
"Maaf, Nyonya.." Ucap Bella seraya menghapus sisa tangis dari sudut matanya.
"Anna.. panggil aku, Anna, Bell!" Pinta Anna.
Keduanya kini sedang duduk selonjoran di atas pasir tempat Bella pertama kali menangis tadi. Sepuluh menit setelah Bella menuntaskan tangisnya, ia akhirnya berhenti dan mengajak Anna untuk duduk dahulu di tempat itu.
Dan, di sinilah mereka kini. Meski beberapa orang yang berlalu lalang tampak sesekali melihat ke arah mereka, terutama pada Bella yang habis menangis. Tapi Anna dan Bella tak menghiraukan mereka.
Anna memutuskan untuk menemani Bella duduk di hamparan pasir putih Pulau Gili Trawangan itu. Dalam diam, dalam hening, keduanya mengikat hati satu sama lain dalam ikatan persahabatan yang baru terjalin.
"Maaf, Anna!" Ucap Bella kembali dengan suara lirih.
"Gak apa-apa.." sahut Anna dengan pandangan masih tertuju ke laut lepas.
"..."
"..."
Selama sepuluh menit berikutnya, suasana di antara Anna dan Bella diisi oleh keheningan yang menenangkan. Terkadang sekedar penyertaan saja sudah cukup untuk menghilangkan kepenatan hati, walau hanya sedikit saja.
Tak perlu kata. Tak perlu ada pembicaraan. Cukup menemani dalam diam. Itu saja sudah cukup untuk dilakukan seorang teman.
Tak lama kemudian, Bella pun berkisah.
"Saya dulu tinggal di Bogor. Di sana saya tinggal di sebuah villa milik Papa dan Mama. Papa adalah seorang Mandor proyek, sementara Mama seorang guru."
"Selama sepuluh tahun awal kehidupan saya, saya merasa sangat bahagia. Saya memiliki kamar yang indah yang dimimpikan semua anak perempuan. Dengan dinding berwarna pink serta banyak boneka yang terpajang rapih di rak lemari kaca."
"Lalu, suatu hari, di hari sebelum saya berulang tahun yang ke sepuluh. Papa dan Mama menitipkan saya di rumah tetangga kami. Karena saat itu Mama dan Papa hendak check up kehamilan Mama yang sudah memasuki usia bulan terakhir kehamilan.
Saya tak ikut saat itu, karena saya sedang agak demam. Tapi saya merengek ingin ikut. Entah karena sebab demam atau mungkin juga firasat, yang jelas saya menangisi keberangkatan mereka saat itu.
Walau mereka sudah menjanjikan akan membelikan boneka barbie yang terbaru untuk hari ulang tahun saya keesokan harinya. Saya tetap menangis ingin ikut bersama mereka. Jika saja.."
Sampai di sini, suara Bella mulai tercekat. Tapi tak lama. Karena kemudian ia melanjutkan kisahnya kembali.
"Jika saja saat itu saya bersikeras untuk ikut bersama mereka.." ada getar dalam suara Bella yang ditangkap oleh indera Anna. Ia lalu meraih tangan kanan Bella dan menekannya lembut. Berharap wanita di sampingnya itu menjadi lebih kuat.
"Jika saja saat itu saya mencegah mereka untuk pergi.. mungkin saja kecelakaan itu tak akan terjadi," tutur Bella dengan suara yang hampir pecah.
"..." Anna tak tahu harus mengatakan apa untuk menghibur Bella. Ia merasa Bella lebih membutuhkan seseorang untuk menjadi pendengar saat ini. Maka ia pun akhirnya berusaha untuk menjadi pendengar yang baik bagi Bella saat ini.
"Itu pemikiran kekanakan saya saat itu," sebuah senyum kecil tersungging di bibir tipis gadis Sunda itu.
__ADS_1
"Tapi tentu saja. Bukankah segala sesuatunya telah ditakdirkan oleh Yang Maha Kuasa? Maka siapa lah diri kita yang berusaha untuk mengubah takdir-Nya? Apalagi jika takdir itu berkaitan dengan hidup dan mati."
"..."
"..."
Bella menghela napas sejenak. Sebelum akhirnya melanjutkan kisahnya lagi.
"Di hari itu saya menunggu kepulangan Papa dan Mama hingga malam. Saya tak tahu jika berita kecelakaan yang merenggut nyawa mereka sudah diketahui oleh tetangga saya sedari sore."
"Mereka hanya tak tahu harus menyampaikannya dengan cara bagaimana kepada Bella kecil, yang masih menunggu kepulangan Papa Mama nya bahkan hingga larut malam. Sampai-sampai saya tertidur oleh sebab kelelahan."
"Berita itu baru disampaikan mereka kepada saya saat keesokan harinya. Ketika jenazah Papa dan Mama pulang ke villa kami dengan diantarkan oleh mobil Ambulan. Suara sirine ambulan saat itu terasa bagai terompet menyakitkan di hati saya saat itu."
"Tepat di hari ketika saya seharusnya merayakan ulang tahun yang ke sepuluh, saya harus menerima kenyataan kalau saya tak lagi memiliki Papa dan Mama. Itu adalah pengalaman terburuk saya, hingga saat ini."
"..."
"..."
"Sore harinya, Mama dan Papa dimakamkan.."
"Selama beberapa waktu saya tinggal di rumah tetangga kami. Selagi mereka mencoba menghubungi sanak saudara atau kerabat Mama Papa yang masih ada."
"Sayangnya Mama dan Papa sama-sama anak tunggal sekaligus yatim piatu. Jadi saya adalah satu-satunya penerus generasi dua keluarga Mama dan Papa yang masih hidup."
"Pada mulanya tetangga saya tak ingin membiarkan saya dibawa pergi oleh orang asing yang tak mereka kenal. Tapi setelah pria itu meninggalkan kartu identitasnya, serta menunjukkan foto-fotonya bersama Mama dan Papa, akhirnya mereka membiarkan saya dibawa pergi."
"Saya tak menangis. Saya terlalu sedih dengan kepergian Mama dan Papa sehingga tak lagi mampu melontarkan marah kepada takdir ataupun dunia."
" Saya mengikuti lelaki itu ke sebuah mansion besar yang sangat megah. Dan selama beberapa waktu saya tinggal di salah satu ruangan yang ada di bangunan kecil di belakang mansion besar itu."
"Kemudian saya sekolah dan tinggal di asrama selama beberapa tahun lamanya. Ketika lulus dari asrama, usia saya sudah tujuh belas tahun. Itulah ketika pertama kalinya saya menyadari cinta saya pada lelaki itu."
"..."
"..."
Anna mengerjapkan mata kebingungan. 'lelaki itu? Siapa maksudnya?' batin Anna bertanya dalam diam.
Tapi Anna menjaga mulutnya dari mengeluarkan suara sekecil apapun. Ia membiarkan Bella melanjutkan kisahnya lagi.
"Bertahun-tahun.. bertahun-tahun lamanya saya memendam perasaan ini. Saya kira saya telah gila. Karena tidak seharusnya perasaan ini ada, begitu pikir saya saat itu."
__ADS_1
"Tapi bagaimana lagi? Perasaan ini terus bertumbuh tanpa bisa saya kendalikan lagi. Sekuat apapun saya menahannya, tetap saja cinta di dalam hati saya selalu bersemi setiap kali kami bertemu."
"Terlebih ketika saya mengetahui kalau dia pun ternyata memiliki perasaan yang sama terhadap saya lewat kejadian yang tak disengaja."
"..."
"..."
"Tapi dia.. dia selalu.. dia selalu menentang perasaannya sendiri. Dia pun merasa perasaannya terhadap saya tak sepatutnya ada. Padahal, sebenarnya kami masih mungkin untuk bersama. Jika saja ia mau memperjuangkan hubungan kami bersama-sama.."
"Tapi dia memilih untuk menyerah, bahkan sebelum hubungan kami memiliki nama. Dan tadi..."
"Tadi, dia menelpon. Kalau dia akan melamar seorang wanita yang dikenalnya! Ia mengatakan kalau ia akan membunuh perasaannya terhadap saya dengan cara menikahi wanita itu!"
"Dia meminta saya untuk juga membunuh perasaan saya terhadapnya! Bukankah itu sangat kejam, Anna?!" Tanya Bella seketika seraya menatap Anna.
Anna balas menatap Bella dengan pandangan teduh. Ia masih bingung harus menanggapi curhatan Bella dengan kalimat apa. Akhirnya ia hanya mendesah pelan dan memberikan jawaban ambigu, "Entahlah, Bell.."
Meski jawaban Anna sederhana, agaknya Bella tak merasa keberatan. Ia lalu lanjut berkata lagi.
"Oke kalau dia ingin menolak saya. Saya akan menerimanya. Kalau dia mau pergi dan memilih wanita lain pun oke. Saya akan menerimanya juga. Walaupun mungkin pada awalnya saya akan sangat bersedih atas pilihannya itu."
"Tapi..! Tapi jelas dia tak memiliki hak untuk melarang saya mencintainya! Dia juga tak memiliki hak atas siapa yang berhak saya cintai atau saya benci! Dia sama sekali tak memiliki hak untuk itu!" Kecam Bella dengan nada agak meninggi.
Wanita berparas ayu khas Sunda itu memukulkan tangannya berkali-kali pada butiran pasir di samping tubuhnya. Kedua kakinya yang sedari awal memang sengaja ia tekuk pun bergetar beriringan dengan luapan amarahnya kepada sosok lelaki yang dicintainya itu.
Letih setelah meluapkan amarah, Bella pun menyembunyikan wajahnya di antara kedua kakinya yang ditekuk. Kedua tangannya pun memeluk lututnya erat-erat. Berusaha menyembunyikan isak tangis yang tak lagi bisa dibendungnya.
Di samping Bella, Anna tercenung. Ia masih tak tahu dengan sosok lelaki yang dicintai oleh Bella namun telah melukai hati wanita itu. Jika bisa bertemu dengan lelaki itu, Anna mungkin akan memberikan pelajaran kepadanya.
Anna ingin mengajarkan pada lelaki itu, bahwa cinta tak bisa dipaksakan. Cinta tak bisa memilih. Dan cinta tak bisa dihentikan dengan pelampiasan.
Anna meraih bahu Bella dan menempelkannya ke bahunya sendiri. Dalam hening, ia berusaha mengirim kekuatan kepada Bella untuk apa yang dihadapinya saat ini.
Walaupun sebenarnya Anna masih penasaran dengan kondisi yang menyebabkan Bella dan lelaki yang dicintainya itu tak bisa bersama.
"Siapa lelaki itu?" Tanpa sadar, Anna sudah melontarkan pertanyaan yang mengganggu benaknya itu.
Bella perlahan mengangkat kepalanya. Dia kembali memandang laut biru di hadapannya dengan tatapan sendu. Sebelum akhirnya memberi tahukan nama lelaki yang dicintainya itu kepada Anna.
"Dia adalah.."
"Anna!"
__ADS_1
Sebuah panggilan membuat Bella menghentikan ucapannya tiba-tiba. Kedua wanita itu spontan saja menoleh ke belakang. Dimana mereka mendapati sosok Daffa yang ternyata sudah berada cukup dekat dengan tempat mereka duduk.
***