
[Dear, all readers.. kembali Mel ucapkan terima kasih tak terhingga untuk semua semua yg udah sedekah like, vote, good rate, comment, kritik dan saran, serta mawar dan kopinya..
thank you All..🙏🙏
tak ada pembalasan terbaik yg bs mel beri kepada kalian, selain doa dan pengharapan semoga kalian semua senantiasa diberikan kesehatan, kelancaran dalam urusan, dan keberkahan rizki yang melimpah.
aamiin.. aamiin.. aamiin.. allahumma aamiin..
Mel akan berusaha menulis tulisan yg baik. dan sesering update yg mel mampu. mohon semuanya jangan bosan jg yaa tuk memberi saran dan kritikan. karena itu jd pelecut semangat buat mel jg.
arigatou gozaimasu ne.🙏🙏😁😁🥰🥰]
***
Daffa mengajak Anna singgah di warung makan kecil yang berada di pinggir pantai tak jauh dari lokasi hotel tempat mereka menginap.
Meski ukurannya terbilang kecil, hanya berkisar empat kali empat meter saja, tetapi dua kursi panjang yang berada di depan warung itu telah penuh oleh para wisatawan yang juga mencari sarapan.
Daffa bahkan sampai harus mengantre untuk mendapatkan uduk pesanan mereka. Sementara Anna duduk menunggunya di salah satu bangku yang kosong.
Saat duduk di bangku yang kosong itu, Anna tak memperhatikan keadaan sekitarnya. Sehingga saat ada suara barito menyapanya dari kursi samping tempat ia duduk, Anna pun sempat terkejut.
"Hey! We meet again! (Hai! Kita berjumpa lagi)" sapa suara seorang pemuda.
Begitu Anna menolehkan kepalanya ke asal suara, tampaklah wajah tampan pemuda yang kemarin siang mengambil kursi duduknya saat ia menunggu Daffa.
Sedikit rasa sesal bersarang di benak Anna. Ia menyesalkan nasibnya yang harus bertemu dengan pemuda tak berperasaan itu.
Meski merasa sebal dengan pemuda itu, Anna tetap menjaga etika nya dengan menyahut singkat.
"Yeah.." sahut Anna.
"So you have your breakfast here, too! (Jadi kamu juga sarapan di sini)?" Tanya Pemuda itu lagi.
"Mm..hm.."
"..."
Tampaknya pemuda itu menyadari sikap Anna yang tak ingin berbicara padanya. Akhirnya pemuda itu pun diam dan tak lagi mengajak Anna berbincang.
Dari ekor matanya Anna melihat pemuda itu memakan nasi uduk yang dibungkus di atas daun pisang. Mencium dari aromanya yang wangi, saliva Anna tak tahan untuk menetes banyak di dalam mulutnya.
__ADS_1
Ketika suasana di antara keduanya hening, tiba-tiba saja perut Anna mengeluarkan jeritan kelaparan.
"Kukuruyuk.,."
"..."
"..."
Anna berusaha sangat keras untuk tetap bersikap tenang di tengah perasaan malu yang tiba-tiba menderanya. Apalagi pemuda di sampingnya itu tiba-tiba saja berhenti dari kegiatan mengunyah dan malah melihat Anna. Anna bisa memastikan hal itu melalui sudut ekor matanya.
Merasa jengah, Anna lalu memalingkan wajahnya ke arah lain. Menjauhi pandangan mata pemuda itu. Tapi...
"Kukuruyuk..." Perut Anna kembali berbunyi.
'Duh! Ini perut sering banget ya bikin malu. Lama-lama ku ikat juga nih pake batu biar gak seenak perutnya menjerit kelaparan!' gerutu Anna di dalam hati.
Tak lama kemudian Anna merasakan pundak kirinya ditepuk pelan. Ia pun spontan menoleh dan mendapati pemuda di sampingnya tersenyum lebar ke arahnya seraya menyodorkan bungkusan uduk yang terlihat masih utuh.
"Here.. (Ini) just eat this (makan saja ini). I bought two bag more for my friends (saya beli lebih dua untuk teman-teman saya). You may take one to fill in your hungry (kamu boleh ambil satu untuk mengisi kelaparan mu)," ujar pemuda itu.
"No.. no.. no.. thank you! My husband are buying another one for me (suamiku sedang membelikan ku yang lainnya)!" Tolak Anna.
"Just take it (ambil saja). Surely your tummy can't wait anymore (sepertinya perutmu tak bisa menunggu lagi)," tawar pemuda tadi dengan agak memaksa.
"Anna, ayo kita pulang. Saya sudah beli nasinya. Sepertinya makan di kamar lebih baik, karena di luar sini anginnya cukup kencang!" Ucap Daffa.
Anna menoleh dan merasa bersyukur karena Daffa segera datang dan mengajaknya pulang. Ia merasa tak nyaman berada dekat dengan pemuda yang kelewat akrab di sampingnya itu.
Meski begitu, Anna tetap menjaga etika nya. Ia berpamitan dahulu pada pemuda itu sebelum mengajak Daffa segera berlalu dari tempat itu.
Anna tak sadar, dengan gejolak cemburu yang tadi sempat mendera Daffa.
Ketika dari stand penjual nasi uduk Daffa melihat Anna bercengkerama dengan seorang pemuda tampan, seketika itu juga Daffa merasa tak tenang.
Jelaslah tak tenang. Karena sepertinya pemuda itu begitu akrab berbincang dengan Anna.
Daffa bahkan menangkap ketertarikan di mata pemuda itu terhadap istrinya. Dan seketika itu juga instingnya menyalakan peringatan merah.
Pandangan Daffa kini beralih ke Anna. Pagi ini Anna sebenarnya memakai pakaian kasual yang tak menampakkan lekuk tubuhnya. Ia memakai sweater tipis yang longgar berwarna pink pucat. Dipadu dengan rok lipat berwarna senada yang panjangnya hingga menutupi mata kaki.
Pesona Anna terletak pada rambutnya yang hitam panjang dan sengaja dibiarkannya tergerai. Sepertinya istrinya itu baru selesai keramas, dilihat dari rambutnya yang masih basah dan aroma bunga yang sangat mengusik indera penciumannya.
__ADS_1
Menangkap aroma bunga di rambut Anna itu menarik Daffa untuk mendekati Anna lebih dekat lagi. Sehingga di perjalanan mereka menuju hotel, Daffa tak bisa menahan diri untuk menarik bahu Anna dengan pelan hingga menempel pada bahunya.
Anna yang terkejut dengan sikap Daffa itu kembali dibuat terkejut saat tiba-tiba saja Daffa mencium ujung kepalanya cukup lama.
Seketika itu juga langkah Anna terhenti. Diikuti oleh Daffa di sampingnya. Ia lalu mendongakkan kepalanya ke atas. Dan matanya pun tepat menyelam ke kedalaman mata Daffa.
Pemuda itu menatapnya dalam diam. Dan Anna pun merasa mulutnya terkunci oleh kekuatan asing hingga ia tak bisa mengucapkan ataupun mengeluarkan sepatah suara apapun.
Setelah setengah menit yang terasa sangat lama, barulah Anna menemukan kembali suaranya yang tadi sempat menghilang.
"Apa yang.."
Ucapan Anna terpotong oleh kecupan singkat di keningnya dari Daffa.
"Kamu harum..," ucap Daffa singkat.
Merasa kembali dibuat terkejut, Anna kembali tak bisa berkata-kata. Bahkan ketika Daffa menggenggam tangannya dan menariknya pelan untuk kembali berjalan pun mulut Anna tetap terdiam.
Dalam diamnya, Anna mengikuti langkah Daffa yang lebar-lebar. Disandingkan dengan langkah kecilnya yang cepat-cepat.
Anna tak menyadari jika rona merah telah kembali menghiasi wajahnya yang putih bening. Ia terus berjalan di sisi Daffa dengan kepala setengah menunduk. Sementara hatinya sibuk menetralkan deburan ombak rasa yang kini telah dikenalnya sebagai cinta.
Sayangnya, debur rasa bahagia yang dirasakan Anna saat itu harus meletup tiba-tiba pada beberapa menit kemudian.
Saat itu Anna dan Daffa sudah ada di depan hotel inap mereka. Keduanya hendak kembali ke dalam kamar mereka ketika sebuah suara wanita memanggil Daffa dari arah belakang.
"Mr. Daffa! Wait me, please..(Tuan Daffa, tolong tunggu saya!)!"
Seketika itu juga Anna dan Daffa membalikkan badan. Dan begitu berbalik, ia dihadapkan pada situasi yang membuat debur jantung yang tadinya bahagia berubah menjadi mengejutkan dan menyesakkan.
Di hadapan Anna berjalan seorang wanita cantik berwajah khas Amerika latin yang sedang tersenyum lebar.
Dengan kulit cokelat, rambut berwarna emas, serta mata biru yang memikat, wanita itu membuat banyak pasang mata melirik ke arahnya.
Sayangnya, mata wanita asing itu terfokus pada lelaki di samping Anna yang kini juga ikut berhenti. Yang sangat mengejutkan Anna adalah, wanita itu tiba-tiba saja mendekat ke Daffa lalu sigap mencium suaminya itu.
Walau Daffa sempat mundur dan berpaling, tapi Anna menangkap perona merah berbentuk bibir di pipi kiri suaminya itu. Seketika itu juga hati Anna serasa remuk oleh sebab sesak dibakar api cemburu.
Dengan kasar ditepiskannya tangan Daffa yang saat itu masih menggenggamnya, hingga terlepas. Dan Anna memandang tajam pada suaminya itu. Dengan matanya, Anna mengirimkan sinyal tanya kepada Daffa dalam diam.
'Siapa lagi wanita ini?! Beraninya dia mencium mu di depanku?!'
__ADS_1
***