Cinta Sang Maharani

Cinta Sang Maharani
Kue Tart Es Krim


__ADS_3

Daffa dan Anna berdiri bangun dan hendak kembali masuk ke dalam kamar. Tapi, baru juga mereka menjejakkan kaki beberapa langkah, ketika lampu tiba-tiba saja padam. Seketika kegelapan pun menyergap pandangan mereka.


"Ehh? Ini mati lampu?" Anna bertanya pada Daffa di sampingnya.


"Hmm.. mungkin," jawab Daffa ragu.


"Hotel ternyata bisa ngalamin mati lampu juga yaa," Ujar Anna keheranan.


"Kamu tunggu aja di sini ya. Saya mau cek dulu," Daffa memberi saran.


Daffa lalu menggeser pintu kaca dan masuk ke dalam kamar. Anna memutuskan untuk berdiri menunggu di pintu balkon.


Sekitar sepuluh menit kemudian, Anna mulai tak sabar karena Daffa tak kunjung kembali. Ia pun memanggil Daffa dari pintu balkon.


"Daff?" Panggil Anna.


Hanya hening dan gelap yang menjawab panggilan Anna.


"Daaaff?" Anna kembali memanggil Daffa.


Lagi-lagi panggilan Anna dijawab oleh sepi.


Merasa tak sabar harus terus menunggu, Anna pun melangkah masuk ke dalam kamar tidur. Syukurlah kamar saat itu tak terlalu gelap karena masih ada cahaya bulan yang menyinari kamar lewat biasan pintu kaca.


"Daff?" Anna kembali memanggil Daffa.


Ketika Anna merasa yakin kalau Daffa tak ada di kamar, Anna pun melanjutkan langkahnya ke ruang bersantai. Tapi, begitu Anna membuka pintu yang memisahkan kamar tidur dan ruangan bersantai, Anna dikejutkan oleh apa yang dilihatnya.


Seingat Anna, ruangan bersantai tadinya mirip seperti mini bar yang terdiri dari beberapa bangku putar di sepanjang meja panjang tinggi. Di balik meja panjang itu terdapat rak minuman kecil juga kulkas. Tak jauh dari meja bar, terdapat satu set sofa yang disusun menghadap ke televisi besar yang terpasang di dinding. Dengan hiasan akuarium di sebelah meja bar.


Tapi ketika Anna memasuki ruangan bersantai saat ini, dia dibuat terkejut karena ia seperti pergi ke tempat yang jauh berbeda. Karena ruangan bersantai yang sebelumnya kini telah diubah menjadi layaknya sebuah sea world mini.


Di sepanjang dinding ruangan bersantai, kini terdapat akuarium-akuarium besar setinggi setengah badan Anna, yang menutupi hampir sepanjang sisi ruangan itu. Tak ada lagi rak minuman. Hanya tersisa kulkas, sebuah sofa, serta televisi yang ukurannya lebih besar dari televisi yang terpasang sebelumnya. Dengan penerangan yang redup, serta hiasan lampu berwarna biru dari akuarium, Anna merasa ia memasuki dunia laut.


Selama beberapa detik Anna terpukau melihat pemandangan di ruangan bersantai saat itu. Ia terlambat menyadari keberadaan Daffa yang sudah sedari tadi duduk di sofa, menunggunya.


Ketika Anna menyadari keberadaan Daffa, Ia segera menghampiri suaminya itu.


"Ini.. ini apa, Daff? Kok, banyak banget akuarium nya? Tadi kayaknya cuma ada satu deh," seloroh Anna penasaran.


Daffa menggamit tangan Anna, lalu menariknya pelan untuk duduk di sampingnya. Ketika Anna sudah duduk di samping Daffa, ia kembali menyadari keberadaan kue tart ukuran besar yang ada di atas meja depan sofa. Di atas kue tart itu, terdapat sebuah lilin angka 21 tahun yang menyala.


"Daff? Apa ini?" Anna kembali melempar pandangan tanya ke arah Daffa.

__ADS_1


Daffa yang masih memegang satu tangan Anna lalu meraih tangan Anna yang lainnya. Dengan penuh kasih, Daffa membawa kedua tangan Anna ke bibirnya untuk ia cium.


"Happy birthday, Anna," ucap Daffa sambil menatap lurus mata Anna.


"Tapi! Tapi ulang tahunku udah lewat, Daff. Ulang tahunku tuh bulan November kemarin. Tiga bulan yang lalu," sergah Anna memberi tahu.


Daffa memberikan Anna senyuman tipis, sebelum ia menjawab.


"Ya. Saya tahu kalau kamu, Anna Maharania lahir tanggal 11 Nopember 2001. Tapi saya ingin merayakan ulang tahun kamu hari ini sebagai ganti 21 tahun saya tak bisa merayakannya bersama kamu."


"...Terima kasih sudah terlahir ke dunia ini. Terima kasih sudah mau mengenal saya. Terima kasih juga kamu mau menerima saya sebagai suami kamu. Dan maaf, karena saya baru bisa merayakan ulang tahun kamu di saat kamu sudah berumur 21 tahun. Kamu memaafkan saya kan, An?" Daffa bertanya dengan suara lirih.


Anna tergugu tak mampu bicara. Ditatapnya Daffa dengan pandangan haru. Ia merasa ada yang menyumbat tenggorokannya saat ini, hingga sulit rasanya bagi Anna walau hanya untuk mengucapkan satu patah kata saja.


Setelah beberapa saat berlalu, barulah Anna menemukan suaranya kembali.


"Kamu gak salah kan, Daff. Kita kan memang baru ketemu beberapa hari yang lalu," ucap Anna.


Daffa mengusap pelan punggung tangan Anna. Ia lalu kembali bicara.


"Tetap saja, Anna. Saya berhutang 21 tahun perayaan ulang tahun kamu yang telah saya lewati. Entah saya bisa sempat menyicilnya atau tidak. Seiyanya, di malam pertama kita menjadi suami istri ini, saya ingin menunaikan satu hutang saya ini kepadamu," tutur Daffa kembali.


Anna terlihat hendak mengucapkan sesuatu, tapi bibirnya serasa gagu. Mulut Anna tampak megap-megap tanpa suara. Sampai beberapa saat lamanya kemudian, ia akhirnya kembali berkata.


"Lalu, apa semua ini, Daff? Akuarium-akuarium ini? Apa ini gak berlebihan?" Tanya Anna dengan kecemasan yang terlihat nyata di wajahnya.


"Kamu gak suka?" Tanya balik Daffa dengan kecemasan yang juga tampak nyata.


Anna mengedipkan matanya sekali. Dengan bingung, ia menggelengkan kepalanya. Tapi lalu Anna menangkap kesedihan di mata suaminya itu. Akhirnya dengan segera Anna berusaha menjelaskan.


"Ini semua bagus.. indah.. tapi.. apa ini gak terlalu repot buat kamu nyiapinnya, Daff?"


"Kamu.. gak suka dengan dekorasi akuarium ini, Ann?" Tanya Daffa kembali.


"Aku.. aku suka,"


"Tapi?" Tanya Daffa lagi saat melihat keraguan di wajah Anna.


"Tapi menurutku kamu gak perlu nyiapin semua ini. Aku udah cukup senang dengan menjadi istri kamu, kok. Gak usah ribet-ribet nyiapin sesuatu seperti ini lagi, karena aku gak mau merepotkan kamu, Daff," papar Anna panjang lebar.


Daffa menepuk pelan tangan Anna ke lututnya. Ia lalu berkata lagi, "Anna.. saya gak merasa direpotkan kok. Saya menyiapkan semua ini karena setahu saya kamu suka dengan laut. Saya juga tahu kalau kamu suka es krim dan kue tart. Makanya saya sengaja memesan tart es krim ini khusus untuk kamu. Atau apa saya salah ya? Apa kamu gak suka sama kue tart ataupun es krim?"


"Kamu tahu darimana kalau aku... Oh!" Baru saja Anna hendak menanyakan pada Daffa darimana lelaki itu mengetahui apa yang disukainya. Ketika ia menangkap pandangan Daffa padanya. Seketika itu pula Anna mendapatkan sendiri jawaban dari pertanyaannya.

__ADS_1


'Pasti ia mengetahui semua kesukaanku dari hasil penyelidikannya tentangku,' Anna membatin.


"Oke. Iya. Aku memang suka sea world. Aku juga suka es krim dan kue tart..," ujar Anna.


"Dan ini es krim Molan loh, kedai es krim kesukaan kamu. Rasa strawberry juga," Daffa memotong ucapan Anna.


"Iya.. Molan. Aku juga.. ehh? Ini es krim Molan? Kue tart ini kamu beli di kedai Molan Es Krim yang itu?" Tanya Anna kaget.


Daffa tersenyum menang. "Iya. Kamu sering ke kedai es krim itu kan?" Daffa bertanya memastikan.


"Iya sih. Tapi aku belum pernah nyobain menu tart es krim nya. Soalnya harganya mahal banget. Sampai sejuta lebih per porsi ukuran sedang nya deh, kalau gak salah," Anna mengira-kira.


"Nah. Bagus. Berarti sekarang kamu bisa ngerasain es krim kesukaan kamu. Dijamin puas, karena satu kue untuk kamu semua," tawar Daffa.


Seketika itu juga mata Anna berbinar cemerlang. "Ini beneran buat aku, Daff?" Anna memastikan lagi pada Daffa terkait status kue tart es krim di hadapannya itu.


Lebih lanjut, Anna malah menggumam pelan, "Karina pasti bakal iri banget kalau dia sampai tahu aku makan kue tart es krim Molan malam ini."


Anna kemudian memotong sebagian kecil kue tart es krim rasa strawberry di hadapannya itu.


Karena tak mendengar jelas gumaman Anna, maka Daffa pun bertanya. "Apa, Ann?"


"Oh. Gak apa-apa. Itu. Temanku di kampus. Dia itu yang biasanya ngajak aku ke kedai Molan. Kalau sampai dia tahu tentang kue tart es krim yang ku makan malam ini, dia pasti bakal iri banget."


"Ooh.. yang barusan kamu telepon balik?" Tanya Daffa memastikan.


"Yap. Dia.. mmmm... Daff! Ini asli enak bangett.." ucapan Anna berhenti ketika ia sudah menyicipi sesendok tart es krim. Saking menikmatinya, Anna bahkan tak sadar ketika ada krim putih kue tart yang menempel di ujung atas sisi kanan mulutnya.


Daffa yang melihat Anna pun tergerak untuk membersihkan mulut istrinya itu dengan tangannya.


"Makasih.. kamu mau nyicip jni, Daff?" Anna menawarkan potongan kue yang dipegangnya.


Melihat Anna yang begitu menikmati kue tart es krimnya, membuat Daffa ingin ikut menyicipinya. Tapi lalu selintas ide melewati pikirannya.


Dengan senyuman jahil, Daffa mengangguk, mengiyakan tawaran Anna, "Ya. Saya mau ikut nyicip kue nya. Tapi.."


Secepat kilat Daffa menjilati sisa krim putih yang masih menempel di atas mulut Anna. Membuat wanita itu terkejut setengah mati sampai-sampai ia menjadi seperti patung.


Merasa gemas, Daffa malah menorehkan krim putih ke mulut Anna kembali dengan jarinya.


"Apaan sih, Daff!" Protes Anna dengan wajah yang mulai bersemu merah. Gadis itu menunduk malu dan hendak membersihkan krim yang ditorehkan Daffa di mulutnya dengan tangannya sendiri.


Tapi Anna kalah cepat. Karena sedetik kemudian, Daffa meraih dagunya dan menjilati krim kue tart di mulutnya kembali hingga bersih.

__ADS_1


Anna yang kini sudah benar-benar terpaku membeku hanya bisa memandang Daffa dengan matanya yang membelalak. Dan detik berikutnya, giliran Daffa mengulum bibir Anna dengan gerakan lidahnya yang menggila. Hingga Anna dibuatnya tanpa sadar jatuh kembali dalam perangkap rasa asing yang menyergap keduanya sama seperti kala senja sore tadi.


***


__ADS_2