
Setengah jam kemudian, mobil Bentley Daffa berhenti di depan gerbang kampus Anna. Anna meraih ransel nya lalu menggamit tangan kanan Daffa untuk ia cium.
Saat Anna hendak berbalik dan keluar dari mobil, Daffa malah menahan tangan Anna. Ia lalu menarik bahu Anna ke arahnya.
Anna yang sedikit panik jika Daffa kembali memberinya ciu*man panas seperti sepuluh menit yang lalu, berusaha agak menjauh. Wajahnya sudah langsung memerah dan panas oleh sebab rasa jengah.
Tapi lalu yang dilakukan Daffa ternyata hanya memberinya ciuman di kening saja. Sebelum akhirnya Daffa melepaskannya pergi.
"Take care, Dear.." ucap Daffa kepada Anna yang sudah berada di luar mobil. Segaris senyum tersungging di bibir Daffa, saat dilihatnya wajah Anna masih memerah oleh sebab ci*uman mereka tadi.
"Hm..mm.. kamu juga, hati-hati ya, Daff! assalamu'alaikum!" Sapa Anna sambil berdiri di samping mobil.
Selama beberapa waktu keduanya sibuk saling memandang dalam diam. Membuat keduanya jadi pusat perhatian beberapa pasang mata mahasiswi yang baru datang melewati gerbang kampus.
"Kamu gak berangkat sekarang?" Tanya Anna keheranan saat melihat Daffa yang masih membuka kaca jendela mobil, menatapnya.
"Kamu yang ke dalam duluan (area kampus, maksudnya). Saya mau lihatin kamu aman masuk kampus," tutur Daffa menjelaskan.
Anna hendak menyanggah permintaan Daffa lagi, tapi setelah dipikir-pikir lagi, 'mungkin memang sebaiknya kuikuti saja maunya Daffa,' Anna membatin.
Anna lalu memberikan anggukan singkat ke arah Daffa untuk kemudian berbalik masuk ke dalam area kampus. Tapi, baru juga kakinya berjalan tiga langkah, saat tiba-tiba saja Daffa memanggilnya kembali.
"Anna!" Panggil Daffa.
Anna kembali berbalik, dan melayangkan pandangan tanya kepada Daffa.
"Ya?"
Daffa tampak ingin mengatakan sesuatu kepada Anna. Tapi ia juga terlihat ragu-ragu.
Anna pun kembali mendekat ke arah jendela mobil Daffa. Dan begitu Anna kembali berada di sisi mobil, ia berhenti dan bertanya lagi. "Kenapa, Daff?"
Sesaat kemudian, Daffa mengulurkan tangannya keluar. Untuk menggamit jemari tangan kanan Anna. Ia lalu berkata.
"Kalau kamu ada masalah, bilang aja ya ke saya. Apapun itu. Walau remeh sekalipun, saya senang kalau kamu mau minta tolong ke saya. Karena bagaimana pun juga, saya adalah suami kamu," ucap Daffa. 'saya berharap kamu bisa lebih mempercayai saya, Anna..' lanjut Daffa dalam hatinya.
"Kamu gak lagi ada masalah, kan?" Tanya Daffa tiba-tiba.
"Ak.." Anna tercenung. Tiba-tiba saja ia teringat pada peringatan Andrew tentang paparazzi kemarin lalu.
Dalam hatinya, Anna membatin, 'Apa aku cerita aja ya ke Daffa? Walaupun sebenarnya masalahnya gak besar juga sih..'
'Tin. tin'
__ADS_1
Tiba-tiba saja terdengar suara klakson mobil dari arah belakang mobil Daffa. Sebuah mobil civic hitam terlihat hendak memasuki area kampus, namun terhalang oleh mobil Bentley nya Daffa.
'Waktunya belum tepat,' batin Anna memutuskan. Saat melihat pengendara civic yang kini telah membuka jendela kaca mobilnya dan melayangkan pandangan protes ke arah Anna.
"Iya! Nanti aku akan cerita masalah ku. Sekarang, kamu berangkat kerja dulu ya! Aku masuk duluan ke dalam. Bye, Daff!!" Seru Anna sebelum akhirnya bergegas masuk ke dalam kampus.
Anna tak melihat ekspresi berharap di wajah Daffa, saat ia bergegas masuk ke dalam. Daffa benar-benar berharap Anna bisa menepati ucapannya tadi.
"You should trust me more, Anna (kamu harus lebih mempercayaiku, Anna). If you really... (jika memang benar kamu...)," lirih Daffa kepada angin.
Teringat kembali oleh Daffa suara Anna semalam tadi. Saat istrinya itu mengira dirinya telah pulas tertidur..
'Love you..' ucap Anna saat itu.
***
Anna lalu langsung pergi ke lantai satu untuk mengambil lima boks donat. Kemarin ia sempat bertemu dengan Teh Anis yang mengabarkan kalau ada acara seminar wira usaha di ruang teater. Sebuah kesempatan bagi Anna untuk berjualan donat lebih banyak dari biasanya.
Meski agak kesulitan membawa lima boks donat, Anna tak merasa malu dan gentar untuk membawa lima boks donat itu ke ruang teater yang letaknya tak jauh dari mushola, tempat Anna mengambil boks. Hanya sekitar lima menit berjalan, Anna sudah langsung bisa membuka lapak di depan ruang teater.
Saat membuka lapak, Anna bertemu dengan teman-temannya di organisasi HIMMI (Himpunan Mahasiswa Muslim Indonesia) yang menjadi penyelenggara acara seminar kali ini.
Anna menyapa Tina dan Ayu yang bertugas menjaga meja registrasi. Setelahnya, Anna kembali ke warung lapaknya. Begitu para peserta yang hendak mengikuti acara seminar mendekati lapak dagang Anna, ia pun mulai menawarkan donat nya. Ada yang tergoda untuk membeli. Ada juga yang hanya memberikan Anna tatapan maaf dan berlalu pergi.
Begitu acara seminar dimulai dan pintu ruang teater ditutup, Anna pun pindah lapak.
"Alhamdulillah dari lima boks donat yang ku bawa (total ada 60 piece donat), hanya tersisa sepuluh donat saja," gumam Anna senang melihat hasil penjualannya ini.
Anna lalu memfoto boks donat yang telah kosong untuk dikirimkan sebagai bukti ke Melvi. Baru setelahnya ia mengantarkan boks donat yang kosong itu ke mushola.
Anna lalu mengambil satu boks donat lagi yang masih full isinya. Lalu berniat pergi ke perpustakaan untuk menjajakan donatnya di halaman depan perpus. Tempat lapak dagang Anna, lainnya.
Selama satu setengah jam berikutnya, donat yang Anna bawa baru terjual habis. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang.
Anna memutuskan untuk mengantarkan boks donat yang telah kosong ke gedung fakultas nya di lantai satu. Barulah pergi melipir ke warteg untuk makan siang.
Setelahnya, Anna akan kembali ke mushola untuk shalat, dan barulah pergi ke ruangan di lantai tiga, tempat perkuliahannya berlangsung nanti.
Itu rencana Anna pada mulanya. Sayangnya, Anna harus menghadapi kejadian tak terduga saat ia hendak melipir untuk makan siang. Karena Anna tiba-tiba saja dihadang oleh beberapa orang asing yang berpenampilan seperti jurnalis.
Ada sekitar tiga orang pria yang menodong Anna dengan alat perekam atau pun handphone. Anna pun dibombardir dengan pertanyaan-pertanyaan seperti berikut.
"Permisi, Nona! Nama Anda Anna, benar?"
__ADS_1
"Apa hubungan Anda dengan Andrew Lawalata?"
"Benarkah kalian telah menikah dan minggu lalu berbulan madu di Lombok?"
"Bisakah Anda ceritakan bagaimana kalian pertama kali bertemu?"
Bla bla bla.. bla bla bla..
Anna sangat terkejut dengan kemunculan tiba-tiba orang ini.
'apa mereka yang dimaksud oleh Andrew kemarin?' Anna bertanya dalam hati.
"Permisi, maaf. Aku gak kenal sama Andrew. Jadi tolong, bisa kah kalian membiarkanku pergi?" Sahut Anna seraya berusaha mencari celah untuk melewati ketiga orang itu.
Sayangnya ketiga pria itu tak gentar dengan jawaban negatif dari Anna. Mereka masih terus merapat ke arah Anna, sehingga Anna kesulitan untuk menjauhkan diri.
Di saat itulah Anna melihat Karina yang sedang berjalan ke arahnya. Anna langsung sumringah dan memohon bantuan pada Karina melalui matanya. Tapi, apa yang dilakukan Karina kemudian, membuat Anna Jauh lebih terkejut daripada saat ia diserbu oleh para reporter di sekelilingnya itu.
Karina, yang pandangannya sempat bertemu dengan mata Anna, malah memalingkan wajahnya ke arah lain. Sebelum akhirnya berlalu pergi tanpa menolong Anna.
Anna terhenyak. Ia langsung bisa menyadari, kalau Karina sedang marah kepadanya.
'Tapi, marah kenapa?' batin Anna bermonolog.
Dan, ketika Anna kebingungan harus bersikap bagaimana menghadapi para reporter itu, tiba-tiba saja muncul dua orang pria berbadan tegap yang melindungi sosok Anna dari para reporter itu.
Salah satunya yang berkepala botak berkata, "Kalian harus pergi. Jangan ganggu Nyonya Muda kami. Jika kalian masih mengganggu Nyonya Muda, kalian akan tahu sendiri akibatnya nanti. Kami sudah menyimpan profil kalian," ucap pria berbadan tegap dan berkepala botak, seraya memperlihatkan layar ponselnya ke arah reporter itu.
"Tapi saya cuma mau wawancara Nona Anna lima menit saja. Boleh ya Kak?" Mohon salah satu reporter kepada Anna.
Anna langsung menggeleng cepat. Pertanda ia tak menyukai rencana reporter itu untuk mewawancarainya. Meski hanya lima menit saja.
"Jangan beri alasan. Aku bisa menghubungi bos kalian sekarang juga, agar kalian dipecat!" Ancam pria tegap lain dengan rambut potongan tentara.
"Hei. Sudah. Ago kita balik aja. Lihat deh logo di bajunya itu. Setahuku itu adalah simbol untuk pasukan Q dari agen keamanan Zi tech. Sepertinya wanita ini memang bukan orang sembarangan," bisik salah satu reporter pada dua kawan lainnya.
Meski awalnya merasa enggan, pada akhirnya ketiga reporter itu pun pergi berlalu meninggalkan Anna bertiga dengan dua pria tegap yang telah menolongnya tadi.
Saat ketiga reporter telah pergi, barulah Anna menanyakan identitas orang-orang yang telah menolongnya itu.
"Siapa kalian? Kenapa kalian menolongku?" Tanya Anna pada kedua pria itu.
"Kami adalah.."
__ADS_1
***