
[Catatan: ini masih flash back ttg Anna yang sebenarnya ya dear. Inilah yang terjadi pada Anna, sewaktu ia pergi dari bumi untuk menyusul Papa Jordan ke Nevarest..
ohya, terima kasih juga yaa untuk all readers yg udh sedekah like, good rate, vote, komen, hadiah, kritik, saran dan support.
i really appreciate it. soo much thank you.🥰😘😘
may Allah bless your life, body, and family forever and ever. aamiin ..(smg Allah merahmati kehidupan, jasmani, dan keluarga kalian yaa..)
ok deh, happy reading .🙏🙏🥰
salam hangat,
Thor Meli.]
***
Sudah 10 menit berlalu sejak Anna mengikuti kakek pengumpul ranting, memasuki hutan. Perlahan rona merah matahari mulai membayang di antara celah-celah pepohonan nan tinggi.
Suara burung-burung di kejauhan pun tertangkap oleh indera pendengaran Anna. Pertanda kepulangan burung-burung itu menuju sarangnya masing-masing.
Para serangga pun ikut bersenandung merdu. Seolah mengadakan perayaan usai terbangun dari tidur siangnya.
Angin dingin menelisik lembut, melewati Anna. Membuat bulu di lengan dan kaki Anna meremang berdiri. Padahal Anna sudah sengaja memakai celana jin, serta jaket jin yang menutupi kaos krem lengan panjang.
Meski begitu, Anna menangguhkan dirinya. Ada tujuan yang harus ia capai, jadi tak sepatutnya ia mengeluh dan meramu resah.
Anna memperhatikan sosok kakek di depannya. Lelaki renta itu tampak tak payah, walau ia menggendong keranjang yang hampir penuh berisi ranting dan dahan pohon yang kecil.
"Masih jauh, Kek?" Anna bertanya, penasaran.
"Sebentar lagi," sahut sang kakek.
Setelah mendapat jawaban yang menenangkan, Anna pun diam. Ia tak lagi bertanya-tanya lagi setelahnya.
Anna memang tak terlalu suka banyak bicara. Ia lebih menyenangi keheningan dibandingkan keramaian.
Dalam hening, Anna bisa lebih mudah belajar. Dan dalam hening pula Anna bisa bertafakur (berpikir) tentang banyak hal.
Anna adalah seorang yang mandiri. Entah sejak kapan ia terbiasa melakukan hampir segalanya sendiri. Mungkin oleh sebab Papa Jordan yang lebih sering pergi show atau syuting. Meninggalkan Anna berdua dengan adik tirinya, Dodi di rumah.
__ADS_1
Dodi pun nampaknya sama seperti Anna, seorang introvert. Jadi walau keduanya sering makan malam bersama hampir setiap hari, tak banyak perbincangan yang terjadi di antara mereka.
Anna lebih senang sibuk dalam dunia piano dan balet yang ia sukai. Beberapa kegiatan yang membuatnya merasakan hidup, dalam dunianya yang penuh bertabur rasa sepi.
Sekitar lima menit kemudian, tiba-tiba saja kakek di hadapan Anna berhenti. Anna yang pikirannya sempat mampir ke rumahnya di Puri Anggrek pun kemudian kaget dan ikut berhenti.
"Kita sudah sampai. Kakek hanya bisa mengantarkan sampai sini. Kakek masih ada urusan lain," ucap kakek tiba-tiba.
Anna kemudian mengikuti arah pandang kakek.
Pada mulanya Anna melihat sebuah gapura yang telah usang dan tertutupi oleh lumut dan tanaman yang menjalar dengan liar. Tampak tulisan yang tak lagi jelas karena cat nya yang telah luntur, namun masih bisa dibaca oleh Anna.
"selamat datang" isi tulisan pada gapura itu.
Lalu Anna menemukan angka tujuh yang cukup besar di sisi kanan gapura. 'mungkinkah ini pintu masuk menuju villa yang Papa maksud?' pikir Anna dalam hati.
Anna pun melangkah beberapa meter ke depan, melewati gapura. Ia lalu melesatkan pandangannya jauh, sekitar belasan meter ke depan jauhnya.
Dan, benar saja. Sebuah rumah besar tampak kokoh berdiri di antara rerimbunan pohon yang mengelilingi pekarangannya.
Merasa menemukan tempat yang ia tuju, Anna pun bergegas membalikkan badan untuk mengucapkan terima kasih pada kakek yang telah mengantarkannya. Tapi, ketika Anna berbalik, sosok sang kakek tak lagi nampak di manapun jua.
Sekelibat angin dingin melewati Anna. Membuat Anna mengeratkan pegangannya pada tali ransel yang digendongnya.
Anna merasa sedikit bingung karena ia tak melihat lagi sosok kakek yang telah membantunya tadi. Tapi kebingungannya itu tak berlangsung lama.
Tatkala suara burung gagak di kejauhan terdengar oleh Anna. Ia pun bergegas memberanikan diri untuk memasuki villa terbengkalai yang nampaknya tiada penghuni itu.
Sementara rona senja kian memerah di barat langit. Dan semburat cahayanya menyusup di antara celah dedaunan pohon yang berjarak cukup rapat.
Anna menengok jam di tangan kirinya. Pukul 17.53 wib.
"Sudah mau maghrib," desah Anna menembus keheningan malam di hutan.
***
Memasuki area villa yang terbengkalai, Anna tak merasakan gentar atau pun takut di hatinya. Ia memang sudah terbiasa melakukan perjalanan seorang diri ke tempat-tempat asing yang belum pernah ia jejaki.
Mata Anna telah berteman dengan kegelapan malam. Telinga Anna telah terbiasa menikmati lirihan dengung serangga malam. Karena dunia Anna memang telah lama berkawan dengan rasa sepi dan juga hening.
__ADS_1
Melangkah masuk, netra Anna menangkap mainan ayunan yang telah berkarat di depan rumah villa. 'Mungkin ini dulunya adalah halaman bermain untuk anak-anak,' pikir Anna.
Ayunan tersebut terlihat bergoyang pelan, di mata Anna. Menimbulkan suara derit yang anehnya, Anna sukai. Karena Anna tiba-tiba teringat momen ketika Papa mengajaknya bermain ayunan di puncak ketika mereka sedang berlibur dulu.
Mungkin Anna berumur sekitar delapan atau sembilan tahun saat itu. Kenangan manis yang masih membekas di benaknya hingga di umurnya yang ke 16 tahun sekarang ini.
Anna lalu menyeret langkahnya masuk ke area villa lebih dalam lagi. Tanah yang dijejaki Anna terasa lembab. Syukurlah Anna tak harus menerabas rumput-rumput tinggi seperti yang biasanya ada di rumah yang terbengkalai.
Mungkin ini disebabkan oleh minimnya pencahayaan yang bisa masuk ke area villa ini. Entah siapa orang yang telah membangun villa kecil seukuran rumah tipe 70 di tengah hutan ini.
Yang jelas, orang itu benar-benar menyukai keheningan hutan. Walaupun akhirnya ia meninggalkan villa ini terbengkalai, kini.
Di depan rumah, Anna mendapati bekas kolam renang yang telah mengering. Kolam itu dipenuhi oleh dedaunan kering dan basah yang berserakan tak beraturan.
Anna terus melanjutkan langkah. Hingga akhirnya ia tiba juga di depan pintu masuk villa itu. Saat itu, malam sudah benar-benar menyelimuti kawasan hutan seutuhnya. Tiada lagi biasan cahaya merah mentari dari balik dedaunan dan pepohonan.
Perlahan cahaya putih dari bulan menggantikan mentari dari singgasana langitnya. Walau tetap, cahaya yang bisa masuk menembus hingga ke kawasan villa hanya secuil saja.
Gelap pekat membayang. Namun mata Anna jernih melihat sebuah lambang aneh yang terukir di pintu masuk villa yang terbuat dari kayu jati itu.
Lambang itu berbentuk seperti aksara "ha" arab. Atau mungkin penggabungan antara angka 7 dan 6. Di tengah-tengah lambang itu, terdapat sebentuk hati berukuran sangat kecil. Saking kecilnya hingga mungkin bisa dianggap seperti titik.
Tapi Anna bisa memastikan kalau tanda itu bukanlah titik, melainkan sebentuk hati.
Merasa penasaran, Anna menyentuh ukiran lambang aneh di pintu itu. Dan, seketika itu juga, Anna mengalami kejadian paling ajaib sepanjang hidupnya.
Seolah memiliki kekuatan magis, pikiran Anna dipenuhi oleh kilatan gambar dan tempat-tempat yang tak dikenalnya. Dan Anna pun merasakan aliran hangat yang mengalir mulai dari jemari-jemarinya yang menyentuh lambang aneh di pintu itu, hingga terus mengalir ke sekujur tubuhnya.
Kilatan-kilatan peristiwa yang Anna sadari tak pernah ia miliki dan lalui pun terus berkelebat memenuhi alam sadarnya. Sampai akhirnya kilatan peristiwa itu berhenti tiba-tiba secepat kemunculannya.
Merasa sangat terkejut, Anna pun melepaskan jemarinya yang tadi menyentuh lambang aneh di pintu. Matanya menatap nanar pada lambang itu.
"Apa yang terjadi? Apa barusan aku tertidur dan bermimpi?!" Tanya Anna pada dirinya sendiri.
Anehnya, Anna sama sekali tak merasakan takut.
Dengan kepekatan malam dan keheningan hutan yang dingin lagi mencekam, Anna sungguh tak merasakan takut. Hanya sedikit rasa cemas saja yang bergumul dalam hati.
Anna cemas akan apa yang akan ia hadapi setelah ia melewati pintu di hadapannya itu. Selebihnya adalah rasa penasaran yang bercokol di hati dan pikiran Anna.
__ADS_1
Setelah bergumul dengan pikirannya sendiri, Anna pun akhirnya memantapkan langkah untuk masuk melewati pintu. Dengan pelan, diputarnya kenop pintu, dan Anna pun melangkah masuk.
***