
Daffa kembali dari toilet ketika Anna sudah menandaskan semua lobster di piringnya. Saat Daffa duduk kembali di kursinya, Anna sedang mengelap mulutnya dengan tisu.
Selama beberapa waktu suasana terasa hening. Merasa heran dengan suasana yang terasa aneh, Anna pun memandang ke arah Daffa. Dan ternyata, Daffa pun sedang memandangnya lekat-lekat.
Anna mengira mungkin ada bekas makanan di wajahnya sehingga membuat Daffa menatapnya serius.
"Mm.. apa ada sesuatu di muka ku?" Tanya Anna kemudian.
Daffa tak langsung menjawab pertanyaan Anna. Ia malah tampak lebih diam, daripada biasanya ia. Anna juga menangkap ekspresi asing di wajah suaminya itu. Seolah-olah Daffa sedang mempertimbangkan sesuatu.
"Beneran ada bekas makanan ya? Kalau gitu aku ke toilet dulu deh ya!" Ucap Anna seraya bangkit dari kursi nya.
Namun, panggilan dari Daffa kemudian, menghentikan langkah Anna yang hendak pergi ke toilet.
"Anna, tunggu! Gak ada apa-apa, kok. Maaf saya agak melamun tadi," ucap Daffa kemudian.
"Oh.. oke. Kamu enggak ngerasa pusing atau apa kan setelah makan seafood? Mungkin alergi gitu?" Tanya Anna kemudian.
Daffa menggeleng pelan.
"Beneran kamu ngerasa oke kan? kamu gak lagi bela-belain makan seafood cuma karena aku kan?" ucap Anna dengan spontan.
Kemudian, Anna langsung mengunci mulutnya. Ia merasa malu pada apa yang baru saja diucapkannya sendiri.
'Pede banget sih aku! gak mungkin juga kan Daffa mau sampe ngorbanin dirinya sendiri cuma untuk nemenin aku makan seafood!' Anna mencibir dirinya sendiri di dalam hati.
Kemudian Anna terburu-buru menambahkan, "Habis kamu agak diam sih, Daff. Jadi kupikir kamu sakit atau apa gitu. Jadi, kamu beneran oke kan?" tanya Anna lagi, untuk meyakinkan diri.
"Saya oke, kok," ucap Daffa pada akhirnya.
Tapi setelah itu, keduanya kembali hening.
"..."
"..."
Merasa situasi yang masih terasa canggung, Anna pun akhirnya kembali bangkit berdiri.
"Tapi aku beneran mau ke toilet dulu deh ya!" Ucap Anna kembali.
Dan Anna pun berlalu pergi.
__ADS_1
Sekitar tujuh menit kemudian, Anna kembali. Ketika ia selesai menghabiskan air putih di gelasnya, Daffa tiba-tiba menanyakan sesuatu.
"Apa kamu punya teman kenalan yang lagi liburan di sini? Saat ini?" Tanya Daffa dengan nada terdengar santai.
"Hmm? Enggak. Gak ada.." jawab Anna dengan ekspresi kebingungan di wajahnya.
"..."
Merasa ada sesuatu yang mengganjal di ekspresi Daffa, Anna akhirnya bertanya.
"Memangnya kenapa, Daff?"
"Itu.. Saya sempat lihat kamu ngobrol sama seseorang pas saya baru keluar dari toilet, tadi. Saya kira itu teman kamu," papar Daffa akhirnya.
Saat mengatakan hal itu, Daffa sempat menunduk sebentar. Tapi kemudian ia menatap lurus ke mata Anna. Mata yang seolah mencari-cari sesuatu pada diri Anna.
Menerima tatapan menelisik dari Daffa, Anna spontan langsung menunduk. Dengan dalih menyeruput sisa jus jeruk di gelasnya, Anna pun akhirnya memberikan Daffa jawaban ambigu.
"Oh.. tadi ya. Itu.. Orang asing itu mah!"
'Duh! Kok aku kayak ngerasa bohongin Daff ya? Tapi.. bener juga kan. andrew memang orang asing buatku!' batin Anna berkecamuk.
"..."
Daffa lalu memanggil pelayan restoran. Setelah membayar bill pesanan mereka, Daffa mengajak Anna untuk pulang.
"Kita pulang sekarang?" ajak Daffa.
Anna menjawab dengan anggukan pelan dan langsung berdiri dari kursinya. Dalam hatinya Anna dilanda kebimbangan.
'Apa aku harus menceritakan semuanya saja ya ke Daffa. Takutnya dia lihat foto itu. Tapi.. Daff gak mungkin lihat berita gosip kayak gitu kan? Lagi pula kayaknya berita nya gak heboh-heboh banget sih..' batin Anna bermonolog.
Sementara itu Daffa pun sibuk dengan isi pikirannya sendiri. Masih terngiang-ngiang di benaknya ucapan wanita pelanggan restoran yang duduk di meja yang ada di belakangnya tadi.
Flash back on.
Saat itu Anna sedang pergi ke toilet. Daffa yang masih penasaran dengan identitas lelaki yang tadi sempat dilihatnya mengobrol dengan Anna, lalu mendengar suara dari meja di belakangnya.
''Itu tadi Andrew ya gak, sih? Terus cewek yang barusan ke toilet itu cewek yang katanya kekasih diam-diamnya Andrew kan ya? Kayaknya mereka lagi marahan deh. Soalnya tadi Andrew dikacangin itu cewek yang malah asik makan aja. Dasar cewek gak berperasaan!'"
"Hush! Jangan kencang-kencang ngomongnya! Takut kedengeran!' terdengar suara wanita lain yang juga ada di belakang Daffa.
__ADS_1
'Biarin lah kedengeran! Biar cowok ini tahu, kalau dia cuma jadi pelampiasan cewek jahat tadi. Sayang banget, padahal ganteng ya..'
Entah kenapa. Daffa tertarik untuk terus mendengarkan perbincangan dua orang di belakangnya itu. Beberapa saat kemudian, perbincangan di belakang Daffa kembali berlanjut.
"Lagian Andrew kok mau sih sama cewek jahat kayak gitu. Seharusnya cewek itu mending diputusin aja kan ya! Biar tahu rasa dia!" ucap wanita ke satu.
"Belum tentu juga kan beritanya benar. Bisa jadi cuma salah paham aja. Namanya juga gosip. gak semuanya bener," ucap wanita ke dua, memberikan nasihat.
"Ah! udah pasti salah ceweknya lah! Kelihatan banget kan tadi, Andrew sampe dikacangin kayak gitu. Gak rela banget deh Andrew-ku jadi sadboy cuma gegara cewek jal*ng tadi!" umpat wanita ke satu.
"Hush! gak usah dipanjangin deh. Lagian bukan urusan kita juga kan."
"Iya. Tapi kasihan juga kan jadinya Andrew.. Juga cowok ini.."
Entah kenapa. Daffa begitu tertarik untuk menengok kan kepalanya ke arah dua wanita yang sedang mengobrol itu. Seolah ia memiliki firasat ketika ada yang sedang membincangkan dirinya.
Dan, ketika Daffa benar-benar melakukan apa yang diperintah oleh firasatnya itu, pandangannya langsung menangkap dua orang wanita yang memang sedang melirik ke arahnya.
Salah seorang wanita langsung memalingkan pandangan dari dirinya. Tampak malu seolah ia tertangkap basah melakukan sesuatu yang salah.
Sementara wanita yang lainnya memberikan pandangan kasihan kepada Daffa. Sebuah ucapan pun keluar dari mulut wanita itu yang, Daffa pahami, memang ditujukan kepadanya.
"Hati-hati ya Kak, sama cewek yang makan bareng kakak. Dia udah dua in kamu lho!'"ucap wanita itu.
Daffa tak membalas ucapan wanita itu. Ia langsung meluruskan lagi posisi duduknya yang tadi sempat menyamping. Daffa terus merenungkan ucapan wanita tadi sampai Anna kembali dari toilet.
Flash back off.
Kembali ke saat ini.
Daffa yang masih terngiang-ngiang dengan ucapan wanita tadi akhirnya merasa sedikit gusar. Setelah mempertimbangkan sesuatu, akhirnya Daffa memutuskan. Kalau ia akan mempercayai Anna.
Menurut Daffa, Anna bukanlah gadis yang seperti dituduhkan wanita tadi. Ia tahu siapa istrinya. Walaupun ia juga merasa Anna menyembunyikan sesuatu. Tapi pikirnya, Anna mungkin hanya membutuhkan waktu untuk bisa bercerita.
Jadi, Daffa akan memberikan Anna waktu. Jikalau Anna memang tak menceritakan apapun kepadanya, mungkin sesuatu itu memang bukan hal penting untuk ia ketahui.
Setelah merasa tenang dengan argumentasinya sendiri, Daffa pun meraih kembali tangan Anna untuk ia genggam.
Anna sempat menoleh ke arah Daffa. Dan Daffa bisa melihat jelas kebimbangan di wajah istrinya itu. Ia pun mencoba memberikan Anna senyuman yang menenangkan. Dalam hatinya Daffa berharap, 'Semoga Anna bisa lebih mempercayaiku lagi.'
***
__ADS_1