
Dari pelabuhan, Tasya dan lelaki sangar yang memandu nya, Bob, menaiki sebuah kapal boat. Hingga keduanya pun tiba di sebuah pulau sepi yang tampak seperti tak berpenghuni.
Meski begitu, Tasya mendapati sebuah bangunan putih berlantai dua yang ada di dekat pantai. Bob lalu mengajak Tasya mendekati rumah itu. Begitu sampai di depan teras rumah, Bob mempersilahkan Tasya untuk masuk ke dalam nya.
"Apa kalian mengurung Karina di tempat ini?" Tasya bertanya kepada Bob.
Bob tak menggubris pertanyaan Tasya dan menyuruhnya untuk masuk.
Dengan degup jantung yang dibanjiri oleh rasa gugup, Tasya pun akhirnya mengambil langkah pertamanya memasuki 'kandang singa' milik musuh nya yang masih ada di balik tabir.
Dan, begitu Tasya masuk, suara pintu yang terkunci di belakang nya pun seketika membuat Tasya merasa was was.
Dilihatnya Bob tak mengikuti langkahnya masuk ke dalam rumah. Melalui lubang kotak kecil di pintu, Tasya melihat saat Bob malah duduk bersandar ke batang pohon nyiur di sisi lain pulau.
"Hey! Buka pintunya! Buka! Di mana Karina?! Kamu bilang mau mengantarkan ku ke Karina?!" Tasya menggedor gedor pintu yang bercat putih itu.
"Selamat datang, Cantik! Bagaimana menurutmu rumah ku ini? Cukup cantik sepertimu bukan?"
Seketika itu juga Tasya membalikkan badan. Dan semua bulu kuduknya meremang berdiri tanpa dipinta.
"Frans?! Jadi kamu!" Tasya melayangkan pandangan tajam tepat ke mata Frans.
Kedua tangan Tasya mengepal di samping tubuhnya. Merasa marah sekaligus juga gugup dan takut pada lelaki yang telah sering menghadiahinya teror dan rasa takut.
Frans yang baru menuruni tangga dari lantai atas, berjalan perlahan menuju Tasya. Langkahnya tampak pongah didukung oleh seringaian lebar yang terlihat mengerikan di mata Tasya.
Ba-dump.
Ba-dump.
Jantung Tasya berdentum-dentum.
Tasya masih bisa mengingat jelas saat penculikannya di hari pernikahannya dulu. Bagaimana Frans meninggalkan rasa teror yang mengerikan dalam benaknya. Sehingga membuatnya merasa ketakutan, bahkan hanya untuk menyebut atau bertemu dengan pemuda itu lagi.
Tapi perlahan, Tasya berhasil melawan rasa takutnya itu. Ia menolak kalah dari rasa takutnya akan Frans. Lagipula pikir Tasya, 'bukan aku yang salah! Tapi Frans yang berbuat jahat! Jadi kenapa aku membiarkan rasa takut menguasai ku, sementara Frans terbebas untuk tertawa di luar sana? Akan ku pastikan Frans menerima ganjarannya!'
"Di mana Karina? Kau tak menyakitinya, kan?! Dan, di mana juga kita saat ini?!" Cecar Tasya bertubi-tubi.
__ADS_1
Frans lalu duduk pada salah satu sofa yang juga berwarna putih.
Tasya mengedarkan pandangannya ke segala arah. Dan ia menyadari sesuatu yang aneh pada rumah ini.
Semua barang-barang, berikut juga dinding dan furniture yang ada di rumah ini berwarna putih. Tasya memandang jeli hingga ke setiap sudut dan tak menemukan benda apapun yang memiliki warna selain putih di ruangan ini.
Sofa, meja, dinding, atap, bahkan lukisan pun semuanya juga berwarna putih! Pun jua dengan teralis yang terpasang di setiap jendela kaca di rumah ini juga semuanya berwarna putih.
Entah kenapa, berdiri di tengah ruangan yang serba putih ini membuatnya merasa sangat tak nyaman. Ada sesuatu yang membuat Tasya ingin segera hengkang dari rumah itu.
"Tenang lah, Cantik! Sahabatmu itu ada di dekat-dekat sini.. Dia masih dalam kondisi baik-baik saja.." ucap Frans yang terlihat duduk santai pada salah satu sofa putih di tengah ruangan.
"Duduklah di sampingku ini, Cantik!" Kau tak tahu betapa aku sangat menantikan hari ini!" Ucap Frans kembali.
Tasya tak mengikuti pintaan Frans dan lebih memilih untuk menjaga jarak sejauh mungkin dari pemuda itu.
"Apa yang sebenarnya kamu inginkan, Frans?!" Tasya bertanya dengan nada marah.
"Ahh.. aku selalu senang setiap kali namaku selalu keluar dari mulut seksi mu itu, Cantik! Begitu merdu.. begitu mesra kau memanggilku.." ucap Frans sambil menatap lapar pada Tasya.
Ba-dump!
"Sungguh? Tapi kenapa jantungku selalu berdentum-dentum tiap kali kau memanggilku mesra ya, Cantik? Jangan berdusta! Aku tahu kalau kau juga menyukaiku.." ucap Frans sambil menyeringai lebar.
Tasya bergidik ngeri.
"Aku sudah bersuami. Apa kau lupa itu, hah?!" Tasya berusaha untuk tak menyebut nama Frans lagi. Ia tak ingin memberikan kesenangan pada pemuda itu, walau sebentuk kecil apapun.
Seketika mata Frans memicing tajam. Ia lalu bangkit berdiri dan melangkah cepat mendekati Tasya.
Jarak awal keduanya memang tak terlalu jauh. Jadi ketika Tasya baru berbalik untuk berusaha lari dan membuka pintu, tahu-tahu Frans telah berada persis di belakangnya.
Frans menempelkan tubuhnya pada tubuh Tasya hingga Tasya tak lagi bisa berbalik atau pun bergerak bebas. Lelaki itu juga melepas paksa kerudung praktis yang dikenakan oleh Tasya, hingga rambut hitamnya pun tergerai begitu saja.
Frans lalu sedikit menyisiri rambut Tasya dengan gerakan lembut. Membuat Tasya kembali bergidik. Kemudian, pemuda itu berbisik ke telinga nya..
"Ya! Aku mengingatnya dengan sangat jelas, Anna! Dan sangat tak menyukai fakta itu!"
__ADS_1
Tasya lalu merasakan tangan Frans membuat garis menurun dari atas pundak kanannya sehingga menurun ke pinggang nya. Meninggalkan jejak-jejak kengerian di seluruh pikiran dan benak Tasya.
"Fakta bahwa kau sudah menyerahkan tubuhmu pada lelaki lain.. aku benar-benar tak menyukainya, Anna! Ingin rasanya aku menguliti seluruh bagian tubuh mu yang sudah disentuh oleh Eagle brengsek itu! Berani benar dia merebut mu dari ku! Berani benar dia mengambil mahkotamu yang berharga yang seharusnya aku lah yang memilikinya.. dan mencicipinya.."
Frans menjilati belakang telinga Tasya. Membuat Tasya seketika meradang sekaligus juga takut. Ia berusaha berontak dan melepaskan diri. Namun kurungan dari tubuh Frans yang menghimpitnya ke pintu, membuatnya tak bisa berkutik.
Apalagi kedua tangannya entah sejak kapan kini berada dalam kurungan tangan Frans juga di belakang punggungnya.
"Lepas! Jangan macam-macam, Frans! Daffa akan datang menyelamatkanku!" Ancam Tasya.
"Tidak lagi! Cukup satu kali itu dia berhasil membawamu lari! Dan aku tak akan membiarkannya lagi!"
"Maksudmu, saat kau menculik ku dulu di hari pernikahan ku dengan Daff?!" Tanya Tasya memastikan.
"Oo.. kau ternyata mengenaliku!" Frans berseru.
"Tapi kenapa kau tak melaporkanku, Cantik?" Tanya Frans sambil menyesap aroma tubuh Tasya pada pundak nya.
Tasya kembali bergidik.."Le..lepaskan aku!" Tasya kembali mencecar Frans. Napasnya kian cepat, jantungnya kian bertalu-talu. Ketakutan itu kembali ingin muncul ke permukaan. Namun Tasya berusaha menepisnya jauh.
Setelah beberapa kali lagi menciumi leher dan pundak Tasya, Frans pun tiba-tiba saja menggigit pundak Tasya dengan cukup kencang.
"Aww! Apa yang kau lakukan?!" Tasya mengaduh.
Kemudian, Frans pun tiba-tiba saja sudah melepaskan Tasya dari kurungan tangannya.
"Baiklah! Sepertinya kita harus mengobrol banyak ya, Cantik! Mari kita duduk di sofa dulu! Tentunya ada banyak yang ingin kau sampaikan kepadaku!"
Frans kembali duduk di sofa putih yang didudukinya tadi. Ia lalu menepuk pelan sofa di sampingnya. Mengajak Tasya untuk duduk juga.
Tasya memegang bagian pundaknya yang tadi digigit oleh Frans. Sudah dua kali ia digigit oleh pemuda itu di tempat yang sama. Tasya merasa geram.
Dengan marah, Tasya pun menuding kan telunjuk nya ke arah Frans.
"Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku, Frans?!"
"Semuanya.. tubuhmu, jiwamu, bahkan juga identitas lama mu sebagai Tasya, Cantik. Aku menginginkan semuanya!" Jawab Frans dengan seringaian lebar.
__ADS_1
***