
Usai bergulat di kasur selama satu jam, Daffa dan Tasya rebahan santai masih dengan tubuh polos tanpa baju. Hanya selimut berwarna pastel saja yang menutupi tubuh keduanya yang masih terlihat basah oleh peluh sisa bercinta tadi.
Tasya berbaring di samping Daffa seraya merebahkan kepalanya ke dekat dada sang suami. Sementara itu Daffa memainkan rambut panjang Tasya dengan menyusuri nya berkali-kali.
"Daff, Sayang.." panggil Tasya tiba-tiba.
"Ya, Dear?" Daffa menyahut.
"Kalau kita pulang ke Nevarest nanti, kira-kira ayah sama bunda Rani Elva marah gak ya? Kita udah nikah duluan di sini. Dan aku udah mau hamil tiga bulan.." tutur Tasya merasa cemas.
"Hey.. jangan terlalu khawatir memikirkan itu, Sayang. Kita kan sudah sah menikah secara agama di sini, jadi untuk apa mereka marah?" Daffa mencoba menghibur Tasya.
"Tapi mungkin.." Daffa kembali bicara. Seketika saja perhatian Tasya langsung fokus menyeluruh pada apa yang akan diucapkan oleh sang suami.
"Mungkin kita harus menggelar pesta lagi di Nevarest. Agar pernikahan kita bisa tersebar dan diketahui oleh seluruh rakyat Nevarest," terang Daffa kemudian.
"Hmm.. benar kata kamu, Sayang. Kayaknya sih kita bakal lewatin lagi prosesi pernikahan di Nevarest. Kira-kira, gimana ya kabar negeri kit itu? Aku merasa bersalah sama Bunda karena sudah meninggalkannya kala Bunda sering sakit-sakitan saat itu."
"Kupikir kepergian ku mencari Kak Anna hanya akan terjadi sebentar saja. Dan kupikir Bunda tak akan kesepian karena masih ada Zizi yang akan menemaninya. Tapi ternyata, lima tahun sudah berlalu sejak aku tiba di bumi ini. Dan aku bahkan tak sengaja mengajak juga Zizi bersamaku ke sini. Bunda rani pastilah sangat kebingungan mencari-cari kami!" Sesal Tasya.
"Hey.. sudahlah, Dear.. tak ada baiknya menyesali terlalu lama. Cukup fokuskan usaha kita untuk segera pulang, baru setelahnya kita bisa meminta maaf pada Bunda Ratu mu.
"Kita? Untuk apa kamu ikut meminta maaf juga pada Bunda, Daff?" Tanya mendongakkan kepalanya ke atas, menatap bingung pada wajah sang suami.
"Ya saya perlu minta maaf juga lah, Sayang.. karena saya sudah mengambil kamu jadi istri saya tanpa restu Bunda Ratu.." ucap Daffa sambil mencuri ciuman singkat ke bibir sang istri.
Tasya sedikit memanyunkan bibir nya merasa sebal. "Aku jadi inget. Kamu habis makan apa sih, Daff? Kok mulut kamu bau banget!" Tutur Tasya ceplas ceplos.
Daffa melongo menatap sang istri. Tak menyangka akan mendengar kalimat protes dari mulut Tasya itu.
"Aku kan sarapan bareng sama kamu, Dear.. masa kamu lupa sih aku makan apa.." ucap Daffa membela diri.
Tasya mengerutkan kening, seraya mengingat-ingat.
"Tadi itu aku makan sup ayam. Kalau kamu.. makan nasi goreng kan?"
Daffa mengangguk.
"Berarti mulut kamu bau bawang! Sikat gigi deh, Daff! Mulut mu bau! Aku gak suka bau bawang nya!" Tasya bergerak menjauhi Daffa.
Merasa heran dengan tingkah sang istri, Daffa malah tergoda untuk menggoda Tasya kembali.
"Kamu bilang mulut ku bau, tapi tadi kucium-cium kamu ketagihan.." ucap Daffa seraya menyergap ceruk di antara leher dan pundak sang istri. Sementara kedua tangannya sibuk menggelitiki perut wanita nya itu.
__ADS_1
"Ihihiihii.. geli, Daff!!" Tasya meronta, merasa geli.
"Geli? Maksud mu kayak gini geli?" Daffa semakin cepat menarikan jemarinya dalam menggelitiki perut Tasya.
Membuat Tasya terpingkal-pingkal tawa karena kegelian.
"Ahahahaha! Daff! Geli, Daff!"
"Daff lagi! Panggil Sayang dong, Dear!" Daffa menegur.
"Am.. ampun!! Iya, iya! Sayang!! Udah Sayang! Gelii!"
"Bilang dulu kalau saya wangi!" Daffa memberikan titah.
"Kamu bau! Ahahahahaha! Iya! Ampun! Kamu wangi! Wangi! Wangi!!"
Akibat pergerakan keduanya ketika tertawa, tak ayal, selimut yang menutupi tubuh polos keduanya pun tersibak.
Pandangan Daffa langsung saja tertuju pada dua pucuk hitam milik Tasya yang sudah tegang menantang. Seketika itu pula, junior miliknya kembali bangkit. Dan.. kalian tahu lah apa yang selanjutnya terjadi.
Perlahan-lahan, suara gerai tawa dalam ruangan tertutup itu pun berubah menjadi desa*han-desa*han pendek yang berulang-ulang.
Dua tubuh kembali menyatu, dalam penyatuan yang disukai oleh para penghulu langit. Karena penyatuan mereka adalah hal yang suci di antara dua insan yang telah terikat janji ukhrowi sekaligus juga syurgawi.
***
"Kamu tunggu sebentar ya, Dear. Saya mau ambil Tyson dulu!" Titah Daffa kepada Tasya kala keduanya berada di halaman depan gedung penthouse mereka.
Tasya baru hendak bertanya kepada Daffa, siapa itu Tyson, namun suaminya itu sudah berjalan ke area parkir yang ada di gedung samping. Alhasil, Tasya pun memutuskan untuk menunggu Daffa di depan gedung penthouse.
Sekitar sepuluh menit kemudian, Daffa muncul kembali. Tasya sempat ternganga kala ia menyadari siapa itu Tyson yang dimaksud oleh sang suami. Karena ternyata Tyson adalah sebuah motor Gold Wing yang dulu pernah mereka kendarai bersama saat mereka pergi jalan untuk pertama kalinya.
"Kita naik motor ini, Sayang? Mobil kamu memangnya ke mana?" Tanya bertanya heran.
"Ada. Ganti suasana aja," sahut Daffa asal.
Daffa lalu memakaikan jaket kulit berwarna peach pada Tasya, lalu memakaikan helm pink juga ke kepala istrinya itu.
"Yakin, kamu mau antar aku ke kampus naik motor?" Tasya tak segera naik ke atas motor dan malah kembali bertanya.
"Iya. Saya bawa nya nanti pelan-pelan kok, Sayang. Gak apa-apa ya berangkatnya naik motor. Saya ngejar meeting jam sepuluh soalnya. Kalau bawa mobil sendiri jam segini, saya gak tahu jalur bebas macet," terang Daffa.
"Bawa mobil sendiri? Memangnya Pak Kiman ke mana, Daff?" Tasya masih saja bertanya.
__ADS_1
"Naik dulu ya, Sayang. Nanti sambil jalan sambil saya jelasin! Yuk, berangkat!"
Akhirnya Tasya pun membonceng di belakang Daffa.
"Pegang yang erat ya Sayang.. kita berangkat sekarang.."
Dan kedua insan itu pun melaju di atas motor super mahal keluaran Honda itu.
***
Di perjalanan..
"Jadi Pak Kiman ke mana?" Tasya mendekatkan mulutnya ke samping kepala Daffa yang juga tertutupi helm. Ia pun agak mengeraskan ucapannya. Walau sebenarnya tidak terlalu kencang juga, karena Daffa memegang janji nya untuk tidak melaju terlalu cepat.
'Demi keamanan dede janin' katanya.
"Pak Kiman cuti bulan madu satu minggu!" Balas Daffa dengan suara tak kalah kencang.
"Hah?! Pak Kiman udah nikah?!"
"Iya!"
Selama beberapa waktu, Tasya terdiam. Terpikirkan olehnya bagaimana perasaan Bella saat ini. Pastilah kawan baru nya itu sedang sangat bersedih saat ini.
"Kamu kok diam, sih, Tasy?" Daffa bertanya, kala dirasanya Tasya yang tiba-tiba saja menjadi diam.
Setelah beberapa waktu, barulah Tasya menyahut.
"Aku ngerasa ikut sedih buat Bella, Sayang.. sekretaris kamu itu pasti lagi down saat ini!" Sahut Tasya masih dengan setengah berteriak.
"Ngapain sedih, Tasya Sayang.. Bella kan lagi bulan madu juga sama Pak Kiman. Ya mereka pasti lah lagi senang-senang sekarang ini. Maka nya saya agak kerepotan pagi ini. Karena gak ada yang mengingatkan saya kalau akan ada meeting jam sepuluh nanti. Biasanya kan Bella selalu mengirim pesan peringatan kalau ada meeting!" Keluh Daffa.
"Hah?! Bell.. Bella sama Pak Kiman bulan madu?! Jadi Pak Kiman menikah sama Bella? Bukannya kata kamu dia menikah sama pegawai kamu yang lainnya ya?" Tanya Tasya memastikan.
"Gak tahu lah, Sayang. Tahu-tahu saya dapat kabar kalau mereka berdua sudah menikah aja sabtu lalu. Dan mereka minta cuti satu minggu berbarengan. Jadi repot kan saya nya!"
"Sabtu lalu mereka menikah nya?? Kok kamu gak cerita-cerita sih?!" Kali ini Tasya benar-benar meneriakkan ucapannya. Membuat Daffa jadi sempat terganggu. Dan bahkan beberapa pengendara motor lain di dekat mereka pun langsung menoleh ke arah Tasya.
Menyadari kalau sikapnya sungguh tak etis, Tasya langsung mengatupkan mulutnya rapat-rapat.
"Nanti aja deh ya ceritanya. Saya mau konsen bawa motor dulu, Tasya, dear.." pinta Daffa.
"Iya.." sahut Tasya dengan suara kembali pelan.
__ADS_1
***