
"Setelah kau menjauh dari sini, kau harus melepaskan Tasya, Frans. Anak buah ku akan mengikutimu dari jarak jauh. Jadi kau tak akan bisa pergi sebelum melepas istri ku!" Ancam Daffa.
"Ya. Ya. Ya. Berisik sekali sih kau ini! Jika sudah sampai di daratan, Tasya baru akan ku lepas. Tenang saja!" Janji Frans seraya menatap senang pada speedboat yang kini sudah turun ke lautan.
Daffa memandang Tasya dalam diam. Yang dibalas oleh Tasya dengan hubungan telepati.
'Kamu yakin, rencana mu ini aman, Sayang? Aku takut..' ucap Tasya lewat telepati.
'Tenanglah Tasy. Ikuti saja seperti kata-kata saya tadi. Ingat, kamu harus menahan posisi tanganmu yang terborgol selama lima detik saja saat kamu sudah akan menjejak ke lantai dek dasar!' Daffa mengingatkan.
'Baiklah..'
"Ayo, Cantik! Hmm.. sebaiknya mungkin kau yang turun terlebih dulu!" Frans memberi titah.
Tasya mengikuti dorongan kasar pada bahu nya. Dengan jantung yang berdegup kencang, Tasya menuruni tangga dengan langkah yang sangat pelan. Sampai-sampai membuat Frans jadi hampir kehilangan rasa sabar.
"Cepatlah Cantik! Kau ini siput atau apa hah?!" Hardik Frans kepada Tasya.
Daffa mengepalkan tangannya erat saat Frans memarahi Tasya. Ia berusaha menahan diri untuk tidak menerjang Frans saat ini juga. 'Bajingan kau, Frans!' umpatnya dalam hati.
Dengan langkah yang lebih cepat dari gerakan awalnya, Tasya menuruni tangga. Sementara itu Frans mengikuti Tasya tak jauh di dua anak tangga di atas nya. Tangan kanan Frans yang terborgol kini memegang pistol dan mengarahkannya ke arah Tasya.
Frans berjaga-jaga jika ada yang berani menembak, maka ia pun tak segan untuk menarik pelatuk nya ke arah Tasya. Jika ia mati, maka Tasya pun harus mati bersamanya. Pikirnya begitu.
Tasya menunduk, dan melihat kalau ada satu anak tangga lagi sebelum kakinya menjejak ke dek dasar.
Dengan hati yang berdebur kencang, Tasya sedikit mengangkat tangannya yang terborgol dengan tangan Frans. Mengikuti arahan dari sang suami. Dalam hatinya ia memilin doa, semoga tim penembak sang suami tak akan meleset mengenai tangannya atau malah perutnya.
Ba dump. Ba dump.
Satu detik. Dua detik. Tiga detik.
Dan tiba-tiba saja Tasya merasakan sesuatu melesat di antara borgol yang mengikat tangannya dan juga Frans. Saat ia merasa tangannya terbebas, Tasya langsung berlari ke dalam lorong di antara kabin-kabin yang ada di lantai dasar. Tanpa menghiraukan Frans yang masih terkejut dengan apa yang baru saja terjadi.
__ADS_1
Frans mulai menyadari adanya hal yang tak beres manakala ia melihat Tasya berlari menjauhinya.
"Sial!"
Seketika itu juga Frans melompat dan menembakkan pistol nya ke arah punggung wanita itu.
Tapi tiba-tiba saja muncul penjaga di belakang Tasya. Dan tembakan Frans mengenai pundak penjaga itu. "Brengsek!"
Frans kembali menembakkan peluru secara asal ke arah punggung Tasya yang masih juga berlari. Dan Frans lalu bersembunyi di belakang tempat sampah saat ia menyadari adanya sniper yang tadi sempat berhasil menembakkan pelurunya ke borgol di tangannya.
Tak ayal, Frans pun tak jadi mengejar Tasya karena adanya selongsong peluru yang diarahkan ke pintu masuk lorong tempat Tasya berlari pergi.
"Eagle keparat!" Umpat Frans kembali.
Pistol di tangan Frans telah kehabisan peluru. Dengan asal, dilemparkannya pistol itu ke sembarang tempat. Dan ia mengeluarkan satu pistol lagi yang ia sembunyikan dari dalam saku baju nya.
Sebuah peluru melesat dari atas Frans. Hampir saja mengenai kepalanya. Namun Frans berhasil menghindar dan berlari zig zag demi menghindari tembakan peluru dari sisi atas dan sisi Timur.
Frans kembali mengumpat. Dan kini ia putuskan untuk pergi ke satu-satunya yang bisa membawanya pergi dari tempat ini. Speedboat.
Tungkai kakinya sebenarnya sudah sangat letih, namun adrenalin memacu langkah nya untuk terus melaju.
Dan Frans pun langsung melepas dua tembakan ke tali yang mengikat speed boat pada kapal yacht ini. Baru setelahnya ia melompat ke speedboat dan menghidupkan mesin.
Desing!
Sebuah peluru lagi-lagi hampir menyasar mengenainya. Namun Frans buru-buru menunduk dan menarik pedal gas di tangannya.
Dengan jantung yang berdebum kencang, Frans akhirnya bisa menjauhi kapal yacht dengan speedboat rampasannya.
Sesekali masih ada tembakan peluru yang menyasar ke bagian badan speedboat. Namun Frans yang memang lihai memainkan speedboat akhirnya berhasil melepaskan diri.
"Hahahahaha! Lihat itu Eagle! Aku bisa lepas dari mu! Kau dan pasukan mu itu tak akan berhasil menangkapku! Hahahahaha!!" Frans tertawa terbahak-bahak kala melajukan speedboat nya dengan kecepatan yang di ambang batas.
__ADS_1
Sementara itu di atas kapal yacht, Daffa menyesalkan karena Frans bisa melepaskan diri.
Daffa menyerahkan pistol yang tadi ia gunakan untuk menembaki Frans kepada anak buahnya yang berdiri di belakang nya. Baru setelahnya ia menanyakan kabar sang istri lewat earphone.
"Bagaimana dengan Madam?!" Tanya Daffa dengan nada genting pada earphone nya.
"Madam aman, Tuan. Dua penjaga terluka karena menerima peluru di bagian punggung saat Madam berlari melepaskan diri tadi. Tapi karena adanya rompi peluru, luka mereka hanya memar-memar saja," lapor anak buah Daffa.
"Syukurlah! Amankan Madam ke tempat yang sudah direncanakan dan jaga Madam!" Daffa memberi titah.
"Siap, Pak!"
Beberapa detik kemudian..
"Lapor Pak! Terjadi sesuatu dengan speedboat yang dikendarai oleh target. Tadi terlihat ada sosok wanita yang muncul di kursi belakang speedboat dan melakukan sesuatu terhadap target. Keduanya terlihat bertikai dan speedboat pun jadi tak terkendali. Speedboat terbalik mati," lapor anak buah Daffa kembali.
Daffa mengerutkan kening. Berusaha menebak identitas wanita yang dimaksud dalam laporan anak buahnya tadi. Lalu, tiba-tiba saja ia terpikirkan satu sosok wanita.
"Siapapun! Cek kabin nomor 472. Apakah Nona Karina masih ada di kamarnya atau tidak?! Dan segera kirim pasukan untuk menuju titik lokasi terbaliknya speedboat tadi. Sekarang juga!" Titah Daffa dengan nada mendesak.
"Siap Pak!"
Daffa mengepalkan tangannya erat-erat. Ia berharap tebakannya salah. Ia berharap bukan Karina yang berada di atas speedboat bersama Frans tadi. Karena jika Tasya sampai mengetahuinya, istri nya itu pasti akan sedih sekali.
"Lapor! Nona Karina tak ada di kamar nya!" Lapor anak buah Daffa melalui earphone.
"Cari kembali Karina dan telusuri seluruh ruangan di atas kapal. Laporkan jika ada perkembangan berikutnya!"
"Siap, Pak!"
Tak. Tik. Tak. Tik.
Daffa sebenarnya sudah ingin langsung menyusul ke tempat istrinya berada kini. Tapi dengan adanya perkembangan baru ini, Daffa merasa tak yakin bisa menyembunyikan fakta hilangnya Karina pada sang istri.
__ADS_1
Daffa memutuskan untuk memastikan kondisi Karina terlebih dahulu sebelum ia menjemput istrinya kembali. "Tasya Sayang.. tunggu saya.." gumam Daffa dengan hati dirundung gelisah.
***