Cinta Sang Maharani

Cinta Sang Maharani
Malam Pertama yang sebenarnya bag. 2 end


__ADS_3

~Duhai Cinta..


Aku larut dalam samudera mu..


Tenggelam hingga ke dasarnya..


Tanpa keyakinan tuk bisa kembali ke tempatku semula.


Bagaimana bisa?


Berawal dari percikan, aku gamang dalam harapan lama


Merindui nya,


Mendambanya,


Pun mencintai waktu saat bersama dengannya.


Harapanku sederhana saja,


Bisa melihat senyum cemerlang di bawah dua gemintang cokelat miliknya.


Sederhana sekali, bukan?


Dan waktu terus berlalu


Menyeret langkahku untuk terus mengikuti ke mana tawa dan senyumnya pergi


Apa dayaku?


Senyumnya begitu memikat hati ini


Kesediaan Ku untuk melakukan apa pun demi melihat senyumnya begitu merajai ku


Pun ketika harus ku lukai diri ini demi kebahagiaannya,


Aku memenuhinya.


Itu kulakukan, cinta.


Demi dia.


Demi dia.


Dan, kusadari kini, bahwa dayaku semata tak bisa melepaskan ku dari jerat mu


Aku terlampau padamu, terhadapnya.


Aku terlampau mencintainya, cinta.


Jadi, kubiarkan saja waktu mengajakku ke mana.


Bersamamu di hatiku, dan bersamanya di sisiku.

__ADS_1


Akan ku hadapi apapun yang merintangi langkah ku ke depan nya.


Demi dia, Cinta.


Demi bahagianya dia..~


*puisi curahan hatinya Daffa.


W A R N I N G !!! Area 17++


yg belum siap nikah, say bye di sini dulu yaa say.. peluk hangat dr jauh..πŸ₯°πŸ₯°πŸ‘»πŸ‘»


from Thor Meli.


***


Anna tak tahu apa yang dipikirkannya ketika ia menci*um Daffa beberapa waktu lalu. Anna hanya tahu kalau ia tak ingin melepaskan diri dari rasa aman yang diberikan oleh suaminya itu.


Anna ingin melepaskan beban yang sempat menyiksanya dalam mimpi tadi. Dan entah bagaimana menyentuh Daffa bisa membuatnya lupa akan kecemasan dan ketakutannya akan Frans.


'Frans!'


Batin Anna kembali mengingat nama pemuda breng*sek itu secara tak sengaja. Tapi lalu pikirannya tak mengingat sosok Frans terlalu lama. Sentuhan-sentuhan Daffa pada tubuhnya membuat Anna seketika lupa pada segala. Bahkan juga lupa tentang dirinya.


Sementara itu, Kedua tangan Anna pun tak kalah sibuk menggapai sesuatu, entah apa, di kepala ataupun pundak kekar suaminya itu. Meski Anna merasakan baju suaminya itu dingin dan basah, tapi keseluruhan diri Anna nyatanya merasakan panas dan gerah.


Bi*birnya masih berpa*gut erat dengan bibir Daffa. Tubuhnya pun entah sejak kapan telah telentang di atas kasur, di bawah himpitan tubuh kekar suaminya.


Kedua tangan Daffa sibuk mencari, mengenal dan menyelami tubuh Anna. Meninggalkan jejak panas dan gelenyar Aneh yang membuat Anna jadi menikmati candu nya cinta.


Kedua tangan Anna mencengkeram kuat pundak Daffa. Dan ia merapatkan tubuhnya pada tubuh di atasnya. Ada sesuatu.. perasaan menyatu yang tiba-tiba muncul dan menuntut dipenuhi dalam diri Anna. Memaksa Anna untuk menggeliatkan tubuhnya pada tubuh Daffa.


"Anna! Stop! Please.. " suara Daffa terdengar berat dan memohon.


Namun Anna tak menghiraukan pintaan Daffa. Ia merasa didorong oleh sesuatu untuk memenuhi kekosongan dalam dirinya. Dan ia yakin Daffa lah satu-satunya yang bisa mengisi kekosongan dalam dirinya saat ini jua.


Anna terus menggeliat dan mengusik Daffa. Hingga sebuah erangan keluar jelas dari tenggorokan suaminya itu. Kemudian, sesuatu pada tubuh bawah nya Daffa menekan keras pada tubuh bawah Anna.


Detik berikutnya, kedua tangan Anna telah dikunci dalam genggaman kedua tangan Daffa di sisi kanan dan sisi kiri kepalanya. Daffa pun sudah mengangkat wajahnya dari leher Anna.


Jarak di antara kedua wajah mereka berkisar lima belas senti. Tak cukup jauh sekaligus juga tak cukup dekat bagi Anna. Bola mata kedua insan itu terlihat mabuk dan berkabut oleh hasrat yang masih berkobar nyata.


Tapi lalu, Daffa menanyakan sesuatu kepada Anna.


"Are you serious about this, Anna?" Ucap Daffa dengan suara berat.


Saat mengucapkan kata "this" yang bermakna "ini", Daffa sengaja menekankan tubuh bagian bawahnya kepada tubuh bagian bawah milik Anna. Membuat Anna merasa sedikit malu namun sekaligus mengobarkan bara hasrat yang masih juga menyala.


Anna memandang lurus ke dalam mata Daffa. Sementara benaknya berkecamuk kusut.


'Siapkah aku untuk menyerahkan diriku pada Daffa? Aku belum lama mengenalnya. Tapi.. entah kenapa, hatiku merasa telah lama mengenalnya. Dia orang asing yang terasa tak asing..'


Setelah jeda tiga detik, kemantapan hati tiba-tiba saja dirasakan Anna. Dengan pandangan lurus, Anna menjawab pertanyaan Daffa tadi dengan satu kata, "Ya..".

__ADS_1


Dan kedua bola mata Daffa pun seketika berkilau oleh hasrat dan.. cinta. Dalam hatinya ia bersyukur karena akhirnya Anna mau menerima dirinya. Kemudian, dengan sangat lembut, Daffa mencium pucuk kepala Anna. Ia lalu membisikkan doa kebaikan bagi dirinya dan Anna.


Dan Daffa melanjutkan perjuangannya lagi. Kali ini, dengan kelembutan yang disisipkannya di setiap sentuhannya pada setiap inci tubuh Anna.


***


Selang tak lama, Anna dan Daffa telah bergumul tanpa sehelai kain pun pada tubuh keduanya. Mereka berlindung di bawah selimut yang menutupi separuh tubuh bagian bawah mereka.


Tangan Daffa sibuk menyentuh, meremas atau sekedar mengusap pelan pada tubuh istrinya. Sementara mulutnya sibuk menge*cup, mengecap, dan sedikit menggigit pelan di beberapa area sensitif dari tubuh Anna.


Anna tak bisa menghitung sudah berapa kali ia merasakan dirinya berada di puncak kenikmatan. Ia merasa seperti terlahir kembali usai Daffa memanjakannya lewat sentuhan-sentuhan ajaib darinya.


Dan, ketika pikiran Anna telah berkabut pekat, samar-samar Anna mendengar Daffa membisikkan kalimat.


"Maafkan saya, Anna. Saya akan menyakiti kamu sekali ini saja. Tapi saya berjanji, saya gak akan menyakiti kamu di sisa hidup saya nanti," bisik Daffa di leher kanan Anna.


Lalu, secara tiba-tiba Anna merasakan sesuatu menekan ke dalam tubuh bawahnya. Sesuatu itu terus menekan dan menekan hingga akhirnya memenuhi diri Anna.


Anna menggigit bibirnya, menahan sakit. Ia tahu dengan apa yang sedang terjadi. Ia pernah membaca artikel tentang malam pertama. Juga tentang robeknya selaput hymen yang akan dialami oleh seorang wanita sekali dalam hidupnya.


Tapi Anna tak menyangka nyerinya akan sesakit itu. Anna sudah ingin mendorong tubuh Daffa menjauh jika saja ia tak mendengar dan merasakan apa yang dilakukan Daffa di detik berikutnya.


Suaminya itu kembali menghujani Anna dengan kecu*pan-kecu*pan lembut seraya membisikkan kata-kata, "Sorry, Anna.. sorry.. i love you.. i really really love you.."


Kedua tangan Anna yang sudah akan mendorong pundak Daffa pun bertahan. Perlahan keikhlasan merajai diri Anna. Dengan perasaan cinta, Anna balas merengkuh kepala Daffa di da*danya. Seraya berbisik, "I'm okay.. it's okay.."


Perlahan, Daffa pun melanjutkan ritual suci di antara keduanya. Tak lupa ia menghujani Anna dengan kecu*pan lembut dan bisikan-bisikan cinta.


Hingga akhirnya Anna pun merasakan mahabbah nya pernikahan. Mahabbah nya hubungan di antara dua insan.


Kedua tubuh telah menyatu. Kedua hati berpagut mesra dalam senandung mahabbah yang telah diridhai-Nya.


Inilah cinta.


Inilah indahnya pernikahan.


***


Sedikit catatan dr Mel:


Maluuu rasanya menuliskan bab ini. terpikir berkali-kali untuk menuliskan bab ini secara gamblang atau metafora aja. mohon maaf jika ada yg tak berkenan dengan tulisan pada bab ini. mohon keridhoan teman2 untuk Mel menulis tulisan yg lebih baik lagi.


Saling mengingatkan dalam kebaikan ya, semua!


...


...


Jadi, yg belum nikah, buruan yaa nikahnya! Mel bantu doa biar semua segera dipertemukan dengan jodoh terbaik yang bisa membantu jadi orang yg lebih baik juga. aamiin..🀲🏼🀲🏼


Selagi menunggu si dia datang (kalo cewe, menunggu. kalo cowo mencari.. kalo dua2 nya menunggu, lha kapan bisa ketemu!!πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜œβœŒοΈ), Yuk qt gemar memperbaiki diri.


Salam sehat semangat yaa,

__ADS_1


from Thor Meli.πŸ₯°πŸ₯°βœŒοΈ


***


__ADS_2