
Daffa sudah membawa Anna kembali ke kamar tidur mereka di lantai atas kini.
Saat tadi Daffa mengajak Anna untuk pulang ke penthouse mereka, Anna malah menolak ajakannya itu. Anna lebih memilih untuk beristirahat terlebih dahulu di kamar lamanya di lantai atas ini.
Meski Daffa sempat bingung dengan kemauan Anna, pada akhirnya ia tetap mengikuti keinginan istrinya itu.
"Sekarang Anna, bisa tolong kamu cerita ke saya, apa yang sebenarnya terjadi malam ini? ke mana saja tadi kamu pergi? Kenapa kamu gak bilang dulu ke saya pas kamu mau pergi?" Tanya Daffa bertubi-tubi.
Anna meletakkan gelas mug yang kini tinggal berisi separo teh hangat. Ia menatap suaminya itu selama beberapa jenak. Baru kemudian mulai bercerita.
"Maaf ya, Sayang. udah bikin kamu jadi khawatir. Tadinya aku cuma mau jalan-jalan sama Sella untuk cari udara segar. Lalu tiba-tiba saja lampu di lorong padam. Dan ada seseorang yang membekap mulutku dan menarik paksa aku ke dalam ruangan tadi.." tutur Anna bercerita.
Selama beberapa detik Anna memberi jeda pada ceritanya, untuk kemudian melanjutkannya kembali.
"Orang itu berusaha melukaiku.. tapi syukurlah, ada seseorang yang mengetuk pintu. Dan tak lama kemudian, dia tiba-tiba saja pergi meninggalkanku,." Anna kembali memberi jeda pada ucapannya.
"Lalu lampu kembali menyala.. dan aku melihat Ayah sudah dalam kondisi tertelungkup seperti tadi. Aku berusaha untuk mencabut pisau itu, tapi ternyata usahaku itu malah membuat darah Ayah mengucur deras.."
"Dan, saat aku baru mau keluar ruangan untuk meminta bantuan, tahu-tahu orang-orang sudah datang dan berkumpul di depan pintu. Dan mereka menuduhku telah.. telah melukai Ayah.."
"Tapi aku gak sengaja melukai Ayah, Daff! Sebelum aku menemukannya, Ayah memang sudah mendapatkan luka tusukan!" Ucap Anna buru-buru.
"..."
"..."
"Lalu, apa kamu mengenali suara orang yang menyekapmu ke dalam ruangan itu, Anna?" Tanya Daffa dengan nada hati-hti.
Kedua mata cokelat milik Anna yang tadinya bersitatap dengan kedua mata hazel nya Daffa, mendadak saja menurunkan pandangannya. Dengan kepala menunduk, Anna pun menjawab, "Tiang tak tahu.."
"?!" Jantung Daffa tiba-tiba saja berdetak sangat cepat. Ia menangkap keganjilan dalam jawaban Anna barusan. Karenanya ia pun bertanya kembali. "Kamu barusan bilang apa?.. Anna?" Tanya Daffa kembali.
Anna mengangkat kepalanya hingga memandang kembali pada Daffa. Setelah mengerjap kebingungan beberapa kali, Anna pun kembali berkata, "aku gak tahu siapa yang menyekapku tadi, Daff.."
Daffa menyelidik Anna lewat tatapannya. Dan ia menangkap ekspresi bingung tak mengerti pada wajah istrinya itu. Ia pun menghela napas. Mengira ia pasti sangat kelelahan tadi sehingga salah mendengar Anna mengucapkan kata ganti "tiang".
("tiang" adalah kata ganti dalam bahasa Nevarest yang memiliki makna "aku" dalam bahasa Indonesia di bumi)
"Daffa.."
"Hmm..?"
"Sebenarnya apa hubungan kamu atau keluargamu dengan Teh Anis? Dan juga Karina? Kenapa mereka tadi ada di sini?" Tanya Anna tiba-tiba.
"Anis sebenarnya adalah sepupuku. Dia itu putri satu-satunya Tante Soraya."
"Apa? Bukankah katamu Tante Soraya itu single?" Anna kembali melontarkan tanya.
"Well.. aku sendiri kurang tahu pasti cerita detailnya seperti apa. Tapi menurut Ayah Zion, dulu sekali Tante Soraya sebenarnya pernah menikah secara agama. Namun, di usia pernikahan mereka yang belum lagi genap sebulan, tiba-tiba saja suami Tante Soraya menghilang pergi tak tahu ke mana. Sayangnya, suaminya itu juga tak tahu kalau Tante telah mengandung Anis saat itu.." Papar Daffa bercerita.
"Ooh... Lalu, bagaimana dengan Karina? Kenapa dia juga bisa ada di sini?" Tanya Anna kembali tentang topik yang berbeda.
"Karina?" Daffa memberi Anna tatapan bingung.
"Iya. Itu loh perempuan yang tadi juga membela ku selain Teh Anis.." Anna memberikan penjelasan singkat.
"Oh, dia. Kamu mengenal perempuan itu, Sayang?"
"Ya. Dia itu.. teman ku di kampus," jawab Anna tak sepenuhnya jujur.
"Oh. Dia.." di sini, Daffa tampak canggung untuk memberi penjelasan.
"Dia itu salah satu anak temannya Ayah yang pernah diajak bertemu dengan saya. Tapi saya gak punya feeling apa-apa sama dia, Sayang! Justru teman mu itu yang agak kelewatan saat membalas penolakan saya padanya.." tutur Daffa menjelaskan.
__ADS_1
"Kelewatan.. gimana?" Sebuah kecurigaan tiba-tiba saja muncul di benak Anna. Kecurigaan atas semua sikap kejam Karina padanya beberapa hari terakhir ini. Alasan sahabatnya itu tiba-tiba menjadi marah tanpa sebab kepadanya.
Kecurigaan Anna itu dibuktikan dengan ucapan Daffa berikutnya.
"Dia sepertinya marah dengan penolakan saya. Jadi, dia membuat saya harus membayar biaya tagihan makan semua pelanggan di restaurant yang saat itu ada di sana. Bayangkan betapa kagetnya saya, Sayang. Saat Bella menunjukkan tagihan makan di restaurant yang mendekati satu milyar, akibat dari perbuatan teman kamu itu!"
Di depan Daffa, Anna tampak tercenung. Kini Anna pun akhirnya mengetahui alasan Karina marah kepadanya.
Karena lelaki yang Karina sukai, dan pernah menolaknya dulu ternyata adalah Daffa. Sahabatnya itu merasa cemburu dan mungkin tersakiti saat Anna memberitahunya nama Daffa sebagai lelaki yang telah ia nikahi.
"Anna, Sayang.. kamu gak apa-apa?" Daffa bertanya khawatir saat dilihatnya Anna yang malah melamun.
Pikiran Anna yang kusut itu pun membuyar saat tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pada pintu kamar mereka.
Tok. Tok. Tok!
"Anna.. Daffa.. ini aku, Anis.." ucap suara Teh Anis dari balik pintu.
Daffa menatap bingung pada Anna, yang terlihat seolah telah menunggu kedatangan sepupunya. Dilihatnya Anna yang hendak bangkit berdiri untuk membuka pintu. Namun Daffa menahannya, "Biar saya saja yang membukanya.." ucap Daffa kemudian.
Anna pun tak menolak tawaran Daffa. Dan ia melihat Daffa berjalan mendekati pintu untuk mempersilahkan Anis dan Karina masuk.
Keduanya lalu duduk pada bangku sofa yang ada dalam ruangan itu. Sementara Daffa memutuskan untuk berdiri di belakang sofa tempat Anna mendudukkan dirinya.
Terlihat jelas Teh Anis yang kebingungan untuk mulai bicara. Karenanya Daffa pun menjadi yang pertama memecah keheningan dalam kamar itu.
"Apa yang ingin kamu sampaikan, Nis? Dan apa ada sesuatu yang bisa kalian katakan kepada saya terkait kejadian malam ini?" Tanya Daffa mengawali.
Teh Anis tampak memandang ke arah Anna untuk waktu yang cukup lama. Bahkan sedikit agak terlalu lama.
Setelah memandang Anna, Teh Anis terlihat mengangguk pelan sekali, sebelum akhirnya mulai berkata.
"Aku datang ke sini untuk mengantarkan Karina. Menurutnya, ia mendengar dua orang pelaku penyerangan Ayah Zion secara tak sengaja," ucap Teh Anis menjelaskan.
Sementara itu, sekilas saja Anna sempat menangkap kilatan sedih di wajah sahabatnya itu, saat mendapati sapaan tak akrab dari Daffa kepadanya. Namun itu hanya sekilas saja.
Karina lalu melirik sekilas pada Anna, yang kini menatapnya sendu. Dan Karina buru-buru mengalihkan pandangannya lagi ke Daffa. Dengan tatapan berani, Karina memandang lelaki yang pernah dan masih dicintainya itu.
"Ya. Sewaktu aku baru datang ke sini, aku sempat mengalami insiden. Karenanya aku meminta seorang pelayan untuk mengantarkan ku ke sebuah kamar ganti. Begitu selesai membenahi gaun ku, aku pun memutuskan untuk kembali ke ruangan pesta."
"Tapi di perjalanan, aku tak sengaja mendengar dua suara lelaki yang sedang bertengkar dari pintu sebuah ruangan yang agak terbuka. Yang satu kukenal sebagai suara Om Zion. Sementara yang satunya lagi, aku gak kenal.."
"Karena takut ketahuan menguping, aku pun memilih untuk berbalik pergi ke kamar ganti, sambil menunggu beberapa waktu. Tapi lalu aku perlu ke toilet. Dan aku pun pergi ke toilet. Selesai itu, aku gak buru-buru keluar dari kabin toilet.."
Sampai di sini, Karina tampak ragu untuk melanjutkan ucapannya.
"Lalu, apa lagi yang terjadi?" Tanya Anna tiba-tiba.
Karina memandang kembali pada Anna.
Dua orang sahabat itu kembali bersitatap untuk waktu yang lama. Sampai kemudian, Karina tiba-tiba saja memandang bingung ke arah Anna. Sebelum akhirnya kembali melanjutkan ceritanya.
"Well.. kamu kan tahu kalau aku punya kebiasaan jelek untuk listening musik dengan head set. Jadi, karena aku bosan dengan acara pesta, akhirnya aku memutuskan untuk mendengarkan musik lewat head set dalam kabin toilet.."
"Terus pas head set ku gak sengaja terlepas dari kupingku, aku gak sengaja malah dengar dua orang yang lagi bisik-bisik bicara di dalam kamar mandi gak jauh dari kabin tempatku duduk.."
"Itu adalah suara seorang wanita, yang aku gak kenal. Dan juga suara lelaki yang tadi sempat kudengar sedang bertengkar dengan Om Zion!" Tutur Karina.
"Mereka mengatakan sesuatu tentang 'rencana besar untuk menjebak wanita itu'. Tapi aku gak tahu kalau yang dimaksud dengan wanita itu adalah kamu, Ann. Sampai aku dengar tentang kamu yang dituduh telah menyerang Om Zion tadi.." ucap Karina menutup perkataannya.
Sampai di sini, jantung Anna tiba-tiba saja berdegup. Secara refleks, ia langsung memeluk sahabatnya itu dan menegur Karina.
"Dasar ceroboh! Bukan kah sudah ku bilang berkali- kali untuk meninggalkan kebiasaan jelek mu itu, Rin! Syukurlah pembunuh itu gak tahu kalau kamu ikut mendengar pembicaraan mereka! You really made me worried sick (kamu sungguh membuatku sangat cemas)!" Tegur Anna sambil tetap memeluk erat Karina.
__ADS_1
Selama beberapa waktu, suasana menjadi hening.
"Berarti kamu bisa mengenali suara pelaku nya, begitu kah nona Karina?" Tanya Daffa tiba-tiba.
Seketika itu juga Anna merasakan teror. Secara refleks, ia meraih liontin kalung berbentuk hati yang bertengger di lehernya. Anna langsung menoleh ke arah Daffa dan memberi suaminya itu tatapan tajam. Berharap Daffa mengerti dengan apa yang ingin ia sampaikan.
'Jangan ucapkan apapun lagi, Daff!' suara batin Anna bicara.
Daffa terlihat mengerjap kebingungan ke arah Anna. "Barusan, kamu bilang sesuatu, Sayang?" Tanya Daffa dengan pandangan bingung.
Anna kembali menggeleng pada Daffa. Sebelum akhirnya menyahut singkat, "enggak. Aku gak bilang apa-apa," ucap Anna.
Anna lalu mengucapkan sesuatu dengan suara yang agak keras. "Kamu pastilah akan kesulitan untuk mengenali suara pelakunya lagi kan, Rin? Soalnya kamu kan orangnya sering lupa ya.. " tutur Anna dengan memberi tekanan lembut pada jemari Karina.
Karina sebenarnya merasa bingung dengan ucapan Anna. Tapi, entah kenapa, ia kembali mengikuti kata hati nya untuk mengiyakan saja ucapan Anna.
"Ya.. aku memang sudah lupa dengan suara pelakunya.." ucap Karina.
"Apalagi waktu itu mereka cuma bisik-bisik aja!" Tambah Karina kembali.
Daffa menghela napas kecewa. Ia tak menyangka bisa melepas bukti kuat yang akan menuntunnya pada identitas sang pelaku penyerangan Ayah Zion.
Dalam benaknya, Daffa pun berusaha untuk mencari bukti-bukti lainnya.
Tak lama kemudian, sebuah ketukan lain terdengar dari balik pintu kamar.
Daffa kembali membukanya dan mendapati wajah Kak Marine yang sudah bersimbah oleh air mata.
"Aku baru mendengar apa yang terjadi pada Ayah. Apa benar kalau dia dibb.. bunuh?!" Cecar Kak Marine dengan nada setengah histeris.
"Bukan dibunuh, Kak. Ayah diserang.." Daffa meralat pernyataan Kak Marine.
"Lalu pelakunya..?" Kak Marine lalu menatap ke dalam ruangan kepada Anna.
Membuat pandangan Daffa tiba-tiba mengeras, sebelum akhirnya memberi Marine jawaban tegas.
"Bukan Anna pelakunya!"
"Oh!" Kak Marine terlihat menunduk.
Lalu, belum sempat ia mengatakan apa-apa lagi saat tiba-tiba saja hp Daffa berdering nyaring.
Daffa pun mengeluarkan hp dari saku jas nya. Dan berbicara pada orang di seberang telepon.
"Ya?"
"..."
"Apa?! Baik. Saya akan ke sana sekarang juga!" Ucap Daffa tiba-tiba.
Setelah Daffa menutup panggilan teleponnya, ia lalu memberikan penjelasan.
"Kondisi Ayah memburuk. Aku.." Daffa memberikan Anna pandangan ragu.
"Pergilah, Daff! Aku akan baik-baik saja di sini. Aku mungkin akan bersama dengan Teh Anis dan Karina. Pergilah ke rumah sakit sekarang juga! Ayah menunggumu!" Ucap Anna memberikan ijin.
Daffa lalu memberikan Anna pandangan terima kasih. Dan, dengan santainya dan tanpa malu, Daffa memberikan Anna kecupan di kepala. Membuat wajah Anna merona malu sebab ia masih menyadari keberadaan Teh Anis, Kak Marine, dan juga Karina dalam ruangan itu.
"I'll be back (aku akan kembali)! Jangan pergi ke mana pun juga. Aku akan mengirimkan petugas keamanan terbaik di sekitar kamar kita ini. Jadi kamu gak perlu khawatir!" Tutur Daffa seraya menatap serius pada Anna.
"Ya. Ya. Ya. Aku percaya kamu. Sudah! Pergilah Daff! Ayah menunggumu!" Usir Anna dengan halus.
Dan Daffa pun pergi bersama Kak Marine. Meninggalkan Anna bertiga bersama Teh Anis dan Karina dalam ruangan itu.
__ADS_1
***