Cinta Sang Maharani

Cinta Sang Maharani
Curhat


__ADS_3

"Habis ini kamu langsung balik, Ann?" Tanya Karina tiba-tiba usai perkuliahan mereka berakhir.


"Iya.."


"Mau mampir dulu ke Molan?"


"Hmm.. oke,"


"Kalau gitu deal! Ayok cepetan dong jalannya! Keburu makin macet nanti jalanan nya!" Karina setengah menarik lengan Tasya. "Naik mobil ku aja! Biar nanti aku anterin kamu pulang!" Tambah Karina lagi.


"Oke. Bentar ya, aku ngebel Sopir ku dulu tuk ngabarin.."


***


Sesampainya di Molan...


"Oke. Sekarang juga kamu bisa cerita. Kamu kenapa sih, Ann, hari ini? Sering ngelamun mulu.."


Tasya terlihat menghela napas, sebelum akhirnya menjawab pertanyaan dari Karina.


"Aku lagi break sama Daffa, Rin.." tutur Anna dengan suara sarat letih.


"Huh? Break? Maksud kamu... Kamu lagi berantem sama.. dia?" Karina tampak masih enggan untuk menyebut nama Daffa.


"Mm.. gak berantem juga sih. Aku yang minta break ke Daffa. Kita lagi coba hidup misah dulu. Aku masih ngerasa gak terbiasa dengan jadi istrinya dia. Maksud aku.. kamu tahu lah Daffa.. dia itu kaya, smart, sukses, dan.."


"Ganteng juga! Jangan lupain itu!" Celetuk Karina.


Tasya tersenyum miring. "Ya. Ganteng juga sih.."


"Terus, apa masalah nya?" Karina bertanya tak mengerti.


"Ya itu tadi, Rin Rin! Dia itu rasanya terlalu sempurna buat aku. Lihat deh aku!"


"Kamu cantik! Smart, baik, relijius juga!" sahut spontan Karina.


"Relijius apa sih? Aku mah gak relijius. Yang relijius tuh Teh Anis. Aku mah belum pake kerudung lebar macam teh Anis dan senior di LDK!" Tasya menyanggah.


"Oke. Aku koreksi. Maksudku itu, kamu punya kepribadian yang cenderung lebih berakhlak dibanding orang kain yang kukenal. Kalau soal kerudung, menurutku itu gak menjamin ke sholehan seseorang sih, Ann. Coba aja kamu lihat di berita-berita! Banyak kan pelaku kriminal ibu-ibu pake kerudung ketangkep maling apa lah apalah.."


"Iya juga sih.. tapi kerudung juga wajib kan, Rin.."

__ADS_1


"Iya.. aku juga tahu itu.."


"..."


"..."


Keduanya terlihat tak nyaman dengan perbincangan terkait menutup aurat itu. Merasa sadar kalau percakapan itu adalah topik yang sensitif, Karina pun mengalihkan ke topik lain.


"Anyway, maksudku itu, penampilan seseorang gak bisa menjamin apakah dia mengaplikasikan ajaran agamanya dengan baik atau enggak. Dan aku menilai kamu, secara hubungan dengan manusia, ya terbilang bagus.."


"Kamu juga rajin shalat dan ngajak ngajakin aku yang pemalas ini. Kamu selalu ngejaga diri dari pergaulan dengan cowok. Kamu humble/rendah hati, rajin menabung, dan tidak som-- mmm!!"


Tasya buru-buru membekap mulut sahabatnya Karina yang tak jua mau berhenti memujinya di depan umum.


Tasya terlihat malu karena beberapa pelanggan Molan melirik ke arah mereka.


"Gak usan dilanjutin! Aku malu, tahu, Rin!" Bisik Tasya menegur Karina.


Karina yang mulutnya masih dibekap, langsung mengangguk-anggukkan kepala seraya memberi kode "oke" dengan tangannya.


Tasya pun melepaskan sekapan tangannya pada mulut Karina. Dan buru-buru mengganti topik pembicaraan.


"Udah ah. Gak usah dibahas lagi!" Ucap Tasya sambil kembali menghabiskan rainbow ice cream dengan begitu lahapnya.


Sementara Anna menatap serius pada Karina. Ia menduga-duga jika Karina masih mengharapkan suaminya, Daffa, atau tidak.


"Udah, ah! Jangan serius gitu ngelihatin nya! Aku cuma becanda kok! Aku udah ikhlas lepasin dia untuk kamu, Ann.. Tapi kamu nya jangan malah minder gini dong say.."


"Hh.. gimana gak minder, Rin. Aku lihat, saingan ku tuh cewek yang cantik dan lebih kaya dariku. Apalagi ada foto itu.."


"Huh? Foto apa?"


Tasya lalu terlihat ragu. Ia takut jika ia menunjukkan foto Daffa yang sedang bercumbu dengan Joanna, itu bisa dikatakan mengumbar aib suami nya. Dosa. Tapi..


"Foto Daffa kissing sama cewek lain. Joanna namanya."


"Hah?! Gak mungkin! Setahu aku, Joanna itu cuma dianggap adik sama Daffa. Apalagi Daffa juga sahabatan sama kakaknya Joanna. Jadi gak mungkin lah Daffa punya perasaan lebih ke cewek itu!" Sergah Karina berapi-api.


"Tapi aku dikirimin foto mereka lagi kissing, Rin.."


"Sama siapa? Asli gak tuh foto? Coba kulihat?!" Tanya Karina bertubi-tubi.

__ADS_1


Tasya menaikkan sebelah alis nya pada Karina. Yang membuat Karina segera meralat ucapannya.


"Oke. Sorry. Kurasa akuu memang gak perlu lihat fotonya sih.."


"..."


"..."


"Tapi Anna. Aku serius dengan ucapan ku tadi. Aku yakin banget kalau Daffa gak punya perasaan lebih ke Joanna!" Ucap Karina kembali.


"Hh.. gak tahu lah, Rin. Karena hal ini lah aku akhirnya minta Daffa untuk kita break dulu. Biar masing-masing kami bisa introspeksi diri.. healing-in diri.. tapi.."


"Tapi apalagi sih, Ann?" Karina bertanya dengan tak sabar. Ia merasa greget dengan sahabatnya itu.


"Tapi tadi pagi Daffa ngasih kabar kalau dia mau ke Makassar. Katanya sih ada urusan kerja. Cuman masa harus nginep segala sih sampe empat hari? Lama banget kan itu!"


"Dih. Anna.. anna.. kamu tuh aneh deh. Kamu yang ngajakin break, tapi kamu juga yang ngedumel kalau Daffa nya pergi. Jangan ababil dong, say.."


"Apaan tuh ababil?"


"Anak labil! Plin plan! Gak konsis!"


"... Hh.. gimana dong, Rin.. belum apa-apa, aku udah ngerinduin dia.."


"Au ah! Aku ingetin ke kamu yaa Ann. Jangan sekali-kali menyia-nyiakan orang baik di sekitar kamu. Kalau kamu gak mau nyesal nantinya, ketika orang itu pada akhirnya memilih tuk pergi."


"Macam Daffa. Dia itu lelaki yang baik! Jadi jangan bersikap cemen dan minder gak jelas kayak gini nih. Itu tuh gak kamu banget! Bukan Anna yang aku kenal!"


".."


"Contoh orang baik lainnya yang juga jangan kamu sia sia in tuh ya aku, ya!"


Tasya menyengir kuda kala ia mendengar penuturan Karina yang kelewat narsis itu.


"Kamu?"


"Iya. Aku juga kan sahabat kamu yang paling baik, kan, kan?? Maka nya. Jangan sia-sia in aku cuma untuk makan satu potong es krim pelangi ini. Tambah juga dong waffle berry ice cream sama es krim durian juga! Pokok nya kamu yang traktir ya, Ann! Kamu kan sekarang punya uang jajan yang lebih besar pastinya dari aku." Ucap Karina usai menghabiskan potongan terakhir dari es krim pelangi di depannya.


"Hihihi.. iya Rin Rin cantik.. makasih loh udah jadi sahabat aku yang paaling baik!" Ucap Tasya seraya menyodorkan potongan terakhir es krim pelangi miliknya ke mulut Karina.


Dua sahabat itu pun melanjutkan percakapan mereka hingga pesanan es krim mereka kembali datang untuk Karina bawa pulang. Setelahnya, barulah keduanya pulang. Dengan Karina yang mengantarkan Anna pulang menuju penthouse nya.

__ADS_1


***


__ADS_2