Cinta Sang Maharani

Cinta Sang Maharani
Misi Penyelamatan bag. 3 end


__ADS_3

"Non Anna sudah ditemukan. Tapi kondisinya belum bisa dicek. Karena ia menolak untuk disentuh siapapun."


Lapor Pak Kiman seraya mengemudikan mobil.


Dada Daffa terasa sesak mendengar isi laporan Pak Kiman. Apa yang sudah terjadi pada Anna? Semoga saja ia belum terlambat. Begitu kiranya isi batin Daffa.


"Masih jauh?" Tanya Daffa dengan ketegangan yang begitu kentara dalam suaranya.


Daffa berharap bisa segera tiba dan melihat Anna langsung. Tapi mendengar isi laporan yang berkali-kali membuatnya kesal, Daffa ingin memukul sesuatu rasanya.


"Sudah dekat, Tuan." Jawab Pak Kiman.


"Siapa sebenarnya dalang dari semua ini? Apa garis belakang ada hubungannya dengan hal ini?" Tanya Daffa dengan aura dingin yang menyesakkan telinga.


"Itu.. belum bisa dipastikan, Tuan."


"Bagaimana bisa?!"


BRAK. Daffa tak kuasa menahan diri dari menggebrak holder tempat duduknya.


"Bukankah pelakunya sudah berhasil ditangkap!" Geram Daffa kembali.


"... Terjadi kecelakaan, Tuan. Salah satu pelaku tak sengaja tertembak. Dan mati di tempat. Sementara yang lainnya hingga kini masih bungkam."


"Bangsa*t!" Kecam Daffa pada angin kosong.


"..."


"Pastikan untuk mendapatkan dalang kejadian hari ini. Walau kalian harus mencarinya ke setiap gang kota. Pastikan untuk mendapatkan dalang utamanya. Jika sudah dapat, berikan dia kepadaku!" Perintah Daffa.


"... Baik, Tuan".


***


Berselang belasan menit kemudian, Daffa tiba di sebuah kawasan pergudangan yang tampak telah lama diabaikan.


Begitu keluar dari mobil, seorang pemuda berkaos serba hitam dengan tulisan huruf Q yang besar datang dsn menghampiri Daffa. Ia adalah salah satu petugas dari unit Q. Satuan elit dari petugas keamanan di Zi Tech.


"Benarkah Anna ada di sini?" Tanya Daffa memastikan.


"Ya, Pak. Nona Anna masih di dalam!" Jawab pemuda itu dengan kepala menunduk takzim.


"Bagaimana kondisinya?" Tanya Daffa kembali.


"Kami belum bisa memastikan, Pak. Kami baru bisa melepaskan ikatan di tangannya dan di matanya. Tapi Non Anna menolak untuk menerima tindakan medis," Terang petugas muda itu.

__ADS_1


Daffa terhenyak. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi pada Anna. Serta merta Daffa pun mengeluarkan titahnya lagi.


"Tunjukkan jalannya!"


"Baik, Pak. Ke sini.."


Kemudian Daffa dan Pak Kiman mengikuti petugas muda itu memasuki kawasan dalam pergudangan kosong.


Di setiap hentak langkahnya, Daffa terus mengulum doa.


'Semoga ia belum terlambat. Semoga Anna tak mengalami hal terburuk yang bisa terjadi pada seorang wanita.


'Tapi.. jikalau pun ia sudah terlambat, Daffa berjanji untuk tetap menikahi Anna. Ia berjanji untuk melindungi Anna di sisa waktu yang dimilikinya di dunia ini.'


Dan Daffa juga bersumpah untuk membalas setiap orang yang terlibat dengan kejadian di hari ini. Akan ia pastikan, kalau mereka akan mengalami penyiksaan yang tak terperi. Hingga mereka akan lebih memilih untuk mati dibanding tertangkap olehnya nanti!


***


"Non Anna ada di dalam gudang itu, Pak!" Lapor petugas muda yang mengantarkan Daffa.


Daffa mengikuti arah tangan petugas itu menunjuk. Tampak dalam pandangannya sebuah gudang dengan beberapa petugas muda lain yang berada di sekitar gudang itu.


Ketika Daffa lewat, semua petugas tampak berdiri siaga dengan kepala menunduk takzim. Daffa pun bergegas masuk ke dalam gudang tempat Anna berada.


Di langkah pertamanya memasuki gudang, Daffa langsung melihat sosok Anna yang duduk meringkuk menghadap dinding. Ia berada tak jauh dari pintu masuk tempatnya berada.


Dada Daffa terasa sesak menyaksikan Anna yang meringkuk ketakutan. Dengan suara lirih, Daffa memanggil nama gadis itu.


"Anna.. " panggil Daffa. Tapi Anna bergeming tak menyahut panggilan Daffa.


"Anna.." panggil Daffa lagi.


Kali ini Daffa sudah berada tepat di hadapan Anna. Tapi gadis itu masih bergeming dan meringkuk dalam diam.


Daffa pun mencoba meraih kepala Anna. Ia ingin melihat wajah Anna. Tapi reaksi Anna berikutnya sungguh mengagetkannya.


"Jangan! Pergi! Pergi!" Usir Anna dengan ketakutan yang begitu kentara dalam suaranya.


Daffa tertegun. Hatinya serasa diremas dengan sarung tangan berduri, melihat reaksi Anna yang mengusirnya tadi.


'Apa yang sebenarnya terjadi pada gadis itu?!'


Daffa mengepalkan tangannya erat-erat. Dalam hati Daffa bersumpah untuk membalas siapapun yang sudah membuat Anna berada dalam kondisi ini.


Daffa mencoba menguatkan diri lagi. Ia lalu berjongkok di depan Anna. Lalu memanggil kembali gadis itu dengan suara yang lebih pelan.

__ADS_1


"Anna.. ini saya, Daff.. kamu dengar saya, Kan. Saya Daff.. " ucap Daffa kembali.


Tapi kali ini ia hanya berani mengelus pelan kepala Anna sekali. Setelahnya ia membiarkan Anna menyadari kehadirannya.


Dan usaha Daffa berhasil. Perlahan Anna mengangkat kepalanya. Dan Daffa pun bisa melihat bekas tangis di wajah putih Anna.


Tapi pandangan Anna masih tampak kosong, bagi Daffa. Oleh sebab itu, Daffa memanggil namanya lagi.


"Lihat? Ini aku, Daffa. Aku datang untuk menolong mu," Ucap Daffa dengan kegetiran yang pekat.


"Daff?" Suara Anna bertanya pelan.


Terdengar seperti bisikan di telinga Daffa. Tapi ia masih cukup jelas bisa merasakan kebingungan dan ketakutan dalam suara gadis itu.


"Ya, Anna. Saya datang. Sekarang, kamu sudah aman!" Seru Daffa kembali.


"Daff?... Daffa? Kamu datang.. kamu tahu aku.. aku... "


Anna berusaha bercerita. Tapi kata-katanya segera dihentikan oleh Daffa.


"Syuut.. sudah. Sudah. Aku sudah tahu. Sekarang, ayo kita pulang!" Ajak Daffa dengan tangan terulur..


Perlahan Anna bangkit dari duduknya. Serta merta itu pula Daffa berusaha untuk memapahnya.


Tapi lalu Daffa menyadari kondisi kemeja Anna yang terbuka. Ia bahkan sempat melihat belahan dada Anna yang putih di sela kamisol merah yang dikenakannya di balik kemeja.


Daffa menunduk. Ia merasa amarah tiba-tiba menguasainya. Ia begitu ingin memukul sesuatu, seseorang untuk menjadi pelampiasannya saat ini.


'bajingan-bajingan itu! Beraninya mereka menyentuh Anna-ku!' Daffa menggeram dalam diam.


Seolah menyadari sebab keterpakuan Daffa, Anna pun bergegas membalikkan badan. Dengan gerakan ceroboh ia berusaha mengancingkan kemejanya kembali. Anna merasa sangat malu.


Teramat malu karena Daffa melihatnya dalam kondisi terburuknya saat ini. Ia pun berusaha untuk menjelaskan situasi yang sebenarnya terjadi.


"Ini.. tadi.."


Air tiba-tiba menggenangi bola mata Anna. Ia tak kuasa untuk menceritakan kembali kejadian yang dialaminya tadi.


Tubuhnya kembali merasakan dingin yang tak biasa. Rasa berat dan nyeri di sekujur tubuhnya pun kembali menyergapnya. Hingga akhirnya Anna pun tak lagi kuasa menahan tubuhnya untuk tetap berdiri.


Anna roboh, bersamaan dengan kesadarannya yang menjauh pergi.


Sebelum benar-benar terjatuh, Anna merasakan tangan Daffa menangkap tubuhnya. Suara pemuda itu pun samar-samar terdengar hingga akhirnya kegelapan menyergap dunianya.


"Anna! Anna!"

__ADS_1


***


__ADS_2