
Pada akhirnya, pagi hari itu, Daffa menjadi chef dadakan. Karena setelah nasi yang dimasaknya telah matang, ternyata telor dadar yang dimasak oleh Anna rasanya terlalu... Asin.
Merasa malu dan tak berdaya, Anna akhirnya membiarkan Daffa membuat nasi goreng untuk sarapan mereka. Dan, Anna harus mengacungkan jempol. Karena nyatanya, nasi goreng buatan Daffa sungguhlah enak.
Setelah sarapan, Daffa. Memaksa untuk mengantarkan Anna terlebih dahulu ke kampus. Karena Anna ada kuliah pagi jam sembilan. Dan saat mereka selesai sarapan, jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan.
Harap-harap cemas, karena khawatir akan terlambat, sepanjang perjalanan menuju kampus Anna jadi lebih pendiam. Sebenarnya pikirannya masih dipenuhi oleh rasa malunya kepada Daffa lantaran ketidakmampuannya menyiapkan sarapan tadi pagi.
Dalam hati Anna, ia sudah bertekad untuk sering berlatih memasak. Karena Daffa sepertinya tidak suka jika mereka mempekerjakan pembantu yang ada di rumah sepanjang hari.
Dalam perbincangan mereka selagi menunggu Daffa memasak nasi goreng, Daffa menuturkan kepada Anna. Bahwa sebelumnya ia tinggal di apartemen di Jakpus seorang diri.
Biasanya Daffa hanya akan menyewa jasa cleaning service untuk membersihkan rumahnya seminggu sekali. Karena seringnya Daffa beraktivitas di luar rumah.
Adapun soal makan, Daffa lebih sering makan di luar atau memesan makanan. Sesekali jika ia ingin makanan tertentu dan ia memiliki waktu senggang, maka Daffa akan memasak untuk dirinya sendiri.
Berbeda jika Daffa tinggal di mansion milik keluarga besar Ayah Zion. Di mansion itu terdapat sekitar tiga puluh asisten rumah tangga yang bertugas untuk melayani empat keluarga yang tinggal di sana.
Empat keluarga itu antara lain, keluarga inti yang terdiri dari Ayah Zion dan Yura, Kak Marine dan keluarganya, serta Bibi Soraya. Sementara itu tiga keluarga lainnya adalah dua keluarga dari Paman Yadi dan Paman Yono, serta satu keluarga dari Mamah Yati.
Daffa jarang pulang ke mansion keluarganya. Ia lebih senang hidup mandiri, sama seperti kehidupan sebelumnya saat ia masih berada di Nevarest.
Ayah kandung Daffa, yang adalah seorang pejabaf tinggi di Nevarest selalu mengajarkan Daffa untuk hidup mandiri dan tak bergantung pada orang lain.
Daffa sudah menawarkan kepada Anna untuk menggunakan jasa asisten rumah tangga. Tapi entah kenapa, setelah mendengar cerita Daffa, Anna pun merasa akan lebih nyaman bagi mereka untuk tidak mempekerjakan asisten rumah tangga yang tinggal seatap dengan mereka.
Anna lalu terpikirkan tentang Zizi. Jika Zizi tinggal bersama Anna, maka Anna juga mau tak mau harus mempekerjakan seorang perawat untuk menjaganya.
'Jika saja Bi Inem mau tinggal di sini juga..' batin Anna berhayal. Sayangnya harapan Anna itu sepertinya sulit untuk dikabulkan karena sepengetahuan Anna, Bi Inem tak mau bekerja jauh-jauh dari rumah anaknya yang juga berada tak jauh dari komplek Anggrek Ayu, tempat rumah Mama Ira berada.
Anna mendesah oleh sebab rasa resah. Ia kini memandang ke kejauhan dari balik kaca mobil yang bergerak lancar.
"Kamu lagi mikirin apa, Ann?" Panggilan dari Daffa itu menyadarkan Anna dari lamunannya. Anna pun menoleh kepada Daffa.
"Aku berharap banget Bik Inem mau ikut tinggal bareng kita, semisal memang Zizi nanti akan tinggal dengan kita. Jadi aku gak akan terlalu khawatir mikirin orang yang bisa menjaga Zizi," tutur Anna bercerita.
Daffa meraih tangan kiri Anna hingga berada dalam genggamannya. Ditatapnya wajah Anna dengan pandangan hangat. Sebelum Daffa akhirnya berkata, "Kita akan menemukan jalan terbaik ya, Ann. Jangan terlalu khawatir.." saran Daffa.
Anna mendesah. Ia balas memandang Daffa dengan agak lama. Walaupun dalam hatinya, Anna menyimpan maksudnya tersendiri tentang keberadaan Bik Inem di penthouse mereka. 'Kalau Bik Inem bisa tinggal bareng kami, kan, aku bisa kursus masak gratis ke Bibi..' batin Anna bermonolog.
__ADS_1
Lima menit sebelum jam sembilan, mobil Bentley Daffa sampai di depan kampus Anna. Anna bergegas meraih tas ransel miliknya dan menggamit tangan Daffa untuk ia cium. Selesai mencium punggung tangan Daffa, Anna sudah akan keluar dari mobil, jika saja Daffa yang tidak menahan lengannya.
"Huh?" Anna menoleh tak sabar ke arah suaminya itu. Sebelah kaki Anna sudah berada di luar pintu, dengan pintu mobil yang terbuka sedikit. Baru juga Anna hendak bertanya alasan Daffa menahan lengannya, tapi kemudian suaminya itu memberinya kejutan manis. Sebuah kecupan dari Daffa, bersarang di dahi Anna, cukup lama.
"You forgot your spirit kiss (kamu lupa ciuman penyemangatmu)!" ucap Daffa dengan pandangan teduh. Membuat Anna sempat tertegun menyadari apa yang baru saja dilakukan oleh Daffa pada dirinya.
"Go up. Have a nice day, Ann (semoga harimu menyenangkan, Ann)!" Tutur Daffa kembali.
Kemudian Anna menundukkan wajahnya lantaran malu. Ia tak memandang langsung mata Daffa ketika ia membalas ucapan Daffa tadi dengan lirihan tak jelas. "You too, Daff!"
Setelahnya, Anna bergegas turun dari Bentley dan melesat pergi menuju ruang kelas kuliahnya. Ketika langkahnya sudah agak jauh dari pintu gerbang kampus, Anna menyempatkan diri untuk kembali menoleh ke belakang.
Dan, apa yang dilihatnya membuatnya kembali tersipu malu. Karena mobil Bentley Daffa nyatanya masih terparkir di tempat yang sama. Apalagi tak lama kemudian, jendela mobil Daffa itu terbuka hampir seluruhnya.
Tampaklah Daffa yang memberikan Anna senyuman dari jauh.
'Be save!'
Anna seolah mendengar Daffa mengucapkan kalimat itu, saat ia melihat mulut Daffa yang bergerak.
Anna lalu memberikan anggukan pelan ke Daffa dan kembali berbalik pergi menuju ruangan kelasnya berada.
***
Ketika hendak menaiki lift menuju ruang kelasnya yang berada di lantai tiga, Anna mendengar suara seorang wanita menyapanya dari arah belakang.
"Anna! Kemarin kemana aja? Sakit?"
Seketika itu juga Anna menoleh dan mendapati wajah seniornya, Mbak Eri yang menatapnya penasaran.
Terlebih dahulu, Anna membalas senyuman hangat Mbak Eri. Sebelum akhirnya ia berkata, "Anna izin, Mbak.." jawab Anna. "Ada keperluan keluarga.." sahut Anna menambahkan.
"Ooh.. kirain ke mana. Soalnya tiga hari lalu anak mading nanyain kamu. Itu loh Bang Gus. Dia katanya mau minta kamu nulisin puisi lagi. Temanya Hari Kartini, Ann. Kan bentar lagi ya tanggal nya. Gimana, bisa gak, Ann?"
Anna memang ikut dalam keanggotaan BEM Fakultas (Badan Eksekutif Mahasiswa, setara dengan OSIS di SMA) bagian jurnalis. Biasanya ia menuliskan artikel atau puisi untuk membantu mengisi mading yang ada di fakultas nya.
Anna tak sengaja ikut terseret oleh Karina yang memang aktif di BEM. Sementara Anna hanya sesekali membantu kegiatan BEM. Sisanya, ia lebih sering menyambi jualan donat dan ATK (Alat Tulis Kantor) saja.
"Oh.. iya Mbak. Nanti Anna coba buat deh ya.." sahut Anna menjawab pertanyaan Mbak Eri tadi.
__ADS_1
"Yaudah. Yang penting udah Mbak sampein. Deadline nya katanya hari kamis ya, Anna!" Mbak Eri mengingatkan.
"Iya, Mbak. Kalau begitu Anna turun duluan ya, Mbak!" Pamit Anna kepada Mbak Eri ketika pintu lift sudah terbuka di lantai tiga, tempat ruangan kelas Anna berada. Sementara Mbak Eri masih harus menunggu dua lantai lagi untuk tiba di ruangan kelasnya.
"Iya, Anna. Bye!"
Setelahnya, Anna bergegas jalan menuju ruang kelasnya. Yang, syukurlah masih belum ada kehadiran sosok Miss. Hapsah.
"Anna! I miss you so!!" Seru Karina saat melihat Anna yang menengok ke dalam kelas dari muka pintu.
Tak lama kemudian, kedua bestie itu pun berpelukan singkat.
"Sepii rasanya dunia tanpa kamu, Ann! I'm feeling so lonely.." keluh Karina yang menopangkan dagunya di atas meja tulisnya seraya menatap lekat sahabatnya, Anna.
Anna yang baru duduk di samping Karina pun lalu mengeluarkan tas plastik dari dalam ranselnya. Di dalam plastik itu adalah cindera mata yang sudah ia siapkan untuk teman-teman kelasnya. Hadiah yang, menurut Daffa adalah salam perkenalan dari suaminya itu.
"Boleh nih, Anna yang habis liburan. Oleh-olehnya mana dong.." serobot Bayu yang duduk di belakang Anna.
Anna menengok ke belakangnya, dan memberikan Bayu senyuman tipis.
"Beres, Bayu. Ini ada nih oleh olehnya. Jadi impas yaa!" Seru Anna seraya mengulurkan bungkusan plastik di tangannya kepada Bayu.
Bayu langsung sumringah dan mengambil bungkusan plastik itu dari tangan Anna.
"Eits! Itu untuk semua temen di kelas yaa.l!" Anna memperingatkan Bayu yang nampak sudah mulai membuka ikatan bungkusan di tangannya.
"Oke oke deh Bu Negara..Woy semua! Ni oleh-oleh nih dari Anna!" Teriak Bayu yang langsung menarik perhatian seluruh mahasiswa yang ada dalam ruangan.
"Punyaku di situ juga, Ann?" Tanya Karina seraya menatap harap pada bungkusan di tangan Bayu.
"Gak, Rin.. syuut.. ini! Jangan berisik. Aku beliin yang spesial buat kamu!" Bisik Anna seraya menyerahkan bungkusan kecil yang berisi cindera mata untuk Karina.
"Waa. So thank you, dear..!"
Berselang tak lama kemudian, kehebohan yang tercipta dari cindera mata Anna itu pun terhenti manakala Miss. Hapsah masuk ke dalam ruangan.
Dan pembelajaran hari itu pun berlanjut hingga satu setengah jam berikutnya..
***
__ADS_1