
~Rumah adalah tempat ke mana hati selalu ingin pulang..~
***
Melewati pintu, Jordan mendapati dirinya berada dalam satu ruangan besar. Dalam ruangan itu hanya terdapat sebuah meja dengan beberapa buku di atasnya, serta pintu ajaib yang baru saja ia lewati.
Seketika Jordan ingin menangis. Ia mengenali tempat ini. Ruangan ini adalah ruangan terasing di menara tinggi istana Nevarest.
"Akhirnya aku kembali pulang.."
Jordan jatuh terduduk dan menangis. Ia menangis cukup lama hingga kedua matanya terlihat sembab oleh air mata. Setelah ia puas menangis, ia pun kembali bangkit.
Dengan tergopoh-gopoh ia melangkah keluar ruangan itu. Entah berapa anak tangga ia lewati sampai akhirnya ia turun dan tiba di luar menara.
Saat itu ada seorang penjaga istana yang sedang duduk dan memakan baladi.
(Baladi adalah sejenis roti setengah kering yang berbentuk lonjong).
Penjaga itu awalnya tak menyadari kehadiran Jordan. Tapi setelah Jordan makin dekat, penjaga itu langsung waspada dan menodong Jordan dengan ujung tombak yang dipegangnya.
"Siapa kau, berani menyusup ke kawasan terlarang istana Nevarest!?" Hardik sang penjaga istana.
"Lancang! Aku adalah Jordan, rajamu. Beraninya kau menunjukku dengan tombakmu!" Balas Jordan menghardik penjaga itu.
Penjaga itu nampak kebingungan. Sejenak ia memperhatikan penampilan Jordan. Saat itu Jordan mengenakan setelan Jas berwarna silver. Pakaian yang dikenakannya itu tampak aneh di mata penjaga istana.
'Pakaian orang ini terlihat aneh,' pikir sang penjaga istana.
"Jangan membual, kau penyusup! Raja Jordan kami telah bertahun-tahun yang lalu wafat. Jadi jangan kau mengaku sebagai dirinya!" Hardik penjaga istana itu kembali.
"Lancang sekali kau! Mengatakan aku telah wafat. Akan kupenggal kau nanti.!" Amuk Jordan.
Tak ingin bicara dengan 'penyusup berpakaian aneh' itu lagi, penjaga istana itu pun menodong punggung Jordan dengan tombaknya. Lalu menyuruhnya ke suatu tempat.
Mulanya penjaga itu hendak membawa Jordan ke dalam penjara. Tapi kemudian ia teringat dengan titah sang ratu saat ratu menugaskannya menjaga menara tertinggi di Nevarest itu.
"Kau harus menjaga menara tertinggi itu siang dan malam. Jangan boleh ada orang lain memasuki menara itu. Jika ada seseorang yang tiba-tiba keluar dari dalam menara, bawa orang itu segera kepadaku," Ucap sang ratu saat itu.
Penjaga istana itu pun membelokkan langkahnya menuju balairung. Ia akan membawa penyusup aneh ini ke sana.
"Hey! Aku ini sungguh Raja Jordan."
"Ya.. ya.. Dan aku adalah Raja Asgar, ayah mertuamu. Jadi sekarang kau harus ikut aku," Cemooh sang penjaga istana.
"Beraninya kau mengaku sebagai Ayahanda Yang Mulia! Akan kupenggal kau nanti!" Hardik Jordan kembali.
"Sudah! Jangan lagi bicara! Diam dan ikuti aku!' seru penjaga istana itu.
Merasakan penjaga istana itu tak main-main dengan ujung tombaknya, Jordan pun memilih untuk mengikutinya dalam diam.
***
__ADS_1
Keduanya lalu sampai di depan pintu balairung istana. Sesampainya di sana penjaga istana yang membawa Jordan lalu menyapa penjaga di depan balairung istana.
"Robust, aku menangkap penyusup berpakaian aneh di sekitar menara tertinggi. Tolong sampaikan penemuanku ini kepada ajudan Ratu Anna," Ucap penjaga yang menangkap Jordan.
Penjaga bernama Robust itu sekilas melirik Jordan. 'Benar. Pakaiannya memang aneh,' Robust membatin dalam hati.
Robust pun mengangguk dan berlalu pergi.
Sekitar 20 menit kemudian, Robust kembali dengan tergesa-gesa dan bicara dengan gugup.
"Tayon! Ratu.. ratu menitahkan untuk segera membawa orang ini langsung ke Puri Anggrek, tempat tinggal Yang Mulia Ratu!"
Tayon, penjaga yang tadi menangkap Jordan terlihat terkejut dengan kabar ini.
"Apa aku tak salah dengar? Bagaimana bisa Yang Mulia mengijinkan pengusup ini dibawa ke sana?" Tanya Tayon keheranan.
"Jangan tanyakan itu padaku! Segera bawa orang ini ke sana.." Robust lalu mendekati Tayon dan berbisik ke telinganya.
"Kau sepertinya harus hati-hati dalam bersikap terhadap penyusup ini, Tayon. Sebab tadi aku mendengar Yang Mulia Ratu memekik dan mengatakan 'itu pasti ayah!' 'itu pasti ayah!".
Seketika wajah Tayon memucat. Ia mengingat tadi ia sudah bersikap cukup kasar pada penyusup ini.
Tayon menelan ludah, lalu dengan nada yang lebih sopan, ia berkata pada Jordan.
"Tuan, mari ikut saya menemui Yang Mulia Ratu."
Melihat sikap penjaga yang menangkapnya sudah berubah, Jordan mendengus. Kali ini ia melangkah dengan sikap yang lebih gagah.
"Aku tahu di mana puri Anggrek berada. Kau tak perlu menodongku dengan tombak mu lagi!" Ucap Jordan dengan ketus.
Tayon terlihat mengkerut. Hatinya mulai was-was dengan fakta yang akan ia hadapi di puri Anggrek nanti.
***
Jordan melangkah melewati taman istana Nevarest yang sangat luas. Berkali-kali ia berbelok dan meninggalkan bangunan-bangunan kecil di belakangnya.
Bangunan yang ditinggalkannya itu antara lain balairung tempat pertemuan dengan para pembesar kerajaan, perpustakaan istana, balai obat, serta bangunan-bangunan istana lainnya.
Setelah Jordan melewati tikungan terakhir, ia pun sampai juga di depan puri Anggrek. Dulu, puri ini adalah kediaman Jordan dan Elva sebelum mereka naik tahta menjadi raja dan ratu.
Tapi kini, mendengar percakapan kedua penjaga istana tadi. 'Sepertinya Elva kembali tinggal di sini. Kenapa ia tak lagi tinggal di Puri Utama? Bagaimana dengan putri mereka Tasya dan Zizi?'
Jordan tak sabar ingin menjumpai keluarga kecilnya itu. Maka ia pun bergegas memasuki puri Anggrek di depannya.
Memasuki Puri Anggrek, beragam jenis tanaman anggrek bermekaran menyambut penglihatan Jordan.
Matanya lalu menangkap sosok seorang wanita muda berusia awal 20 an. Wanita itu mengenakan baju kebesaran khusus yang diperuntukkan bagi seorang ratu Nevarest. Gaun berwarna merah keemasan dengan tiara emas yang tersemat di atas kepalanya.
Jordan terkejut saat mengamati wajah wanita itu lekat-lekat. Keterkejutan yang sama yang juga terlihat di wajah wanita itu saat melihatnya masuk ke dalam puri Anggrek.
"Papa!" Panggil wanita yang berpenampilan bak ratu itu.
__ADS_1
Jordan mengira-ngira identitas ratu di hadapannya.
"Apa itu engkau, putriku Tasya?" Tanya Jordan perlahan.
Sang Ratu menggeleng pelan. Ia mendekati Jordan secara perlahan, lalu berkata.
"Kenapa Papa lama sekali baru datang? Sudah lima tahun Anna menunggu papa di Nevarest. Anna pikir, Anna tak akan bertemu Papa lagi."
Jordan mengerjap kebingungan.
"Anna? Kau bukan Anna. Putriku Anna ada di dunia lain. Ia masih tinggal di rumah kami di sana bersama Ira dan Dodi," Sanggah Jordan.
Anna kembali menggeleng seraya menahan tangis.
"Tidak, Pa.. setahun setelah Papa pergi, Anna menyusul Papa ke sini. Tapi saat Anna tiba di sini, Papa belum datang. Anna kira kita tak akan bertemu lagi. Tapi syukurlah Papa sekarang sudah datang," Jelas Ratu Anna.
Jordan masih mencerna semua informasi yang didengarnya. Ia lalu teringat dengan nasihat Abida, pengelana waktu yang ditemuinya di Dunia Enam Pintu.
"Jangan kaget jika kelak kamu kembali ke dunia asalmu, waktu sudah berlalu bertahun-tahun lamanya. Karena terdapat perbedaan waktu antara dunia Enam Pintu ini dengan dunia lainnya," ucap Abida saat itu.
Jordan terhenyak. Seingatnya, beberapa jam yang lalu ia bertemu dengan Anna. Saat itu putrinya baru berumur 15 tahun.
Tapi melihat fisik Anna saat ini, Jordan tak bisa menyebut kalau putrinya itu masih Anna-nya yang masih remaja.
"Berapa umurmu sekarang, Anna?" Tanya Jordan kebingungan.
"21 tahun, Pa.." jawab ratu Anna.
"Apa?! 21 tahun?" Jordan setengah berteriak antara percaya dan tidak, mendengar jawaban Anna itu.
"Lalu.. bagaimana dengan Mama mu. Dimana Elva? Kenapa kamu bergelar ratu? Bukankah seharusnya kamu masih menjadi putri? Dimana juga Tasya dan Zizi? Saudaramu yang lain?" Tanya Jordan bertubi-tubi.
Ratu Anna memegang tangan Jordan dan menuntunnya perlahan memasuki salah satu ruangan di dalam puri Anggrek itu.
"Ceritanya panjang, Pa.. Kondisi Mama sekarang sedang tidak baik. Mama berada di paviliun utama."
"Ada apa dengan Elva?!" Tanya Jordan dengan panik.
"Nanti kita akan ke tempat Mama, Pa. Tapi.." ucap Ratu Anna dengan ragu.
"Tapi apa, Anna? "
"Sejak Anna sampai di Nevarest, Anna belum pernah bertemu dengan Tasya ataupun Zizi," Aku sang Ratu.
Jordan seketika membeku. Tiba-tiba saja ia mempunyai perasaan yang tak enak terkait kedua putrinya yang kain.
"Apa yang terjadi pada dua saudarimu, Anna?" tanya Jordan dengan suara lemah.
"Tasya dan Zizi menghilang sejak enam tahun yang lalu. Mama mengira, mereka mungkin mencari kita di dunia yang lain."
"Apa?!"
__ADS_1
***