Cinta Sang Maharani

Cinta Sang Maharani
Kunjungan Tante Soraya


__ADS_3

Sekitar jam tujuh, seorang delivery man mengirimkan paket bubur yang sudah dipesan oleh Daffa. Anna pun menyantap bubur ayam bersama sang suami di balkon yang ada di samping kamar tidur mereka.


Selesai sarapan, Daffa berpamitan untuk menyelesaikan beberapa file yang belum selesai dibacanya. Ia pun lalu pergi menghilang ke dalam ruang kerja nya.


Sementara itu, Anna kembali masuk ke dalam kamar tidur untuk memilih pakaian yang akan ia kenakan di acara ulang tahun Ayah Zion sore nanti.


Saat Anna sibuk memilih pakaian yang baru dibelinya bersama Daffa kemarin sore, terdengar olehnya suara bel pintu yang berbunyi.


Begitu Anna membuka pintu, sekaligus juga lift yang terhubung langsung ke ruang tamunya, Anna mendapati seorang wanita paruh baya berambut sebahu, sedang tersenyum ramah padanya.


"Anna! Tante boleh masuk?" Sapa wanita asing berpenampilan cantik untuk usianya yang mendekati senja itu.


Dalam benaknya Anna masih sibuk mengingat-ingat identitas dari wanita itu.


"Oh! Bibi Soraya?!" Anna berseru, saat ia tiba-tiba teringat dengan identitas tamu nya itu. Dia adalah adik dari Ayah Zion, ayah nya Daffa.


"Panggil Tante saja ya?" Pinta Tante Soraya seraya memberikan Anna pelukan hangat.


Anna merasa canggung dengan keakraban yang ditawarkan oleh Tante Soraya. Tapi ia tak lupa untuk menjaga tata kramanya, dengan mempersilahkan Tante Soraya masuk segera.


"Silahkan masuk dulu, Tante," tutur Anna dengan ramah.


Tante Soraya lalu duduk di salah satu sofa putih yang ada di ruang tamu.


"Daffa nya mana?" Tanya Tante Soraya kemudian.


Anna yang tadinya hendak berlalu ke pantry untuk mengambil air minum, akhirnya terhenti untuk menjawab pertanyaan dari Tante Soraya.


"Ada, Tante. Anna panggilkan Daffa nya ya Tante.. Tante mau minum apa?" Anna menawarkan minuman.


"Air putih aja, gak apa-apa. Tante lagi agak flu soalnya," tutur Tante Soraya.


Anna lalu pergi ke pantry yang terletak tak jauh dari ruang tamu berada. Dari tempat duduknya, Tante Soraya bisa melihat pergerakan Anna di ruang pantry.


"Kalian gak pakai jasa asisten untuk bantu-bantu pekerjaan di rumah? Bersih-bersih, dan lain-lain..?" Tanya Tante Soraya.


"Pakai kok Tante. Kata Daffa, ada bibi yang bantu bersihin rumah setiap hari pas aku kuliah dan Daffa ke kantor.." jawab Anna, seraya mengambil dua buah gelas dari dalam kabinet.


"Oo.. jadi pas kalian pulang sore, bibi nya udah pulang gitu ya?"


"Iya, Tante.."


"Wah.. rasanya kayak tinggal berdua aja dong ya sepanjang waktu.." goda Tante Soraya. Sementara Anna yang merona, tak menyahut apapun.


"Terus makanannya juga disiapin sama asisten juga ya?" Tanya Tante Soraya lagi.


"Enggak sih, Tante.. seringnya kita pesan atau beli di luar.." timpal Anna. "Anna juga gak bisa masak soalnya.." Anna mengaku, dengan suara yang sangat kecil.


Soraya menatap Anna dengan hangat. 'Istri keponakannya itu sepertinya adalah orang yang jujur dan baik,' begitulah isi benak Tante Soraya.


"Tante juga gak bisa masak kok. Soalnya di mansion udah ada yang masakin sih.." ucap Tante Soraya.


"Padahal, kalau kamu mau, kalian tinggal aja di mansion. Kamar lamanya Daffa masih kosong kok," saran Tante Soraya kemudian.


"Emm.. Anna ikut kata Daffa aja deh, Tante.." timpal Anna setelah meletakkan teko dan cangkir di atas meja.


"Anna panggil Daffa nya dulu ya, Tante.." tutur Anna berpamitan.


"Ya, silahkan.."


Anna lalu masuk ke dalam. Dengan langkah cepat, ia menujukan kakinya ke ruang kerja Daffa, sekaligus merangkap juga sebagai ruang perpustakaan.


Setelah tiba di depan ruangan yang pintunya separuh terbuka, Anna langsungnn mengetuk pintunya tiga kali.

__ADS_1


'Tok. Tok. Tok!'


Daffa yang sedang menerima panggilan telepon, langsung menutup lubang speaker handphone nya, lalu menyapa Anna.


"Ada apa, Sayang?"


"Tante kamu! Maksud aku.. Tante kita, Tante Soraya datang!" Seru Anna.


"Oh.. oke. Tolong temani Tante Soraya dulu ya, Sayang? Saya mau nyelesain panggilan telepon dulu," mohon Daffa.


"Hah? Hmm.. yaudah. Tapi jangan lama-lama ya!" Anna memberi titah.


"Memangnya kenapa kalau saya lama-lama teleponnya?" Tanya Daffa keheranan.


"Masalahnya bukan karena kamu lama-lama teleponan nya, Daff.. Sayang.. Tapi aku gak tahu mau ngobrolin soal apa, sama Tante kamu itu.."


Daffa tersenyum hangat saat menyadari Anna yang tampak gugup.


"Tante Soraya orangnya baik kok, Sayang. Saya rasa kamu nanti juga bakal keasyikan ngobrol sama Tante.." Daffa berusaha menenangkan Anna.


Anna yang masih merasa gugup, tak menangkap kalimat menenangkan yang diutarakan oleh Daffa. Dalam pikirannya, ia sibuk menebak maksud kedatangan Tante nya itu.


"Pokoknya jangan lama-lama ya teleponan nya!" Anna kembali memberi peringatan terakhir kepada Daffa. Sebelum kemudian ia berbalik dan kembali ke ruang tamu.


Begitu sampai di ruang tamu, Anna tak langsung duduk di sofa dekat Tante Soraya duduk saat ini. Ia terlebih dulu melipir kembali ke ruang pantry. Saat ia teringat kalau ia menyimpan setoples kerupuk emplang yang ia beli kemarin siang.


Anna juga mengeluarkan lima donat yang sengaja ia sisakan untuk Daffa, namun belum sempat ia berikan pada suaminya itu. Dengan kedua tangan yang penuh memegang toples isi kerupuk emplang, serta sebuah piring berisi lima donat, Anna pun kembali menghampiri Tante Soraya.


"Eh, ngapain repot-repot segala, Sayang.." Tante menegur.


"Gak apa-apa, Tante. Sudah sepatutnya bagi kita untuk memuliakan tamu kan ya, Tante. Malah Anna minta maaf karena cemilan yang Anna suguhin cuma ada kerupuk sama donat. Semoga Tante suka.."


"Eh.. kamu baik banget, Sayang.." puji Tante kepada Anna.


"Iya gak apa-apa. Ini donat buatan kamu?" Tante Soraya mengambil sebuah donat dengan toping gula bubuk.


Anna menyengir saat ditanya seperti itu.


"Anna kan gak bisa masak, Tante.. Apalagi bikin kue.. Anna cuma bisa jualin donat aja, Tante.." Anna mengaku.


"Oh! Kamu jualan donat? Yang ini? Mm.."


Tante Soraya menggigit donat yang dipegangnya. "Lumayan enak ini. Harganya berapa, Sayang?"


"Tiga ribu, Tante.. kalau goceng dapet dua.."


"Wah.. murah ya!"


"Biar sesuai sama isi kantong mahasiswa ya, Tante.. jadi dijualnya gak mahal-mahal.."


"Kamu jualannya di kampus? Sekalian kuliah gitu, Ann?"


"Iya, Tante.."


"Wahh.. Tante salut sama kamu. Jarang lho mahasiswi yang mau sekalian berniaga kayak kamu.."


Anna kembali merona saat mendengar pujian dari Tante Soraya kepadanya.


"Mm.. Tapi di kampus, banyak kok, yang jualan juga kayak Anna, Tante.."


"Oh ya? Anak Tante juga suka berniaga sih. Dia juga masih kuliah sekarang,"


"Oo.."

__ADS_1


"..."


"..."


Tante Soraya lalu menghabiskan donat yang ada di tangannya hingga tak lagi bersisa. "Eh, kalau diterusin, bisa-bisa sampai zuhur nih Tante ngabisin donat," ucap Tante Soraya tiba-tiba.


"Gak apa-apa Tante.."


"Ya apa-apa dong, Ann.. kan Tante udah bikin appointment/janji jam sepuluh nanti. Ini tinggal setengah jam lagi lho. Daffa nya mana? Dia ikut atau kita berdua aja yang pergi ke salon?"


Anna menatap Tante Soraya dengan pandangan bingung. Ia tak mengerti dengan maksud perkataan Tante nya yang berambut sebahu itu. Tapi lalu suara Daffa menerangkan segalanya.


"Tante Soraya!"


Daffa terlihat mendekati Tante Soraya dan memeluknya erat.


"Kamu tuh lagi apa sih, Daff? Jangan bilang masih ngurusin soal kantor deh. Ini kan hari minggu, Daff.. waktunya untuk liburan lah!" Tegur Tante Soraya.


Daffa tersenyum malu saat ia mengakui kesibukannya tadi di ruang kerja.


"Nanggung, Tante. Ini PR bekas honeymoon kemarin. Jadi ada beberapa kerjaan yang belum beres.." aku Daffa.


"Terus, sekarang gimana? Tante udah bikin janji lho. Kamu jadi ikut atau enggak?" Tanya Tante Soraya kembali.


"Mm.. Tante sama Anna aja gak apa-apa ya? Daffa masih belum beres nih, Tan..?" Daffa memohon.


"Daff..?" Anna memanggil Daffa. Tapi lalu dilihatnya, Daffa menaikkan sebelah alisnya. Yang langsung dimengerti oleh Anna maksud dari pandangan suaminya itu.


"S.. sayang.."cicit Anna dengan malu-malu.


Daffa tersenyum puas mendengar Anna memanggilnya 'Sayang' di hadapan Tante Soraya. Sementara itu Tante Soraya berusaha menyembunyikan senyuman lebar yang sudah ingin mengembang luas di wajahnya.


"Kenapa, Anna Dear..?" Tanya Daffa dengan suara lembut.


"Uhuk..uhuk.." Tante Soraya hampir tak bisa menyembunyikan gelak tawa saat didengarnya Daffa memanggil mesra istrinya itu di hadapannya.


Sementara itu Anna langsung menunduk karena jengah oleh sebab panggilan mesra Daffa kepadanya tadi.


Dalam hatinya Anna sedikit merutuk, 'Ini orang gak tahu kondisi banget sih. Di depan Tante Soraya masih juga iseng-iseng manggil Dear segala!'


"Ehem!" Anna terlebih dulu melegakan tenggorokannya yang entah kenapa terasa kering.


"Maksudnya, aku sama Tante pergi ke mana ya?" Tanya Anna kemudian.


"Hmm? Kamu belum bilang ke Anna, Daff?" Tanya Tante Soraya pada keponakannya itu.


Yang ditanya, terlihat meminta maaf dan merasa malu.


"Iya Tante.. Daffa lupa.."


"Jadi?" Anna kembali menagih jawaban. Yang lalu segera didapatnya dari ucapan Tante Soraya pada detik berikutnya.


"Tante udah bikin appointment/janji di salon langganan Tante, Anna Sayang.. Kita nyalon dulu ya sebelum acara ultahnya Kak Zion, maksud Tante, Ayah Zion sore nanti. Biar sore nanti kamu bisa tampil glowing up! Apalagi ini penampilan perdana kamu kan ya, di acara keluarga kita.." tutur Tante Soraya panjang lebar.


Anna langsung menganga dibuatnya. Walau ia langsung mengatupkan kembali rahangnya dengan segera. Tapi tetap saja, rasa gugup yang sudah dirasakan Anna sejak ia mengetahui akan menjumpai keluarga Daffa sore ini, pun akhirnya kembali muncul.


Anna berharap, ia bisa melalui pertemuan pertamanya dengan Keluarga Daffa, dengan amat baik.


'Semoga saja..' batin Anna melirihkan harap.


Dan akhirnya, Anna pun pergi ke salon yang sudah dipesankan oleh Tante Soraya untuk mereka berdua. Sementara Daffa menunggu di rumah untuk menyelesaikan tugas-tugas kantornya.


***

__ADS_1


__ADS_2