Cinta Sang Maharani

Cinta Sang Maharani
Tenggelam


__ADS_3

Sejak tangannya terbebas dari ikatan dengan tangan Frans, Tasya terus melaju tanpa menengok kan kepalanya walau hanya untuk sekali saja. Ia mengikuti kata-kata Daffa untuk terus berlari hingga ada anak buah Daffa yang akan mengantarkannya ke tempat yang aman.


Tasya tak memperdulikan suara gedebuk seperti orang yang terjatuh di belakang nya. Dan Tasya pun tak menghiraukan suara desing peluru kala bersarang di lantai atau dinding kabin yang terbuat dari baja.


Yang Tasya tahu ia hanya harus berlari dan terus berlari saja.


Dan memang, baru sekitar dua menit lamanya ia berlari, tiba-tiba saja dari balik tikungan muncul salah satu anak buah Daffa yang mengarahkan Tasya untuk mengikuti lelaki itu. Dan Tasya pun akhirnya dibawa masuk ke sebuah kabin berukuran cukup luas, di mana di sana sudah ada beberapa orang berpakaian dokter dan perawat.


Hanya satu wajah yang Tasya kenal tengah berdiri menatapnya khawatir di sisi kasur. Dokter Mirna.


Begitu kedua netra mereka bertemu, Dokter Mirna langsung bangun dari duduknya dan menghampiri Tasya yang berdiri ngos-ngos an, kelelahan usai berlari tadi.


"Madam! Duduk lah di sini, Madam! Mari! Mari Anda beristirahat terlebih dahulu!" Ajak Dokter Mirna seraya mengarahkan Tasya untuk berbaring di atas satu-satunya kasur yang ada di kamar itu.


Merasa tak memiliki daya untuk menolak, Tasya mengikuti ajakan Dokter Mirna. Dan membiarkan dokter wanita itu meluruskan kakinya ke atas kasur, dan menempatkan tumpukan bantal di belakang kepala Tasya. Dibantu oleh dua perawat wanita lain yang ada di sana.


Tak lama kemudian, seorang perawat menyodorkan air elektrolit dalam botol kepada Tasya. Yang langsung Tasya tenggak hingga separo nya.


Merasa segar usai minum, Tasya hendak langsung menanyakan situasi di atas dek. Ia khawatir pada Daffa. Namun, baru juga sepatah kata yang ia ucapkan, Dokter Mirna sudah langsung mrlarangnya untuj bicara terlebih dahulu.


"Hah.. hah.. Bagaima.."


"Tenangkan dirimu, Madam! Situasi aman terkendali. Madam sebaiknya banyak beristirahat terlebih dahulu. Karena Madam baru saja melalui masa yang sulit setengah jam ini. Pikirkan janin dalam kandungan Madam yang membutuhkan ketenangan dan kondisi fisik Madam yang harus tetap bugar!" Saran dokter Mirna.


"Hah...baiklah. Tapi.."


"Ya, Madam. Nanti saya akan memberi kabar perihal kondisi Tuan Daffa. Tapi saya yakin, tak lama lagi Tuan pasti juga akan menyusul Madam ke sini!" Ucap dokter Mirna dengan yakin.


"Iya kah?" Tanya Tasya minta diyakinkan.


"Ya! Jadi Madam beristirahatlah.. tidur pun tak apa-apa. Atau Madam merasa lapar? Hendak saya panggilkan chef untuk membuatkan sesuatu yang Madam suka?" Tanya dokter Mirna perhatian.


Sebenarnya, Tasya enggan untuk makan saat ini. Namun ia menyadari rasa keram yang bercampur juga dengan rasa lapar yang menyerang perut nya. Ada dede janin yang harus Tasya rawat juga saat ini.


Akhirnya, Tasya mengangguk lemah.


"Ya. Sup ayam aja seperti tadi. Jangan terlalu banyak," sahut Tasya meminta tolong.


Dokter Mirna lalu menyuruh salah satu perawat nya untuk menyiapkan sup ayam untuk Tasya. Sementara ia kemudian duduk di dekat Tasya untuk mengecek denyut jantung bumil itu. Setelah mengetahui kalau denyut jantung Madam nya telah kembali normal, barulah dokter Mirna merasa tenang.


Beberapa menit berikutnya, Tasya tak sengaja tertidur usai kelelahan melalui semua kejadian di hari ini. Dan dokter Mirna menarik selimut hingga menutupi bahu Tasya. Baru kemudian duduk berjaga di salah satu sofa dekat kasur.

__ADS_1


***


Sementara itu...


Karina merasakan jantungnya hendak melompat, kali pertama ia mendengar suara desingan peluru. Dengan jantung yang berdentum-dentum, Karina merapal mantra agar tak ada peluru yang menyasar ke arah nya yang tersembunyi di balik bungkusan plastik yang ada di bangku belakang speed boat.


Tak henti mulut dan benak nya merapal mantra. Berharap Frans bisa ditaklukan dan tak sempat menaiki speed boat ini.


Sekitar lima belas menit yang terasa seperti berjam-jam lama nya suara peluru berdesing memecah udara malam di atas kapal yacht yang terombang-ambing di lautan.


Karina mulai merasakan dinginnya malam menusuk kulitnya yang hanya dibalut gaun malam yang tebalnya tidak lah seberapa.


Lagi-lagi ia merutuki kenekatannya untuk bersembunyi di atas speedboat ini. Lagipula, bagaimana bisa tenaga nya bisa melawan tenaga kuat dari Frans, jika benar lelaki itu akan kabur menaiki speed boat ini?


Nampaknya ada yang konslet dengan saraf di kepalanya. Sehingga ia bisa memiliki kenekatan untuk melaksanakan ide gila nya ini.


Kaki Karina sudah merasa kesemutan karena lama nya ia duduk tengkurap di atas speed boat. Leher nya pun sudah terlampau pegal. Namun hebatnya ia memiliki keteguhan untuk tetap bertahan dalam kondisi yang sangatlah tak nyaman itu.


'Oke. Ini sudah kuputuskan. Jadi jelas, aku harus melakukannya hingga akhir. Tapi semoga saja lelaki brengsek itu lebih dulu mati terkena tembakan. Aamiin!' doa Karina di dalam hati.


Namun kemudian..


Brak.


Kembali, jantung Karina berdentum kencang. Terlebih lagi saat didengarnya suara desingan peluru yang terasa amat dekat dengan posisi kepalanya berada.


"Ya Tuhan! Ya Ampun! Ya Ampun! Apa an tuh tadi?!" Karina tak sengaja melata saat sebutir peluru berhasil bersarang pada bodi kiri speed boat yang berada dekat dengan kepalanya.


Namun segera setelah melata, ia lamgsung menutup mulutnya rapat-rapat. Khawatir jika orang yang sedang melajukan speed boat ini tak sengaja mendengar suaranya.


Syukurlah, setelah beberapa detik menunggu dalam diam, Karina menyadari kalau orang yang mengemudikan speedboat ini sepertinya belum menyadari keberadaannya.


Dengan gugup, Karina mengintip lewat plastik yang ia angkat sedikit. Dan tampaklah di kursi kemudi, sebentuk wajah yang amat ia benci saat ini. Frans.


Mata Karina mendadak garang oleh emosi amarah. Hilang sudah rasa gugup dan ragu-ragu yang tadi sempat membayanginya untuk melakukan ide gila menaiki speed boat ini. Karena kini Karina didera perasaan ingin membunuh lelaki yang sudah membawa kerusakan terbesar dalam hidupnya.


Kerusakan yang tak pernah akan bisa untuk diperbaiki lagi walau dengan apapun jua. Kepercayaan atas dirinya sendiri.


Frans membuat Karina tak hanya kehilangan keperawanan nya. Namun juga harga diri dan rasa percaya diri nya untuk menatap dunia. Dengan semena-mena lelaki brengsek itu menyakiti, tanpa tahu dampak kerusakan yang telah disebabkannya kini terhadap wanita muda itu.


Setelah speedboat berjarak cukup jauh dari jangkauan peluru anak buah Daffa yang berada di kapal Yacth, Frans tertawa terbahak-bahak menghina Daffa dan pasukannya.

__ADS_1


Semakin tersulut lah emosi Karina. Ingin rasanya ia menyumpal mulut beracun pemuda brengsek itu agar tak lagi bisa menyombongkan diri.


"Awas kau, Frans!"


Akhirnya, saat dirasa waktunya tepat, Karina pun dengan tangkas menyembul dari balik tumpukan plastik. Mungkin karena angin malam yang berdesing cukup kencang atau mesin speed boat yang juga menderu cukup bising, sehingga membuat Frans tak menyadari kemunculan sosok Karina di belakangnya.


Dan, dengan keyakinan penuh, Karina langsung saja menikamkan pisau buah berukuran sedang itu ke punggung kiri Frans dengan sekuat tenaga.


Seketika Frans meraung kesakitan oleh luka tusukan di punggung nya itu. Frans berbalik, namun kembali mendapat luka tusukan dari Karina yang tadi sigap mencabut pisaunya dengan tangan yang bergetar. Kali ini hujaman pisau dari tangan Karina mengenai area di atas dada kiri Frans.


Frans kembali merasakan nyeri. Kali ini tusukan kedua tepat mengenai jantung nya. Frans memandang Karina dengan pandangan terkejut.


Tak menyangka kalau wanita bertubuh ramping di depan mata nya ini mampu memberinya luka yang sangat fatal.


"Kau?! Ru-bah ke-cil!" Umpat Frans terbata-bata.


Baru menyelesaikan satu umpatan itu saja, darah segar serta merta menyembur dari ujung mulut Frans. Satu tangan pemuda itu masih memegang kemudi speedboat. Sementara ia setengah menolehkan tubuhnya ke belakang, ke arah Karina.


Dalam minimnya pencahayaan, Frans merasa penampakan Karina nampak seperti dewi kematian yang akan mencabut nyawanya.


Rambut panjang yang berkibar tersibak angin. Kulit putih pucat dengan mata garang yang memandang Frans dengan tatapan tajam. Serta satu tangan mungil Karina yang memegang teguh pisau di depan dadanya. Seolah pisau itu adalah alat pencabut nyawa yang dimilikinya.


"Beautiful!" Lirih Frans di ujung sisa napas nya. Sebelum tangannya hilang kendali atas pegangan speed boat. Sehingga menyebabkan speedboat oleng ke kanan dan terbalik jatuh.


Frans tak menyadari terbaliknya dunia saat ia ikut terjatuh bersama Speed boat dan Karina. Satu-satunya yang tertangkap oleh indera netra nya hanyalah sosok dewi kematian yang kini terlihat ketakutan karena hendak ikut terjatuh ke laut bersama Frans.


Spontan saja, Frans meraih tangannya ke depan, ke arah pinggang sang dewi. Hingga akhirnya keduanya tercebur ke dalam air lautan di malam yang dingin itu.


Dalam benak Frans, pikirannya terasa kosong. Di antara kesadaran yang mulai terlepas dari raganya, Frans menyempatkan diri untuk mengucapkan kata perpisahan pada sang dewi kematian yang telah mencabut nyawanya.


'Sayonara..' sapa Frans tertelan gelembung air.


Matanya masih menatap nanar pada sang dewi yang kini mendorongnya menjauh. Tiba-tiba saja ada perasaan sesak dalam hati pemuda itu atas penolakan yang baru saja diterimanya dari sang dewi.


Frans tadinya berharap, sang dewi mau menemaninya menyelami rasa dingin dan kepekatan lautan bersamanya. Sayang sekali.. Sang Dewi jelas telah menolaknya.


Frans mengerjap pelan. Dadanya serasa terbakar. Dan ia merasa sulit untuk menarik napas. Namun tak ada yang bisa dilakukannya kini. Semua daya seolah telah ikut pergi meninggalkan tubuhnya jua.


Semua perih yang menyerang tubuh nya membuatnya merasa sangat mengantuk kini. Dan Frans, akhirnya mengalah pada rasa kantuk itu.


Satu-satu nya yang jadi harapan terakhir Frans saat itu adalah, ia berharap bisa larut bersama air di lautan ini. Agar ia tak lagi merasakan dingin yang menusuk jiwa dan raga nya, seperti yang tengah dirasakannya sekarang ini.

__ADS_1


***


__ADS_2