerima cek itu dan melihat tulisan yang tertera di sana. Dan benar. Di sana memang tertera tulisan 1 milyar. Dan itu memang kertas cek asli.


Mama Ira tercenung. "Kalian benar-benar serius dengan hubungan kalian?" Tanya Mama Ira lagi.


"Ya, Tante. Jika bisa, besok saya bermaksud untuk melangsungkan akad nikah saja dulu dengan Anna. Tentang pesta, itu bisa menyusul."


"Apa?! Besok?!" Mama Ira kaget.


"Ya. Karena saya akan ada pekerjaan di luar kota, esok lusanya. Jadi saya khawatir jika saya tak segera meresmikan hubungan kami, Anna akan diganggu oleh pria lain yang mengaguminya," Tukas Daffa lagi.


Wajah Mama Ira memerah. Tiba-tiba terbayang di benaknya wajah Frans. Keponakannya itu pasti akan marah padanya jika ia tak jadi menikahkan Anna dengannya. Mama Ira tepekur dalam diam.


"Apa ini tidak terlalu buru-buru? Kalian masih muda. Kan bisa pacaran dulu," Rayu Mama Ira.


"Maaf, Tante. Sebenarnya kami sudah berhubungan cukup lama. Hanya saja karena kesibukan kerja sehingga saya baru sempat memperkenalkan diri pada Tante.


"Jadi tolong Tante mengerti kondisi kami. Bukankah akan lebih baik jika kami meresmikan hubungan terlebih dahulu, untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan?" Papar Daffa kembali.


Ada ancaman terselubung yang Mama Ira tangkap dari ucapan pemuda di hadapannya ini.


'Sepertinya aku harus merelakan Anna dengan pemuda ini. Lagipula, sepertinya pemuda ini pun memiliki latar belakang yang baik. Pembawaannya berbeda dengan pemuda seumurannya. Bahkan Frans sekali pun tak sebanding dengan sikap pemuda ini,' Mama Ira membatin.


"Tentang pernikahan besok, sepertinya sulit untuk dilakukan. Ada banyak hal yang perlu disiapkan terlebih dahulu," Ucap Mama Ira.


"Tante gak usah khawatir. Saya sudah menyiapkan semuanya. Sekitar jam 10 siang besok akan ada penghulu dan beberapa saksi dari pihak saya datang ke sini. Saya juga sudah menyiapkan gaun serta hal lain yang berkaitan dengan penampilan Anna. Cathering juga sudah saya siapkan. Jadi, saya hanya meminta kesediaan Tante untuk acara pernikahan esok hari."


Mama Ira terkejut. Tak menyangka kalau Daffa sudah mempersiapkan segalanya. Ia langsung memberi Anna pandangan tanya. Sedari tadi putri sambungnya itu hanya diam saja.


"Anna. Bagaimana menurutmu? Apa kamu benar mau menikah dengan Daffa? Besok?" Tanya Mama Ira kepada Anna.


Selama beberapa waktu Anna diam tak langsung menjawab pertanyaan Mama Ira.


"Anna?"


"Anna mau nikah sama Daffa, Ma. Tolong restui kami," Ucap Anna pada akhirnya.


"..."


"..."


"..."


"Baiklah..Mama akan merestui kalian."

__ADS_1


***


__ADS_2