Cinta Sang Maharani

Cinta Sang Maharani
Psiko Frans


__ADS_3

Daffa masih mengantarkan Tasya berangkat ke kampus. Dalam perjalanan, keduanya saling berdiam diri. Meski begitu, Daffa selalu memegang erat jemari Tasya mulai dari mereka berangkat, hingga tiba di depan gerbang kampus.


Sebelum Tasya keluar dari mobil, Daffa masih menahan tangan istrinya itu cukup lama.


Keduanya kembali berpandangan dalam diam. Sebelum akhirnya Tasya berusaha menarik lepas tangannya.


"Daff.. kamu sudah janji untuk kasih aku waktu.." Tasya mengingatkan Daffa pada janjinya.


Daffa menghela napas dengan cukup keras. Ia masih tak menyukai ide perpisahan ini. Mereka baru juga menikah kurang dari tiga minggu, lalu kenapa semuanya jadi begini?


Dengan berat hati, Daffa melepas jemari Tasya. Sebelum akhirnya memanggil istrinya itu kembali.


"Dear.. Tasya.. jika saya merindukan kamu, saya boleh kan menemuimu?" Mohon Daffa dengan muka nelangsa.


Tasya menghela napas letih. Dipandanginya wajah Daffa lekat-lekat dalam diam. Sampai kemudian Daffa dibuat mengerti dengan keinginan istrinya itu.


"Baiklah.. satu minggu satu hari ke depannya saya akan membiarkan kamu sendiri dulu. Tapi, kamu harus langsung mengabari saya jika ada sesuatu yang terjadi ya? Jika kamu butuh bantuan.. atau jika kamu mungkin sudah.. merindukan saya.. panggil saya,dan saya akan langsung datang menemui kamu, Tasy.."ucap Daffa panjang lebar.


"Ya..aku pergi, Daff.." Anna berbalik dan menghilang ke dalam bangunan kampus yang berdiri kokoh nan tinggi. Dengan membawa serta sekeping hafi milik Daffa yang paling berharga.


Setelah netra nya fak lagi bisa menangkap citra Tasya, Daffa pun langsung bersandsr ke bahu jok yang ia duduki. Daffa memejamkan kedua matanya. Ia tampak begitu letih sekali.


"Langsung ke kantor!" Daffa pun memberikan titahnya pada Pak Kiman.


Sopir pribadi Daffa itu pun lalu mengendarsi mobil Bentley milik pemuda itu dengan kecepatan sedsng dan kendsli yang aman.


Dalam hatinya Pak Kiman merasa bingung dengan apa yang terjadi di antara dua majikan muda nya itu.


'Kenapa harus berpisah, jika hati masih ingin bersama?


Tidakkah rasa kasih pun memiliki makna yang cukup berharga dalam tiap hati manusia?


Jika kedua hati mencintai, lalu mengapa justru saling menjauhkan diri?


Tidakkah sepatutnya dua hati saling menguatkan, di kala ujian menerpa dua jiwa yang saling terikat rasa?


Cinta.. hadir mu menguji batin dan rasa...'

__ADS_1


***


"Kamu kenapa sih, Ann? Dari tadi kayaknya lemes banget. Belum sarapan?" Karina bertanya tiba-tiba, saat dilihatnya sahabatnya, Anna, yang lebih pendiam dibanding hari biasanya.


Tasya mengerjapkan mata. "Hmm?"


"Dih, malah ngelamun. Napa sih? Mau cerita?" Tanya Karina kembali.


Tasya melirik ke sekitar. Ia merasa tak nyaman untuk bercerita saat mereka masih ada di taman depan perpus sepwrti ini. Masih tampakbeberapa mahasiswa yang hilir mudik di depan perpus.


Pada akhirnya Tasya pun menggeleng.


"Gak apa-apa, Rin.."


"Serius? Eh, itu bukannya kalung yang biasa kamu pake ya? Kok malah dipake di tangan sih, Ann?"


Perhatian Karina tertarik pada kalung dr Mama Ira yang kini sengaja Tasya gunakan di pergelangan tangan dengan membelitnya dua kali.


Tasya mengikuti arah pandang Karina. Dan pandangannya seketika mendalam saat ia melihat bandul hati pada kalung itu.


"Apa gak takut cepat terlepas kalau dipake jadi gelang, Ann?"


"Gak. Aku sering lihatin kok gelang nya.. jadi aku bakal sadar kalau gelangnya terlepas," tutur Tasya kembali.


"Modelnya bagus sih.. ada batu swarovski nya juga lagi di titik tengah liontin nya. Ini.." Karina tampak ragu-ragu bertanya.


"Ini dari Daffa?" Lanjut Karina dengan ekspresi canggung.


"Bukan! Ini dari orang lain.."


***


Di suatu ruangan temaram yang dipenuhi perangkat komputer canggih..


"Kalung itu adalah hadiah ku untuk mu, Cantiik.. penghubung cinta kita..qiqiqiqiqi!" Frans memandang layar komputer yang sedang dioperasikan oleh anak buah nya.


Dari layar itu terpampang grafik suara percakapan antara Anna dan Karina.

__ADS_1


Dalam pikiran nya, Frans sangat sensng. Karena Anna masih memakai kalung tanda cinta darinya. Pikirnya, 'Anna tanpa sadar juga mencintaiku! Takdir mengikat kami selalu! Qiqiqiqiqii!' Frans terkekeh.


Di depan komputer, anak buah Frans yang memiliki nama panggil Erik, pun bergidik ngeri. Selama dua tahun Erik bekerja pada bos nya ini, ia sadar kalau bos nya ini memiliki mental yang agak miring.


Sebelum bos Frans menitahkan nya untuk menguntit kegiatan sehari-hari wanita bernama Anna, bos nya itu telah menitahkan nya untuk menguntit beberapa orang wanita yang lain.


Biasanya masa penguntitan berlangsung sekitar satu bulan, lalu setelahnya Erik mendapatkan waktu libur sekitar satu minggu. Dan ketika Erik kembali bekerja, tahu-tahu bos nya telah memilih target wanita yang baru untuk dikuntit.


Mulanya Erik tak merasa curiga. Ia pikir, mungkin bos nya itu hanya senang mengumpulkan rekaman suara atau video dari wanita-wanita yang disukainya saja.


Namun setelah kegiatan ini berlangsung berulsng-ulang dengan wanita yang berganti-ganti, Erik pun jadi merasa penasaran pada kabar wanita yang sebelumnya diminta untuk ia kuntit.


Akhirnya, suatu ketika Erik pun mencari kabar wanita yang pernah diperintahkan oleh Bos Frans untuk ia kuntit. Dan, ia dibuat terkejut saat mendapati fakta bahwa wanita itu ternyata dinyatakan telah menghilang.


Erik lalu menuntaskan rasa penasarannya pada nasib wanita lain yang pernah ia kuntit atas perintah bos Frans. Dan, firasat nya bensr. Kebanyakan wanita itu dinyatakan hilang. Ada juga yang ditemukan tewas dengan kondisi mengenaskan.


Wanita yang ditemukan tewas kebanyakan diketahui telah menjadi korban kekerasan seksual, dengan status pelaku yang masih belum diketahui.


Berdasarkan penelusurannya itu, Erik pun menyimpulkan kalau bos Frans nya memiliki andil atas apa yang telah terjadi pada wanita-wanita yang pernah ia kuntit.


Erik tiba-tiba saja teringat pada potret kondisi mayat wanita yang ditemukan tewas mengenaskan. Terdapat banyak luka sayatan kecil di lengan dan tubuh korban. Dan kejamnya adalah luka sayatan itu setelah dianalisa mengandung cairan garam. Kemungkinan korban mengalami penyiksaan terlebih dulu sebelum ia tewas karena luka sayatan di pergelangan tangan yang membuatnya kehabisan darah hingga tewas.


Itu berarti, Korban dibuat tersiksa hingga mati secara perlahan-lahan.


Erik bergidik ngeri. Ia ingin sekali berhenti bekerja pada bos nya yang gila ini. Jika bisa bertemu kembali dengan Aksa, kawannya yang menawarkan pekerjaan ini, Erik ingin sekali menoyorkan bogem mentahnya kepada teman kampusnya dulu itu.


Jika saja Erik tahu kalau ia harus bekerja pada seorang psikopat, Erik jelas tak akan pernah mau bekerja di sini. Meskipun gaji yang ia dapat juga berkali-kali lipat dari yang bisa didapatkan oleh profesi berbasis IT lainnya.


Kini, Erik terjebak untuk tetap bekerja di sini, selama beberapa bulan lagi sampai kontrak kerja nya habis. Ia pernah mengajukan diri untuk berhenti bekerja. Namun, ajuan nya itu ditolak oleh Bos nya.


Apalagi saat bos Frans mengancamnya untuk membayar denda pelanggaran kontrak kerja senilai 5 milyar, jika ia tetap memaksa untuk berhenti bekerja.


"Kamu gak akan bisa lari lagi dariku, Anna Cantik.. Kita akan bersatu sebentar lagi!" terdengar kembali gumaman suara Frans dalam ruangan temaram itu.


Frans menyeringai, kala memikirkan masa penantiannya pada Anna yang akan segera berakhir, sebentar lagi..


***

__ADS_1


__ADS_2