Cinta Sang Maharani

Cinta Sang Maharani
Kisah Anna (Tsy) bag. 3 end.


__ADS_3

"Ayo, masuk. Anna tinggal di sini," Ajak Ira kepada Tasya.


Dengan penasaran, Tasya melangkah memasuki pintu. Matanya seketika itu mengelilingi pigura foto Anna dan Jordan yang tergantung di dinding.


Potret Anna di foto memang tak bisa dibedakan dengan Tasya. Keduanya memiliki rambut hitam panjang yang sedikit bergelombang.


Perlahan Tasya mendekati salah satu foto. Ia lalu menunjuk ke sosok Jordan yang tersenyum lebar di foto.


"Itu.. siapa?" Tanya Tasya ragu-ragu.


"Jordan. Tentu saja, dia kan Papa mu juga."


"Papa?"


"Ya. Ayahmu. Tunggu dulu. Kamu gak kenal Papa mu sendiri?" Tanya Ira keheranan.


"..." Tasya tampak diam memperhatikan foto Jordan dan Anna yang saling tersenyum lebar.


"Kamu beneran gak kenal sama Papamu sendiri? Padahal terakhir kali kamu ke sini, kamu sudah cukup besar. Mungkin delapan tahun umur kamu waktu itu," Kicau Ira dengan suara pelan.


Tasya tak memperhatikan ucapan Ira. Ia khusyu memperhatikan setiap foto kembarannya dan Jordan.


Tak lama kemudian terdengar suara seorang remaja lelaki di muka pintu.


"Taan! Tante Ira!"


Seketika itu juga pandangan Ira dan Tasya beralih ke pemilik suara tadi.


"Frans? Kamu main?"


"Iya. Frans bete sama Papi. Masa Frans gak boleh kuliah ke Amerika. Padahal Frans udah bilang ke semua temen Frans kalo Frans mau kuliah ke LN... Eh, Anna. Kapan baliknya? Kirain lo mau minggat terus.."


"Frans! Stop!" Ira bergegas menghentikan Frans dari bicara tentang Anna. Jika Tasya tahu kalau Anna sudah menghilang, Ira khawatir Tasya akan memilih untuk pergi.


Jika Tasya pergi dan tak bertemu Syam, itu bagus. Tapi jika Sam menemukan Tasya lagi, lalu mengetahui Fakta kalau Tasya benar adalah kembaran Anna, itu sama sekali bukan berita yang bagus bagi Ira.


"Di mana Anna? Dimana... Ayahanda?" Tanya Tasya tiba-tiba.


"Hah? Lo ngomong apa sih, An? Ngaco deh!" Potong Frans kebingungan.


"... Siapa kamu? Saya Tasya. Kembarannya Anna. Saya ke sini mau ketemu Anna," Ucap Tasya.


"... Tasya?" Frans menatap heran pada Tasya. Ia lalu memberikan Ira pandangan bertanya.


"Jadi, gini Frans. Dia ini benar, saudara kembarnya Anna. Namanya Tasya."


"Kok Frans baru tahu ya..," potong Frans lagi.


"Nanti Tante jelasin ke kamu. Sekarang Tante minta tinggalin Tante dan Tasya berdua dulu."


"... Bocah itu?" Tanya Frans lagi sambil menunjuk pada Zizi.


Yang ditunjuk tampak diam di samping Tasya. Ira hampir lupa dengan keberadaan bocah perempuan itu.


"Dia.. biarin aja. Dia adiknya Tasya.. adiknya Anna juga. Udah. Kamu ke dapur aja dulu! Tadi Bik Inem habis goreng pisang," Perintah Ira kembali.


Frans lalu pergi ke dapur. Meninggalkan Ira bertiga dengan Tasya dan Zizi.


"Di mana sebenarnya Anna?" Tanya Tasya dengan nada menuduh.


"Anna sedang sekolah. Dia sekolah asrama. Jadi dia baru pulang ke rumah sebulan sekali," Ira mengarang cerita.

__ADS_1


Tasya memandang tajam Ira. Ia merasa Ira tak benar-benar jujur soal keberadaan Anna.


"Lalu di mana Ayahanda?"


"Jordan..menghilang. Ayah kamu tiba-tiba saja menghilang setahun yang lalu," Ira memutuskan untuk jujur saat menjawab soal Jordan.


Karena berita Jordan yang terkenal sudah tersebar di internet. Jadi mau berbohong pun rasanya percuma.


"Kemana Ayah pergi?" Tanya Tasya lagi.


"Sudah kubilang kan, menghilang. Kalau Mama tahu kemana Ayahmu pergi, sudah sejak lama Mama bawa pulang lagi. Karena kepergian Ayahmu itu, aku jadi kehilangan banyak kontrak film yang bagus!" Sesal Ira.


Tasya tak mengerti dengan hal terakhir yang diucapkan oleh Ira. Ia memandang bingung pada wanita berpenampilan minim di hadapannya itu.


Setelah diingat-ingat, sejak Tasya tiba di dunia ini, ia memang mendapati banyak wanita yang berpakaian mini. Melihat penampilan wanita-wanita itu membuat Tasya yang dididik oleh guru kerajaan pun menjadi risih.


'Mungkin itu gaya berpakaian wanita di dunia ini?' tebak Tasya dalam hati.


'syukurlah bahasa yang mereka gunakan masih sama,' gumam Tasya lagi.


Tasya mengingat kembali saat ia pertama kali mendengar fakta soal saudari kembarnya yang ada di dunia lain. Saat itu ia tak sengaja mendengar pembicaraan Bunda Rani dengan Patih Adda.


Begitu mengetahui adanya pintu ajaib di menara tertinggi, Tasya bergegas pergi ke menara itu. Dan ketika ia mendapati sebuah pintu ajaib seperti yang disebutkan oleh Bunda nya, ia pun langsung tergerak untuk membuktikan kebenaran tentang pintu ajaib itu.


Tasya hanya merasa menyesal karena ia telat menyadari keberadaan Zizi yang ternyata diam-diam mengikutinya dari belakang.


Dan ketika Tasya lalu keluar ke sebuah area kosong yang hanya terdapat enam pintu, ia lalu memasuki salah satu pintu lain yang nampak lebih menarik di matanya. Ia masuk ke pintu itu dan tahu-tahu ia keluar dari sebuah pintu lain yang kumuh dan berada di rumah kosong terbengkalai.


Tasya lalu keluar dari rumah kosong itu dan mendapati dirinya berada di area hutan. Saat ia baru melangkah beberapa menit, Tasya lalu mendengar suara rintihan Zizi di belakangnya yang terjatuh.


Sejak itulah keduanya berjalan menembus hutan dan keluar di sebuah jalan raya yang lapang.


Seumur hidupnya tinggal di Nevarest, Tasya hanya pernah melihat enam mobil saja di negeri asalnya itu. Jadi ia amat kaget saat mendapati banyaknya kendaraan mesin yang berlalu lalang di jalanan.


Pikirnya, warga di dunia ini tentulah teramat kaya setara para menteri di negeri asalnya Nevarest, sehingga banyak yang bisa memiliki kendaraan mesin.


"Hey. Kamu dengar Mama kan? Tasya?"


Suara panggilan Ira kepadanya membuyarkan lamunan singkat Tasya.


"Ya? apa?" Tanya Tasya gelagapan.


"Ayo ke atas. Kamar Anna ada di atas. Sementara kamu tinggal di kamarnya aja dulu. Lalu, adik kamu...?" Tanya Ira sambil menatap bingung ke arah Zizi.


"Zizi ikut De'. Biar kami tinggal di kamar yang sama," Saran Tasya segera.


"Yah.. oke lah. Ayo ikut Mama!"


"Baik.."


***


Flash back off.


"Tan? Tante Ira denger Frans kan? Halo?" Suara Frans terdengar memanggil berkali-kali di smartphone yang digenggam Mama Ira.


Mama Ira kembali tersadar dari lamunannya tentang pertama kali ia berjumpa dengan Tasya yang kini menjadi Anna.


"Tante Ira! " Suara bentakan dari Frans kembali menyadarkan Mama Ira kalau ia belum menjawab panggilan keponakannya itu.


"Ya, Frans. Sorry. Terus, apa bedanya Anna dari gadis lainnya? Dia cuma agak lebih cantik dari gadis umumnya. Bukan hal yang istimewa. Apalagi sejak dia kecelakaan karena sempat mau kabur, dia jadi hilang ingatan juga. Kamu pilih gadis lain aja deh, Frans."

__ADS_1


"Justru karena dia kecelakaan itu Tan, makanya Frans mau miliki dia. Kalo sampai ingatannya balik kan bisa gawat. Bisa-bisa Frans nanti masuk penjara. Frans gak mau masuk penjara, Tan.. Dan kalau sampe Frans masuk penjara, Tante juga bakal nyusul Frans ke penjara!" Ancam Frans.


"Loh? Kok Tante jadi ketarik juga sih. Tante gak tahu apa-apa loh ya soal tindakan gegabah kamu waktu itu," Gerutu Mama Ira.


Lama-lama Ira mulai kesal juga pada keponakannya yang bengal ini.


"Tante kebawa juga lah.. Kan Tante ikut sembunyiin identitas Tasya yang sebenarnya."


"..." Mendengar ucapan Frans itu, membuat Mama Ira terdiam.


"Dan Tante ku tersayang, kalau Anna (Tsy) jadi istriku, walaupun ingatannya kembali juga dia gak bisa ngelakuin apa-apa sama aku dong, suaminya.


"Apa Tante juga gak penasaran sama dunia lain yang dibilang Anna (Tsy) dulu? Dia pernah bilang kan kalau dia itu putri di kerajaan apa gitu.


"Kalung berlian yang dulu dia bawa dari dunia asalnya itu masih ada di Tante kan? Itu udah terbukti asli juga kan, Tan?" Bujuk Frans lagi.


Seketika itu juga Mama Ira memegang bandul kalung di lehernya. Ia melihat pantulan batu biru yang berkilau cantik di lehernya melalui kaca lemari di hadapannya.


'Ini memang kalung berlian asli. Apa benar yang dikatakan Tasya dulu, kalau ada dunia lain selain dunia ini?'


Mama Ira tertegun, merasa bimbang.


"Ayolah, Tan.. Frans kan keponakan tersayang nya Tante. Jadi Tante harus bantu Frans untuk dapatin Anna (Tsy) ya, Tan? Please.." bujuk Frans lagi.


"..."


"Tolong, Tan..?"


"Hh.. oke. Tante pingin bantu kamu. Tapi lawan kamu tuk dapatin Anna (Tsy) sepertinya bukan orang biasa Frans. Tante dengar dari mulutnya sendiri kalau orang tua lelaki itu, kerja di Zi Tech."


"Yang kerja di Zi Tech tuh banyak, Tan.. bisa jadi dia cuma anak OB yang bergaya kayak anak bos. Jangan ketipu sama penampilannya, Tan!" Tutur Frans lagi.


"Hmm.. gak tahu juga deh, Frans. Tante bingung. Apalagi besok dia bilang mau nikahin Anna. Waktunya udah mepet banget ini. Gak ada yang bisa kita lakuin lagi," Bujuk Mama Ira.


"Besok mereka mau nikah, Tan?!" Tanya Frans kaget.


"Iya, besok. Kan dari awal Tante udah bilang ke kamu!"


"Frans kira besok mereka cuma mau ngajak dinner Tante aja sebagai perkenalan. Sial. Itu beneran Tan?" Tanya Frans memastikan.


"Iya, Frans. Jadi gimana? Kamu masih tetep mau dapatin Anna (Tsy) atau udahlah nyerah aja. "


"Sial...!" Umpat Frans.


"..."


"Jam berapa? Acara besok?" Tanya Frans tiba-tiba.


"Kayaknya sekitar jam 10. Kamu mau ke sini Frans?" Tanya Mama Ira kebingungan.


"... Nanti Frans hubungi Tante lagi ya. Bye, Tan!" Pamit Frans sebelum menutup panggilan telepon.


"Tut.. tut.. tuut.."


"Halo? Halo? Frans? Ih. Satu anak ni gak bisa diatur," Keluh Mama Ira.


Mama Ira pun menaruh kembali smartphone nya ke dalam saku baju. Ia lalu kembali memasuki kamar tidurnya.


Mencoba menenangkan diri untuk menghadapi apapun yang akan terjadi keesokan harinya.


***

__ADS_1


__ADS_2