
"Kita bertemu lagi, Tuan..Andrew!" Sapa Tasya dengan sikap formal.
Andrew terlihat canggung saat harus bertemu lagi dengan wanita pujaan hatinya itu. Tapi Andrew tahu, kalau antara ia dan Anna terdapat batas yang tak bisa mereka lewati kini. Karena nyatanya wanita itu telah menikah.
"Mrs. Anna.. we meet again (kita berjumpa lagi).." ucap Andrew dengan nada sendu.
"Kakaakk!!" Gadis yang tadi telah menyerang Anna, tiba-tiba saja menghambur ke arah Andrew.
"Apa yang terjadi sama kamu, Dena?" Tanya Andrew pada sepupunya yang bernama Denada itu.
"Cewek itu jahat banget! Dena dikeroyok dan mau dipukulin sama bodyguard nya itu, tuh!" Denada mengaku.
Mendengar ucapan gadis itu, Tasya menaikkan sebelah alisnya. Merasa malas untuk menanggapi, ia memutuskan untuk diam saja tak mengoreksi ucapan gadis itu.
Sementara itu, Andrew memandangi Anna dan kondisinya yang tampak kacau. Pada rambut wanita itu ia jelas bisa melihat adanya lendir cairan yang sepertinya juga agak berbau seperti telur.
Andrew lalu melihat pada dua bodyguard yang berdiri di depan Anna. Mereka tampak memasang kuda-kuda untuk melindungi sosok Anna.
Menyadari ada yang rancu dari ucapan Denada, Andrew pun kembali bertanya. Tapi kali ini ia bertanya kepada Anna.
"Sorry, Mrs. Anna.. would you tell me, what happen is here (Maaf Nyonya Anna.. Bisakah kamu mengatakan pada saya, apa yang terjadi di sini)?"
"Kakak!! Kan tadi Dena udah cerita kalau cewek itu--!" Dena protes pada sikap Andrew yang sepertinya tak langsung memihak kepadanya.
"Syuutt! Diam dulu, Dena!" Andrew menegur Denada dengan tatapan tegas.
Denada pun langsung terdiam dan merengut diam-diam.
"Hh..anak itu--" Tasya baru akan mulai menjelaskan saat tiba-tiba saja ucapannya disanggah oleh Denada kembali.
"Gue bukan anak-anak! Lo gak lihat apa kalau gue tuh--" serobot Denada dengan nada sewot.
"Denada! Keep your calm (tetaplah tenang)!" Tegur Andrew dengan suara setengah berteriak.
Dan mulut gadis itu pun kembali terkunci. Sementara matanya sudah mulai menggenang dalam bayang danau air mata. Ia tak menyangka kalau Andrew yang sangat ia idolakan itu bisa membentaknya.
__ADS_1
'Dan demi cewek ganjen itu, pula!' gerutu Dena di dalam hati.
Denada pun akhirnya hanya bisa terdiam dan melemparkan pandangan benci pada Tasya.
"..this girlfriend of yours (teman wanita mu ini).." ucap Tasya mengoreksi panggilannya pada anak SMA itu.
"Just doing some ill mannered (baru saja melakukan beberapa sikap tak sopan)," papar Tasya menerangkan.
Tasya melirik ke arah Denada yang sepertinya kebingungan dengan ucapannya dalam bahasa Inggris itu. Ia tersenyum. Menyadari kalau sepertinya lebih baik ia bercakap-cakap dalam bahasa Inggris saja dengan Andrew. Agar ucapannya tak lagi diserobot oleh gadis SMA itu.
"She threw an egg toward my hair (dia melempar telur ke kepala ku), and then pulling on my hair (lalu menarik rambutku). Gratefully there is my guard here who help me (syukurlah ada penjaga ku ini yang telah menolongku)," ucap Tasya seraya memberikan pandangan terima kasih pada bodyguard yang tadi telah menolongnya.
Usai mendengar penjelasan dari Anna, Andrew pun langsung mengecam sepupu muda nya itu.
"Kamu mikir apa sih, Den? Kenapa kamu bersikap gak sopan ke Anna?! Kamu harus minta maaf ke dia sekarang juga!" Tegur Andrew pada Denada.
Denada langsung saja meledak dalam emosi marah.
"Tapi cewek itu sih yang keganjenan! Udah nikah juga masih aja--"
Ucapan Denada terpotong oleh bentakan dari Andrew.
Seketika itu juga Andrew merasakan peras dalam hatinya.
Bagaimanalah bisa tidak peras, jika ia harus mengakui pada orang lain bahwa di antara dirinya dan Anna tidaklah ada sesuatu yang spesial. Padahal hatinya sungguh berharap yang sebaliknya..
"Di antara kami tidak ada hubungan apapun!" Ucap Andrew pada akhirnya.
Usai menenangkan degup jantungnya yang kembali merasakan sesak karena patah hati, Andrew kembali lanjut bicara.
"Semua yang ditulis di media itu hanya omong kosong saja, Dena! Saya dan Anna hanya kebetulan saja bertemu di Lombok. Kami cuma dua orang asing yang bertegur sapa singkat dan hanya itu. Tak lebih dari itu saja!" Ucap Andrew dengan mata agak memerah.
Denada terhenyak saat mendengar penuturan dari sepupunya itu. Mulutnya megap-megap tak mampu berkata-kata lagi.
"Minta maaf!" Andrew memberikan titah.
__ADS_1
"Huh?" Denada masih menatap bingung pada Andrew.
"Kamu harus minta maaf sama Anna sekarang juga!" Titah Andrew kembali.
"Tapi.."
"Gak ada fapi-tapi. Kamu salah, ya kamu harus minta maaf. Semudah itu lah etika orang dewasa seharusnya!" Ulang Andrew.
Dengan wajah bersungut kesal, Denada mengucapkan kalimat maaf nya kepada Anna. Dalam hatinya ia masih merasa kesal pada wanita itu. Karena nyata sekali terlihat, kalau Andrew jelas memiliki perasaan yang lebih dari sekedar 'tak kenal' pada wanita bernama Anna itu.
"Maaf!" Ucap Denada menggerutu.
"Dena! Kamu--" Andrew baru hendak menegur kembali sikap sepupu muda nya itu ketika Tasya tiba-tiba saja memotong ucapannya.
"Cukup, Tuan Andrew. Tak perlu memanjangkan urusan lagi. Bagaimana pun juga, waktu sudah mau maghrib. Aku gak memusingkan sikap tak sopan teman wanita mu ini. Anggap saja ini kecelakaan kecil," ucap Tasya dengan nada tenang.
Tasya lalu menggeser kan perhatiannya ke arah Denada. Dan ia pun lanjut berkata, "dan untuk kamu, Dek. Kamu harus lebih bisa mengontrol emosi kamu. Gak semua cowok suka sama cewek berkepribadian kayak petasan. Yang sewaktu-waktu bisa meledak dan malah akan menyakiti. Cobalah bersikap lebih tenang lagi dalam menyikapi berita apapun. Aku memaafkanmu kali ini!"
"Here are my farewell!" Ucap Tasya menutup perjumpaan ketiganya.
Dan Tasya pun lalu berbalik dan memasuki mobil nya.
Hari mulai senja. Sang pemilik cahaya siang kini mulai tenggelam di ufuk barat langit sana.
Tasya tak lagi mengamati sosok Andrew ataupun Denada di luar mobil nya. Ia sudah sangat letih. Ia berharap bisa segera mandi air hangat dalam bath tube yang ada di pent house miliknya dan Daffa.
Namun, sebuah pesan dari nomor tak dikenal, kembali masuk ke layar ponsel nya. Meski mulanya Tasya merasa ragu untuk membuka pesan dari nomor asing itu, pada akhirnya Tasya dikalahkan jua oleh rasa penasarannya atas isi dari pesan tersebut.
Dan..
Klik.
Tasya seketika menyesal karena telah mengikuti rasa penasarannya. Karena dalam isi pesan yang didapatnya dari nomor asing itu, ia kembali dihadapkan pada potret Daffa yang tampak seperti sedang bercumbu dengan seorang wanita.
Wanita yang sama dengan wanita dalam foto Daffa sebelumnya sore tadi.
__ADS_1
Seketika itu juga, Tasya terdiam dan memegang erat ponsel dalam genggaman tangannya.
***