Cinta Sang Maharani

Cinta Sang Maharani
Persiapan Pulang


__ADS_3

Malam harinya, Anna sibuk mengepak barang-barang miliknya dan Daffa. Rencananya besok pagi mereka akan check out dari hotel dan bertolak balik ke Jakarta.


Saat Anna sedang memasukkan pakaian dan perlengkapan pribadinya ke dalam tas, Daffa sedang mengecek tugas dari kantornya di atas kasur. Sebuah laptop macbook bertengger manja di atas pangkuannya.


Setelah memasukkan hampir semua barang mereka ke dalam tas, Anna melepas penat nya dengan rebahan di sisi seberang kasur dari tempat Daffa terduduk.


Entah sudah berapa lama kemudian Anna tak sengaja tertidur, ketika ia menyadari tubuhnya diangkat oleh seseorang. Anna lalu membuka matanya sedikit saja. Dan sosok Daffa lah yang kemudian tertangkap di ujung retina nya.


Daffa lalu meletakkan tubuh Anna kembali ke tengah kasur. Pikir Anna, 'Mungkin tadi aku tidur terlalu ke pinggir'.


Ketika Anna kemudian menyadari Daffa yang hendak memberinya kecupan di kening, ia pun bersegera memejamkan matanya kembali. Walau dalam hatinya ia merasa dag. Dig. Dug tak karuan.


Bagaimanalah tidak? Sejak malam pertama mereka yang terjadi pada lima hari lalu itu, Daffa tak lagi meminta 'jatah' kepadanya.


Suaminya itu cenderung bersikap berhati-hati dalam memperlakukan Anna. Paling Daffa hanya sebatas memeluk istrinya itu saat mereka tidur. Dengan posisi tubuh Anna yang memunggunginya.


Hampir setiap pagi Anna selalu terbangun dalam kondisi tangan Daffa yang memeluk pinggangnya dari belakang. Dan kepala Daffa yang ia benamkan dibagian leher ataupun pucuk kepala Anna.


Seperti saat ini. Dengan mata yang terpejam Anna bisa merasakan ketika Daffa mengambil posisi tidur di belakangnya lagi. Dan seperti malam-malam sebelumnya, Daffa pun kembali melingkarkan tangannya di sekeliling pinggang Anna. Walaupun untuk kali ini, kepala Daffa diletakkannya menempel ke pucuk kepala Anna.


Beberapa waktu kemudian, saat Anna mengira Daffa sudah terlelap, barulah ia membuka kedua matanya lagi. Jantung Anna berdegup kencang saat menghikmati posisi tidur mereka yang intim itu.


Ada perasaan hangat yang Anna rasakan setiap kali Daffa memeluknya erat. Seolah-olah Anna merasa terlindungi.. Dan juga terjaga dari segala bahaya di dunia.


Kepada bahu tegap dan dada bidang suaminya itulah Anna kini menyandarkan diri dan hatinya. Kebersamaannya dengan Daffa selama seminggu terakhir telah membuat Anna bergantung pada sosok tampan nan perhatian itu.


Semua perhatian yang Daffa berikan kepadanya selama sepekan ini rasanya mulai menjadi candu, yang kepadanya Anna kesulitan untuk melepaskan diri lagi.


Beberapa waktu kemudian, secara perlahan Anna membalikkan badannya hingga akhirnya ia menghadap kepada Daffa. Anna lalu sedikit memundurkan tubuhnya agar ia bisa menengadahkan kepalanya sedikit ke atas, untuk melihat wajah Daffa.


Nafas Daffa terlihat teratur dilihat dari naik turunnya dada bidang pemuda itu. Semua garis serius di wajah Daffa kini tak lagi ada. Sehingga Anna bisa menilai wajah Daffa yang sebenarnya secara mendetail.


Dimulai dari dahi yang tak terlalu lebar, kedua alis hitam yang hampir bertautan, bulu mata panjang yang bertengger di kelopak matanya, hidung mancung dengan batang yang tegak meninggi, tulang pipi yang sedikit tirus, dagu yang lancip ditopang oleh tulang rahang yang tampak kokoh, serta.. bibir kecil berwarna pink namun terlihat penuh.


Ba- dump. Ba-dump.

__ADS_1


Ingatan Anna melayang ke malam pertama mereka. Saat itu, bibir di hadapannya inilah yang telah meninggalkan jejak-jejak panas di keseluruhan diri Anna. Tapi beberapa hari terakhir ini, bibir milik Daffa itu hanya bersarang di kening atau pipi Anna saja.


Anna menyadari kehati-hatian Daffa dalam memperlakukan dirinya. Padahal Anna juga menyadari hasrat yang dimiliki oleh suaminya itu.


Hampir setiap pagi, Anna selalu mendengar erangan dari dalam kamar mandi saat Daffa berada di dalamnya. Setiap kali mendengar suara-suara liar itu, seketika itu juga perut Anna terasa melilit dibuatnya.


Walau Anna masih mengingat nyeri saat pertama kali mereka berhubungan intim. Tapi Anna juga tak melupakan sensasi setelahnya yang membuat tubuh dan jiwanya serasa terbakar.


Kemudian, tanpa sadar, tangan kanan Anna terangkat dan menyentuh bibir milik Daffa itu. Dielusnya dengan pelan bibir Daffa, dalam beberapa kali usapan.


Entah kenapa, tenggorokan Anna kemudian tetiba saja kering. Ia pun menelan ludah. Dan, kupu-kupu imajiner itu datang dan menggelitik perut bawah Anna kembali.


Anna tetiba saja merasa menggigil, sehingga tanpa sadar ia merapatkan dirinya pada tubuh Daffa di dekatnya. Ia lalu dikejutkan oleh suara erangan kecil yang keluar dari mulut suaminya itu.


Ba-dump. Ba-dump.


Jantung Anna kembali bertalu-talu. Seketika itu juga matanya terangkat dan langsung menangkap kilauan pada dua mata Daffa yang kini telah separuh terbuka.


Ada hasrat yang Anna tangkap di kedua mata Daffa itu.


Ba-dump. Ba-dump.


Ba-dump. Ba-dump.


Bibir Anna tetiba saja terasa kering. Sehingga dengan spontan, ia menggigit pelan bibir nya untuk dibasahi dengan ludahnya sendiri.


Lalu, kedua gemintang huzzlenut nya Daffa pun seketika itu juga turun, mengikuti pergerakan bibir Anna.


Merasa gugup, Anna kembali memainkan bibirnya. Yang anehnya malah membuat gemintang di mata Daffa terlihat menggelap dan dalam.


Dan akhirnya, tetiba saja, wajah Daffa pun turun dan tampak mendekat ke wajah Anna. Hingga kemudian kedua bibir insan itu pun bertemu dan melepas liarkan hasrat yang telah terpendam selama beberapa hari lamanya.


Malam panjang nan syahdu pun kembali terjalin.


Dua hati kembali bertaut. Dua tubuh erat berpagut. Dan satu rasa pun menjalin simpul. Menjadi sebentuk cinta baru yang kian kokoh dan juga indah.

__ADS_1


***


Keesokan paginya, Anna kembali mengemas sisa barang miliknya dan Daffa yang masih sempat mereka gunakan pagi tadi.


Saat ia sudah selesai mengepak barang, Daffa tiba-tiba saja masuk ke dalam kamar membawa dua bungkusan di tangannya. Sebuah senyuman lebar terpampang indah di wajah tampannya.


"Saya udah beli sarapaaan.. kita makan dulu yuk, sekarang!" Ajak Daffa dengan nada riang.


Melihat keriangan di wajah Daffa itu, entah kenapa Anna justru merasa sebal. Teringat kembali malam panas mereka yang kembali berulang semalam tadi hingga berjam-jam lamanya.


Daffa menggoda Anna dengan berbagai macam posisi bercinta, hingga ia dibuat lemas olehnya. Anna bahkan langsung tertidur dan tak sempat pergi membersihkan diri usai mereka bercinta karena ia terlalu letih untuk bangun dari tempat tidurnya.


Dan, lebih sebalnya lagi adalah, pagi tadi Anna kembali dibangunkan oleh suaminya itu dengan cara mesum. Tahu-tahu Daffa sudah berada di atasnya dan melakukan sit up berkali-kali ke dalam tubuh Anna.


Daffa baru selesai 'mengerjai' Anna, lama setelah adzan shubuh tak lagi berkumandang. Anna dibuat lemas dan hampir tertidur kembali jika saja ia tak mengingat ibadah shalat pagi yang belum ditunaikannya.


Kini Daffa bersenandung pelan. Entah lagu apa. Tapi yang jelas itu masih tak mengurangi rasa sebal Anna pada suaminya itu.


"Huh? Kamu kenapa, sayang? Kok gak makan. Malah lihatin saya aja," ujar Daffa menegur Anna.


Anna mendengus kesal. Lebih kesal lagi saat sedikit pergerakan saja telah menyadarkannya pada rasa ngilu dan linu di pinggang dan selangkangannya.


"Kamu!" Kecam Anna dengan mata melotot ke arah Daffa.


"Aku? Aku kenapa, Sayang?" Tanya Daffa kembali, masih dengan cengiran yang bertengger di mulutnya.


'Duh! Kalau gak inget dosa, udah pingin kutepok deh itu mukanya!' Anna menggeram dalam hati.


"Kamu kenapa sih? Jangan lihatin saya dengan muka nafsu gitu dong. Nanti kalau saya jadi pingin sit up lagi bareng kamu gimana coba? Barang-barang kita kan udah dipaking, Sayang.." ujar Daffa kembali.


Mata Anna melotot garang ke arah Daffa. Berusaha menjaga sabar, akhirnya Anna pun melampiaskan kekesalannya pada ayam goreng yang baru saja Daffa belikan sebagai sarapan mereka.


Kraaauk!


Gigi Anna beradu. Melu*mat daging ayam hingga tercincang kecil-kecil. Sementara matanya menatap garang pada sosok suaminya yang kini terlihat tengil dengan sebuah senyuman lebar.

__ADS_1


'Asem kecut!' serapah Anna di dalam hati.


***


__ADS_2