Cinta Sang Maharani

Cinta Sang Maharani
Got Snapped (Terpotret)


__ADS_3

Flash back an hour ago (menilik satu jam sebelumnya)...


Andrew sedang berada di ruangan ganti. Hari ini ia masih harus pergi ke dua lokasi lagi untuk melakukan sesi pemotretan. Yang pertama adalah untuk iklan merek pakaian ternama, dan satunya lagi adalah iklan video klip lagu lama yang kembali di remake oleh penyanyi pendatang baru yang sedang hits.


Saat ini ia sedang berisitirahat sejenak seraya menyantap brunch (singkatan dari breakfast and lunch. Istilah untuk sarapan yang agak siang) nya seperti biasa. Omelet dan granola.


Selagi menyantap makanan, ia tak sengaja mendengar perbincangan Huges, manajernya, dengan seseorang yang sedang ditelpon oleh manajernya itu.


"Shi*t! Those paparazzi surely crazy (paparazzi itu sungguh gila)! They really trying so hard to find the woman (mereka sungguh berusaha keras untuk menemukan wanita itu)? Then how is now (terus sekarang gimana)?"


"..." Seseorang di seberang telepon kembali bicara.


"What?! Oke. I'll prepared myself (aku akan menyiapkan diri). Thank you, Bro!"


Klik. Sambungan telepon pun terputus.


Andrew memberikan Huges pandangan tanya.


"What's problem, Dude? (Ada apa, Bro?)" Tanya Andrew.


Huges tampak membaca sesuatu di layar handphone miliknya. Ia sambil lalu menjawab pertanyaan dari Andrew.


"That girl who got catch up on camera with you, remember? (Wanita yang tertangkap kamera sedang bersamamu, ingat kan?)"


Pikiran Andrew langsung menjadi siaga. Sebentuk wajah cantik yang sudah memikat hatinya di Lombok pekan kemarin itu pun kembali muncul di benaknya.


"Yeah? What's with her? (Ada apa dengannya?)" Tanya Andrew dengan nada sedikit Tegang.


Huges langsung menoleh saat menyadari ketegangan dalam suara model asuhannya itu. Ia pun berusaha menenangkan Andrew.


"Don't mind it (gak apa-apa). As long as you stay out of her, then all is well (asalkan kamu menjauh darinya, maka segalanya akan baik-baik saja)."


Jawaban dari Huges itu tak membuat andrew merasa tenang. Maka ia pun kembali bertanya kepada manajernya jtu.


"Just tell me, Huges!" (Bilang saja padaku, Huges!) Tuntut Andrew.


Menyadari Andrew yang membutuhkan penjelasan lebih, akhirnya mau tak mau Huges pun menceritakan isi telepon yang tadi baru saja ia terima dari salah satu intel nya yang bekerja di salah satu media.


"My man told me just now (baru saja orang ku bilang). Someone sold information about that girl to the media (ada seseorang yang menjual informasi terkait wanita itu ke media)," papar Huges.


"What?!" Andrew merasa gusar.


Huges mengerutkan kening. Ia tak suka melihat kepedulian yang ditunjukkan Andrew pada wanita asing itu.


"Calm down, Andy (tenanglah, Andy)!" Tegur Huges kepada Andrew dengan panggilan akrab.


"Just shoot it! (Cepetan bilang!) Cecar Andrew kembali.


Kali ini Huges menyadari keseriusan di wajah Andrew. Ia pun memberikan pandangan tegas kepada Andrew seraya menasihati model top asuhannya itu.


"Listen to me (dengarkan aku)! Just acting as if you don't know her (bersikaplah seolah kamu enggak mengenalnya)! Don't you said back then, that you have nothing to do with her (bukankah tempo hari kamu bilang, kalau kamu gak ada urusan sama dia)?" Huges mengingatkan Andrew.


Andrew menautkan kedua alisnya. Pertanda ia tak menyukai apa yang Huges coba katakan kepadanya. Setelah mempertimbangkan beberapa hal, Andrew akhirnya kembali berbicara.


"Back then, yeah. I might said to you that i don't know her and i don't have anything to do with her (tempo hari, ya. Aku memang bilang padamu kalau aku tak mengenalnya/Anna dan tak ada urusan dengannya)," tutur Andrew mengakui kebenaran ucapan Huges yang tadi.

__ADS_1


"But now, with those crazy man who search anything about me and her, i can't let her be with herself alone (tapi sekarang, dengan orang-orang gila itu yang teru mencari info tentang aku dan dia, jelas sekali aku gak bisa ninggalin dia sendirian)!"


"I have to help her, or.. at least i have to warn her about this situation (aku harus menolongnya, atau minimal aku harus memberikan dia peringatan tentang situasi sekarang ini)!" Ucap Andrew menutup perkataannya.


Andrew lalu mengambil tas bahu yang berisi perlengkapan pribadi miliknya. Sementara itu, Huges yang melihat Andrew yang hendak pergi, bergegas mencoba untuk menghentikannya.


"Andy, please wait (Andy, tunggu dulu)! Clear up your mind, first (jernihkan pikiran mu dahulu)!"


Andrew lalu meraih handphone nya dari dalam tas. Ia lalu menuntut jawaban pada Huges yang sudah berdiri menghalangi langkahnya.


"Andy! Andy! Andy! If you just wanna warn her, then you don't have to go there by yourself (kalau kamu cuma mau memperingatkannya, maka kamu gak perlu ke sana sendirian)!" Bujuk Huges.


"Give it to me (berikan kepadaku)!" Titah Andrew.


"What?!" Tanya Huges tak paham.


"Her number or address (nomor hp nya atau alamatnya)!" Jawab Andrew dengan lugas.


"I don't have it, Andy (aku tak memilikinya, Andy)!" Huges mengaku.


Andrew tampak menelisik ke dalam mata Huges. Sembari menilai, apakah manajernya itu memang benar-benar tak memiliki nomor Anna atau ia hanya berusaha untuk menjauhkan Andrew dari wanita itu.


Setelah menilai beberapa detik, Andrew mendapatkan jawabannya. Ia pun kembali menuntut Huges.


"Bullshi*t (omong kosong)! Just give it to me, Huges (berikan saja itu kepadaku, Huges!)" Tuntut Andrew kembali.


"Dam*n you! You just make another trouble, if you go meet her (kamu hanya akan membuat masalah baru, kalau kamu pergi untuk menemuinya)!" Kembali Huges memberikan peringatan.


"..." Andrew masih menatap tajam Huges. Tangannya masih memegang handphone nya, menunggu Huges memberikan apa yang diinginkannya. Nomor dan alamat rumah Anna.


"Don't you remember, that you have another shoot this evening (tidakkah kamu ingat kalau kamu ada janji foto pada sore hari ini)?" Huges memberikan alasan lain untuk menghentikan niat Andrew menemui Anna.


Menyadari segala usahanya akan berakhir percuma, akhirnya Huges menyerah.


"Fine! (Baiklah!) I'm going with you, then (aku akan pergi bersamamu, kalau gitu). Let's go. We have to come before paparazzi found her (kita harus mendatanginya sebelum Paparazzi menemukannya)!"


Akhirnya, Huges pun menyertai Andrew untuk pergi menemui Anna.


Flash back end.


Dan kini, Andrew yang sudah menunggu kemunculan Anna sedari lima belas menit yang lalu pun akhirnya merasa lega. Saat ia berhasil menemukan sosok Anna yang baru keluar dari dalam gedung.


Huges tadi sempat mengatakan kepadanya kalau saat ini Anna sedang ada perkuliahan. Karenanya Andrew yang sudah memaksa Huges untuk mengebut membawa SUV mereka pun akhirnya merasa lega setelah ia berhasil menemui Anna terlebih dahulu sebelum paparazzi itu datang.


"Anna, you have to go now (kamu harus pergi sekarang)!" Andrew memberikan titah kepada Anna.


Anna menautkan kedua alisnya. Ia tak mengerti, 'kenapa lelaki ini kembali muncul di depanku? Bukankah mereka sudah sepakat untuk tak lagi bertemu? Lalu kenapa dia masih juga menemuiku, bahkan hingga datang ke kampus ku?' benak Anna bertanya-tanya.


"Mr. Andrew," panggil Anna dengan sikap formal. Meski sebenarnya ia malah terlihat menggemaskan di mata Andrew dengan penampilannya saat ini.


Anna masih memangku dua boks donat dengan kedua tangannya. Hari ini wanita itu tampak mengenakan celana jeans, kaos lengan panjang berwarna putih dengan ransel di punggungnya. Terlebih rambut panjang Anna yang diikat kuncir ke belakang. Membuat penampilannya kian terlihat muda.


"Firstly, you should tell me (pertama-tama, kamu harus menjelaskan kepadaku). Why did you here (kenapa kamu berada di sini)?"


Di samping Anna, Karina memandang bingung saat melihat interaksi Anna dengan Andrew. Ia masih mengira Andrew adalah suami Anna. 'kenapa Anna ngomong formal banget sih ke suaminya? Kayak ngomong sama orang asing aja! Atau, jangan-jangan.. mereka lagi berantem ya?' benak Karina bermonolog.

__ADS_1


Merasa tak enak hati jika harus mendengar percekcokan antara sahabatnya dengan suaminya itu, Karina pun buru-buru berpamitan.


"Anna! Aku pergi ke perpus aja deh ya. Kamu.. ngomong baik-baik aja dulu sama suami mu. Kalo bisa, berantemnya jangan di muka umum!" Karina memberi saran.


"Hey! You miss understood us, Rin (kamu salah paham tentang kami, Rin)!" Sergah Anna segera. Sayangnya, yang dipanggil sudah terlebih dulu pergi masuk kembali ke dalam gedung fakultas.


Anna merasa kesal. Ia pun memicingkan matanya ke arah Andrew, yang menatap Anna kebingungan.


"Why did her..(kenapa dia/Karina..)" ucapan Andrew dipotong oleh Anna.


"Don't mind her (abaikan saja dia/Karina)! So, Mr. Andrew, why did you here (jadi, kenapa kamu ada di sini)?" Tanya Anna kembali untuk ke sekian kali.


"..."


"..."


Andrew memandang Anna dengan tatapan sedih. Ia menyadari sikap yang Anna berikan kepadanya itu adalah bentuk usaha wanita itu untuk tetap menjaga batas hubungan mereka. Dingin.


"Oke. Fine. I'll tell you! Right now, i mean really really right now, there are paparazzis waiting you in front of your house (oke. Baiklah aku akan memberitahukanmu! Sekarang, maksudku benar-benar sekarang, ada paparazzi yang sedang menunggu di depan rumahmu)," ucap Andrew singkat dan padat.


"Paparazzi? You mean, like the man who another day stalking me (maksudmu seperti lelaki yang tempo lalu membuntuti aku)?" Tanya Anna meminta penjelasan.


"Yeah. A few of man like another day are searching you right now (beberapa orang seperti lelaki tempo hari, sedang mencarimu saat ini)!" Andrew menjelaskan.


"Why?" Anna tampak bingung.


"They were.." sayangnya ucapan Andrew malah dipotong oleh Huges yang kini terlihat berlari-lari ke arah Andrew dan Anna berada.


"Andy! We have to go now (Andy, kita harus pergi sekarang juga)! My man told me just now. Those paparazzis are on the way toward here (orang ku bilang kalau para penguntit itu sedang di perjalanan menuju sini)!" Ucap Huges dengan nada mendesak.


Anna memandang kemunculan pria berbadan agak tambun yang sepertinya adalah kenalan Andrew. Ia sibuk menerka identitas lelaki itu, sehingga tak menyadari Andrew yang mendekatinya dan meraih pergelangan tangannya.


"You come with me (kamu pergi denganku)!" Seru Andrew tiba-tiba.


"Huh?! Let go of my hand (lepaskan tanganku)!" Seru Anna mencoba melepaskan diri.


"Andy! Just leave her (tinggalkan dia)!" Huges meradang saat melihat model top nya itu malah ingin mengajak wanita asing itu bersama mereka.


"Anna, i'm assurred you (aku jamin padamu), i'm trying to help you now (aku mencoba untuk menolongmu sekarang). Please go with me now, then we'll solved this trouble together (tolong pergi denganku, dan kita akan memecahkan masalah ini bersama-sama)!" Ajak Andrew agak mendesak.


"No! I won't go anywhere with you (enggak! Aku gak mau pergi kemana pun bersamamu). Each time i'm being with you, there are troubles waiting me (setiap kali aku bersama denganmu, selalu saja ada masalah yang menungguku)!" Tukas Anna gusar.


Pergumulan keduanya berlangsung agak lama. Sehingga mengundang perhatian banyak mata. Ketika Anna menyadari kalau mereka sudah menarik perhatian banyak orang, Anna langsung didera perasaan malu.


"Fine! I'll come with you. But firstly, let go of my hand! (baik, aku akan ikut denganmu. Tapi pertama-tama, lepaskan dulu tanganku!)" Titah Anna kepada Andrew.


"All right!"


Andrew pun segera melepaskan tangan Anna. Dan, keduanya pun mengikuti langkah manajer Huges yang sudah mendahului mereka di depan.


Pikiran Anna berkecamuk. Dalam hatinya ia berharap semoga dengan mengikuti lelaki di depannya itu, tak akan ada lagi masalah yang menyertai.


"I have another class ba'da zuhur (aku ada kelas setelah zuhur)." Tutur Anna mengingatkan.


"Yeah.. i won't take too much of your time (ya.. aku gak akan mengambil waktu mu lama-lama)," sahut Andrew.

__ADS_1


Ketiganya pun bergegas menaiki mobil SUV milik Andrew yang terparkir di depan gerbang kampus. Sayangnya mereka tak menyadari adanya kamera yang sudah mengikuti pergerakan Anna dan Andrew sedari mereka berselisih tadi.


***


__ADS_2