
"Anna? Kamu gak apa-apa?" Panggilan pelan dari Karina menyadarkan Anna dari lamunannya. Saat ini keduanya berada di dalam kelas, menunggu kedatangan dosen Metodologi mereka, Pak Latif.
Anna tadi sedang mengingat saat ia pergi bersama Andrew, sekitar satu setengah jam yang lalu.
Flash back on.
Sekita satu setengah jam yang lalu, Anna diajak Andrew ke sebuah ruangan privat yang ada di salah satu kafe terkenal di Jakarta. Di sana Andrew menjelaskan kepada Anna tentang para paparazzi yang akan mulai mengusik kehidupan Anna.
Manajer Andrew yang bernama Huges menyarankan agar Anna tak terlalu mengomentari apapun yang akan diucapkan oleh para paparazzi, jika ia bertemu dengan mereka nanti. Lebih sedikit bicara, akan lebih bagus.
Anna menyukai gagasan Huges itu. Ia pun memang berniat untuk mengacuhkan para penguntit berita itu, jika kelak mereka datang ke hadapannya.
Anna tak mau bersembunyi, seperti yang disarankan oleh Andrew. Karena Anna merasa dirinya tak salah.
Tapi Andrew bersikeras membujuk Anna untuk menyembunyikan diri terlebih dahulu. Karena ia khawatir rasa penasaran para paparazzi masih terlalu besar pada hubungan mereka.
Andrew ingin mengadakan konferensi pers untuk menjawab clear semua pertanyaan tentang hubungan di antara dirinya dan Anna. Ia tak mau jika kehidupan Anna menjadi terganggu karena berita yang beredar saat ini.
Namun Huges melarangnya. Menurut manajer Andrew itu, konferensi pers yang terburu-buru malah akan semakin menarik perhatian banyak mata kepada mereka berdua. Justru orang-orang akan lebih mengira jika ada sesuatu yang berusaha ditutupi oleh mereka, melalui konferensi pers yang terburu-buru.
Pada akhirnya, Anna pun sepakat dengan manajer Huges untuk bersikap acuh pada setiap pertanyaan yang akan dilontarkan oleh para reporter kepadanya. Semoga, dengan begitu berita mereka akan jadi lebih cepat dilupakan.
Flash back end.
"Hmm? Kenapa, Rin?" Anna setengah sadar, menyahut panggilan dari Karina itu.
"Are you, okay?" Tanya Karina kembali dengan raut khawatir yang terpatri jelas di wajahnya.
Anna mengerjap beberapa kali, sebelum akhirnya menjawab kekhawatiran di wajah Karina itu dengan sebuah senyuman hangat. "I'm okay, Rin.. Memangnya kenapa?" Tanya Anna merasa bingung.
Karina nampak ragu untuk bertanya kembali. Sehingga Anna pun menyemangatinya.
"It's fine.. just told me, Rin..( gak apa-apa. Bilang aja ke aku, Rin)" ucap Anna menyemangati.
"Kamu lagi berantem sama Andrew?" Tanya Karina pada akhirnya.
"Hmm.. Gak berantem juga sih.. Bisa dibilang, aku memang enggak cocok sama dia. Jadi, yaa.. gitu deh!" Sahut Anna cuek.
"Kalian masih ngelanjutin pernikahan atas dasar kontrak, Ann? Kamu kan tahu kalo itu tuh enggak dibolehin di agama kita!" Tegur Karina dengan suara berbisik.
__ADS_1
Anna akhirnya menyadari dasar kekhawatiran Karina atas hubungannya dengan Andrew. Ia hampir saja lupa kalau sahabatnya itu masih mengira kalau Andrew adalah suaminya.
"Karina! Kamu benar-benar salah paham besar soal hubunganku dan Andrew. Jadi sebenarnya Andrew itu.."
"Selamat siang, anak-anak!" Suara Pak Latif, dosen metodologi Pendidikan mereka terdengar menyapa.
Anna dan Karina spontan menghentikan pembicaraan mereka dan memfokuskan perhatian mereka pada dosen merek itu.
Tapi, ketika Pak Latif masih mengabsen, Anna menyempatkan diri menuliskan pesan untuk Karina pada selembar kertas.
Isinya, 'Andrew itu bukan suamiku, Rin.. Aku dan dia itu cuma kebetulan ketemu aja di Lombok waktu minggu lalu.'
Selesai membaca pesan dari Anna itu, Karina langsung menoleh kepada Anna. Mulutnya membisikkan tanya, "Then who's your hubby?"
"hmm?"
"Your hubby. who is he?" tanya Karina kembali.
"Oh.. Daff. His name is Daffa Scholinszky," jawab Anna dengan bisikan pula.
Setelah itu Anna langsung memfokuskan perhatiannya kembali ke depan kelas. Ia tak melihat ekspresi terkejut yang sempat muncul di wajah Karina saat mendengar Anna menyebutkan nama suaminya itu.
***
Selesai perkuliahan metodologi, Anna kembali melanjutkan jualan donat nya yang masih tersisa hampir satu boks. Siang tadi karena ia pergi bersama Andrew, Anna jadi tak sempat menjajakan donatnya lama-lama. Sehingga sisa donat yang belum terjual pun masih ada cukup banyak.
Sebelum berpisah, Anna sempat berpamitan kepada Karina. Yang anehnya dijawab dengan ucapan "ya" pelan. Tak seperti biasanya Karina yang akan memeluknya singkat terlebih dahulu sebelum berpisah.
Tapi Anna tak memusingkan sikap Karina itu. Karena terkadang Karina memang abai dengan sekelilingnya jika ada hal yang sedang mengusik pikiran temannya itu.
Anna lalu menjajakan donatnya ke mushola yang ada di lantai tiga. Seraya menunggu waktu ashar tiba.
Sekitar jam empat, donat di boks masih tersisa tiga. Anna lalu teringat pada Daffa yang pernah ingin mencicipi donat jualannya namun belum sempat hingga saat ini. Pada akhirnya sisa donat yang ada itu pun ia bungkus untuk dibawa pulang.
Anna lalu pergi ke lantai satu untuk mengembalikan boks yang kini telah kosong. Di sana, Anna akhirnya bertemu dengan Melvi.
"Anna! Lama gak jumpa!" Sapa Melvi seraya memeluk Anna dengan erat dan singkat.
Anna membalas balik pelukan Melvi dengan hangat.
__ADS_1
"Iya. Seminggu kan ya aku gak masuk," sahut Anna dengan ramah.
"Kamu katanya married? Beneran itu?" Tanya Melvi penasaran.
"Iya. Alhamdulillah.." sahut Anna malu-malu.
"Oo.. alhamdulillah.."
"Kok kamu tahu, Mel? Rasa-rasanya aku belum nyebarin sih. Paling nanti pas resepsi aja baru ngundang.." ucap Anna kembali.
"Iya. Denger-denger aja sih dari kabar angin. Kayak gak tahu aja. Kupingku ini kan antena nya banyak say di mana-mana," seloroh Melvi penuh canda.
"Hahaha.. bisa aja kamu, Mel!"
"Bisa lah.. Melvi gitu loh.. eh, tapi nanti undang aku juga ya! Gak pake lupa! Pokoknya harus ngundang!" Tuntut Melvi.
"Iyaa.. insya Allah nanti aku undang deh semua temen-temen di Donateli."
Donateli adalah merek donat yang dijual oleh Anna dan Melvi.
"Memangnya acara resepsinya kapan, Anna?" Tanya Melvi penasaran.
"Hmm.. Belum nentuin sih.. tapi nanti aku kabarin lagi deh ya!" Ucap Anna menyanggupi.
"Eh, itu bukannya temen kamu, siapa itu, Karina ya?" Tunjuk Melvi ke belakang Anna.
Anna pun berbalik dan ia memang mendapati sosok Karina yang baru keluar dari lift. Spontan, Anna pun memanggil sahabatnya itu.
"Karina!" Panggil Anna.
Karina lalu menengok ke arah Anna. Dan lalu, secepat kilat memalingkan wajahnya. Membuat Anna tertegun kebingungan.
"Dia barusan ngelihat kamu, kan?" terdengar suara Melvi bertanya, di samping Anna.
"..."
Anna masih tertegun dalam diam, memikirkan sikap Karina tadi. Ia jelas-jelas menangkap raut tak suka di wajah sahabatnya itu. Dan rasa tak suka itu, Anna rasakan tertuju kepadanya.
'Apa yang sebenarnya terjadi pada Karina? Kenapa dia menatapku dengan pandangan tak suka?' batin Anna bergumul dalam resah yang bertamu tiba-tiba.
__ADS_1
***