
[Dear All readers.. Mel mohon maaf jika mel sering terlambat dalam mengupdate bab baru, serta terlambat memberikan respon untuk komentar semuanya.
Bahkan bisa jadi ada beberapa komentar yang gak sempat mel lihat dan balas..🙏🙏
Mel jg mohon maaf untuk segala kekhilafan sikap dan kata2 Mel. smg semuanya berkenan memberi maaf.. terima kasih.🙏😁🥰
Mel masih belajar menulis, jd jangan bosan yaa tuk memberikan kritik dan sarannya demi perbaikan dlm tulisan2 Mel..👍😁🙏
At last, but not the last,
"Happy holiday, All.. minal 'aidin wal faidzin.
Mohon maaf lahir dan bathin."
@spill dikit ahh.. kemungkinan hari raya ini mel bisa update beberapa bab.
Bisa jadi kita juga bakal belah duren bareng Anna dan Daffa di hari raya ini.
Kasihan Daffa yang udah nunggu kelamaan..
Kalian juga pada nungguin kaaannn?.. xixixi.😁😁🤭
Salam hangat,
from Thor Meli..😁🙏🥰]
***
Selesai makan siang bersama Daffa, Anna kembali ke kamar inap mereka untuk shalat dan dilanjut tidur siang. Sementara Daffa berpamitan kepadanya untuk pergi ke Pulau Gili Meno.
Sekitar jam tiga, Anna terbangun dari tidur siangnya. Ia kemudian menunggu waktu ashar tiba dengan kegiatan mandi dan mencuci underwear miliknya dan Daffa yang kotor.
Sebenarnya Daffa sudah mengatakan kepada Anna untuk menggunakan jasa pinatu di hotel saja. Anna pun sudah memegang nomor telepon jasa pinatu di hotel. Tapi Anna merasa tak nyaman jika underwear miliknya dicuci oleh orang lain.
Jadi Anna pun memutuskan untuk mencuci underwear miliknya sekaligus juga milik Daffa. Sementara untuk baju, celana dan outfit lainnya yang kotor akan Anna titipkan di jasa pinatu.
Selesai mencuci dan shalat, Anna kembali berjalan-jalan keluar hotel pada pukul empat sore.
Saat itu, ada cukup banyak wisatawan yang menikmati bermacam-macam kegiatan wisata di Gili Trawangan. Mulai dari Snorkeling, Diving, berfoto selfie, menikmati keindahan pesisir pantai dengan berjalan kaki, ataupun dengan menaiki Cidomo.
Banyaknya orang yang menikmati pantai di Gili Trawangan bisa jadi juga karena kualitas udara di Gili Trawangan yang terbilang sangat bagus. Ini disebabkan oleh minimnya jumlah kendaraan bermotor di sana.
__ADS_1
Adapula beberapa dari wisatawan yang mengelilingi pantai Gili Trawangan dengan menaiki Kuda. Panorama pasir putih serta sunset dan sunrise yang memikat mata pun menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan untuk mengadakan pesta di pinggir pantai.
Kebanyakan dari wisatawan itu berasal dari mancanegara. Meski tak sedikit juga wisatawan dari luar kota lain yang ada di Indonesia.
Anna memutuskan untuk berjalan-jalan dan mencari toko suvenir. Berbekal uang satu juta seratus yang didapatnya dari Daffa, Anna sibuk ber-hunting ria.
Mengikuti saran penjaga hotel, Anna pun menaiki Cidomo ke arah kanan resort tempatnya menginap selama kurang lebih lima belas menit.
Saat menaiki Cidomo, sensasinya seperti menaiki delman pada umumnya. Anna bisa menikmati pemandangan sepanjang pesisir pantai pulau Gili Trawangan beserta panorama eksotisnya yang menggugah hati.
Setelah berburu suvenir selama hampir dua jam lamanya, Anna pun kembali pulang ke hotel. Saat pulang, ia kembali menaiki cidomo.
Saat itu hanya ada dua penumpang cidomo saat ia pulang. Anna dan juga seorang lelaki muda berusia awal tiga puluhan.
Saat menaiki Cidomo, Anna merasa penumpang di depannya itu terus menerus menatapnya. Sikap lelaki itu jelas membuat Anna merasa tak nyaman.
Akhirnya begitu sampai tak jauh di depan hotel tempatnya menginap, Anna pun bergegas turun dan membayar ongkos. Setelah itu, Anna menggegas kan langkahnya menuju hotel.
Saat itu ia masih harus menempuh jarak sekitar lima puluh meter untuk sampai di lobi hotel. Sayangnya, belum sampai di lobi hotel, Anna mendengar sebuah suara yang memanggilnya dari belakang.
"Permisi, Kakak! Bisa minta waktunya sebentar?" Tanya sebuah suara ngebas.
Sedikit merasa was-was, Anna sudah mengambil ancang-ancang untuk melawan jika lelaki di hadapannya itu berbuat macam-macam.
'Tapi mungkin lelaki itu gak bakal berani berbuat jahat. Soalnya sekarang kan ada banyak wisatawan di pantai,' terka Anna seraya melihat ke sekelilingnya yang memang masih ramai oleh para pelancong.
"... Ya? Ada apa ya?" Jawab Anna dengan hati-hati.
Lelaki itu kemudian berlari kecil untuk menghampiri Anna. Dan begitu ia sudah berdiri di depan Anna, ia mengambil sesuatu dari saku kemejanya lalu menunjukkannya kepada Anna.
Anna mendapati sebuah kartu nama pada tangan yang disodorkan oleh lelaki di hadapannya itu.
"Saya Jimmi dari Tabloid AHA! Saya ingin mengobrol dengan Kakak sebentar saja. Gimana kalau kita cari tempat minum di dekat sini?" Saran lelaki berkumis tipis itu.
'Seorang reporter?' batin Anna menerka.
Anna merasa resah. Firasatnya mengatakan untuk menghindari orang di hadapannya itu.
"Maaf. Aku agak capek. Apalagi sebentar lagi mau maghrib. Aku permisi ya!"
Anna pun langsung berbalik dan menujukan langkahnya kembali ke hotel. Ia sudah ingin segera masuk ke kamar inapnya dan merebahkan diri.
__ADS_1
Tapi lelaki yang baru ditinggalkan oleh Anna itu masih saja mengejarnya.
"Sebentar doang kok, Kak! Lima belas menit aja!" Tawar Jimmi.
Anna menolehkan kepalanya sebentar, sambil tetap melanjutkan langkahnya.
" Maaf ya, Jim. Aku gak bisa. Kalau mau dialog tentang survei, kamu bisa cari wisatawan yang lain," Anna memberikan saran.
"Bukan survei, Kak! Saya mau ngobrol soal hal lain sama Kakak!" Pinta Jimmi kembali.
"Maaf ya, Jim. Aku gak bisa ngobrol lama. Ini udah mau maghrib," tegas Anna menolak Jimmi.
Jimmi kemudian menahan lengan kanan Anna dari berlalu. Sehingga langkah Anna pun tertahan.
Anna berusaha melepaskan diri. Tapi Jimmi kembalia menahan lengannya dengan ketat.
Beberapa orang wisatawan melihat ke arah Anna dan Jimmi.
Anna setengah berharap ada orang yang akan membantunya saat ini. Tapi harapan Anna seketika itu juga pupus saat disadarinya orang-orang di sekitarnya malah bersikap acuh dan mengabaikan kondisinya saat itu.
"Sebentar aja ya, Kak. Lima menit aja deh!" Pinta Jimmi dengan masih memaksa.
'Sebenarnya apa yang ingin diobrolkan oleh lelaki ini? Kenapa dia ngotot banget mau ngobrol denganku?' batin Anna bertanya-tanya.
Di saat Anna sudan hampir hilang kesabaran, sebuah tangan kekar tiba-tiba saja muncul dan melepaskan cengkeraman tangan Jimmi pada lengan kanan Anna.
Begitu mengangkat pandangannya ke wajah sang penolong, Anna langsung mendapati wajah tampan Andrew yang sedang menatap tajam kepada Jimmi.
"Look out! Save your hands up if you don't wanna go to police office with me!" Ancam Andrew kepada Jimmi.
Untuk sesaat, Anna menangkap keterkejutan di wajah Jimmi. Namun pada detik berikutnya ia mendapati ekspresi senang pada wajah reporter muda itu.
"Hay, Kak Andrew! Bisa minta waktunya sebentar? Sebenarnya, apa hubungan Kakak dengan wanita ini? Siapa dia sebenarnya? Apakah kalian sedang liburan bersama dan merayakan hubungan kalian berdua, diam-diam?" Cecar Jimmi kemudian.
Anna ternganga saat melihat tangan Jimmi yang tahu-tahu sudah mengeluarkan sebuah kamera dari dalam tas pinggangnya.
Tapi pandangan Anna kemudian terhalang oleh tubuh kekar Andrew yang berusaha menutupi dirinya dari lensa kamera Jimmi.
"Save your camera, Man! (Simpan kameramu, Bro) If you don't want yours to be broken! (Kalau kamu gak mau kamera mu rusak)" Ancam Andrew seraya menutupi pandangan Jimmi dari sosok Anna di belakangnya.
***
__ADS_1