
Sekitar jam setengah lima, mobil Bentley Daffa sudah terparkir di depan gerbang kampus. Anna yang sudah menunggu sekitar setengah jam pun langsung bergegas masuk tanpa bicara walau hanya sepatah kata.
Anna hanya memberikan anggukan singkat pada Pak Kiman, sopir pribadi Daffa yang hanya sendirian menjemput Anna. Begitu mobil sudah mulai berjalan, barulah Anna bicara.
"Daffa ke mana, Pak?"
"Tuan Muda masih ada di kantor, Nyonya. Tuan menitip pesan kalau ia akan pulang larut malam. Jadi Nyonya tidak perlu menunggunya pulang," jawab Pak Kiman lancar.
"Oh.." Anna merasa kesedihan menderanya tiba-tiba. Ia sebenarnya tak ingin sendirian saat ini. Entah kenapa ia terpikirkan dengan sikap Karina kepadanya tadi.
Anna lalu mengambil ponsel dari dalam ranselnya. Ia lalu mengetik pesan pada Karina. Ingin memastikan apakah sahabatnya itu sedang dalam kesulitan atau tidak?
Pesan untuk: Karina
Isi Pesan: Karina, tadi kamu ngelihat aku di lobi lantai satu gak? Aku tadi ada di depan mushola. Ngelihat kamu baru pulang. Habis dari perpus kah?
Satu menit. Lima menit. Lima belas menit. Hingga setengah jam kemudian, pesan Anna untuk Karina itu tak kunjung mendapat balasan.
"Nyonya mau makan apa untuk malam ini?" Tanya Pak Kiman, masih sambil menyetir.
"Mm.. nanti aja deh Pak. Saya masih belum lapar," sahut Anna menjelaskan.
Pak Kiman melirik Nyonya mudanya itu dari kaca spion. Sepertinya memang Nyonya Anna sedang kelelahan. Tapi ia lalu teringat dengan pesan Tuan Daffa untuk memastikan Nyonya Anna membeli makanan untuk makan malamnya.
"Bagaimana dengan Soto Lamongan Bang Kumis? Apa Nyonya mau saya membelinya dahulu? Kita sudah hampir sampai ke warung kesukaan Nyonya itu," tutur Pak Kiman.
Anna tertegun. Merasa malu karena bahkan sopir pribadi nya Daffa itu pun mengetahui makanan kegemaran Anna. Merasa tak ingin lama-lama berbincang, Anna pun akhirnya mengiyakan tawaran Pak Kiman itu.
"Boleh, Pak," sahut Anna singkat.
Tak lama kemudian, mobil mereka berhenti di pelataran parkir warung lesehan yang nampak ramai oleh pelanggan yang makan di sana. Anna sudah bersiap-siap untuk membuka pintu mobil, ketika Pak Kiman tiba-tiba saja menghentikannya.
"Biar saya saja yang membelinya, Nyonya. Nyonya tunggu saja di dalam mobil," tutur Pak Kiman menawarkan diri.
"Ehh.?? Gak usah, Pak. Saya udah biasa kok beli sendiri," tolak Anna dengan halus.
"Tidak apa-apa, Nyonya. Ini sudah jadi tugas saya. Lagipula saya sudah menerima mandat dari Tuan Daffa untuk menyiapkan makan malam Nyonya Anna hari ini," papar Pak Kiman menjelaskan.
"Oh.. mm.. kalau gitu, terima kasih ya, Pak! Oh ya! Ini uangnya, Pak!" Panggil Anna seraya bergegas mengambil lembaran merah dari dalam dompetnya.
Ketika Pak Kiman sudah keluar menuju warung Bang Kumis, Anna malah tertegun menatap ke dalam isi dompetnya.
Semenjak menikah dengan Daffa, Anna kini akhirnya bisa memiliki beberapa lembar uang merah untuk uang jajannya.
Tadi pagi pun Daffa kembali memberinya satu juta cash. Katanya itu untuk uang makan dan kebutuhan sehari-hari. Anna yang terbiasa menghemat uang tiga ratus ribu untuk keperluan seminggu, kini bisa menghabiskan tiga kali lipat dari jatah mingguannya yang dulu hanya untuk sehari saja. Itu jika memang Anna ingin menghabiskannya.
__ADS_1
Anna masih beradaptasi dengan segala kelebihan yang Daffa berikan dalam hidupnya. Jadi, pikir Anna, ia akhirnya hanya menyimpan tiga ratus ribu saja dari jatah yang diberikan oleh Daffa kepadanya. Sementara sisanya ia masukkan ke dalam celengan ayam yang baru dibelinya tiga bulan yang lalu.
Anna membayangkan, celengan ayamnya itu mungkin akan sudah sangat gemuk di akhir bulan ini.
Memikirkan celengan ayam nya yang menjadi lebih cepat gemuk, telah membuat pikiran Anna teralihkan dari mengingat perihal Karina. Terlebih lagi saat matanya menangkap kilauan kartu hitam yang menjadi benda paling berharga dalam dompet lusuhnya yang hanya seharga lima belas ribu saja.
Anna bergidik kembali saat membayangkan, andaikan ia menghabiskan semua uang yang tersimpan dalam kartu hitam itu, ada berapa banyak celengan ayam yang bisa ia beli dan isi penuh dengan uang lembaran berwarna merah.
'Bisa jadi aku akan panen celengan ayam yang super gemuk!' Anna menghayal.
Setelah sepuluh menit menunggu, Anna mulai keheranan karena Pak Kiman yang tak juga kembali. Ia pun melirik ke tempat warung tenda Bang Kumis yang masih ramai oleh pembeli untuk mencari keberadaan sosok Pak Kiman.
Tak lama dari pencariannya, Anna pun mendapati sosok Pak Kiman yang ternyata tak lagi sendiri. Ia terlibat pembicaraan, atau lebih tepatnya lagi adalah percekcokan dengan seseorang yang sangat Anna kenal. Bella.
Keduanya terlihat berseteru atas sesuatu hal, tak jauh dari tempat warung tenda Bang Kumis.
Anna sebenarnya penasaran dengan apa yang sedang diperdebatkan oleh kedua orang itu. Bella nampak menangkis tangan Pak Kiman beberapa kali. Sikapnya itu membuat Anna ingin menegur Bella karena bersikap tak hormat pada seseorang yang sudah menjadi seperti ayah angkat bagi gadis yatim piatu itu.
Dikalahkan oleh rasa penasarannya, Anna pun akhirnya memberanikan diri untuk turun dari mobil. Ia ingin menyapa kawan barunya itu, sekaligus juga mencairkan amarah yang tersulut di antara keduanya.
Namun saat Anna berdiri cukup dekat dengan Bella dan Pak Kiman, ia mendengar sesuatu yang sangat mengejutkan. Terhalang oleh warung tenda, sosok Anna tersembunyi rapih dari pandangan Bella dan Pak Kiman.
Saat Anna mulai mendengar isi pembicaraan kedua orang itu, Anna merasa malu dan tak berani untuk menyapa Bella lagi. Akhirnya, Anna pun memilih untuk berdiri diam di tempatnya saja. Di saat berdiri diam di sana lah Anna akhirnya tak sengaja ikut mendengar perbincangan antara Bella dan Pak Kiman yang berlangsung dalam bisikan-bisikan yang masih cukup jelas terdengar di telinganya.
***
Bella menggeleng kencang. "Saya gak bisa tinggal di rumah itu lagi, Su. Kamu jelas tahu itu!" Tolak Bella dengan suara yang berupa lirihan.
'Su? Kenapa Bella manggil Pak Kiman dengan panggilan Su? Bukankah itu terdengar tidak sopan?' batin Anna bertanya-tanya sendiri.
"Kamu akan tetap seperti ini, Bell? Kamu mau menghindari saya selamanya? Hingga saya mati?"
".. Jangan bawa-bawa soal kematian, Su. Kamu tahu sendiri alasan saya memilih untuk pergi. Tolong, biarkan saya menenangkan diri.." sahut Bella kembali, masih dengan suara lirih.
'err.. Kenapa aku ngerasa Bella kayak gak lagi ngomong sama ayah angkatnya ya? Ini lebih seperti percakapan antara...!??' batin Anna terkejut. Sebuah pemikiran tak masuk akal, tiba-tiba saja melintas di kepalanya.
"Kamu sudah memilih dia, Su.. Jadi tolong, biarkan saya mencari kebahagiaan milik saya sendiri. Saya akan mencoba untuk ikhlas melepaskan kamu untuknya. Jadi jangan menghambat langkah saya untuk bisa melepaskan kamu dari hati saya.." tutur Bella panjang lebar.
Sementara itu tak jauh dari Bella dan Pak Kiman, Anna menutup mulutnya dengan telapak tangan saat ia hampir saja memekik terkejut karena firasatnya tentang hubungan di antara Bella dan Pak Kiman itu mulai menunjukkan kebenarannya.
"Kamu.. Kamu sudah gak cinta sama saya lagi, Bell?" Tanya Pak Kiman dengan bisikan yang hampir tak terdengar.
"Kamu lah yang menginginkan saya membunuh perasaan ini, Su.. Jadi jangan salahkan saya!" Cecar Bella dengan suara yang diiringi isakan.
"Saya gak bermaksud seperti itu, Bell.. saya harap kamu mengerti kalau ,,"
__ADS_1
Ucapan Pak Kiman itu terpotong oleh suara tertahan milik Bella.
"Kalau apa, Su? Kalau kamu gak yakin dengan sesuatu yang kita miliki untuk satu sama lain?! Jika memang kamu cinta.. pada saya.. seharusnya kamu mau berjuang bersama-sama dengan saya, Su! Bukannya mendorong saya untuk menjauh!"
"Saya gak ingin kamu menjauh, Bell!" Sergah Pak Kiman sedikit agak lebih kencang.
Selama beberapa saat, percakapan keduanya terhenti. Anna melirik ke belakang dan mendapati keduanya masih berdiri di posisi yang sama seperti sejak Anna menghampiri mereka.
Beberapa orang pejalan kaki nampak memperhatikan Bella dan Pak Kiman. Pikir Anna, mungkin itu sebabnya keduanya berhenti bicara. Tapi tak lama. Karena beberapa saat kemudian, Anna kembali mendengar suara Bella bicara dalam lirihan yang menyayat hati.
"Kamu mau saya tetap di sisi kamu, melihat kamu menikahi wanita itu, Su? Sekejam itu kah kamu, Su, hingga ingin melihat saya hancur? Seharusnya kamu bisa memahami hal dasar dalam mencintai kan, Su? Jangan memaksakan hati untuk mencintai, atau pun bertahan dalam rasa sakit, jika kamu tak ingin menemukan kehancuran pada akhir dari sang pemilik hati itu.."
Sampai di sini, entah kenapa Anna didera keinginan yang sangat kuat untuk berlari dan memeluk Bella.
Kini Anna akhirnya tahu, pada siapa Bella menujukan cinta nya. Kini Anna akhirnya tahu, siapa pemilik cinta di hati Bella yang juga sudah menggoreskan luka pada diri wanita muda itu.
'Pak Kiman?!' Anna membatin dalam hati. Ia mencoba menghitung perbedaan usia di antara Bella dan pria paruh baya itu.
Usia Bella sekitar dua puluh lima tahun. Sementara Pak Kiman mungkin berkisar awal empat puluhan. Terdapat selisih hampir dua puluh tahun di antara usia keduanya.
Anna terhenyak. Menyadari kuasa cinta yang begitu hebat. Sehingga perbedaan usia yang jauh bukanlah halangan bagi kuasa cinta untuk mengikatkan dua hati agar saling mencinta. Meski, tak banyak yang bisa cukup kuat untuk mempertahankan ikatan cinta akibat perbedaan usia.
Seperti yang dialami oleh Bella dan Pak Kiman saat ini.
"Saya menyerah, Su.. Saya menyerah.. Baiklah. Saya akan pulang. Saya akan datang di pernikahan kamu dengan dia.." ucap Bella terakhir kali, sebelum akhirnya ia berbalik dan melangkah pergi.
"Bell! Bella tunggu!"
"Jangan kejar saya lagi, Su! Sudah saya bilang kan kalau saya akan pul..Anna!?"
Anna terhenyak. Ia tak menyadari Bella yang kini sudah berada tepat di sampingnya.
Anna melihat mata Bella yang sudah merah dan lagi basah. Sementara Pak Kiman yang nampak hendak mengejar Bella pun terlihat terkejut mendapati Nyonya Muda nya yang tak lagi berada di dalam mobil.
Selama beberapa waktu, keheningan mengisi udara di antara ketiga orang itu.
Anna tak tahu, apa yang seharusnya ia lakukan saat itu. Ia merasa malu karena tertangkap basah telah menguping pembicaraan Bella dan Pak Kiman. Tapi ia juga merasa ikut bersedih dengan apa yang dirasakan oleh Bella.
"Bella.." sapa Anna dengan suara pelan.
Bella terlihat mengangguk, membalas sapaan Anna. Ia berusaha menegarkan dirinya dan memberikan Anna sebuah senyuman. Senyuman yang menurut Anna terasa sangat pahit bagi siapa pun yang melihatnya.
Setelah mengangguk, Bella langsung berlalu pergi dan menaiki sebuah mobil mazda merah yang terparkir tak jauh dari tempat parkir mobil Bentley nya Daffa.
Setelah Bella berlalu pergi dengan mobil mazda nya, tinggallah Anna yang merasa kikuk untuk bicara pada Pak Kiman. Syukurlah, Pak Kiman kembali menjelma menjadi pekerja profesional. Karena sesaat kemudian Pak Kiman berdeham dan meminta Anna untuk kembali ke dalam mobil, sementara ia akan mengambil pesanan Nyonya Muda nya yang tadi sempat terlupakan.
__ADS_1
***