Cinta Sang Maharani

Cinta Sang Maharani
Harapan Anis


__ADS_3

Di ruang pilot, setengah jam yang lalu...


"Lapor! Target terlihat menepi ke sebuah pulau sepi. Lokasi telah dikirim. Kini target memaksa Madam masuk ke dalam rumah putih lalu menguncinya dari luar."


Daffa terhenyak kala ia mendengar laporan salah satu anak buahnya yang telah mengikuti Tasya sedari istrinya itu keluar dari apartemen.


"Status rumah?" Daffa bertanya singkat.


".." Selama beberapa saat suasana menghening. Sampai kemudian terdengar kembali suara anak buahnya tadi pada earphone yang Daffa kenakan.


"Rumah itu dimiliki oleh pasangan Letnan Birowo, ajudan Jenderal Sihombing yang kini telah pensiun."


Daffa tiba-tiba dilanda kecemasan.


'Bagaimana jika Frans ada di dalam rumah itu?! Maka Tasya tentu dalam bahaya besar!' Sadar Daffa kemudian.


Daffa lalu menghubungkan earphone nya ke sambungan telepon yang lain.


"Su! Cari tahu di mana keberadaan Frans saat ini! ASAP (as soon as possible/secepat mungkin)!" Titah Daffa pada Pak Kiman.


"Siap, Tuan!"


Daffa lalu menanti dengan cemas hasil pencarian Kiman selama beberapa wsktu lamanya. Ia masih harus melewati setengah jam lagi sebelum ia bisa tiba di pulau terasing tempat Tasya, istrinya berada kini.


"Lapor, Tuan Muda! Frans tak terlihat di manapun juga sejak semalam. Tapi saya masih akan terus mencari keberadaannya lagi," lapor Pak Kiman.


Deg.


"Tasya..!" Daffa menggumamkan dengan pelan nama istrinya itu. Ia berharap Tasya tak sedang bersama dengan Frans saat ini. Ia bahkan lebih berharap jika istrinya itu bersama dengan model centil yang bernama Andrew, dibanding harus bersama dengan Frans.


'Tunggu aku, Sayang!' Daffa membatin di dalam hati.


***


Di tempat yang berbeda, flash back beberapa jam yang lalu..


Teh Anis yang baru juga pulih dari demam singkat nya kini sedang beraksi menghentikan waktu.


Mulanya Anis datang berkunjung ke rumah sakit untuk menjenguk Paman Zion. Lalu ia melihat dengan kedua mata nya sendiri saat seorang pria asing hendak melepaskan masker oksigen yang dikenakan oleh Paman Zion.


Lelaki itu yang merasa terancam karena aksinya ketahuan oleh Anis pun akhirnya reflek hendak menyerang Anis juga dengan sepucuk pistol. Lelaki itu lalu menarik pelatuk pistol yang telah dipasang peredam suara sehingga tak ada suara yang terdengar kala peluru ditembakkan dari pistol itu.


Namun Anis sigap menggunakan inner power nya. Dan waktu pun terhenti di saat peluru pistol yang telah ditembakkan tadi hanya berjarak sekian senti saja dari dada Anis.


Merasa sedikit tegang, Anis buru-buru mengambil peluru pistol yang mengapung oleh sebab inner power nya. Lalu melemparnya jauh ke pojok ruangan.

__ADS_1


Kemudian Anis mendekati lelaki asing itu dan mengambil pistol dari tangan lelaki itu, sebelum akhirnya kembali mundur ke posisinya semula di dekat pintu.


Anis lalu menembakkan pistol tepat ke dekat betis lelaki asing di waktu yang bersamaan kala ia mengembalikan waktu untuk kembali berjalan.


Detik berikutnya, sang lelaki asing jatuh ambruk ke lantai dan memegang betis nya yang terserempet peluru.


Dalam hatinya lelaki itu sangat kebingungan dengan apa yang baru saja dialaminya. Seingatnya tadi ia baru saja menembakkan pistolnya ke arah wanita berkerudung peach. Namun kenapa detik berikutnya malah kaki nya yang terluka oleh peluru yang ia tembakkan? Terlebih lagi tahu-tahu pistolnya kini sudah ada di tangan wanita berkerudung itu.


"Diam atau kutembak kau!" Anis menggertak.


"Katakan padaku, siapa kau? Atau siapa Tuan mu?" Cecar Anis kemudian, seraya menodongkan pistol ke arah lelaki itu.


Lelaki asing itu tetap bergeming tak menjawab pertanyaan dari Anis tadi. Pikirnya, Anis hanyalah wanita lemah yang hanya berani menggertak saja.


"Baiklah, kau yang menginginkannya. Aku akan menyerahkanmu pada Daffa, kalau begitu. Kurasa ia akan bisa membuatmu bicara."


Tak lama kemudian, pintu digebrak terbuka dari luar. Dan masuklah Daffa beserta beberapa pria berseragam satuan Q.


"Kamu menghubungi ku, Nis," ucap Daffa tiba-tiba.


"Ya. Orang ini tadi hendak mencelakai Paman Zion. Syukurlah aku kebetulan mampir. Sepertinya kau harus menambah penjaga di depan ruangan ini. Dua orang penjagamu kulihat ketiduran di depan lorong. Mungkin dibius."


"... Tangkap dia dan cari tahu pada siapa dia bekerja!" Titah Daffa pada anak buahnya.


"Terima kasih, Nis. Karenamu Ayah.." Daffa tak mampu melanjutkan kalimatnya lagi.


"Tak usah sungkan. Bagaimanapun juga aku tak akan membiarkan Paman terluka, bukan?" Sahut Anis.


Daffa tersenyum tipis.


"Nis, sepertinya aku membutuhkan bantuanmu lagi," ucap Daffa kemudian.


Anis mengernyitkan dahi. "Apa yang bisa kubantu, Daffa? Katakan lah!"


"Bisakah kamu menunjukkan padaku inner power mu?"


"Huh? Inner power? Apa itu?" Tanya Anis tak paham.


Daffa lalu mengingat penjelasan Tasya. Bahwasanya Anis sepertinya memang asing dengan segala hal terkait Nevarest, meski ia juga memiliki inner power seperti yang dimiliki oleh penduduk Nevarest.


"Maksud ku, kekuatanmu memanipulasi waktu. Aku membutuhkan itu," ucap Daffa bersungguh-sungguh.


Anis tercenung selama beberapa saat.


"Kau tahu kekuatanku itu dari Tasya ya?" Tanya Anis memastikan.

__ADS_1


"Ya. Karena kami memang ssma-sama berasal dari Nevarest, Nis. Bukan dari bumi tempat kita tinggal kini," sahut Daffa menerangkan.


"Tapi bagaimana bisa aku menunjukkan kekuatanku itu bisa dibilang membantumu, Daff? Aku gak ngerti."


Daffa tersenyum misterius.


"Tentang itu..."


Flash back selesai. Kembali ke masa kini.


Anis memandangi kuntum bunga Daffodil di pekarangan mansion Zion. Pikirannya nyalang ke pembicaraannya dengan Daffa beberapa jam yang lalu.


Usai dari rumah sakit, Anis memutuskan untuk mampir ke mansion Zion untuk menjumpai Mama nya, Soraya.


Dan kini keduanya tengah menikmati secangkir teh hijau di pekarangan belakang mansion Zion yang dipenuhi oleh macam-macam bunga yang beragam.


"Ma, apa menurut Mama, Daffa bisa menangkap pelaku dibalik penyerangan Paman?" Tanya Anis tiba-tiba.


Soraya menyesap teh nya sekali lagi, sebelum ia membalas pertanyaan dari putri satu-satunya itu.


"Mama yakin, Daffa akan menangkap pelaku nya, Sayang. Bagaimanapun juga, dia pun lelaki yang hebat juga, seperti Papa mu. Mereka berasal dari dunia yang lain. Terlebih dia juga memiliki kekuatan magis seperti yang kamu miliki, Sayang.. " sahut Soraya kepada putrinya.


Anis terkejut dengan jawaban sang Mama.


"Mama juga tahu kalau Daffa..?!"


"Ya. Mama Tahu. Daffa sendiri yang menceritakannya kepada Mama. Dan karena kekuatan magis yang dimilikinya itulah Daffa bisa mencapai kekuasaannya di Zion Tech seperti sekarang. Dia memang berbakat menjadi seorang pemimpin."


"Maksud Mama, kekuatan magis Daffa itu..?"


"Kau juga sudah tahu kan? Bukankah tadi ia memintamu menunjukkan kekuatan magis mu, Sayang?" Tanya balik Soraya.


Anis tercenung. Sedikit mengangguk, mengiyakan pertanyaan dari Mama nya itu.


Wanita muda itu berharap, Daffa bisa menyelesaikan rangkaian masalah yang ada di sekitar keluarga mereka kini.


'Dan semoga, Tasya pun bisa segera ditemukan kembali,' lirih batin Anis.


Wanita muda itu sedikit menyayangkan, karena Daffa tak mengajak serta dirinya untuk pergi mencari Tasya. Menurut pemuda itu, Tasya berada di tempat yang berbahaya.


Jadilah akhirnya kini ia hanya bisa menunggu kabar baik dari pasangan suami istri sepupunya itu.


'Tasya, kembalilah dengan selamat!' lirih Anis di dalam hati.


***

__ADS_1


__ADS_2