Cinta Sang Maharani

Cinta Sang Maharani
Jordan dan Dunia Enam Pintu


__ADS_3

[Beberapa bab ke depannya akan menceritakan tentang Jordan ya.


Jordan adalah Ayahnya Anna yang dikabarkan sudah menghilang sekitar enam tahun lalu. Mulai bab ini, kita akan diajak berkelana melintasi dunia yang berbeda dari bumi, tempat Anna tinggal kini. Selamat membaca...🙏🙏]


***


"Sial! Sial! Sial! Ini sudah pintu ketiga yang aku masuki. Tapi kenapa aku belum juga menemukan Nevarest. Di pintu yang mana sebenarnya dunia asal ku berada? Sampai kapan aku terjebak di dunia kosong ini?"


Seorang pria paruh baya terlihat kelelahan. Ia duduk bersandar pada salah satu pintu dari enam pintu yang ada di dunia itu. Dunia paling kosong dan sunyi yang pernah ada. Karena di dunia itu tak nampak pohon, gedung, ataupun makhluk hidup.


Seluas mata memandang, yang terlihat oleh mata hanyalah tanah lapang dengan langit yang selalu berwarna biru.


Di dunia itu juga terdapat enam pintu yang berdiri sendiri tanpa ada bangunan yang menyangganya. Oleh sebab itulah dunia itu dinamakan dengan nama Dunia Enam Pintu.


Mirip seperti pintu ajaib, ke enam pintu ini menjadi pintu masuk menuju enam dunia yang berbeda. Dan Jordan, lelaki paruh baya yang kini tampak kelelahan itu sedang memikirkan pintu mana lagi yang akan ia masuki.


Entah sudah berapa lama Jordan terjebak di dunia ini, ia tak tahu. Tak ada malam di dunia ini. Langit selalu terlihat biru cerah terang, walau tak nampak matahari di manapun. Jadi Jordan tak bisa mengira waktu.


"Elva.." suara Jordan terdengar parau. Di keheningan dunia itu Jordan dihimpit oleh rasa sesak karena merindu. Rindu yang ditujukannya pada ratu nya.


Jordan Ammani Frost adalah seorang raja di negeri Nevarest. Ia diangkat menjadi raja di umurnya yang ke 27, ketika ia resmi menikahi putri mahkota negeri itu, Putri Elvara. Raja sebelumnya tak memiliki penerus lelaki sehingga putri tertua darinya lah yang menerima tahta mahkota di negeri itu.


Jordan bertemu sang putri di sebuah acara perburuan kerajaan. Saat itu sang putri ikut berburu bersama baginda raja dalam gaun princess berwarna biru pudar.


Rambut panjang sang putri diikat meninggi di belakang kepalanya. Menyisakan untaian rambut yang masih terlihat memanjang hingga sepinggang.


Saat itu Putri Elvara terlihat percaya diri menunggangi kuda miliknya yang berwarna putih, seputih salju. Ia pun terlihat menyatu dengan busur panah di tangannya.


Jordan mengikuti rombongan sang putri jauh di belakang barisan. Sambil berburu, sesekali Jordan melihat bagaimana Putri Elvara begitu anggun melesatkan panah-panah hingga menancap ke beberapa hewan buruannya.


Di akhir perburuan itu, Putri Elvara berhasil memanah 3 ekor kijang, 3 kelinci, serta 3 babi hutan. Jordan sendiri tak mendapatkan hasil di perburuan itu karena ia lebih sibuk memperhatikan Putri Elvara.


Jadi Jordan begitu kaget ketika di akhir perburuan, Putri Elvara melangkah menghampirinya yang masih juga tak bisa melepas pandangan matanya dari sosok sang putri.


Putri Elva lalu menggamit tangannya, dan menariknya hingga ke dekat baginda raja. Merasa ia sedang bermimpi, Jordan pun mengikuti langkah putri Elva tanpa bicara sepatah kata pun.


Kerumunan di sekitar mereka langsung terdiam menyaksikan pemandangan ini. Terlebih ketika sampai di depan Baginda Raja, Putri Elvara dengan suara halus namun cukup kencang untuk didengar oleh orang-orang di sekitar raja pun berkata, "Ayahanda, De* memilih lelaki ini sebagai suami De."


(*De memiliki arti "saya" yang biasanya diucapkan oleh seorang anak saat menghadapi orang tua).

__ADS_1


Jordan dan semua orang yang mendengar pernyataan putri Elva itu terkejut. Lebih terkejut lagi ketika Baginda Raja menjawab pernyataan sang putri dengan kalimat,


"Engkau telah memutuskan pilihanmu. Dan Ayah merestui kalian."


Bagaikan mimpi, Jordan melalui dua bulan berikutnya dengan perasaan terombang-ambing antara merasa bahagia juga bingung. Bahagia oleh sebab ia bisa menikahi Putri Elva yang membuatnya jatuh hati di pandangan pertama. Juga bingung dengan semua keberuntungan yang didapatnya itu.


Ketika dua bulan kemudian keduanya menikah, Jordan pun mendapat gelar putra mahkota. Dan pada bulan-bulan berikutnya ia pun lalu mendapatkan pelatihan kerajaan untuk mempersiapkannya menjadi raja berikutnya.


Pernah suatu ketika Jordan bertanya pada Elva, apa sebab ia memilih dirinya. Putri Elva hanya tersenyum dan menjawab,


"Pandangan matamu menarik hati Tiang*.


Sepanjang perburuan itu, hanya pandangan mata Kakanda seorang yang membuat Tiang merasa tertawan".


(*Tiang memiliki arti "saya" yang biasanya diucapkan oleh seseorang kepada kekasihnya).


Kembali ke Jordan yang kini masih terjebak di Dunia Enam Pintu. Saat Jordan mengenang kenangan tentang istrinya, ia mendapati pintu yang berada tak jauh di hadapannya terbuka. Dari sana keluar sosok lelaki tua yang mengenakan seragam seperti seorang pemburu, lengkap dengan busur dan panah di punggungnya.


Seketika Jordan berdiri untuk menghampiri lelaki tua itu. Ini adalah pertama kalinya ia mendapati orang lain di Dunia Enam Pintu.


"Hei, Tunggu!" Seru Jordan.


Jordan berlari dan terus berlari untuk menghampiri lelaki tua itu. Anehnya, sudah sekitar sepuluh menit ia berlari, jarak antara ia dan lelaki tua itu tak kunjung mendekat. Ini adalah salah satu keanehan Dunia Enam Pintu.


Secara kasat mata, Jordan memperkirakan jarak ia dan lelaki tua itu mungkin hanya sekitar 10 meter saja. Tapi walau ia sudah berlari cukup lama, jarak ia dan lelaki tua itu seperti hanya berkurang satu meter saja.


Kejadian ini juga dialami Jordan saat ia hendak berpindah dari satu pintu ajaib ke pintu ajaib lainnya. Walau jarak antar pintu terlihat hanya 5 meter saja, tapi Jordan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk bisa sampai di pintu yang lainnya.


Merasa letih, Jordan pun berhenti. Ia terduduk dan berteriak, "Tolong tunggu sebentar! Saya sangat letih karena saya sudah ada di sini cukup lama."


Lelaki tua itu kemudian ikut duduk di tempatnya sendiri. Lalu mengajak Jordan berbincang.


"Kisanak dari negeri apa? Kita cukup berbincang seperti ini saja. Jika kisanak hendak menyusul saya ke titik ini, saya khawatir itu membutuhkan waktu yang cukup lama. Sementara saya sedang terburu-buru," Ujar lelaki tua itu.


(*Kisanak memiliki arti "anda" yang biasanya ditujukan pada orang asing).


"Saya Jordan, dari negeri Nevarest."


"Saya Abida, dari negeri Soma."

__ADS_1


"Apa Anda bisa membantu saya? Saya ingin pulang ke negri asal saya. Jadi sebelumnya saya pergi bersama istri dan kedua anak saya ke dunia ini. Lalu kami memasuki salah satu pintu dan tiba di dunia bernama bumi. Selama beberapa waktu kami tinggal di bumi. Tapi lalu istri saya pergi dan sepertinya kembali ke dunia asal kami, di Nevarest. Saya sekarang ingin menyusulnya. Tapi sudah tiga kali saya salah memasuki dunia. Bisakah Anda membantu saya untuk menemukan pintu yang tepat menuju dunia asal saya? Saya sudah sangat letih. Rasanya sudah berjam-jam lamanya saya berlari, tapi selalu saja saya salah memasuki pintu. Jika harus kembali salah memasuki pintu rasanya saya tak mampu," Cerita Jordan.


"Maafkan saya Kisanak. Saya mungkin tak bisa membantu Kisanak menemukan dunia asal Kisanak, karena saya pun sedang terburu-buru. Tapi saya akan memberi tahu kisanak, yang saya ketahui perihal dunia ini," Jawab Abida.


Lalu, Abida kembali berkata,


"Yang saya ketahui tentang dunia ini adalah bahwa dunia ini dikenal sebagai Dunia Enam Pintu. Setiap pintunya akan membawa kita pada dunia yang berbeda-beda. Satu menit di sini setara dengan beberapa hari lamanya di dunia yang lain. Mendengar cerita tuan yang belum pernah pulang ke negeri asal Tuan, saya ingatkan Tuan untuk tidak kaget. Jika Tuan kelak sampai di negeri asal Tuan, waktu mungkin sudah berlalu bertahun-tahun lamanya.


Lalu, saya diberitahu oleh pengelana dari dunia lain, kalau untuk kembali ke dunia yang ingin kita tuju, maka kita harus benar-benar memikirkan dunia itu tanpa mengingat-ingat dunia yang lain. Jika tidak, maka besar kemungkinan akibatnya seperti yang Tuan alami. Terus terombang ambing di dunia kosong ini, bahkan berkali-kali pula salah memasuki pintu. Jadi saran saya, Coba Tuan fokus pada satu dunia yang hendak Tuan tuju. Jangan mengingat-ingat dunia lain dulu. Setelahnya, Tuan akan mengetahui sendiri pintu mana yang harus Tuan masuki. Semoga saran saya dapat membantu Tuan."


Jordan menyimak kalimat Abida dengan serius. Setelah Abida selesai bicara, Jordan pun berterima kasih padanya. "Terima kasih Abida."


"Sama-sama Tuan. Kalau begitu, saya pamit terlebih dahulu. Semoga Tuan bisa kembali ke negri asal Tuan dan bertemu dengan istri Tuan lagi."


Dan Abida pun terlihat bergegas menuju salah satu pintu. Selama beberapa waktu Jordan masih bisa melihat sosok Abida yang terus menjauh. Sampai akhirnya sosoknya menghilang ke dalam salah satu pintu.


Mengingat saran Abida, Jordan pun memfokuskan pikirannya pada Nevarest. Ia mencoba untuk melupakan sejenak tentang putrinya yang ia tinggalkan di negri bumi, Anna.


Jordan memfokuskan pikirannya pada negeri hijau Nevarest. Pada wajah istrinya, Ratu Elvara, serta pada wajah kedua putrinya, Tasya dan Zizi.


Mengingat Tasya adalah hal yang mudah bagi Jordan. Oleh sebab wajahnya identik sama dengan Anna.


Mereka memang terlahir kembar. Tapi ketika Jordan berusaha mengingat putrinya yang lain, Zizi, Jordan merasa kesulitan. Karena saat Elva membawa pergi kedua anaknya itu, Zizi baru berumur 3 bulan.


Akhirnya Jordan mengalihkan pikirannya untuk fokus mengingat wajah istrinya, Ratu Elvara. Betapa ia merindukan sosok wanita terkuat yang pernah dikenal sepanjang hidupnya itu.


Betapa pemberaninya sang ratu dalam menyampaikan pemikiran-pemikirannya di setiap acara pertemuan kerajaan. Walau ia terlahir sebagai wanita, tapi ia tak seperti wanita lain yang selalu tunduk pada suaminya.


Adakalanya Jordan melakukan kesalahan, dan Elva tak segan-segan selalu mengingatkannya. Adakalanya Jordan merasa payah di awal ia menjabat sebagai raja, tapi Elva selalu menyokongnya dan menyemangatinya.


Wanita itu juga adalah wanita tercerdas dengan semua ide-idenya terkait kemajuan negri. Jordan amat merindukan sosok Elva.


Tak lama, mata Jordan tertarik pada salah satu pintu di dunia itu. Di matanya seolah pintu itu terlihat lebih bersinar dibanding pintu yang lain.


"Apa pintu ini yang akan mengantarkanku kembali ke Elva? Kembali ke Nevarest?" Gumam Jordan.


Dengan kekuatan yang entah datang darimana, Jordan pun kembali bangkit. Dengan tergesa ia melangkahkan kakinya menuju salah satu pintu itu.


Butuh waktu cukup lama bagi Jordan untuk bisa tiba di hadapan pintu itu. Tapi pada akhirnya, ia sampai juga di sana. Jordan pun langsung membuka pintu itu dan memasuki dunia di balik sana.

__ADS_1


***


__ADS_2