Cinta Sang Maharani

Cinta Sang Maharani
Hari Sebelum Badai Datang


__ADS_3

Daffa terus berjalan mendekati Anna dan Bella. Sementara kedua wanita itu segera beranjak berdiri.


Begitu Daffa sudah ada di hadapan keduanya, ia pun menyapa kedua wanita itu.


"Eva? Apa yang kamu lakukan di sini? Bukankah kita harus meeting lagi dengan Mr. Chen jam satu nanti? Sekarang sudah jam sebelas. Sebaiknya kamu bergegas menyiapkan semua file yang diperlukan. Pergilah!" Usir Daffa kepada Eva (Bella).


Bella tercenung mendapat usiran halus dari bos nya itu. Dalam hatinya ia sedikit mengeluh.


'Bukankah Bos sendiri yang menyuruhnya menyusul Anna di lobi sesegera mungkin? Kata Bos, ia harus menemani Nyonya Anna sepanjang waktu. Dan jika ada lelaki asing yang mencurigakan, ia harus mengajak Nyonya Anna segera pergi. Tapi sekarang dia malah diusir begini,' batin Bella bermonolog.


"Baik, Pak!" Sahut Bella. Kemudian Bella menoleh ke Anna dan memberinya anggukan singkat. "Terima kasih.." ucap Bella sebelum pergi.


Anna pun menyahut "sama-sama" kepada Bella. Dan matanya mengantarkan kepergian Bella hingga sosoknya menjauh pergi.


"Kalian tadi ngobrolin apa sih? Sampai Eva terlihat jelas habis menangis," tanya Daffa kepada Anna.


Anna menatap suaminya itu lekat-lekat. Batinnya sedang dilanda perang. Antara ia mengungkapkan perasaannya kepada pemuda itu saat ini juga, atau tidak.


Setelah beberapa detik berlalu, Anna baru tersadar dengan pertanyaan Daffa itu. Dan ia pun akhirnya menjawab, "cuma obrolan cewek kok. Biasalah.."


Anna melihat penampilan Daffa yang sudah rapih dalam balutan jas navi. Anna pun kembali teringat dengan cerita Bella.


Tadi Bella tak sempat mengatakan nama lelaki yang disukainya. Anna jadi bertanya-tanya, apakah lelaki itu adalah Daffa? Jika benar itu adalah Daffa, maka berarti Bella telah berdusta.


Menurut cerita Bella, lelaki itu pun menyukai dirinya. Jika memang Daffa lah yang dimaksud oleh Bella, apa itu berarti Daffa menyukainya?


Anna berharap kalau lelaki yang disukai dan menyukai Bella bukanlah Daffa.


'Tapi tunggu dulu! Bukankah tadi Bella mengatakan kalau lelaki itu tadi sempat menelponnya untuk mengabarkan ia yang AKAN menikahi wanita lain? Kalau benar begitu, berarti jelas itu bukanlah Daffa. Karena Daffa SUDAH menikahinya dua hari yang lalu,' Anna membatin.


"Anna? Kamu kenapa?" Suara Daffa perlahan kembali masuk ke indera pendengaran Anna.


Anna menyadari kalau tadi ia sempat melamun. Dalam hatinya ia benar-benar berharap dugaannya itu benar. Kalau Daffa ternyata bukanlah orang yang disukai Bella. Karena agaknya, Anna sudah menyukai dan menganggap gadis Sunda itu sebagai teman.


"Anna!"


"Hmm..? Ya?" Sahut Anna asal.


Ia kembali memfokuskan mata dan pikirannya kepada Daffa di hadapannya.


"Kamu kenapa?" Tanya Daffa mengulang.


"Gak apa-apa. Cuma ngobrol dikit aja sama Bella," tutur Anna menerangkan.

__ADS_1


"Siapa itu Bella?" Tanya Daffa dengan ekspresi kebingungan.


"Bella.. Eva. Bella itu nama panggilan sebenarnya Eva, Daff. Kamu gimana sih?! Masa gak tahu kalo Eva biasanya dipanggil Bella sama teman sekantornya!" Anna menyindir.


"Begitu kah? Saya baru tahu. Ah, sudahlah! Kita makan siang yuk sekarang. Setelah itu saya mau ke luar pulau lagi. Kemungkinan saya akan pulang malam lagi. Kamu nanti gak usah nunggu saya pulang. Ok?" Titah Daffa.


"Oh.. oke.." jawab Anna tak bersemangat.


Menyadari kalau istrinya itu sedang down, Daffa pun meraih bahu Anna hingga tubuh istrinya itu ada dalam dekapannya.


Anna kembali tercenung. Indera penciumannya menangkap aroma mint segar dari tubuh Daffa lagi. Aroma yang perlahan-lahan mulai ia kenal dan mengusik sanubarinya.


"I'll be back, when you open your eyes tomorrow!" (Aku akan kembali, saat kamu membuka matamu esok hari)


Anna pun menghirup aroma mint itu dalam-dalam. Membayangkan sisa hari ini yang akan dilaluinya dengan ditemani rasa sepi.


***


Di salah satu kedai makan yang berada di pulau Gili Trawangan. Seorang lelaki muda berusia awal tiga puluhan sedang menunggu panggilan teleponnya diangkat oleh bos besar nya.


Selagi menunggu, ia menikmati pemandangan para bule cantik berpakaian mini yang berlalu lalang melewatinya.


'Bohay benar body bule-bule itu. Beda jauh dengan wanita lokal sini. Apalagi bule-bule itu kebanyakan pakai baju dan rok mini. Ini nih yang namanya pemandangan dari syurga!' batin lelaki tinggi berkumis tipis itu.


Ia tak henti-hentinya meneteskan air liur saat menenggak minuman bersoda nya. Tapi air liur itu jelas bukan disebabkan oleh minuman bersoda yang diminumnya. Melainkan disebabkan okeh pemandangan tubuh-tubuh wanita yang lebih banyak menampakkan kulit, dibanding tubuh yang terbungkus pakaian.


Tak lama kemudian, panggilan teleponnya diangkat oleh Bos Besarnya di seberang sana.


Klik.


"Halo!" Suara berat menyapa lelaki itu dari speaker handphone miliknya.


"Halo, Bos! Ada gambar yang bagus banget nih, Bos!" Ucap lelaki berkumis tipis dengan semangat berlebih.


"Mm.. yah. Siapa?" Suara sang Boss terdengar agak terengah-engah.


"Andrew Lawalata, Bos! Tangkapan besar, bukan? Sampai sekarang, belum pernah ada yang bisa dapatin foto skandal nya model top itu dengan seorang wanita manapun. Dan aku berhasil dapetin fotonya. Posisi yang hot pula!" Seru si Kumis Tipis berapi-api.


"Ya! Ya! Ya! Yaaahh!!!" Suara seorang wanita menyelinap masuk dari lubang speaker di handphone si Kumis Tipis.


Seketika itu juga ia menelan ludah. Dilihatnya jam besar yang tergantung di atas dinding kedai makan. Di sana jarum jam menunjukkan pukul setengah delapan malam.


'Itu berarti, di Jakarta baru jam setengah tujuh. Bukankah seharusnya Bos masih di kantor? Tapi kok Bos sudah ber- 'gulat sehat' dengan cewek di jam sore begini? dasar Bos mesum!' monolog si Kumis Tipis di dalam hati.

__ADS_1


Setelah jeda hampir satu menit lamanya, si Kumis Tipis kembali mendengar suara Bos Besarnya dari seberang telepon.


"Kirim gambarnya ke handphoneku. Biar aku lihat dulu.." ucap Sang Bos.


"Baik, Bos!"


Klik. Sambungan terputus.


Dan si Kumis Tipis itu pun mengirimkan gambar yang menurutnya adalah tangkapan besar. Melalui aplikasi pesan wazap, ia mengirimkan gambar itu dengan segera.


Sekitar lima menit kemudian, handphonenya menerima panggilan masuk dari Sang Bos. Lelaki berkumis tipis itu pun langsung mengangkatnya.


"Gimana, Bos?" Tanyanya dengan penuh harap.


"Bagus. Tapi kalau bisa, dapatkan gambar yang lebih hot lagi. Cari tahu juga identitas wanita itu. Umurnya, pekerjaannya, pokoknya semuanya tentang wanita itu. Kita akan buat ini jadi sesuatu yang besar. Biar kita kalahkan majalah sebelah dengan berita ini!" Ujar Sang Bos.


"Siap, Bos! Oya, Bos. Bonus awal bisa dapat kan, Bos? Uang akomodasi.." tawar lelaki berkumis tipis kepada sang Bos.


"Aw! Pelan-pelan dong, Sayang! Kalau Mimi dan Noni ku lecet-lecet gimana? Nanti pas kamu hisap, dia ngeluarin lahar lagi, bukannya susu.." suara wanita bernada manja, kembali menyusup melalui speaker handphone si Kumis Tipis.


Glek. Kali ini, Si Peter Junior nya lelaki berkumis tipis terbangun. Agaknya ia ikut mendengarkan suara ******* manja wanita Bos nya itu.


'Sial! Kenapa bangun sekarang sih?!' batin lelaki berkumis tipis itu saat melirik ke bawah pada Peter Junior nya.


Kemudian, terdengar lagi suara bosnya bicara.


"Ya. Nanti akan kukirim. Kau dapatkan saja gambar yang lebih bagus!"


Dan klik. Sambungan telepon pun terputus.


Mendengar kalimat terakhir dari Bos Besarnya, membuat lelaki berkumis tipis itu sangat senang. Semoga Bos sedang berbaik hati, sehingga akan mengirimkannya bonus awal yang besar.


'Tapi, aku harus mengurus Peter Junior ku terlebih dahulu. Sepertinya ia menolak untuk tidur sebelum bermain-main terlebih dahulu!'


Si Kumis Tipis itu kemudian mengedarkan pandangannya ke segala arah. Ia mencari sosok buruannya yang sudah beberapa malam ini menemani Peter Junior nya bermain-main.


Biasanya wanita lokal itu selalu terlihat mengantarkan minuman ke para wisatawan.


Dan Ya. Lelaki berkumis tipis itu akhirnya menemukan sang wanita. Ia pun menggegas kan langkahnya ke arah wanita itu.


Belum juga sampai di dekat wanita itu, si Kumis Tipis sudah membayangkan malam panas yang akan ia lewati sebentar lagi.


Sementara hiruk pikuk suara pesta terdengar kencang di pinggiran pantai Gili Trawangan. Padahal angin pantai malam itu berdesir cukup kencang. Tapi itu tak mengganggu keasyikan para wisatawan untuk menikmati pesta malam nya mereka.

__ADS_1


Mereka tak tahu, bahwa malam nanti badai kencang akan menerpa pulau eksotis itu selama hampir seharian penuh. Membuat Pulau Gili Trawangan menjadi pulau yang terisolir selama beberapa hari ke depannya.


***


__ADS_2