
"Kamu masih sakit, Anna. Kita tunda saja pernikahan kita!" Tawar Daffa.
"Enggak. Aku gak apa-apa. Cuma terkilir aja. Kata dokter juga gitu kan!" Anna bersikeras.
"Kata dokter, kamu perlu liburan. Kamu perlu untuk beristirahat dulu!" Tawar Daffa lagi.
"Kita akan liburan setelah kita menikah hari ini juga. Aku akan cuti kuliah selama satu minggu. Aku ikut kamu dalam trip kamu ke luar kota. Kita sambil honey moon," Jawab Anna lagi.
"Tapi Anna, saya.."
"Apa kamu sekarang tak lagi mau menikahiku, Daff?" Tanya Anna dengan pandangan mata yang keras.
"Apa setelah kejadian hari ini, kamu jadi jijik untuk menikahiku, Daff? Karena aku sudah 'disentuh' oleh lelaki lain?" Cecar Anna bertubi-tubi.
Gadis itu terlihat memeluk pinggangnya sendiri. Proyeksi kerapuhan pada sosoknya yang biasanya tampak tangguh di mata Daffa.
"Enggak, Anna. Saya tetap ingin menikahi kamu. Tapi waktunya saya rasa enggak pas. Kamu perlu waktu untuk healing. Kamu masih trauma jadi gak bisa berpikir jernih saat ini," Tutur Daffa kembali.
"Stop! Aku tahu, Daff. Aku tahu kalau aku cukup waras untuk mengusulkan padamu untuk melanjutkan acara pernikahan kita pada hari ini juga. Aku sudah memikirkan segalanya baik-baik.
"Akan lebih baik jika kita segera menikah hati ini, dan aku akan ikut pergi tinggal ke rumahmu. Aku tak yakin bisa bertahan walau hanya untuk semalam lagi di kamar itu. Mengingat di sana, Zizi hampir celaka karena aku.
"Mengingat wajah penculik yang masih bisa kuingat dengan sangat jelas bahkan hingga saat ini. Apalagi.." ucapan Anna terhenti.
'aku takut jika harus bertemu dengan Frans lagi. Aku takut tak bisa menatap dengan berani jika aku harus bertemu dengannya lagi!' lanjut hati Anna membatin.
Daffa menatap serius ke dalam mata Anna.dan Anna membalas tatapan Daffa dengan pandangan berani sekaligus tatapan penuh permohonan.
"Please, Daff.. would you merry me now?" tanya Anna dengan pandangan memohon.
"..."
"..."
"Oke. We will marry today," Jawab Daffa akhirnya.
"Terima kasih.." Anna lirih berkata.
"No, Anna. Saya yang terima kasih, karena kamu mau mempercayai saya. Walau saya sudah gagal menjaga kamu hari ini," Seru Daffa dengan kepala menunduk malu.
Anna menggeleng pelan. "Kamu gak salah, Daff.."
'kamu gak tahu kalau Frans akan senekat ini hingga berani menculik ku!' lanjut Anna di dalam hati.
"Jadi, ayo kita pulang sekarang juga!" Ajak Anna kepada Daffa.
"Aku gak mungkin kan menikah dengan penampilanku yang sekarang?" Sahutnya lagi dengan nada setengah bercanda.
__ADS_1
Daffa tersenyum lembut.
"Kamu tetap cantik bagaimanapun dirimu, Anna."
"Tapi aku gak mau foto pernikahanku mengabadikan ku jadi seperti zombi pucat macam begini, Daff. Yuk!"
Daffa tertawa pelan.
"Oke. Tapi tunggu sebentar. Saya akan minta suster untuk mengambilkan mu kursi roda. Jadi saya tak perlu payah memapah mu hingga ke mobil. Oke."
"Terlalu lama, Daff!" Keluh Anna.
"Kalau begitu, ada cara lainnya. Tapi kamu tak boleh menolak lagi usulanku yang satu ini. Ayo, cepat naik!"
Tiba-tiba saja Daffa mendekati Anna lalu membelakanginya. Ia lalu mengambil posisi seperti hendak menggendong Anna di punggungnya. Gendongan ala piggy back.
Wajah Anna spontan bersemu merah.
"Jangan bercanda, Daff! Aku jalan aja."
"No, Anna. Kamu gak punya pilihan lain. Kamu saya gendong seperti ini, atau kita tetap di sini sampai besok. Gimana?" Tegas Daffa.
"Tapi.." Anna meragu.
"Enggak ada tapi-tapi. Ayo cepat. Ada pak penghulu yang menunggu kita," Tegur Daffa.
"Pegang yang kencang. Kita gak mau kan kamu terjatuh dan hilang di jalan!" Daffa berkelakar.
"Iya. Iya. "
Anna mengeratkan pegangannya di leher Daffa. Lalu menaiki punggung kekar pemuda itu. Secepat kilat, Daffa bangkit berdiri membawa Anna pergi di punggungnya.
Seketika itu juga Anna menyesal dengan keputusannya. Karena dengan posisi mereka yang seperti ini Anna jadi bisa mencium aroma tubuh Daffa.
Aroma yang meninggalkan getar-getar aneh di seluruh tubuh Anna.
'ini pertama kalinya aku memeluk lelaki asing. Tapi aneh. Kenapa aku menyukai bau tubuhnya ya. Duh. Kurasa aku mulai gila!' batin Anna berkicau.
***
Setibanya Anna di rumah. Ia langsung dikerubungi oleh Mama Ira, Bik Inem, serta Dodi. Agaknya, kejadian penculikannya belum tersebar.
Sehingga ketika Anna melewati halaman rumah yang sudah ada beberapa tamu, Anna dan Daffa hanya mendapatkan tatapan aneh.
Mungkin pikir tamu mereka heran melihat kedua pengantin yang hendak menikah malah belum siap berhias.
"Kamu gak apa-apa, Sayang? Mama cemas sekali." Sapa Mama Ira saat Daffa sudah menurunkannya di dalam kamar.
__ADS_1
Anna tertegun. Tak tahu harus menghadapi ibu sambungnya itu dengan sikap bagaimana. Mengingat keponakannya sendirilah yang menjadi penyebab kejadian hari ini.
Anna menatap Mama Ira lekat-lekat. Ia menangkap kekhawatiran di wajah itu.
'mungkin Mama memang tak tahu dengan perbuatan Frans,' pikir Anna.
Tak lama kemudian ada tangan yang memeluk Anna dari belakang. Membuyarkan lamunan singkat Anna tentang Frans. Anna menoleh, dan mendapati Zizi memeluknya diam-diam.
Hati Anna merasa sesak. Ia bersyukur Zizi tak mengalami kejadian buruk seperti dirinya. Jika tidak, Anna pasti tak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.
Anna pun balas memeluk Zizi dalam diam.
"Ma, dimana tukang rias nya?" Tanya Anna kemudian.
"Mereka.. tunggu dulu! Kamu tetap mau menikah, Anna?" Tanya Mama Ira tercengang.
"Ya."
"Tapi.."
"Cepat, Ma. Maaf, tolong panggilkan mereka ke sini sekarang juga. Sebelum pak penghulu tiba!" Ucap Anna lagi.
Mama Ira masih juga diam terpaku. Dari wajahnya ia nampak sedang mempertimbangkan sesuatu.
"Biar Dodi yang panggil, Kak!" Dodi yang sedari awal hanya menatap Anna dalam diam, akhirnya menawarkan diri untuk memanggilkan tukang rias.
Anna memberikan adik sambungnya itu senyuman. "Makasih ya, Dod."
Dodi balas mengangguk, sebelum akhirnya setengah berlari keluar kamar.
***
Sekitar jam 10 lewat 5 menit, Pak penghulu tiba. Dan pada pukul 10 lewat lima belas menit, acara pernikahan Anna dan Daffa pun dimulai.
Dimulai dari Pembukaan, mukaddimah, sambutan dari Ustadz Kholil, pemuka agama di komplek, hingga akhirnya ke acara inti, pembacaan Sighat Ta'liq, serta penutup.
Anna dan Daffa mulanya tak langsung disandingkan. Daffa berada di ruang tamu saat akad nikah berlangsung. Sementara Anna duduk menunggu di kamar nya sampai kemudian terdengar sahutan "sah" berkali-kali oleh para tamu.
Anna mengucap syukur. Ada keharuan yang tiba-tiba saja menyelimutinya. Karena kini, Ia sudah menjadi seorang istri. Istri seorang Daffa Skolinszki.
"Barokallahu lakuma wa baroka 'alaikuma wa jama'a bainakumaa fii khoir.."
Pelan, Anna mendengar suara Mbak Anggi, penata riasnya mengucap doa untuknya.
"Aamiin.. Allaahumma Aamiinn.." Jawab Anna dalam hati.
***
__ADS_1