
"Jadi, sekarang saya punya gelar 'hewan buas' ya?" Suara Daffa tiba-tiba terdengar dan mengagetkan Anna.
Anna mengangkat kepalanya dan mendapati sosok suaminya itu di depan pintu.
"Daff! Kamu..!?" Anna merasa malu sekaligus ragu untuk menanyakan pada Daffa sejak kapan ia ada di depan pintu. Atau lebih tepatnya lagi adalah, 'Sejak kapan dia nguping pembicaraan teleponku dan Karina?' begitu bisik batin Anna.
Melihat ekspresi Anna, Daffa seperti bisa membaca apa yang ada dalam benak istrinya itu. Akhirnya ia pun menjelaskan.
"Dompet saya ketinggalan," ucap Daffa. Seraya mengambil dompetnya yang ada di atas nakas samping tempat tidur.
"Jadi saya balik lagi dan...," Daffa menggantung ucapannya lalu mendekati Anna yang masih duduk di atas kasur.
Daffa lalu menunduk dan mengurung Anna di antara kedua tangannya. Wajah tampan Daffa yang dihiasi senyuman memikat, tampak menggoda wajah Anna yang kelihatan was-was.
'Mau apa lagi dia?! Ini masih siang! Eh, sore! Dia gak mungkin kan minta.. itu..' pikiran Anna melantur ke momen romantis mereka kemarin.
"Saya akhirnya tahu kalau saya punya julukan lain, ternyata. 'hewan buas'?" Goda Daffa seraya menempelkan wajahnya tepat di depan wajah Anna. Bahkan membuat gadis itu memundurkan kepalanya ke belakang hingga menyentuh sandaran kepala springbed.
"I..itu..! Bukan aku yang ngasih nama itu! Teman kampusku, Karina yang ngasih julukan itu!" Sergah Anna. Dalam hatinya Anna meminta maaf pada Karina.
'Maaf ya, Rin. Aku jual nama kamu ke Daffa. Lagian, ini salah kamu juga sih! Coba lihat situasiku sekarang ini!' suara batin Anna.
Daffa tersenyum melihat tingkah gelagapan nya Anna. Ia lalu semakin mendekatkan wajahnya lagi hingga hidungnya menyentuh ujung hidung Anna.
"Kamu..." Ucap Daffa menggantung.
Ba-dump. Ba-dump.
Jantung Anna berdentum-dentum.
Ba-dump. Ba-dump.
Telinga Anna mendengar suara dengung.
Anna tak lagi bisa menangkap apa yang diucap Daffa. Karena pandangan dan pikirannya hanya terfokus pada bibir Daffa yang berwarna pink alami.
"Sepertinya kamu perlu mandi. Mandi lah!" Ucap Daffa. Dan tiba-tiba, pemuda itu langsung berdiri tegap. Sebuah senyuman jahil terpasang di wajahnya. "Saya pergi dulu. Jangan ke mana-mana ya, Anna. Atau saya bisa berubah jadi 'lebih buas' malam nanti!" ancam Daffa sebelum akhirnya ia berbalik dan berlalu pergi.
Seperginya Daffa, Anna masih dalam posisi sama seperti ketika Daffa mendekatkan wajah tampannya ke wajahnya. Anna seolah menjadi kaku layaknya patung yang telah lupa caranya bergerak. Ia bahkan menahan napasnya entah sejak kapan.
Sekitar lima detik setelah sosok Daffa menghilang di balik pintu, barulah Anna tersadar dengan keadaannya. Kalimat terakhir Daffa sebelum ia pergi pun perlahan bisa dipahami maksudnya oleh Anna.
Pemuda itu telah menggodanya.
"Sial! Aku pikir tadi itu dia mau...," Gumaman Anna terhenti. Wajahnya kembali merah oleh sebab hadirnya prasangka liar terhadap sikap Daffa tadi.
Anna pun merebahkan kepalanya ke bantal lalu berguling hingga tengkurap. Tangan dan kakinya kemudian memukul kasur springbed berkali-kali. Sebagai bentuk kekesalannya pada suami jahilnya itu.
"Bodoh! Bodoh! Bodoh!" Gerutu Anna pada bantal yang menutupi wajahnya.
***
Selesai merapihkan barang-barangnya yang tak seberapa, Anna pun (akhirnya) mandi. Selesai mandi, Anna menelepon Dodi, adik tirinya. Ia ingin tahu kabar Zizi.
"Assalamu'alaikum, Kak!" Sapa Dodi di sambungan telepon.
"Wa'alaikum salam warohmatullah.. Dod, alhamdulillah Kakak udah sampe Lombok," ucap Anna mengawali.
"O. Syukurlah, Kak!" Jawab Dodi.
"..."
"..."
Selama beberapa waktu, sambungan telepon antara keduanya diisi oleh keheningan.
Anna selalu saja merasa canggung setiap kali ia bicara dengan Dodi. Entah karena mereka yang tak memiliki hubungan darah, atau memang karena kepribadian Dodi yang pendiam, sehingga membuat Anna selalu bingung mencari topik pembicaraan. Lebih sering Anna hanya menanyakan hal-hal biasa saja, seperti tanya kabar sekolah atau sejenisnya.
Kali ini pun pada akhirnya Anna kembali menjadikan topik kabar sebagai perbincangan mereka.
"Gimana kabar semuanya, Dod? Zizi, Tedi, Mama, Kamu sehat?" Tanya Anna dengan nada yang berusaha diceriakan.
__ADS_1
"Semua sehat, Kak," jawab Dodi singkat.
Merasa tak akan mendapatkan jawaban panjang jika ia bertanya lagi, akhirnya Anna pun kembali bertanya. Kali ini lebih spesifik ke hal yang sebenarnya ingin ia tanyakan.
"Zizi baik, kan, Dod? Maksud Kakak, dia gak nyariin Kakak, gitu..,"
"... Dodi belum lihat sih, Kak. Tapi kata Bi Inem, Zizi baik seperti biasanya," tutur Dodi.
"Oo.." Anna mendesah lega. Sejak berpamitan dengan Zizi kemarin sore, Anna merasa was was jika kepergiannya akan membuat Zizi kembali tantrum.
'Syukurlah jika Zizi seperti biasanya ia,' Anna membatin.
Lama hening, suara Dodi kembali terdengar dari lubang speaker handphone Anna.
"Nanti Dodi tengok Zizi, Kak. Kakak...," Ucap Dodi menggantung. "Have fun ya!" Lanjut Dodi mengakhiri ucapannya.
Walau Anna merasa ada yang janggal dengan nada bicara Dodi, tapi ia tak menghiraukannya. Pikir Anna, 'mungkin dia masih lelah setelah acara kemarin.'
"Oke. Tolong ya, Dod. Makasih. Yaudah. Salam buat semuanya. Assalamu'alaikum!" Ucap Anna berpamitan.
"Wa'alaikumussalam." Klik.
Sambungan telepon pun berakhir.
Anna kemudian meletakkan smartphonenya kembali di atas nakas. Merasa sedikit haus, ia lalu membuka kulkas kecil yang ada di pantry dan mengambil botol mineral. Usai menenggak seperempat isi botol ukuran tanggung itu, Anna menaruh botol mineral kembali ke dalam kulkas dan menutup pintunya.
Dengan langkah yang masih tertatih, Anna kemudian duduk di kursi goyang yang ada di dekat jendela. Ia lalu menatap lalu lalang orang di tepian pantai.
Sore hari ini, jumlah wisatawan yang terlihat ada lebih banyak daripada saat siang hari. Mungkin mereka tergoda untuk menikmati angin pantai di kala sore sambil menunggu senja datang di penghujung hari.
Merasa sedikit bosan, Anna mulai mengayun-ayunkan kursi goyang yang ia duduki. Sambil berayun, sebuah senandung merdu keluar dari mulut Anna.
"Sejak pertama ku mengenal kamu,
Tak terasa hatiku pun terjatuh,
Saat melihat kebaikan yang kau miliki
...
Setahun sudah ku mengenal kamu,
Tapi sulit bagiku jumpai mu,
Karena hilangnya keberanian
Yang membuat ku menjadi malu...
Reff 1: Menatap matamu pun ku tak sanggup,
Apalagi berbicara di hadapan kamu,
Sungguh berat tuk ku ungkap perasaanku,
Yang selalu kupendam dalam hati..
...
durururu
...
Ku tahu ku tak pantas untuk kamu,
Ku tahu ku pun memang tak sempurna..
Karena ku hanya mempunyai sebuah cinta,
Yang tulus dari lubuk hatiku..
...
__ADS_1
back to reff 1:
Reff 2: Kuharap dirimu menerimaku,
Apa adanya dan tak harus karena terpaksa,
Yang kuharap kau menjadi cinta sejatiku,
Kan kujaga hingga ku mati..
Duru..rururu..rurururu..ruu..rururu..rurururu..
rururu..rurururu..ruu..rururu..ruru..
Na..nananaa..nananana..naa nanana
nananana..nanaa..nana..naaanaa..
Hmm..mmm.."
"Ehm..ehm!" suara Daffa tiba-tiba tertangkap oleh indera pendengaran Anna.
Seketika Anna menoleh, dan mendapati sosok Daffa yang sudah duduk bersandar ke kepala springbed. Ia terlihat santai.
Anna langsung menghentikan ayunan kursi goyang, dan duduk tegak. Rona merah (lagi-lagi) muncul menghiasi kedua pipinya. Merasa malu karena ketahuan bernyanyi.
"Kamu kapan pulang? Udah lama?" Tanya Anna mengalihkan rasa malunya.
Daffa tersenyum lembut dan ikut duduk tegak seperti Anna.
"Sejak lirik..Nanana.., mungkin?" Jawab Daffa ragu-ragu. Tapi Anna menangkap jenaka dalam dua bola mata suaminya itu.
"Kenapa gak ucap salam?!" Tanya Anna dengan nada sedikit kesal.. dan malu.
"Udah kok!" Daffa membela diri. Tapi kemudian ia melanjutkan ucapannya lagi.
"Tapi pelan-pelan banget. Soalnya pas saya mau masuk, saya tiba-tiba dengar suara merdu banget. Penasaran, saya tengok deh ke dalam sini. Dan ternyata, kamu lagi nyanyi. Really unexpectable! (Sangat tak terduga!)" Papar Daffa.
"What? Apa yang gak terduga?" Tanya Anna bingung.
"You are!" Jawab Daffa seraya memberikan Anna jari telunjuknya.
"I don't expect you could sing so.. melodious.. (saya tak menduga kalau kamu bisa menyanyi begitu.. merdu..) it's sweet to hear your voice, (sungguh menyenangkan untuk mendengar suaramu)" puji Daffa.
Seketika wajah Anna memerah layaknya tomat yang telah matang. Ia langsung menunduk dan menyahut pelan, "just so so (biasa aja)".
Anna kemudian berdiri tiba-tiba.
"Kamu mau kopi? Atau teh?" Anna menawarkan minuman kepada Daffa.
Daffa kembali tersenyum, menyadari usaha Anna mengalihkan topik.
"Saya rasa, kopi oke. Tanpa gula ya. Saya mau mandi dulu," ucap Daffa seraya bangkit dan menuju kamar mandi dalam ruangan.
Anna merasa lega karena Daffa tak lagi menggodanya. Ia merasa risih setiap kali mendapatkan pujian. Apalagi soal menyanyi. Anna teramat jarang menyanyi jika ada orang. Rasanya terlalu malu jika didengar orang lain.
Anna kemudian menuju pantry untuk membuat kopi tanpa gula yang diinginkan Daffa. Saat ia memikirkan kegiatan apa yang akan dilakukannya besok, terdengar dari dalam kamar mandi suara Daffa menyanyikan lagu yang tadi Anna nyanyikan.
"Sungguh berat tuk kuungkap perasaanku.. Yang selalu kupendam dalam hatii..."
Dan.. blush.
Wajah Anna kembali memerah.
'Dia mengingat lagunya! Dia bahkan mengingat nada dan liriknya dengan sangat tepat! Pasti dia sudah mendengarku bernyanyi cukup lama! Uugh..!" gerutu Anna bercampur rasa malu.
***
[psst.. psst.. Sini Thor bisikin. π»π»lagu yg dinyanyiin di atas itu lagu original ciptaan adik Thor. Jenisnya Pop band. judulnya "Sulit tuk Diungkapkan" by D'Revinzer.. boleh ditengok di Yutup.. kalo gak salah sih ada ya.. heeππ udah lama banget di uploadnya sih.. zaman adik Thor msh unyu2 di bangku putih abu2 dulu. duluuuu banget.π€£ hope you enjoy it, gals!π]
***
__ADS_1