Cinta Sang Maharani

Cinta Sang Maharani
Kembalinya Raja Jordan


__ADS_3

Anna lalu bergeser dan berdiri di samping kanan kursi tahta. Ia memberikan anggukan kepala ke arah Papanya, Jordan, sebagai tanda penghormatan.


Setelah itu, tanpa bicara apa-apa, Jordan menggantikan posisi Anna di kursi tahta. Membuat semua orang diam terkesima dengan perkembangan yang terjadi selama beberapa menit ini.


Tak ada yang bicara. Tak ada yang berani menyanggah kekuasaan Jordan untuk kembali menduduki tahta rajanya. semua hadirin seolah mengakui Jordan kembali sebagai raja mereka. Kecuali beberapa orang tertentu, semisal Alul Lazam.


Sedari Raja Jordan memasuki area pandang para hadirin audiensi, Alul Lazam langsung menyipitkan matanya hingga tampak tajam.


Alul Lazam juga tak menundukkan kepala seperti kebanyakan menteri dan pejabat istana lainnya, ketika Ratu Anna mengajak semua hadirin memberikan penghormatan kepada Raja Jordan.


Alul Lazam hanya terlihat memainkan tiga butir gundu dalam genggaman tangan kanannya, menjadi semakin cepat. Seolah-olah ia telah mengetahui kembalinya raja lama mereka.


Jordan sendiri sebenarnya merasa gugup untuk kembali tampil di atas podium kursi tahta sebagai raja. Seolah-olah itu adalah hari pertamanya dinobatkan sebagai raja.


Padahal ia pernah menjabat sebagai raja negeri Nevarest selama kurang lebih tujuh tahun. Padahal ketika di bumi pun ia sering tampil dan syuting di hadapan banyak orang. Tapi tetap saja kegugupan itu kembali datang menyergapnya.


Namun kemudian, Jordan teringat dengan istri sekaligus ratu nya, Elva, yang saat ini tak sadarkan diri di kediaman utama mereka. Jordan langsung mengepalkan tangannya erat-erat.


Dan seketika itu juga kegugupan di hati Jordan pun sirna, seolah tak pernah ada. Digantikan oleh amarah pada sosok di balik bayangan yang saat ini belum ia ketahui identitasnya.


'Siapapun mereka!? Siapa pun dia?! Akan ku tangkap semua orang yang terlibat dalam sakitnya Elva!' sumpah Jordan dalam hati.


Jordan perlahan mengedarkan pandangannya ke setiap wajah di Aula Besar saat itu. Hampir semuanya langsung menunduk ketika mata mereka beradu dengan matanya.


Kebanyakan orang yang Jordan lihat di Aula saat itu tidak dia kenal. Dari sekitar 87 menteri dan pejabat istana yang hadir, mungkin hanya ada belasan saja yang wajahnya tak asing bagi Jordan.


Sampai kemudian, mata Jordan beradu pandang dengan sepasang mata setajam elang dengan celak hitam yang cukup tebal dan semakin menegaskan kepribadiannya yang keras.


Sepasang mata itu bertahan cukup lama saat bertatapan dengan Jordan. Sehingga Jordan bisa melihat kilatan rasa tak suka dari sepasang mata itu.


Jordan terkesima untuk sesaat. Tapi ia tetap mempertahankan kontak mata di antara keduanya. Hingga akhirnya, pemilik mata tajam itu pun ikut menunduk seperti mata para menteri dan pejabat lainnya.


Tapi Jordan masih tak beralih dari wajah orang tadi. Dan justru mempelajari profil keseluruhan orang itu.


Orang itu bertubuh gempal dan tinggi. Mungkin setinggi diri Jordan sendiri. Ia memiliki kulit sawo matang, hidung bangir, alis tebal yang saling bertaut, sepasang bibir tebal, rambut kriting, serta tanda lahir hitam sebesar telur ayam di bagian rahang kirinya.


Semua hadirin sepertinya menyadari perhatian raja mereka yang terfokus pada satu titik. Sehingga karena penasaran, satu persatu dari mereka pun menolehkan kepalanya ke arah pandang yang sama seperti raja.


Dan seketika itu juga mereka tahu, siapa yang telah menarik minat sang raja terhadap dirinya. Dia tak lain dan tak bukan adalah Alul Lazam.

__ADS_1


Selama beberapa saat, Aula Besar terasa hening. Dan itu jelas disadari oleh Alul Lazam. Akhirnya ia berdehem pelan, dan berkata.


"Salam kejayaan bagi Baginda Raja yang telah kembali ke sisi kita. Semoga dengan kembalinya Baginda, dapat membawa kejayaan tertinggi bagi negeri kita Nevarest ini!" Tutur Alul dengan suara lantang.


"Salam kejayaan!"


"Salam kejayaan!" Seluruh hadirin menyahut ucapan Alul Lazam.


Raja Jordan kemudian memutus pandangannya dari sosok Alul. Ia memberikan anggukan singkat kepada semua menteri. Lalu kembali melihat ke arah Aluk Lazam.


"Siapa namamu?" Tanya Raja Jordan kepada Alul.


Setelah jeda sedetik, Alul pun langsung menjawab pertanyaan baginda.


"Saya Alul Lazam, Baginda."


"Apa jabatan mu?" Tanya Raja Jordan kembali.


"Saya menjabat sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan, Baginda Raja," jawab Alul kembali.


"Siapa Menteri yang menjabat sebelumnya? Sekarang dia di mana?" Tanya Raja Jordan lagi.


"Menteri Alul, jawab pertanyaanku!" Titah Sang Raja.


Setelah diam selama dua detik, akhirnya Alul Lazam pun menjawab dengan suara yang jelas terdengar meski tanpa pengeras suara.


"Menteri sebelumnya adalah Anek Minang. Dia sudah mati," jawab Alul Lazam.


Alis sang raja bertaut, pertanda ia kebingungan.


''Anek Minang? Putra dari Panglima Besar Jogo Minang?" Tanya raja untuk memastikan.


"Benar, Baginda Raja."


"Bukankah dia masih muda? Jika tak salah, Anek Minang hanya lebih tua tiga tahun dariku!" Tutur Raja Jordan.


Jordan ingat dengan Anek Minang. Karena ketika ia belum pergi ke bumi, Anek Minang adalah Komandan Tertinggi Nevarest yang ia tempatkan di perbatasan Nevarest dengan negeri Goluth.


Anek Minang adalah salah satu dari sedikit putra negeri Nevarest yang memiliki inner power terkuat. Karena Inner power Anek Minang adalah bisa mengeraskan tubuhnya jadi sekeras baja.

__ADS_1


Jadi, apa yang menyebabkan 'manusia baja' itu bisa mati?


Tak ada yang menjawab pertanyaan sang Raja. Semuanya seolah tak ingin menjadi orang yang menyampaikan berita kematian Anek Minang.


"Kapan dia... Mati? Apa yang menyebabkan dia.. mati? Alul Lazam, jawab pertanyaanku!" Titah Sang Raja dengan keterkejutan yang terlihat jelas dari nada suaranya yang meninggi.


"Anek Minang mati tenggelam ketika sedang melatih inner powernya di laut Anyelir, Baginda Raja. Kejadiannya satu bulan yang lalu," jawab Alul Lazam akhirnya.


Jordan terhenyak di atas kursi tahta yang ia duduki. Ia tak menyangka dengan nasib akhir Anek Minang yang sudah ia anggap sebagai kakak seperguruannya itu.


'Mati tenggelam?! Mustahil! Tak mungkin Anek Minang mati tenggelam begitu saja. Pasti ada sesuatu yang tersembunyi dari kematiannya itu!' Jordan menggeram dalam hati.


Setelahnya Raja Jordan terlihat menenangkan dirinya lagi. Seolah-olah berita tentang Anek Minang adalah sesuatu yang biasa baginya.


"Baik. Da ucapkan terima kasih kepada semua menteri serta pejabat istana sekalian yang telah menjaga Negeri Nevarest kita ini dengan baik selama Da pergi," tutur Raja Jordan mengawali orasinya.


"Da telah mengalami banyak hal yang sulit untuk diceritakan kepada semua saat ini. Tapi Da membawa banyak ilmu baru yang akan Da gunakan demi kejayaan negeri kita Nevarest!"


"Kejayaan bagi Nevarest!" Teriak salah satu suara di ujung Aula. Yang kemudian langsung mendapat sahutan ramai dari hadirin audiensi lainnya.


"KEJAYAAN BAGI NEVAREST!!!"


("Da" adalah panggilan seorang penguasa Nevarest kepada dirinya sendiri ketika ia berbicara di depan orang lain. Memiliki makna yang sama dengan kata 'saya')


Raja Jordan mengangkat telapak tangan kanannya ke depan. Pertanda ia meminta keheningan untuk ia kembali bicara.


Setelah Aula Besar kembali hening, barulah Raja Jordan kembali berkata.


"Karenanya, dengan ini Da akan mengangkat diri Da kembali sebagai raja negeri ini. Sementara Ratu Anna akan mengurus tugas seorang ratu untuk sementara waktu, selama Ratu Elva masih menyepi."


(Raja Jordan sengaja menyebut kata 'menyepi' bagi Ratu Elva yang sebenarnya sedang sakit. Bagaimana pun juga keluarga kerajaan harus menampilkan diri sebagai sosok yang kokoh dan tangguh. Jadi kata 'sakit' dianjurkan tak digunakan untuk disebutkan di khalayak ramai)


"Siapa yang tak setuju dengan keputusan Da ini, silahkan angkat tangan!"


Hanya keheningan yang menjawab tantangan Raja Jordan. Hingga tak lama kemudian, terdengar suara teriakan di ujung ruangan.


"Kejayaan bagi Nevarest! Kejayaan bagi Raja Jordan!"


"KEJAYAAN BAGI NEVAREST!! KEJAYAAN BAGI RAJA JORDAN!" Sahut semua hadirin beramai-ramai.

__ADS_1


***


__ADS_2