Cinta Sang Maharani

Cinta Sang Maharani
Pelarian


__ADS_3

Usai mengantarkan Tasya ke depan kabin Karina, Daffa lalu menujukan langkahnya ke ruang anjungan. Ia menyapa singkat kapten kapal yacht yang mereka naiki. Dan mengetahui darinya kalau mereka akan tiba di pelabuhan Merak sekitar dua atau tiga jam lagi.


Selagi berada di anjungan juga Daffa menerima laporan semua hal terkait Frans Sihombing. Menurut laporan, ada satu anak buah Frans yang menyerahkan diri bernama Erick.


Menurut penuturan Erick, Frans telah membunuh banyak wanita tak bersalah akibat penyakit gila yang dideritanya.


Membaca laporan terkait para korban seksual dari Frans membuat Daffa khawatir. Jika ia menyerahkan Frans ke jalur hukum, bisa jadi lelaki brengsek itu akan menciptakan alasan penyakit kejiwaan untuk menghindari hukuman yang seharusnya ia dapatkan.


Hendak menghukum sendiri pun Daffa masih mempertimbangkan reaksi sosial bagi keberlangsungan perusahaan Zi Tech. Terlebih ayah Frans bukan orang sembarangan. Seorang mantan Jenderal yang cukup berpengaruh di negara ini.


Karenanya, kini Daffa sedang menunggu bukti-bukti lain terkait kesalahan Jenderal Sihombing. Sehingga ia bisa menjatuhkan dua pion utama keluarga Sihombing itu. Agar ke depannya tak lagi ada masalah yang akan muncul membayanginya.


***


Kembali ke kabin Frans.


Dua orang petugas berjaga di depan kabin yang ditempati oleh Frans. Mereka bernama Ilo dan Jodi. Kamar Frans terletak di lantai dasar kapal. Itu adalah salah satu kabin berukuran kecil di kapal yacht ini. Ukurannya hanya sekitar 4x4m saja. Dengan sebuah bilik kamar mandi yang ada di dalam.


Ilo dan Jodi telah berjaga di depan kabin tahanan ini sejak mereka menaiki kapal. Secara bergantian mereka beristirahat dan berbagi tugas jaga.


Ilo memiliki perawakan yang lebih kecil dari Jodi. Dan ia juga sedikit mabuk laut. Itulah sebabnya ia selalu mengunyah permen karet untuk menetralisir rasa mual dan pusing yang menyerangnya kala matanya menatap pergerakan kapal yang bergoyang ke kanan dan kiri akibat menembus ombak lautan.


"Masih pusing Lo?" Tanya Jodi khawatir.


"Sedikit. Gak apa-apa. Gue bisa hadapin ini. Lagian, bentar lagi juga kita sampe, kan?" Sahut Ilo dengan wajah sedikit pucat.


"Kalo Lo ga kuat juga gak apa-apa. Nanti gua sampein ke Kapten. Kapten juga bakal ngerti kok!"


"Hushh.. udah gak usah laporan ke Kapten. Gua oke kok. Lagian tugas kita kan cuma jaga doang di depan pintu yang udah dikunci gembok. Gampang itu mah!"


"Hh.. terserah deh. Eh, gue mau ke WC bentar nih ya. Biasa.. panggilan alam. Kayaknya perut gua emang gak cocok makan kepiting dah. Mules mules nih perut!"


"Ya udah sana!"


Tak lama kemudian, usai Jodi menghilang dari ujung lorong, terdengar suara ketukan dari pintu yang dijaga Ilo.


Mulanya Ilo tak ingin menanggapi ketukan itu. Karena sudah berkali-kali lelaki tahanan mereka mengetuk pintu hanya untuk meminta tolong hal remeh. Perut sakit lah. Minta obat lah. Lapar lah. Haus lah. Membuat Ilo yang sedikit mabuk laut pun jadi mudah marah karenanya.

__ADS_1


Entah apalagi alasan yang akan diucapkan lelaki tahanan mereka ini. Karenanya, Ilo memutuskan untuk mengacuhkan saja ketukan itu hingga rekannya, Jodi, nanti kembali.


Namun, ketukan di pintu tak jua berhenti. Malah semakin sering dan kencang digedor-gedor.


Karena kesal, Ilo pun akhirnya menggebrak pintu itu.


Brak!


"Diam Lo! Dari tadi berisik aja!"


"Aku mulas!" Suara Frans terdengar lemah.


"Mulas ya tinggal boker, dodol!"


"Tangan ku kan diikat ke belakang. Gimana nanti bersihin nya?" Dalih Frans.


"Kusut-kusut pakai tisu, beres!"


"Gak sampai!"


"Terserah!"


"Sial! Ni orang nyebelin banget! Gue lempar ke laut baru tahu rasa dia!" Gerutu Ilo tak sabar.


Alhasil, dengan menahan nyut nyut di kepala, Ilo pun membuka gembok pintu kabin itu. Ia lalu membuka sedikit pintu dan menggertak Frans.


"Menjauh dulu sana! Jangan macam-macam! Atau gua dor lu!" Ancam Ilo.


Ilo lalu melihat Frans melangkah tertatih dengan tubuh yang membungkuk seperti menahan mulas. Melihatnya, Ilo merasa sedikit kasihan juga.


Segera, Ilo masuk ke dalam kabin dan menutupnya kembali.


"Sandar ke dinding! Nanti gue bukain borgol nya! Tapi awas! Jangan macam-macam ya!"


"Cepat! Mulas!" Rintih Frans dengan suara sangat pelan.


Ilo lalu mendekati Frans yang sudah menghadap ke dinding. Dengan cekatan, Ilo membuka borgol di tangan Frans seraya menodongkan pistol pada tahanannya itu.

__ADS_1


"Sudah! Cepat selesain urusan Lo! Jangan lama-lama!" Hardik Ilo masih dengan pistol yang teracung ke arah Frans.


"Oke.."


Frans lalu hendak melangkah masuk ke kamar mandi. Tapi tidak. Tiba-tiba saja dengan gerakan kilat yang tak terduga ia menendang pistol di tangan Ilo dengan kaki nya. Lalu melemparkan tubuhnya ke tubuh Ilo.


Ilo yang tak menduga akan mendapat serangan dari lelaki yang terluka parah ini, sigap hendak menangkis serangan Frans. Namun langkahnya kalah cepat. Karena Frans terlebih dulu mendorong tubuhnya hingga terjatuh, lalu mematahkan leher penjaga muda itu dengan sekali tekukan. Kretek.


Serangan lima detik yang mematikan dari Frans telah berhasil menghilangkan nyawa si penjaga muda, Ilo.


Usai membunuh penjaga itu, Frans langsung membuka baju nya dan menggantinya dengan kostum penjaga yang telah ia bunuh. Ia juga sudah membersihkan wajahnya yang berlumuran darah. Meski ia tak bisa berbuat apa-apa terkait memar dan lebam di pipi dan pelipis nya. Tapi ia akan mengatasi nya dengan cara yang lain.


Tubuh penjaga itu sengaja ia biarkan tergeletak di lantai hanya dengan underwear nya saja. Tak ada rasa iba dalam hati Frans terhadap penjaga itu. Pandangannya dingin dan fokus untuk melanjutkan rencana nya lagi.


'Tasya..' satu nama yang kini mengisi penuh benak Frans Sihombing.


***


Sekitar sepuluh menit usai terbebas, Frans kembali membunuh tiga penjaga lainnya dengan pistol yang ia curi dari Ilo. Ia menyukai pistol curiannya itu karena memiliki alat peredam suara. Sehingga aksi-aksi nya tak menarik perhatian orang lain di kapal.


'Sungguh suatu keberuntungan yang diberikan takdir kepadanya,' begitu pikir Frans.


Dengan langkah cepat, Frans pergi menuju kabin di lantai tiga, lantai paling atas dari kapal yacht itu. Menurut penjaga yang ia bunuh terakhir tadi, di sana lah ia bisa menemukan Tasya. Karena penjaga tadi sempat tak sengaja mendengar Madam mereka yang hendak menjenguk sahabatnya.


Frans menyeringai. Ia mengingkari janjinya untuk menyisakan nyawa penjaga muda itu atas info yang diberikannya kepada Frans. Pikir Frans, 'semua musuh harus ia bunuh. Jika ia tak mau musuhnya menyadari lepasnya ia dari tahanan'.


Menuju lantai paling atas dengan langkah cepat, Frans kembali membunuh lima orang penjaga. Kebanyakan kemenangannya itu disebabkan oleh elemen kejut yang dimiliki oleh Frans. Ia terlebih dulu menembaki para penjaga sebelum penjaga itu menyadari keberadaannya.


Dan akhirnya, apa yang dinanti-nanti oleh Frans muncul juga. Dari jarak sepuluh meter ia melihat Tasya yang baru keluar dari sebuah kabin. Si Cantik itu tak melihat ke arah kedatangannya dan masih berbicara pada orang di dalam kabin.


Frans menggegaskan langkahnya, dan langsung saja menarik Tasya ke dalam pelukannya. Tak lupa pula pistol ia todongkan ke leher Tasya sehingga membuat wanita yang hendak berontak itu langsung diam seketika.


"Hello, Cantik! Kita ketemu lagi.." sapa Frans teramat dekat di telinga Tasya. Membuat wanita itu langsung menyadari siapa yang sudah menyergapnya dan menodongkan pistol padanya secara tiba-tiba.


'Frans?!' jerit batin Tasya, merasa ngeri.


***

__ADS_1


__ADS_2