Cinta Sang Maharani

Cinta Sang Maharani
Strategi Tasya


__ADS_3

"Tentang itu.." Tasya tampak mempertimbangkan sesuatu. 'Sepertinya Tasya harus berpura-pura untuk tetap menjadi Anna terlebih dulu, Teh..' sambung Tasya lewat telepati.


"Kenapa, Tasy? Dia itu suami kamu. Kalian itu ibarat satu tubuh yang saling melengkapi. Maka sudah sepatutnya kamu menceritakan hal sepenting ini pada suamimu. Terbukalah pada Daffa, melebihi kamu terbuka pada orang lain, bahkan pada orang tuamu sendiri. Karena ketika seorang wanita telah menikah, keridhaan Allah terletak pada keridhaan suaminya. Jujurlah padanya, Tasya!" Teh Anis memberi saran dengan suara pelan.


Tasya masih terlihat bimbang. 'Tapi sepertinya situasinya mengharuskan Tasya untuk tetap berpura-pura hilang ingatan, Teh..' tutur Tasya kembali.


"Kata siapa? Kamu harus tetap berpikir jernih dalam menghadapi situasi apapun, Tasy. Selalu minta pada Allah untuk setiap pilihan yang akan kamu ambil. Jangan terburu-buru dan bertindak gegabah. Karena sikap terburu-buru itu datangnya dari syaitan. Na'udzubillahi min dzaalik.."


"Dan dalam hadits nabi Saw. pun disampaikan, bahwasanya, 'Sesungguhnya pada dirimu ada dua perangai yang Allah cintai. Yaitu mudah memaafkan dan tidak terburu-buru.'" (H.R. Tirmidzi no. 2011, disahihkan oleh Al-Albani)


"Saran Teteh, terbukalah pada Daffa, Tasy. Dia adalah nahkoda dalam bahtera rumah tangga kalian. Dia berhak untuk tahu atas masalah yang sedang kamu hadapi.." lanjut Anis memberikan nasihat.


'Walau ada mata-mata yang bahkan Daffa sendiri tak mengetahuinya, Teh?' sambung Tasya lewat telepati.


"Maksud kamu?" Anis bertanya tak mengerti.


'Sebelumnya, Tasya pernah diculik..'


"Innalillahi.." ucap Anis dengan spontan.


'Ya, Teh. Tasya sebelumnya pernah diculik oleh seseorang yang Tasya kenal. Tapi kemudian di detik-detik terakhir saat Tasya hampir kehilangan kesucian Tasya, pasukan keamanan yang dikirim Daffa tiba-tiba saja datang dsn menyelamatkan Tasya..'


"Alhamdulillah.. lalu?" Tanya Teh Anis dengan pandangan yang kini fokus menyeluruh kepada Tasya.


'Tapi, sebelum pasukan Daffa sampai ke gudang tempat Tasya diculik, ada seseorang yang datang terlebih dahulu. Dia mengaku sebagai salah satu pasukan keamanan Daffa yang ditugaskan untuk menyelamatkan Tasga saat itu. Dia mengatakan kalau teman-temannya yang lain akan segera tiba, dan malah memperingatkan dan membiarkan Frans untuk segera pergi menyelamatkan diri.'


"Tunggu dulu! Frans?! Maksud kamu, Frans Sihombing, putra dari Jendral Besar Sihombing, rekan kerjanya Paman Zion?!" Tanya Anis untuk memastikan.


Tasya lalu tampak memberi sinyal pada Teh Anis untuk memelankan suaranya, seraya menunjuk bungkusan kain di tepian meja.


'Tolong pelankan suara Teteh ya, Teh.. Tasya curiga, dalam kalung liontin yang ada di bungkusan kain itu, Frans sudah menyertakan alat sadap sekaligus juga pelacak!' Tegur Tasya pada Teh Anis.

__ADS_1


"Oh! Baiklah.. maaf ya, Tasy.." sahut Anis kembali dengan berbisik.


"Tapi.. apa kamu punya buktinya kalau Frans adalah pelaku penculikan kamu waktu itu, Tasy? Bersikap hati-hati lah untuk tidak menuduh sembarangan. Jika kamu salah menuduh, itu bisa jadi fitnah. Dan dalam Al-Quran pun disebutkan bahwasanya 'fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan'." (Q.S Al Baqoroh ayat 191)


'Bukti fisiknya, Tasya belum bisa pastiin sih, Teh. Baru ada liontin ini aja yang Tasya dapat dari Mama Ira. Dan, besar kemungkinan liontin itu berasal dari Frans. Karena waktu itu Mama Ira agak maksa Tasya untuk terus memakainya ke manapun Tasya pergi..' suara Tasya kembali berdengung di hati Anis.


Tiba-tiba Tasya pun teringat dengan kalung berlian miliknya yang seingatnya masih ia pakai saat terakhir kali sebelum ia kecelakaan.. Dan, Tasya pun ingat kalau Mama Ira pernah terlihat memakai kalung berlian nya itu.


Tasya merasa geram dalam diam. Bagaimanapun juga, itu adalah kalung pemberian Bunda Rani nya yang kini masih ada di Nevarest. Tasya berjanji untuk mengambil kembali miliknya yang telah dirampas oleh Mama Ira itu.


Usai kegusaran menjamahi hatinya, Tasya pun didera oleh perasaan rindu terhadap Bundanya. Betapa inginnya ia memeluk Bunda Rani Elva.. Bilangan tahun berlalu begitu saja tanpa Tasya teringat akan Bundanya. 'Bagaimana kiranya kabar Bunda saat ini..?' Tasya pun membatin.


"Tasya, intinya Teteh cuma bisa mengingatkan kamu. Untuk senantiasa bertindak hati-hati. Kumpulkan bukti-bukti terlebih dahulu sebelum kamu menuduh orang lain sudah berlaku zhalim padamu. Oke, Tasy?"


'Baiklah, Teh.. Tasya akan berusaha mengumpulkan bukti-bukti terlebih dahulu sebelum Tasya mengambil tindakan agresif,' tuturnya lewat telepati.


"Dan, sebisa mungkin, segera beritahu Daffa perihal ingatanmu yang juga sudah kembali, Tasy.. Jangan sampai kamu menyesal nanti karena telat memberitahukan hal sepenting ini pada suamimu.." nasihat Teh Anis kembali.


"Hmm.. ya.. Kita memang diperbolehkan untuk melawan jika ada yang berbuat zhalim kepada kita. Tapi, luruskan niat kamu untuk menghentikan orang itu dari berbuat jahat. Bukan karena amarahmu kepadanya. Insya Allah niat baik itu akan berbuah baik pula untukmu.."


'Hmm... Akan Tasya ingat pesan Teteh. Jadi, begini rencana Tasya untuk menangkap orang-orang itu, Teh.....'


Dan Tasya serta Anis pun asyik membincangkan perihal strategi yang dimaksud oleh Tasya itu. Dengan Anis yang berbicara dalam suara nyata. Serta Tasya yang berbicara lewat telepati.


Keduanya sibuk membincangkan strategi Tasya itu, hingga pukul sepuluh. Bahkan hingga Zizi sampai tertidur di sofa samping Tasya.


Sekitar jam sepuluh, Anis pamit pergi untuk tidur di dalam kamarnya sendiri. Sementara Tasya tidur bersama Zizi dalam kamar milik Daffa. Daffa sendiri sudah mengabarkan kalau malam itu, ia tak akan pulang ke mansion.


***


Keesokan paginya, Daffa kembali ke mansion. Selama hampir semalaman, Daffa menunggu kondisi Ayah Zion di depan pintu ruang ICU.

__ADS_1


Selama hampir tujuh jam, kondisi Ayah Zion berada dalam status kritis. Terlebih lagi Ayah memiliki riwayat hipertensi, sehingga kondisi Ayah cukup lama untuk bisa stabil.


Baru pada jam empat pagi lah akhirnya Ayah Zion bisa dipindahkan ke kamar inap.


Selama satu jam lamanya, Daffa menunggu Ayah di kamar inap. Sementara Kak Marine pulang ke mansion untuk mengurus keperluan sekolah Catherine, putri tunggalnya bersama Kak Adrian.


Dan setelah shalat subuh di mushola rumah sakit, Daffa lalu menitshkan Pak Kiman untuk mengantarkannya ke Kantor Bawah Tanah Perusahaan Zion Tech.


Menurut laporan dari anak buahnya, mereka berhasil mendapatkan salah satu pion tersangka penyerangan Ayah Zion semalam tadi. Dia adalah salah satu pelayan yang bertugas di dapur mansion Zion.


Daffa pun bergegas pergi ke kantor bawah tanah Zion Tech yang letaknya sekitar setengah jam perjalanan dari rumah sakit.


Begitu sampai di kantor pusat Zi Tech, Daffa langsung menuju ruang bawah tanah yang memang biasanya diperuntukkan untuk menghukum staf lapangan yang berbuat salah, atau pun pegawai Zi Tech yang ketahuan telah berbuat korupsi atau menjadi mata-mata bagi perusahaan lain.


Daffa lalu menuju ke ruang putih. Tempat interogasi para tahanan. Di sana, tampak seorang lelaki muda yang sedang duduk di atas kursi interogasi. Rambut sang pelayan tampak berantakan, pun jua dengan baju nya yang kusut. Di bawah mata sang pelayan tampak ada seperti kantung hitam, pertanda kurang tidurnya sang pelayan usai melalui proses interogasi hampir semalaman.


Berdasarkan pengalaman, waktu terbaik untuk menginterogasi seseorang adalah ketika pelaku sudah dalam kondisi lelah badan dan pikiran. Karena di saat kondisi yang seperti itulah pekaku jafi mudah diarahkan untuk memberikan jawaban yang sebenarnya.


Kondisi ruang putih yang Daffa tuju, sesuai dengan namanya. Ia berupa ruangan besar berukuran 5x5m dengan cat putih terang. Tak ada furniture selain sebuah kursi duduk yang juga berwarna putih dalam ruangan itu. Di mana pada kursi itulah kini seorang terduga pion pelaku penyerangan Ayah Zion sedang duduk dengan kedua tangan yang diborgol menyatu.


Daffa lalu masuk ke dalam ruangan itu, dan seketika, lampu sorot yang tadinya sengaja di arahkan ke wajah pelaku pun kemudian di on-off kan kembali.


"Katakan padaku, apa peranmu dalam penyerangan Ayah Zion semalam tadi?!" tanya Daffa to the point.


"Ampun Tuan Muda! Saya tak tahu apa-apa. Saya hanya diminta untuk mengantarkan makanan pada Tuan Besar. Saya tidak tahu dengan kesalahan saya sehingga saya dibawa ke sini!" jerit pelayan muda itu tak mengaku.


"Sungguh kau tak tahu apa-apa?" Daffa lalu meng-off kan lampu sorot. Sehingga sang pelayan bisa membuka kembali kedua matanya dan bertatapan langsung dengan Daffa.


"Lalu bagaimana dengan pesan tertulis yang ditemukan di baki makanan yang kau berikan kepada Ayah Zion?!"


Seketika itu juga wajah Sang pelayan jadi pucat pasi. Keringat dingin pun mulai mengucur dari pori-pori kulit di sekujur tubuhnya. Ia menelan ludah. Tak tahu nasib apa yang akan menunggunya nanti, saat ia melihat tatapan tajam dari Tuan Muda nya itu.

__ADS_1


***


__ADS_2