Cinta Sang Maharani

Cinta Sang Maharani
Harapan Anna


__ADS_3

Anna terlihat asyik menelpon seseorang selama setengah jam berikutnya. Daffa yang melihatnya sedikit cemburu karena Anna sering kali tertawa saat ia berbincang dengan orang di seberang telepon.


Setelah Anna selesai menelpon, Daffa tahu-tahu sudah merangkul pinggang istrinya itu dari belakang. Membuat Anna terkejut dibuatnya.


"Saya peluk kamu kayak gini gak apa-apa kan, Ann?" Tanya Daffa meminta ijin.


Meski sebenarnya Anna merasa canggung, mau tak mau ia membiarkan Daffa memeluknya dari belakang.


Anna merasa darahnya kian berdesir kencang. Terlebih saat Daffa meletakkan dagu nya di atas pundak kanan Anna. Seketika itu juga bulu kuduk di sekujur tubuh Anna meremang.


"Kamu kedinginan?" Tanya Daffa saat menyadari Anna yang sempat gemetar. Ia mengira istrinya itu menggigil.


"Eng.. enggak! Kamu.. enggak mesti ke mana gitu?" Tanya Anna, mencoba untuk mengalihkan perhatian Daffa darinya. Sementara Anna sibuk menetralkan debur jantungnya yang sudah melesat tak karuan.


"Ke mana? Sekarang kan hari minggu. Holiday lah!" Tukas Daffa masih dengan posisi yang sama.


Detik berikutnya, Daffa menggesek gesekkan pucuk hidungnya ke belakang daun telinga Anna. Membuat Anna kembali digempur oleh rasa grogi.


Lalu Anna teringat dengan sesuatu hal. Akhirnya, meski ia merasa geli dengan perlakuan Daffa saat ini, Anna mencoba untuk menyabarkan diri. Ia menelan ludahnya terlebih dahulu sebelum akhirnya menyampaikan permohonannya.


"Dd.. Daff!" Cicit Anna.


"Hmm?" Yang dipanggil masih sibuk mencecap aroma bunga dari rambut Anna yang masih basah.


"Aku... boleh mohon sesuatu gak?"


"Ya. Boleh. Apa aja boleh.." sahut Daffa.


"Itu.. aku.. aku kan deket banget ya sama Zizi.." tutur Anna memulai.


"Ya..?" Sahut Daffa setengah sadar. Karena ia masih mabuk dan kecanduan mencium aroma bunga yang ada pada Anna. Kali ini, ia pelan-pelan menghirup aroma di dekat tengkuk Anna.


"Kalau Zizi tinggal di sini bareng kita gimana? Please.." mohon Anna pada akhirnya.


"Hmm?" Daffa berhenti sesaat dari kegiatannya. "Zizi? Kamu yakin itu usulan yang baik?" Tanya Daffa meminta kepastian dari Anna.


Seketika itu juga gurat ketegangan muncul di wajah Anna. "Aku gak yakin bisa jauh dari Zizi. Walau bagaimana pun juga, cuma aku seorang, saudara kandung Zizi. Sementara Mama Ira, dan Dodi gak punya ikatan darah dengan Zizi atau pun aku!"

__ADS_1


"Hmm.. Terus gimana kalau kamu nanti pergi kuliah? Zizi kita tinggalin di sini sendirian? Atau semisal kita sewa pembantu, apa Zizi bisa adaptasi tinggal sama orang yang baru dikenalnya?" Cecar Daffa bertubi-tubi.


"Ii.. itu.."


Anna mengernyit, merasa bingung. Ia tak memikirkan sampai sejauh itu.


'Benar kata Daffa. Aku tak bisa meninggalkan Zizi tinggal sendirian di rumah ini, atau pun membiarkan orang asing menemaninya hampir seharian. Bisa-bisa Zizi malah akan sering tantrum,' batin Anna bermonolog.


Daffa yang menyadari kebingungan yang melanda Anna, akhirnya memutuskan untuk membantu mengurai benang kusut di kepala istrinya itu.


Terlebih dulu, Daffa menghentikan aktivitasnya mencium aroma tubuh Anna. Lalu dengan lembut Daffa memutar tubuh Anna hingga menghadap kepadanya.


"Saya sebenarnya sudah punya rencana untuk Zizi. Tapi itupun kalau kamu mengijinkannya," ucap Daffa kemudian.


"Apa?" Anna melempar pandangan bertanya ke atas, tepat ke wajah Daffa.


"Tapi sebelumnya, janji dulu. Kamu gak akan marah-marah duluan, pas dengar saran saya ya! Kamu harus dengar penjelasan saya dulu sampai selesai. Oke?"


Anna tercenung untuk sesaat. Ia menimbang-nimbang, apakah seharusnya ia memberiksn janjinya kepada Daff, atau tidak? Setelah jeda yang tak lama, Anna pun akhirnya mengangguk. Pertanda janjinya kepada Daffa.


"Oke. Jadi gini," tutur Daffa mengawali pembicaraan, seraya menuntun bahu Anna untuk mengikutinya duduk di pinggiran kasur.


Anna tertegun. Ia tak menyangka kalau Daff ternyata masih menyempatkan diri untuk memikirkan soal Zizi. Ditatapnya Daffa dengan pandangan penuh rasa syukur.


Sementara itu, Daffa yang ditatap, malah merasa heran. Ia mengira Anna tak menyukai sarannya tadi. Sehingga ia sudah menyiapkan kalimat mengalah. Namun...


"Baiklah. Sepertinya itu ide yang bagus!" Tutur Anna.


Daffa mengerjapkan matanya berkali-kali. Merasa takjub karena Anna begitu mudahnya ia bujuk.


"Kapan psikiater itu akan datang?" Tanya Anna kemudian.


"Nanti saya hubungi dia lagi. Tapi kamu benar-benar setuju kan soal Zizi ini?" Tanya Daffa memastikan.


"Iya," tutur Anna kemudian.


Melihat wajah Anna yang kemudian berubah mendung, Daffa pun menambahkan.

__ADS_1


"Kalau nanti kata teman saya, Zizi bisa diajak tinggal di sini sambil rawat jalan, gak apa-apa kok dia tinggal di sini juga," ucap Daffa kembali.


Seketika itu juga, rona cerah kembali membayang di wajah Anna. Sebuah pelukan pun segera ia layangkan pada suaminya itu.


Setengah bangkit, Anna merangkul leher Daffa dalam pelukan dua lengannya. Serta memberikan senyuman tercerah yang dimilikinya pada lelaki tampan di hadapannya itu.


"Makasih, Daff!!" Anna berseru senang.


"Sama-sama, Anna Sayang.." sahut Daffa tak kalah senang, saat melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah Anna.


Serta merta Daffa pun balas memeluk pinggang Anna, sehingga tanpa sadar Anna pun berada di atas pangkuannya. Pandangan mata Daffa, hangat tertuju menembus ke dalam jiwa Anna.


Ba-Dump.


Anna merasakan darahnya berdesir kencang lagi. Jarak antara wajahnya dengan wajah Daffa sungguh teramat dekat saat ini.


Merasa bingung dengan perasaan yang melimpahi hatinya saat itu, Anna pun memutuskan untuk menundukkan pandangannya ke bawah. Mencoba untuk menyembunyikan gejolak rasa yang menderanya, dari pandangan Daffa.


Entahlah. Rasa-rasanya Anna masih terlalu malu untuk mengakui perasaannya itu kepada Daffa. Entah jika Daffa sudah menyadarinya, atau belum.


Yang pasti, Anna masih membutuhkan waktu untuk mengurai perasaannya terhadap suaminya itu.


Tak lama kemudian, Daffa pun kembali menyarangkan kecu*pan lembut di kening Anna. "I love you, Anna," lirih Daffa bicara.


'And i'm starting to love you too, Daff (Dan aku pun mulai jatuh hati kepadamu, Daff)!' sahut Anna dalam hati.


***


Sepanjang sore , Anna sibuk mengitari seluruh penjuru penthouse yang akan menjadi tempat tinggalnya kini.


Sementara Daffa masih tak keluar dari ruang kerjanya, hingga penghujung ashar hendak berakhir.


Spot yang paling Anna sukai dalam penthouse itu adalah balkon. Di sana Anna bisa duduk santai sambil menikmati pemandangan kota Jakarta dari ketinggian dua puluh satu lantai. Sungguh pemandangan yang sangat indah.


Anna berharap, kehidupannya dan Daffa di penthouse ini akan berlangsung ke arah yang membahagiakan untuk ke depannya nanti.


Aamiin.

__ADS_1


***


__ADS_2