Cinta Sang Maharani

Cinta Sang Maharani
Bertemu dengan Andrew (lagi)


__ADS_3

Sebelum keluar dari hotel, Daffa menenggerkan sebuah topi pantai berwarna krem ke kepala Anna. Setelahnya, kedua pasutri itu lalu berjalan santai menuju restaurant seafood yang ada di dekat hotel.


Keluar dari lobi hotel, Anna disambut oleh cuaca yang berangin dan agak teduh. Walau begitu Anna tetap mengenakan topi pantai yang baru dibelikan Daffa untuknya. Untuk mengimbangi gaya busana t shirt lengan panjang dan celana jean pinsil yang Anna kenakan.


Rambut panjangnya Anna sengaja ia geraikan. Itu adalah permintaan Daffa kepadanya. Walau sebenarnya Anna merasa kegerahan, tapi Anna mencoba mengalah untuk menyenangkan hati suaminya itu.


Outfit Daffa pun terlihat mengimbangi outfitnya Anna. Celana jean serta t shirt lengan pendek berwarna navy membuat penampilannya nampak segar di mata.


Setiap orang yang mereka lewati bisa melihat kalau keduanya adalah pasangan kekasih. Terlebih lagi Daffa yang tak melepas genggaman tangannya di tangan Anna sedari mereka keluar dari kamar inap mereka.


Sepanjang jalan Anna selalu agak menundukkan baret topi bagian depannya untuk menutupi rona merah di wajahnya. Salahkan nasibnya yang mempunyai suami yang agak posesif.


Di sepanjang tepian pantai, banyak wisatawan yang menikmati masa liburannya bersama kawan, keluarga, ataupun kekasih. Syukurlah Anna tak melihat penampakan tubuh bugil di pantai Gili Trawangan ini. Tak seperti di pantai bebas yang ada di Bali.


Di Bali, pemandangan tubuh-tubuh yang hanya ditutupi bikini atau secarik kain atau cawat adalah pemandangan yang normal terlihat. Anna sangat menyayangkan hal itu. Ia saja yang seorang wanita merasa risih bila melihat pemandangan bugil. Merasa dirinya yang ikut malu.


Kembali ke Anna dan Daffa yang saat ini sudah duduk di meja yang telah dipesan oleh Daffa. Meja di restaurant itu adalah satu dari belasan meja yang bertebaran dalam ruangan besar di restoran itu. Meja makan yang berbentuk oval itu cukup untuk tempat makan 2 hingga 4 orang.


Daffa telah memesan meja yang dekat dengan jendela yang menghadap ke pantai. Spot yang ia sadari amat disukai oleh Anna.


Daffa menyadari kalau Anna sering melayangkan pandangannya ke luar jendela setiap kali mereka sedang makan. Sesekali istrinya itu akan tersenyum saat melihat sesuatu di kejauhan, entah apa.


Daffa bahkan pernah memotret citra Anna dengan smartphone nya tanpa istrinya itu sadari. Kebanyakan foto Anna yang berhasil Daffa tangkap adalah saat-saat istrinya itu tersenyum, tertawa, atau pun termenung diam.


Beberapa foto Anna itu sudah ia cetak dan ia simpan di album pribadi miliknya. Bersamaan juga dengan foto-foto pernikahan mereka kemarin.


Sekitar lima belas menit menunggu, hidangan pesanan mereka akhirnya datang juga. Anna kemudian langsung melahap habis semua panganan yang ada di meja tanpa merasa sungkan atau gengsi pada penampilannya.


Meski beberapa pengunjung restoran lain melihat Anna dengan takjub dan pandangan mencibir, Anna tak menggubris apa kata orang lain tentang dirinya. 'Toh ini perutku sendiri. Peduli apa kata orang. Yang penting aku kenyang!' begitulah isi batin Anna saat ini.

__ADS_1


Sementara itu Daffa hanya memandang istrinya yang lahap dengan pandangan sayang. Ia justru penasaran, kemana larinya semua lemak yang dimakan istrinya itu. Karena sejak menikah dengan Anna, Daffa selalu memanjakan istrinya itu soal makanan. Tapi perut Anna tetap ramping seperti sebelumnya.


Setelah menghabiskan hampir seluruh isi di piringnya, Daffa berpamitan kepada Anna untuk pergi ke kamar kecil. Sementara Daffa ke toilet, Anna masih terus melahap sepiring lobster besar.


Lalu, tak lama setelah Daffa menghilang, Anna mendengar seseorang menyapanya. Begitu ia mengangkat kepalanya, sosok Andrew tahu-tahu sudah berdiri di samping tempat Anna duduk.


Selama dua detik Anna tertegun. Tak tahu harus membalas sapaan lelaki menyebalkan itu atau tidak. Namun setelah menimbang-nimbang, akhirnya Anna yang masih mengunyah daging lobster di mulutnya akhirnya hanya memberi anggukan pada pemuda tampan itu.


Setelahnya, Anna kembali menyesap-nyesap cangkang lobster yang masih ada di tangannya.


"Ehem! May i sit here?" Tanya Andrew lagi, meminta ijin untuk duduk di kursi kosong yang baru saja Daffa tinggalkan.


Anna mengerutkan kening. Dalam hatinya ia bergumam, 'Tak bisakah lelaki ini paham kalau aku lagi makan? Dan aku juga gak mau diganggu, terutama oleh DIA?!'.


Khawatir jika sewaktu-waktu Daffa akan kembali dari toilet dan melihat dirinya bersama lelaki asing, Anna pun akhirnya menelan daging yang masih ada di mulutnya. Setelah ia menenggak seperempat isi gelas jus jeruk, barulah Anna menjawab permintaan Andrew.


"Sorry, Mr. That is my hubby' place. So no. Don't sit over there. And.. have you ever though that i may feel uncomfortable with you being here..? I mean, were you not feeling worry if there are paparazzi here, again. May be?"


"How if your friends catch us here, (bagaimana jika 'teman-teman mu' menangkap keberadaan kita di sini) then took some photos? (Lalu mengambil beberapa foto?) Surely it won't do good for my hubby' feeling! (Tentulah itu akan mengusik perasaan suamiku!)" Lanjut Anna kembali.


"So, Mr. Andrew, i suggest you never go near me (jadi, Tuan Andrew, ku sarankan kamu jangan mendekatiku). Don't even say hi to me (bahkan menyapaku pun lebih baik jangan). So people won't make story about us again (jadi orang-orang gak akan membuat cerita tentang kita lagi)," ucap Anna menutup kalimatnya.


Setelahnya, Anna tak lagi memperhatikan keberadaan Andrew di dekatnya. Ia tak ingin kejadian serupa kembali berulang. Ia memutuskan untuk fokus menyantap hidangan terakhir yang ada di mejanya itu.


Sementara itu Andrew yang baru mengeluarkan satu kalimat saja sejak ia menghampiri Anna, kini malah terdiam. Bingung harus mengatakan apa. Namun juga enggan untuk berlalu pergi.


Andrew tak menampik, kalau ia mungkin memiliki perasaan tertarik terhadap wanita asing di hadapannya ini. Jadi ketika berita tentang mereka muncul di internet, Andrew hanya menanggapinya dengan biasa. Sedikit senang malah. Berharap berita tentang mereka itu bisa menjadi kenyataan.


Meski begitu Andrew menyadari, kalau harapan dan ketertarikannya kepada Anna harus ia hentikan sedini mungkin. Karena bagaimana pun juga, ia bukanlah seorang yang tega mengusik rumah tangga orang lain.

__ADS_1


Jika saja Anna masih lajang, Andrew akan dengan senang hati mengejar wanita itu. Karena selama tiga puluh tahun usianya hingga saat ini, Andrew baru mendapati sosok wanita yang seperti Anna.


Sedari pertama mereka bertemu, walau Andrew sempat salah paham terhadapnya, tapi Andrew akhirnya menyadari kalau Anna bukan seperti wanita-wanita lain yang mengejarnya karena penampilan dan statusnya.


Anna malah cenderung cuek dan bersikap tak acuh setiap kali Andrew menyapa wanita itu. Mungkin Andrew memang terbiasa dengan para wanita yang sibuk mengejar perhatiannya.


Jadi ketika ia bertemu dengan Anna, Andrew tanpa sadar malah tertarik dengan wanita cantik itu.


'Sayang sekali, aku terlambat. Karena Anna nyatanya telah menjadi istri orang lain,' sesal Andrew di dalam hati.


Saat ini, menghadapi kalimat ketus dari Anna tadi, Andrew merasa ada sesuatu dalam hatinya yang tercerabut secara paksa. Pikir Andrew, '*Mungkin benih perasaanku terhadap Anna memang harus ku akhiri dengan cara seperti ini.'


Setelah memutuskan untuk mengikhlaskan perasaannya yang harus mati bahkan sebelum sempat bersemi, Andrew pun mengucapkan sapaan terakhirnya kepada Anna.


"I'm sorry if my status made you feel in trouble (saya minta maaf kalau status saya membuatmu dalam masalah). I'm promised, i will solve those hoaks about us (saya berjanji akan menyelesaikan hoaks tentang kita itu). Now, i bid my farewell (selamat tinggal)!"


Dan sosok Andrew pun akhirnya berlalu pergi. Meninggalkan Anna yang masih terlihat menyantap sisa-sisa lobster di piringnya.


Meski begitu, di dalam hatinya Anna meminta maaf pada pemuda itu. Karena bagaimana pun juga lelaki itu juga tak memiliki salah terhadapnya.


Selama perjumpaan mereka Andrew selalu bersikap sopan kepada Anna. Hanya saja sayangnya ada paparazzi yang begitu jahatnya memanfaatkan setiap momen privat para seleb untuk dijadikan bahan berita mereka.


Syukur jika berita yang disampaikan adalah berita yang benar. Tapi berita yang paparazzi itu buat tentang Anna dan Andrew jelas bukanlah berita yang benar.


Tapi dengan pengalamannya kali ini, Anna menyimpan dugaan. Kalau semua berita gosip tentang seleb di tanah air bisa jadi tak semuanya benar.


Bisa jadi memang ada sedikit kebenarannya. Tapi pasti selalu saja ada bumbu-bumbu yang ditambahkan ke dalam cerita untuk menarik minat netizen untuk membacanya.


Miris. Sungguh miris.

__ADS_1


**


__ADS_2