Cinta Sang Maharani

Cinta Sang Maharani
Nice to Meet You, Sella!


__ADS_3

Selesai shalat, Daffa mengajak Anna untuk kembali turun ke ruang pesta. Tapi Anna sempat bingung, karena usai berwudhu tadi, make up yang dihias oleh Mbak Anggi nyatanya agak memudar.


Anna memang tak terbiasa berhias. Biasanya bila hendak pergi keluar rumah, Anna hanya melapisi wajahnya dengan suncream, dan bedak. Dengan sedikit polesan pelembab bibir berwarna natural.


Dalam tas tangan yang Anna bawa dari rumah pun, ia hanya membawa bedak tabur yang biasa ia pakai, serta lipgloss natural miliknya.


Anna menggigit ujung bibirnya sendiri. Sedikit menyesal karena tak bisa lebih terampil menghias diri. Saat itu juga ia bertekad untuk melihat tayangan tutorial merias wajah di yutup. Agar jika ia harus menemani Daffa ke acara resmi seperti sekarang ini, minimal ia tak membuat suaminya itu malu dikira telah mengajak babu.


"Kamu kenapa, Sayang?" Daffa menyadari Anna yang tampak bimbang memandangi isi dalam tas tangannya.


"Mm.. aku cuma bawa bedak sama lipgloss aja,Daff.. eh! Sayang.." Anna mencurahkan masalahnya kepada Daffa.


"Iya.. Terus?" Daffa memberi Anna tatapan bingung.


"Ya itu dia masalahnya. Make up hasil riasan Mbak Anggi sore tadi sekarang udah luntur. Aku gak bisa touch up maksimal kan jadinya!" Anna sedikit mengeluh.


"Kamu tetap cantik, kok, Sayang.." Daffa membesarkan hati Anna.


Membuat istrinya itu jadi kembali merona malu dibuatnya.


"Jangan ngegombal deh, Daff!" Anna menghindari mata Daffa saat berbicara.


"Ehh? Saya gak ngegombal, Asli, Sayang.. Kamu tuh memang tetap cantik kok. Masa kamu gak bisa lihat sendiri sih di cermin? Mata kamu memangnya minus parah ya?" Daffa menggoda Anna.


"Hey! Mata ku tuh sehat, tahu!"


"Oh ya?? Coba sini mana saya lihat lebih dekat??"


Daffa tiba-tiba saja menangkupkan wajah Anna di kedua tangan besarnya. Dan Anna langsung dihadapkan pada wajah tampan dari suaminya itu.


Dua mata pun saling bersitatap. Antara mata cokelat dan mata hazelnut. Seketika itu juga Anna merasa aliran listrik menyetrum sesuatu yang berada dalam inti jiwanya.


Anna pun langsung menunduk, merasa tak mampu berlama-lama beradu mata dengan suaminya itu. Ia takut jika Daffa bisa menangkap rahasia terdalam yang ia simpan. Tentang perasaannya pada suaminya itu.


Bodoh sekali bukan? Padahal jelas-jelas Daffa telah mengatakan kepadanya kalau suaminya itu mencintainya. Tapi.. dengan bayang-bayang wanita bernama Tasya, entah kenapa Anna masih merasa berat untuk mengakui perasaannya kepada Daffa.


Terkadang, cinta memang sulit untuk dimengerti, bukan?


Sementara itu, Daffa mengira Anna bersedih karena tak bisa merias dirinya kembali seperti ketika mereka sampai di sini. Karenanya ia pun lalu memberikan saran.

__ADS_1


"Yaudah.. Kita ke kamar Tante Soraya gimana? Semoga aja Tante masih ada di kamar. Jadi nanti kamu pinjam make up sama Tante aja. Besok saya akan belikan kamu peralatan make up yang paling bagus dan lengkap. Jadi, jangan bersedih lagi ya, Sayang?" Daffa mencoba menghibur Anna.


Seketika itu juga Anna langsung mengangkat kepalanya. Merasa terharu dan senang dengan perhatian dari suaminya itu.


"Makasih ya, Sayang.." Ucap Anna seraya menghamburkan diri untuk memeluk Daffa.


"It's okay.. Yang penting kamu senang, saya juga senang.."


Setelah beberapa detik berlalu, masih dengan posisi tangan yang melingkari perut Daffa, Anna pun menengadahkan kepala.


"Tapi gak mesti mahal kok, Daff.. eh, Sayang! Atau biar aku aja deh yang beli sendiri. Memangnya kamu tahu make up apa aja yang harus dibeli?" Anna bertanya menantang.


"Well.. saya tinggal suruh Bella untuk beli semuanya. Gampang kan?" Jawab Daffa dengan senyuman miring.


"Ckk.. tahu deh yang jadi bos mah.." Anna berdecak iri.


"Udah ah. Kita ke kamar Tante Soraya yuk sekarang juga? Takutnya, Tante udah ke ruang pesta gimana kan?"


"Eh iya ya. Ayo deh, ayo! Sebentar!"


Anna tiba-tiba saja berlari kecil hingga berdiri di depan cermin yang menempel di dinding. Ukuran cermin itu persis setinggi tubuh Anna. Jadi ia bisa melihat penampilannya. Ia lalu menepuk pelan di sana dan di sini sampai dirasanya penampilannya cukup rapih. Dan barulah ia menggelayut ke lengan Daffa yang sudah menjulur ke arahnya sedari tadi.


***


Rambut Anna kini tak lagi dikepang, melainkan dibiarkan tergerai begitu saja. Rambut hitamnya yang panjang dan bergelombang hanya diberi hiasan jepitan anggrek yang tadi Anna pakai. Jepitan anggrek itu untuk menjepit dua juntaian rambut di sisi kiri dan kanan Anna hingga terkumpul di bagian belakang kepalanya.


Mulanya Anna tak menyukai gaya rambutnya yang dibiarkan terurai. Tapi, setelah saran dari Daffa, dan juga bantuan dari Tante Soraya pada akhirnya Anna mau tak mau membiarkan rambutnya tergerai bebas.


Begitu sampai kembali ke ruangan pesta, Anna pun menyadari bahwa hampir semua mata di ruangan itu kini tertuju padanya.


Anna merasa grogi. Ia oun sedikit merapatkan posisinya hingga menempel ke lengan Daffa. Tak henti-hentinya ia menundukkan pandangan, karena ia merasa risih dengan semua pandangan menilai yang tertuju padanya.


"Brave your soul, Anna (beranikan jiwamu, Anna)! I'm here with you (aku di sini bersama mu)..." Bisik Daffa kemudian.


Seketika itu juga Anna langsung menegakkan pandangannya. Dalam hatinya ia menegur dirinya sendiri.


'Untuk apa aku merasa malu? Aku tak berbuat salah. Bukankah pertemuan ini adalah apa yang kuharap-harapkan untuk terjadi? Jadi seharusnya aku memanfaatkan kesempatan ini untuk mengetahui dan mengenal semua keluarga Daffa!' Anna membatin.


Akhirnya Anna pun memantapkan diri untuk bersikap seperti apa adanya dia. Anna mengikuti langkah Daffa yang memperkenalkan nya dengan semua paman, bibi, sepupu-sepupu, kolega ayah Zion, dan orang-orang penting kainnya yang menjadi kolega bisnis di perusahaan Zi Tech.

__ADS_1


Hingga Anna akhirnya mulai merasakan letih pada tumitnya yang terlalu lama berdiri. Ia pun lalu diajak duduk oleh Daffa pada salah satu sofa yang ada di sisi terujung ruangan pesta.


"Kamu haus, Sayang? Saya ambilkan minuman ya? Orange Juice ok?" Tanya Daffa.


"Boleh, Sayang.." sahut Anna tak panjang lebar. Kemudian Daffa berpamitan untuk mengambilkan minuman yang ada di meja terdekat mereka, sekitar sepuluh langkah jauhnya dari tempat Anna duduk.


Namun, tak lama setelah Daffa pergi untuk mengambil minuman, tiba-tiba saja telinga Anna mendengar obrolan tak enak yang diucapkan oleh dua orang sepupu Daffa.


Kedua sepupu wanita Daffa itu seingat Anna bernama Elma dan Sari, duo kakak-adik, anak dari salah satu paman nya Daffa.


Seperti inilah percakapan keduanya...


"Dasar cewek murahan! Kampungan! Gak tahu diri! Udah married sama Daffa, masih aja main serong sama lelaki lain! Sama lelaki pelac*ur pula!" Ucap Elma.


"Namanya juga cewek kampung, Kak. Kelakuannya juga pastilah kampungan!" Sahut Sari.


"Heran deh. Apa coba yang dilihat Daffa dari cewek itu! Gak ada bagus-bagusnya! Menang cantik doang, cih, percuma. Palingan juga mukanya hasil oplasan dempulan di sana sini. Lihat deh, Mana ada hidung cewek bisa sebagus itu? Jelas banget itu hidung imitasi!" Cibir Elma kembali.


Anna merasa geram. Ditatapnya dengan pandangan garang dua wanita yang asik berjulid ria tak jauh dari tempatnya duduk. Anna jelas menyadari kalau kedua wanita itu memang sengaja meledeknya sampai ia mendengar cibiran mereka.


'Hidung imitasi apaan sih? Hidung ku kan asli, gak ku otak atik apalagi ku imitasi!' Anna menggerutu sedih. Tanpa sadar, Anna memegang pucuk hidungnya sendiri. Merasa senang karena hidungnya memang sudah bagus tanpa perlu melalui oplas dan dempulan sana sini , seperti yang dicibirkan oleh dua sepupunya Daffa itu.


"Jangan hiraukan ucapan mereka. Mereka memang cemburu sama kamu.."


Sebuah suara wanita tiba-tiba saja mengusik lamunan Anna tentang keaslian hidungnya. Anna menolehkan wajahnya ke kiri, dan mendapati salah seorang sepupu Daffa lainnya.


"Mmm.." Anna lupa nama wanita itu.


"Sella. Panggil aku Sella.." ucap Sella mengingatkan Anna.


"Oh! Iya! Maaf ya Sela. Ada terlalu banyak nama yang masuk ke otak ku malam ini, jadi tadi sempet overload deh.." ucap Anna keceplosan.


Sella tertawa renyah. "Hahaha. Kamu lucu ya, Anna. Boleh kita berteman?" Ajak Sella mengulurkan tangan.


Sebenarnya Anna ingin bertanya dulu kepada Daffa tentang siapa dan siapa yang sepatutnya harus ia waspadai di keluarga Zion ini. Seperti yang tak sengaja didengarnya dari obrolan Daffa dan Tante Soraya di perjalanan ke mansion tadi. Bahwasanya ada konflik internal yang sedang menyelubungi keluarga Zion saat ini. Dan sepertinya konfliknya pun cukup pelik. Bila dilihat dari ekspresi Daffa di mobil tadi.


Tapi lalu Anna teringat dengan ucapan seseorang. Bahwasanya kita boleh berteman dengan siapapun. Tapi untuk menjalin persahabatan, kita harus benar-benar menyeleksi nya. Jangan sampai kita salah menetapkan kantung rahasia di tangan yang salah, sehingga kelak orang yang kita anggap sahabat justru malah akan menjadi musuh terbesar kita.


Akhirnya Anna pun membalas uluran tangan Sella dengan senyuman ramah.

__ADS_1


"Baiklah, Sella. Nice to meet you! (Senang berjumpa denganmu!)"


***


__ADS_2