Cinta Sang Maharani

Cinta Sang Maharani
Side Story 1 (Dodi bag. 1)


__ADS_3

(Dear Readers.. Author sedang galau antara mau buat scene malam pertamanya Anna dan Daffa atau gak. Menurut kalian gimana ya? tulis enggak? Silahkan tulis di komen yap.🙏


Nah.. selagi menunggu jawaban readers, author mau melipir bentar ya. Kita tengok dikit kisah hidup salah satu tokoh di novel Cinta Sang Maharani ini. Kali ini Thor mau ngintip kisahnya Dodi, adik tiri Anna.


Kisah Dodi ini gak termasuk lanjutan dr Cinta Sang Maharani ya, dear. Tapi kamu mungkin bisa menemukan beberapa spoiler penting terkait keberlangsungan kisahnya Anna dan Daffa. So, mind not to skip this, guys.. (jangan melewatkannya, guys!😁).


Let's enjoy the story, everybody.. big hug from afar, from Thor Meli..😘)


***


Namaku Dodi. Panggilan singkat dari asal nama Dodi Windraguna. Aku seorang bookaholic. Itu istilah yang ku buat sendiri, karena aku adalah pecinta buku.


Aku senang membaca. Membaca membuatku jadi lebih tahu. Membaca membuatku jadi lebih berilmu. Semua genre bacaan sudah pernah jadi santapan bacaan ku. Membaca pula yang membantuku meraih peringkat tertinggi di kelas sedari aku masih duduk di bangku SD hingga SMA sekarang ini.


Dan mungkin oleh sebab sifat bookaholic itu pula aku melewatkan banyak kesempatan untuk menjalin hubungan dengan orang di sekitarku. Hingga akhirnya aku jadi seorang introvert.


Aku lebih senang membaca di kamarku, daripada bermain bola dengan kawan sebaya.


Aku lebih senang membaca di perpustakaan, dibanding bersenda gurau dengan kawan di pinggir lapangan.


Aku lebih senang membaca di tempat hening, hingga akhirnya aku sering merasa terasing di keramaian. Itu karena aku tak memiliki satupun teman.


Umurku sudah menginjak 17 tahun. Dan aku tak pernah berpacaran. Jangankan pacar, teman untuk main game saja aku tak punya.


Tunggu dulu. Kurasa aku baru ingat sesuatu. Dulu sekali, pernah ada seorang gadis yang menyukaiku. Dia selalu memberikan makanan dan minuman kecil kepadaku. Aku menerima setiap pemberiannya, karena aku tak memiliki alasan untuk menolaknya.


Dia teman beda kelas tapi masih satu sekolah denganku. Namanya? Hmm.. aku lupa.


Kupikir gadis itu benar-benar menyukaiku. Selama sebulan ia terus memberikanku cemilan. Aku hampir-hampir saja mulai menyukai gadis itu. Tapi syukurlah. Tuhan menyayangiku dengan menunjukkan kepadaku sesuatu tentang gadis itu.


Jadi, aku tak sengaja mendengar percakapan gadis itu dengan temannya. Dari percakapan itu akhirnya kuketahui kalau aku dijadikan bahan taruhan oleh gadis itu dengan teman-temannya.


Jika selama satu bulan ia bisa menjadi pacarku, maka ia akan menang.


...


...


Trak.


Aku merasa ada sesuatu yang mencubit hatiku saat mendengar percakapan itu. Rasanya memang tak terlalu sakit, tapi cukup tak mengenakkan bila mengingatnya kembali.


Saat itu juga, aku segera berbalik pergi. Dan saat gadis itu menemuiku kembali dengan cemilan dan senyuman manisnya, dengan tegas aku menolaknya. Aku bahkan langsung meninggalkan sosoknya di pinggir lapangan. Tak kupedulikan panggilan-panggilannya lagi. Dan ia pun tak pernah datang menemuiku lagi.

__ADS_1


Sejak itu, aku berpikir kalau menjalin hubungan itu hal yang merepotkan. Lebih sering malah bisa menyakitkan.


Contoh saja orangtuaku. Mereka padahal saling menyukai pada awalnya. Tapi ketika aku kelas satu SMP, mereka malah bercerai. Perceraian mereka membuatku harus memilih, antara tinggal dengan Papa atau Mama.


Dan aku memilih Mama. Bukan karena aku lebih menyayangi Mama. Tapi karena kupikir Mama lebih membutuhkanku saat itu.


Papa kesal padaku karena tak memilihnya. Dan ia memberiku kalimat terakhirnya, sebelum ia pergi entah kemana. Seperti ini ucapannya saat itu, "Kamu memilih dia (Mama). Kalau begitu, nanti jangan panggil Papa lagi. Papa akan menganggap kamu dan dia (Mama) tak ada."


...


...


Trak. Hatiku mengalami retaknya yang kedua. Tapi retak kali ini rasanya lebih menyakitkan dibanding retak karena dijadikan bahan taruhan oleh teman sekolahku dulu. Aku bingung.


Aku menyayangi kedua orang tuaku. Kenapa aku harus memilih salah satu di antara mereka? Kenapa orang dewasa tak bisa mengerti perasaan anak mereka?


Aku pernah mendengar dari guru agama, kalau perceraian itu hal yang diperbolehkan sekaligus juga dibenci oleh Tuhan. Jika benar begitu, kenapa orang tuaku ingin bercerai, walau itu dibenci Tuhan? Tidakkah mereka mengetahuinya?


Mama dan aku akhirnya tinggal berdua di rumah kami yang lama selama beberapa bulan. Mama lalu bekerja di sebuah agensi artis. Kata Mama, itu pekerjaannya dulu sebelum aku lahir. Mama mulanya bekerja sebagai asisten. Lalu suatu hari Mama menjadi manajer seorang lelaki yang sangat tampan.


Aku pernah menjumpai lelaki itu. Dia orang yang aneh, menurutku. Namanya Om Jordan. Sejak Mama menjadi manajer Om Jordan, Mama jadi sangat sibuk. Aku hampir selalu makan seorang diri di rumah. Hanya setiap hari minggu saja aku bisa sarapan pagi dengan Mama. Sisa harinya, aku hanya bertemankan buku-buku saja.


Kemudian, ketika aku kelas 2 SMP, tiba-tiba saja Mama mengatakan padaku kalau ia dan Om Jordan akan menikah. Bagaimana perasaanku saat itu? Entahlah. Aku tak mengenal Om Jordan. Tapi melihat Mama tampak senang, aku mencoba untuk menerima kehadiran Om Jordan dalam kehidupan kami. Sekaligus juga Kak Anna, anak perempuan Om Jordan yang sudah berumur 15 tahun.


Tentang Kakak tiriku itu, aku sering merasa malu setiap kali ia mengajakku bicara. Kak Anna adalah perempuan paling cantik yang pernah kutemui dalam hidupku. Rambutnya hitam panjang, mata besar seperti buah badam. Hidung bangir yang membuatku tak percaya diri dengan hidung sekedarnya milikku. Alis tebal yang hampir saling bertaut. Bibir tipis berwarna pink yang aku yakin bukan karena warna lipstik. Kak Anna benar-benar cantik.


Dan kunilai, Kak Anna juga seorang introvert sepertiku. Di setiap kebersamaan kami kala makan malam, kami tak banyak berbincang. Lebih sering waktu makan kami lewati dalam hening dan iringan denting suara sendok dan piring yang beradu. Walau begitu, aku cukup mengetahui beberaps kebiasaan Kak Anna sehari-harinya.


Misalkan, Kak Anna adalah seorang kidal. Ia lebih sering beraktivitas menggunakan tangan kirinya. Ia juga pandai bermain piano. Beberapa kali aku mendengar denting lagu yang terdengar indah dan rumit dari ruang keluarga. Dan ketika kutengok, Kak Anna sedang serius memainkan tuts tuts piano di hadapannya dengan terampil.


Kagum. Itulah perasaan yang kurasakan terhadap Kakak tiriku itu. Walau aku juga merasa kerepotan karena harus menjadi kurir pengantar surat yang dititipkan oleh beberapa pemuda kompleks tempat kami tinggal. Yang mana surat itu harus kuantarkan pada Kak Anna.


Hebatnya, Kak Anna tak banyak berkomentar juga tak bersikap sombong merasa dirinya cantik seperti kebanyakan wanita lainnya bila menerima perhatian. Kak Anna tetap tampil elegan, ramah, tapi menjaga jarak. Dia benar-benar membuatku kagum.


Sampai akhirnya tiba hari ketika Om Jordan menghilang. Aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Yang kutahu adalah, ketika aku bangun di pagi hari, Mama terlihat panik dan menelpon beberapa kawannya. Yang kudengar, Mama sedang mencari Om Jordan.


Om Jordan menghilang begitu saja. Kepergiannya yang tiba-tiba membuat suasana di rumah jadi tak tenang. Anehnya, aku mendapati Kak Anna tak terlihat khawatir dengan khilangnya Om Jordan. Ia tetap pergi ke sekolah dan tak mengeluh juga tak menangis.


Tapi mungkin aku yang tak peka. Aku tak tahu bagaimana perasaan Kak Anna yang sebenarnya, menghadapi hilangnya Om Jordan, ayah kandungnya. Kupikir Kak Anna baik-baik saja. Kupikir ia adalah perempuan tangguh yang tak mudah terluka oleh sebab apapun jua.


Tapi pemikiranku itu terbukti meleset, ketika hampir setahun berikutnya, Kak Anna pun menghilang. Kepergiannya pun sama tiba-tibanya seperti Om Jordan. Tapi kulihat Mama tak terlalu tergoncang dengan kepergian Kak Anna. Mungkin karena saat itu Mama sedang sibuk menatar artis baru, juga mengurus adik bayiku, Tedi. Jadi kepergian Kak Anna dipikirnya adalah bentuk kenakalan remaja pada umumnya. Mama berpikir Kak Anna akan pulang, jika ia sudah lelah bermain di luar. Begitu kata Mama kepadaku selalu.


Aku mempercayai ucapan Mama. Dan benar saja. Kak Anna memang kembali pulang ke rumah. Walau.. ada sesuatu yang salah dengan ingatannya. Dan ia juga pulang mengajak serta gadis bisu bernama Zizi. Gadis itu memiliki kemiripan yang amat nyata dengan Kak Anna.

__ADS_1


Menurut Mama, Kak Anna hilang ingatan, dan mengaku dirinya sebagai Tasya. Aku yang mulai mengikuti ekskul fotografi saat itu sedang sibuk-sibuknya sehingga kian jarang bertemu dengan Kak Anna. Kegiatan ekskul ku membuatku pulang hampir lewat magrib. Karena aku sering berburu spot foto yang bagus ke berbagai tempat. Apalagi Mama mengunci Kak Anna di dalam kamar bersama Zizi sejak kepulangannya ke rumah kembali. Jadi aku tak pernah bertemu dengan Kak Anna untuk waktu yang lama.


Hanya sekali saja aku bertemu dengan Kak Anna. Dan itu adalah hari ketika terjadinya kecelakaan yang membuatnya terluka parah di bagian kepala. Karena luka itu juga dokter mendiagnosisnya hilang ingatan (kembali).


Jadi, saat itu aku baru saja memasuki gerbang komplek Anggrek Ayu, tempat tinggalku. Saat berjalan, aku memang sambil melihat beberapa foto hasil tangkapanku di hari itu dan tak memperhatikan jalan.


Sampai kemudian aku menabrak seseorang hingga orang itu terjatuh. Begitu kulihat wajah sosok yang kutabrak, aku sangat terkejut. Karena ternyata dia adalah Kak Anna.


"Kak Anna?" Sapaku padanya seraya menolongnya berdiri.


Lalu Kak Anna (Tsy) memegang tanganku erat-erat dan mendekatkan wajahnya ke wajahku.


Aku yang tak pernah berdekatan dengan wajah wanita manapun langsung terpaku dengan aksi Kak Anna (Tsy) saat itu. Tapi kemudian apa yang diucapkannya membuatku kebingungan.


"Namaku Tasya! Aku saudaranya Anna. Tolong aku! Adikku ditangkap oleh mereka. Aku harus menolongnya lagi. Apa kau bisa menolongku? Kumohon!?"


Aku mengerjapkan mata kebingungan.


Kuperhatikan lebih seksama lagi, benar dia memiliki wajah seperti Kak Anna. Jadi apa benar kata Mama, kalau Kak Anna mengalami gangguan ingatan dan mengira dirinya adalah orang lain? Tasya? Saudara? Aku tak pernah mengetahui kalau Kak Anna memiliki saudara yang teramat mirip dengannya. Tapi...


Kuamati lebih lekat wanita yang memegangku cukup erat saat itu. Dan aku menangkap beberapa hal yang membuatku ragu pada ucapan Mama.


Wanita yang mengaku dirinya adalah Tasya itu memiliki rambut hitam yang bergelombang. Tidak benar-benar lurus seperti Kak Anna. Panjangnya pun hingga sepinggang. Seingatku, terakhir kali sebelum menghilang, rambut Kak Anna baru dipangkas jadi sebahu. Apakah selama tiga bulan ia hilang, bisa membuat rambutnya jadi sepanjang pinggang? Aku ragu akan hal itu.


Lalu, kudapati ada sebuah tahi lalat kecil di belakang daun telinga sebelah kanan gadis itu, saat ia berkaki-kali menengokkan kepalanya ke belakang. Seperti sedang mengawasi sesuatu yang bisa sewaktu-waktu datang.


Seingatku, Kak Anna yang dulu tak memiliki tahi lalat di belakang telinganya. Karena aku pernah tak sengaja melihatnya latihan balet dengan menyanggul rambutnya tinggi, jadi bisa kupastikan ia tak memiliki tahi lalat itu.


Jadi, benarkah gadis di hadapanku ini adalah Kak Anna? Atau benarkah dia Tasya, seseorang yang mengaku sebagai saudari Kak Anna? Dan dengan kemiripan wajah yang hampir menyerupai, berarti dia adalah saudari kembar Kak Anna?


Duniaku serasa goyah. Keyakinanku pada Mama akhirnya meluntur. Mengapa Mama membohongiku? Apa yang sebenarnya sedang ia tutupi?


Mendapati aku yang terdiam dan tak menjawab permintaannya, Anna atau Tasya tiba-tiba saja pergi lari meninggalkanku. Aku tak sempat mengejarnya karena kemudian hp di kantongku berdering. Itu adalah panggilan dari Mama. Ia mengabariku tentang 'Kak Anna' yang kembali kabur. Ia bertanya-tanya jika mungkin aku sempat bertemu dengan Kak Anna.


Saat itu aku terdiam selama beberapa waktu. Aku tak tahu harus menjawab apa. Aku takut jika ucapan gadis tadi benar, maka itu berarti Mama telah mengurung orang yang salah. Mama memaksa gadis itu menjadi Kak Anna. Tapi, untuk apa?


Tak lama, aku melihat Kak Frans melewatiku dengan mobil lama Papa Jordan. Ia mengendarai mobil itu dengan sangat kencang. Aku bahkan hampir tertabrak jika saja aku tak sigap melompat ke samping.


Begitu Kak Frans berlalu, kudekatkan kembali hpku ke telinga. Tapi ternyata panggilannya sudah diputus oleh Mama.


Setelah gamang beberapa saat, akhirnya aku berbalik arah dan memutuskan untuk mengejar gadis yang mengaku bernama Tasya tadi.


Aku berlari secepat yang ku bisa. Tapi lalu pemandangan di jalan raya depan kompleks malam itu membuatku kembali terguncang.

__ADS_1


Kudapati tubuh gadis yang mirip dengan Kak Anna itu tergeletak di pinggir jalan. Genangan darah tampak ada banyak di sekitar kepala gadis itu. Merasa gugup sekaligus takut, aku segera mendekati tubuhnya. Benar, itu adalah dia (Anna/Tasya).


***


__ADS_2