Cinta Sang Maharani

Cinta Sang Maharani
Karina ke LN


__ADS_3

Beberapa hari kemudian..


"Sayang.. kamu ngelamunin apa sih? Jangan banyak ngelamun ya, Sayang. Ingat, kamu lagi hamil loh!" Tegur Daffa kala melihat sang istri duduk bertopang dagu sambil menatap kosong ke luar jendela.


Tasya tak menyahut. Pertanda ia masih khusyu dalam lamunannya.


Daffa yang merasa penasaran dengan apa yang dilamunkan oleh sang istri, pada akhirnya tergoda juga untuk menjahili istrinya itu. Ia lalu berdiri di belakang Tasya, lalu langsung menyergap istrinya dalam sebuah pelukan mesra. Sengaja pula ia hujani tengkuk sang istri dengan kecupan-kecupan lembut.


Membuat Tasya langsung berjengit terkejut bahkan sedikit lompat dari tempat duduk nya.


"Daff! Apaan sih?! Ngagetin aja!" Tasya meraung marah.


Daffa tak langsung melepas pelukannya pada sang istri. Ia masih saja melingkari perut Tasya dengan kedua tangannya. Plus kepala nya kini ia sandarkan di atas ceruk leher kiri milik sang istri. Sesekali menghirup aroma bunga dari tubuh Tasya yang memang baru saja mandi.


"Lagian kamu nya.. dipanggil dari tadi masih aja ngelamun. Ngelamunin apa sih?" Tanya Daffa penasaran.


Hari ini adalah hari minggu. Sepasang suami istri itu memutuskan untuk meliburkan diri di rumah saja. Terlebih akhir-akhir ini Tasya mulai sering merasakan pegal di bagian pinggang. Membuatnya jadi lebih memilih untuk jadi kaum rebahan saja dibanding harus jalan ke mana-mana.


Usia kandungan Tasya memasuki masa tiga bulan kini. Trisemester awal yang masih rentan untuk janin mengalami keguguran. Karena nya Tasya berusaha untuk menjaga kandungannya sebaik mungkin. Dan juga makan sebanyak mungkin.


Tasya memainkan jemari sang suami yang bersarang di depan perut nya.


"Hh.. aku mikirin Karina," Tasya mengaku pada akhirnya.


"Memangnya Karina kenapa lagi?"


"Hh.. tadi pagi dia kasih kabar kalau kemungkinan dia mau cuti kuliah selama setahun. Dipikir-pikir dengan kondisinya yang hamil tanpa suami, memang rasanya bakal cukup berat kalau dia maksain untuk tetap kuliah.." tutur Tasya menerangkan.


"Hmm.. kenapa begitu?"


"Ya pasti nanti bakal ada aja orang yang nyinyir dan kasih komentar yang gak enak lah tentang baby nya! Dicap anak haram lah! Apalah! Jadi dari pada ngadepin orang-orang yang gak punya hati kayak gitu, Karina mutusin untuk lahiran di Manhattan. Di sana kan orang-orang nya cuek. Gak terlalu kepo kayak orang Indo.." papar Tasya lebih lanjut.

__ADS_1


"Oh! Jadi Karina mau ke Manhattan, Amerika?"


"Iya, Sayang. Ke Amerika. Katanya sih di sana ada adik Mami nya. Jadi Rin Rin bakal tinggal di sana dulu selama setahun sampai baby nya lahir. Baru balik lagi ke sini.."


"Kapan dia mulai cuti?"


"Besok dia mulai ngurus cuti nya. Dan hari Rabu dia berangkat. Hiks. Aku sedih banget karena kami bakal berpisah. Pasti nanti di kampus bakal sepi deh tanpa Karina!" Rutuk Tasya.


"Ah! Tetap ramai dong, Sayang. Memangnya semua mahasiswi sama dosen ikutan pindah juga ke Amrik? Enggak kan!" Goda Daffa.


"Iiihh! Kamu tuh ya. Istri lagi curhat sedih malah diajak becanda!"


Tasya mencubit punggung tangan Daffa cukup kencang.


"Aw! Sakit, Sayang! Iya, iya, maaf ya! Maaf saya gak peka! Maksud saya tuh, kamu jangan terlalu bersedih juga lah, Sayang. Kan kemungkinan sebentar lagi juga kita bakal balik ke Nevarest.." ucap Daffa menghibur.


"Memangnya, udah ada berita baru terkait ayah kandung dan kakak perempuan ku, Daff?!" Tanya Tasya penuh harap.


Daffa lalu memutar kursi yang diduduki oleh Tasya. Sehingga istrinya itu kini menghadap padanya.


"Sungguh?! Alhamdulillah! Tapi, memangnya mereka pergi ke hutan mana? Apa hutan tempat mereka pergi itu sama? Mereka kan menghilang dalam rentang waktu yang berbeda!" Cecar Tasya penuh tanya.


"Ya. Hutan yang mereka tuju adalah hutan yang sama. Letaknya berada di tepi jalan tol Bungur. Sebuah kawasan yang cukup luas. Karenanya butuh waktu untuk menyisiri kawasan hutan itu!"


"Sayang, apa itu adalah hutan tempat kita datang pertama kali ke bumi ini?"


Daffa tersenyum. Mengakui ketangkasan cara berpikir sang istri.


"Ya, Tasya Dear. Itu adalah hutan yang sama tempat kita pertama kalinya tiba ke bumi ini. Dan," selama dua detik Daffa menahan ucapannya. Di hadapannya, Tasya menyimak dengan wajah serius.


"Saya menduga, kalau ayah dan kakakmu, Anna, sepertinya telah kembali pulang ke Nevarest mendahului kita!" Ungkap Daffa kemudian.

__ADS_1


Ba dump!


Tasya merasa bisa mendengar degup jantung nya sendiri. Kala ia membayangkan kalau kakak dan ayah nya ternyata sudah kembali ke Nevarest.


"Su..sungguh kah itu, Daff?!" Tasya minta diyakinkan oleh sang suami.


Dan Daffa mengangguk penuh keyakinan.


"Besar kemungkinan memang begitu, Sayang. Karenanya, sekarang saya juga sedang mencari titik lokasi rumah tua tempat kita muncul pertama kalinya. Saya yakin, kita akan segera menemukannya tak lama lagi!"


Tasya memandang penuh haru pada Daffa. Kemudian ia langsung menghambur memeluk leher sang suami.


"Makasih, Sayang!" Ucap Tasya penuh emosi.


Daffa memang sedang berjongkok di depan Tasya sehingga menyebabkan posisi Tasya jadi lebih tinggi darinya. Jadi ketika Tasya memeluk Daffa, ia malah seperti sedang mendekap kepala Daffa ke dada nya.


"Hmm.. kalau kamu mau ucapin makasih.." ucap Daffa dengan suara bisikan yang sedikit teredam oleh dada Tasya.


Sementara itu jemari Daffa mulai menelusup masuk ke balik gaun yang Tasya kenakan.


"Kamu bisa ngucapinnya dengan cara yang lebih spesial.." lanjut Daffa berucap.


Kali ini ke sepuluh jemari Daffa membuka kaitan bra di punggung Tasya dengan cukup lihai. Lalu dengan gerakan seperti memijat beralih pindah ke bagian depan tubuh sang istri.


Dalam sekali sentuhannya, dua puncak kembar milik Tasya sudah menegang menantang.


"Ahh.. D.. Daff!"


"Panggil saya sayang, dong, Dear.." tegur Daffa seraya menggigit pelan salah satu puncak kembar yang masih tertutupi oleh kain tipis gaun. Hingga gaun tipis itu pun jadi basah pada akhirnya dan menampakkan puncak kehitaman yang tembus pandang.


"D.. Daff!" Tasya hendak protes, namun sesuatu di bawa perut nya terasa seperti terbakar dan ingin meminta perhatian yang lebih dari sang suami.

__ADS_1


Sementara itu Daffa yang tak lagi bisa menahan diri langsung saja meraih tubuh Tasya dan membopong nya menuju kamar tidur mereka. Dan akhirnya, percintaan yang panas pun terjadi di antara kedua insan itu pada pagi yang mendung ini.


***


__ADS_2