
Di rumah Putih di pesisir pantai..
Tasya berusaha melepaskan diri dari kurungan kedua tangan Frans. Namun usahanya berakhir sia-sia.
Jantungnya berdegup kencang saat rasa takut itu mulai datang kembali menyergap nya. Namun Tasya berusaha menepis jauh rasa takut itu. Hatinya begitu yakin pada suaminya, Daffa. Bahwa suaminya itu akan kembali menyelamatkannya, entah dengan cara bagaimana.
Syukurlah, di saat Frans baru mulai menjamahi tubuh Tasya, tiba-tiba saja terdengar dering ponsel milik pemuda itu di samping sofa.
Mulanya Frans mengacuhkan panggilan telepon itu. Namun, setelah suara dering itu sempat berhenti, dan lalu berdering lagi, akhirnya Frans menghentikan aksi mesum nya terhadap Tasya dan meraih ponsel yang tergeletak begitu saja di samping nya.
Secepat kilat, Tasya pun memanfaatkan kesempatan itu hingga akhirnya ia bisa berhasil melepaskan dirinya dari Frans.
"Kau menggangguku, Sayang! Baru saja aku mau menyantap makan siang ku!" Ucap Frans mengawali pembicaraan, pada seseorang di seberang telepon.
"..."
"Apa?! Bagaimana bisa?!" Frans terlihat sangat terkejut dengan apa yang disampaikan oleh orang di seberang telepon.
"..."
"Sial! Keparat itu benar-benar licik! Baiklah, aku akan pergi sekarang juga! Kau juga, jaga dirimu sendiri! aku akan menghubungimu lagi jika situasinya sudah aman!" tutur Frans setengah berteriak.
Frans menutup panggilan telepon nya. Lalu menatap tajam pada Tasya yang kini sedang berusaha memecahkan kaca lebar yang menempel pada jendela rumah ini.
Seketika itu juga amarah Frans mulai naik. Ia tak menyangka akan menerima berita buruk secara tiba-tiba. Padahal semuanya baik-baik saja sedari tadi.
Frans memandang geram pada Tasya, yang sepertinya juga tahu dengan apa yang telah dilakukan oleh suami nya itu. Maka segera saja, ia melangkah cepat ke arah Tasya. Yang masih berusaha memecahkan kaca tebal anti peluru, dengan pajangan patung seukuran sepanjang lengannya.
"Dasar kau, *******! Apa yang sebenarnya kalian rencanakan?!" Frans menghardik Tasya seraya menjambak sebagian rambut panjang wanita itu.
__ADS_1
"Aww!!" Seketika itu pula Tasya mengaduh, merasakan sakit di bagian kepalanya yang rambutnya ditarik kasar oleh pemuda itu.
"Kau pasti tahu, pada rencana suami mu itu kan, *******?! Karenanya kau begitu berani datang ke sini seorang diri. Untuk mengalihkan perhatian ku hingga aku lalai dalam mengawasi gerak-gerik Eagle keparat itu!"
Frans menarik paksa rambut Tasya menuju pintu keluar. Membuat Tasya merasakan peras dan sakit yang teramat sangat di bagian kepalanya, seraya mengikuti langkah Frans dengan langkah yang terseret-seret.
Frans lalu menggedor pintu nya berkali-kali. Hingga kemudian Bob datang tergesa dan membuka pintu nya. Begitu Bob membuka pintu, Frans memberikan titah pada lelaki bertubuh kekar itu.
"Keluarkan White Shark! Kita pergi dari pulau sekarang juga! Bawa juga semua amunisi terbaik milik kita!" Titah Frans kepada Bob.
"Roger, Boss!" Sahut Bob dengan muka tegang, sebelum akhirnya berlari ke arah belakang rumah.
Setelahnya, masih dengan tangan yang menarik paksa rambut Tasya, Frans pun melangkah cepat menuju bibir pantai.
"Eagle keparat! Licik! Culas!"
Frans menyumpah-nyumpah di setiap langkah yang diambilnya menuju bibir pantai. Menyeret serta Tasya yang berusaha melepaskan rambutnya dari jeratan genggaman tangan Frans.
Bruk!
Frans melempar kasar Tasya ke pasir pantai.
Membuat Tasya mencium pasir putih pantai yang sepi dari penghuni itu.
Perut Tasya perih merasakan lapar. Namun rasa nyeri di kepalanya lebih menyiksa wanita muda itu berkali-kali lipat dari rasa lapar yang dirasakan nya.
"Katakan padaku! Apa sebenarnya yang telah kalian rencanakan, hah?!" Frans tiba-tiba membungkuk di depan Tasya. Tangannya mencengkeram dagu Tasya dengan begitu erat. Hingga Tasya pun merasakan nyeri akibat sentuhan Frans itu.
Meski begitu, Tasya memaksakan dirinya untuk bisa tetap tersenyum. Saat ia menyaksikan Frans yang terlihat sangat kesal dan marah usai ia bertelepon entah dengan siapa tadi.
__ADS_1
Senyuman Tasya itu, pada akhirnya makah memancing emosi Frans hingga kembali tersulut. Sampai kemudian, pemuda itu tiba-tiba saja membanting kepala Tasya kembali ke pasir pantai hingga terdengar bunyi gedebuk.
Frans lalu menimpa tubuh Tasya dan mengurung wanita itu di bawah tubuh nya sendiri.
Kemudian, tiba-tiba saja, Frans yang sudah kalap mata langsung saja membuka paksa baju gamis yang dikenakan oleh Tasya. Kebetulan saja gamis yang dikenakan oleh Anna memang memiliki bukaan resleting di bagian depan. Sehingga memudahkan aksi brutal yang dilakukan oleh Frans itu.
"Tidak! Jangan!" Tasya seketika berusaha merapatkan kembali bukaan baju nya itu. Namun dengan seluruh nyeri yang dirasakannya pada bagian paha yang ditimpa oleh Frans, membuat Tasya tak memiliki banyak energi tersisa.
Kepala Tasya pun masih merasakan denyut nyeri akibat benturan kencang yang dilakukan oleh Frans tadi.
Sementara itu, pandangan Tasya separuhnya tertutupi oleh rambutnya yang lembab dan menempel acak-acakan pada wajahnya. Sehingga Tasya tak menyadari ketika frans tahu-tahu sudah mendekatkan mulutnya ke pinggir telinga kanan Tasya.
Dan pemuda itu pun lalu berbisik, "Aku akan memberikan mu pelajaran, Cantik! Tak ada yang boleh macam-macam dengan kekuasaanku! Dan eagle keparat mu itu akan menangis-nangis saat melihat penampilan istrinya nanti usai aku menikmati tubuhmu. Bobbi!" Ancam Frans dengan bisikan mengerikan, yang kemudian lanjut memanggil anak buahnya, Bob.
Tak berselang lama, Bob pun berlari mendekat. Tasya tak bisa melihat senjata laras panjang yang telah tersampir di bahu kekar Bob. Ia juga tak bisa melihat pistol kecil yang bertengger pada sabuk di pinggang Bob.
Yang Tasya rasakan saat ini hanyalah kengerian terhadap apa yang akan dilajukan oleh Frans sesaat lagi. Dalam hatinya ia menjerit memohon pertolongan agar Daffa segera datang menyelamatkannya dari situasi pelik ini.
"Ambil ponsel dan rekam kami!" Frans kembali memberikan perintah pada Bob.
"Akan kubuat suami mu itu menangis saat melihat tubuh istrinya berubah jadi seonggok daging murahan yang bisa kunikmati sesuka hati! Qiqiqiiqiii...!!" Frans kembali terkekeh mengerikan.
Membuat alarm merah kembali berbunyi nyaring di benak Tasya.
"Tidak! Jangan!" Satu tangan Tasya berusaha mendorong Frans menjauh, sementara satu tangannya lagi berusaha menutupi bagian depan bajunya yang telah terbuka.
Namun Frans tetap berhasil menahan kedua tangan Tasya hingga memegangnya erat di atas kepala wanita itu hanya dengan satu tangannya saja. Sementara tangan yang lain sibuk merobek bukaan depan baju gamis yang dikenakan oleh Tasya hingga jadi lebih lebar lagi.
"Daff! Daffa!!" Tasya meneriakkan nama sang suami, di antara gelombang nyeri dan jurang ke putus asaan yang mulai mengancamnya kini.
__ADS_1
***