Cinta Sang Maharani

Cinta Sang Maharani
Ambruk


__ADS_3

Tasya terbangun sekitar jam lima sore. Ia merasa lebih segar kini usai mengistirahatkan diri. Di sampingnya, Daffa terlihat masih pulas tertidur. Melihat wajah tampan suaminya yang terlihat damai kala tertidur, membuat Tasya jadi tak tega untuk membangunkannya.


Alhasil, Tasya pun bangun sendiri dan memutuskan untuk menemui Karina seorang diri. Dan, setelah dipikir-pikir lagi, mungkin memang ia menemui Karina sendirian saja. Khawatir jika ia pergi bersama Daffa, Karina malah akan merasa canggung.


Tasya tahu, di dalam hati sahabatnya itu, ada sebagian kecil perasaan cinta yang tersisa untuk sang suami. Karenanya, Tasya ingin menjaga hati Karina dari merasa terluka kala melihat kebersamaannya dengan Daffa untuk sementara waktu.


Tasya yakin, seiring dengan berjalannya waktu, Karina akan bisa melupakan rasa cintanya kepada Daffa. Dan persahabatan mereka akan kembali normal seperti sebelum-sebelumnya.


Dengan berjingkat pelan, Tasya melihat pantulan dirinya di cermin. Ia kini mengenakan baju dress sepanjang betis berwarna putih gading, dan bermotif floral. Merasa penampilannya cukup sopan, Tasya langsung saja melangkah keluar dari kamar nya dan Daffa.


Sedikit tersesat saat mengitari lorong-lorong di kapal yacht, Tasya akhirnya berhasil menemukan ruangan tempat Karina beristirahat. Tentunya setelah ia menanyakannya kepada salah satu penjaga yang ia temui di jalan.


Dengan hati berdebar, Tasya mengetuk pintu kamar Karina.


Tok. Tok.


Tok. Tok.


Namun, tak ada sahutan dari dalam kamar.


Tasya lalu menempelkan telinganya ke daun pintu dengan perasaan malu. Merasa seperti pencuri di kapal yacht milik suaminya sendiri.


Dan, Tasya pun samar-samar mendengar suara aliran air dari dalam kamar.


'Oh! Karina sedang mandi..' tebak Tasya.


Meski sedikit ragu, Tasya akhirnya memberanikan diri untuk masuk dan menunggu Karina di dalam kamar.


Dan, benar saja, suara aliran air dari kamar mandi kian terdengar deras. Menambah keyakinan Tasya kalau sahabatnya itu pastilah sedang mandi.


Tasya lalu duduk di tepi kasur dan menunggu sahabatnya itu selesai membersihkan dirinya.


Lima menit. Sepuluh menit. Lima belas menit Tasya menunggu, Karina masih belum selesai mandi.


Sedikit bersungut karena kesal menunggu, Tasya menyabarkan dirinya. Ia putuskan untuk menunggu Karina beberapa menit lagi saja.


Dua puluh menit. Dua puluh lima menit. Tiga puluh menit.


Tasya akhirnya tak bisa menahan rasa penasarannya atas sahabatnya itu yang dirasa sudah mandi terlalu lama.


Tasya pun beranjak bangun dari pinggiran kasur dan mendekati pintu kamar mandi.

__ADS_1


Suara aliran air semakin kencang terdengar di telinga. Dan Tasya baru akan mengetuk pintu untuk menyapa sahabatnya itu, namun terhenti, kala samar-samar ia mendengar suara gumaman dari dalam kamar mandi.


"Kotor..masih kotor..harus bersih..masih kotor.." itulah suara gumaman yang berhasil Tasya tangkap saat ia menempelkan telinga nya ke daun pintu kamar mandi itu.


Merasa ada yang tak beres, Tasya langsung saja menggeser pintu kamar mandi hingga terbuka lebar. Dan, apa yang dilihatnya sungguh mencengangkan.


Karina dengan tubuh yang telan*jang terlihat meringkuk duduk di bawah air pancuran. Yang mencengangkan Tasya adalah warna kulit Karina kini telah berubah kemerahan di hampir seluruh bagian tubuh nya, mungkin karena terlalu lama sudah ia menggosok nya dengan sikat busa.


Bahkan Tasya juga melihat beberapa luka lecet Karina mengeluarkan darah yang mengucur cukup deras, sementara sahabatnya itu seperti tak sadar dengan kondisi tubuhnya sendiri.


Langsung saja Tasya merangsek masuk ke dalam kamar mandi dan mengambil paksa sikat busa yang dipegang oleh sahabatnya itu.


"Stop, Rin Rin! Kamu berdarah! Jangan mandi lagi! Ayo kita obati luka mu!" Tarik Tasya mengajak Karina untuk berdiri.


Namun Karina menampik tangan Tasya yang memegangnya dan kembali menggosok-gosok tubuh dan lengannya dengan tangan kosong. Sembari terus bergumam, "kotor! Masih kotor! Aku kotor!"


Mendengar racauan sahabatnya itu, membuat dada Tasya terasa sesak sangat. Ia menahan diri dari menangis, dan berusaha kembali mengajak Karina untuk bangun dan keluar dari kamar mandi.


Namun, Karina kembali menampik tangan Tasya dengan kasar. Dan malah mendorong tubuh Tasya hingga ia terjatuh duduk.


Tasya tak menyerah. Meski tubuh dan bajunya kini telah ikutan basah, Tasya tetap berusaha kembali bangkit. Tapi kini ia mematikan terlebih dulu air pancuran. Lalu mengambil handuk yang tersimpan di kabinet.


Dengan perasaan pedih, Tasya menyelimuti tubuh Karina dengan handuk dan berusaha mengeringkan rambutnya perlahan-lahan.


'Lelaki kep*arat itu!' umpat Tasya dalam hati.


"Rin, ini aku Tasy..Anna.." ucap Tasya meralat sendiri panggilannya kepada diri sendiri.


Hingga detik ini, Karina memang belum mengetahui identitas aslinya sebagai Tasya.


Diam. Karina tak menyahut atau pun menggumamkan apa-apa lagi.


Merasa kondisi sahabatnya itu sudah membaik karena tak lagi meracau, Tasya pun menarik bahu Karina untuk bangun dan segera keluar dari kamar mandi.


Namun, ternyata yang dilakukannya itu malah membuat sahabatnya itu jadi tantrum dan berteriak-teriak tak jelas.


"Tidak! Jangan dekati aku! Sakit! Lepas! Lepaskan aku! Kumohon!" Teriak Karina masih dengan posisi tubuh meringkuk dengan tangan yang mengibas ke mana-mana.


Tasya terhenyak. Tak menyangka dengan reaksi Karina yang se dramatis ini.


'Apa yang sebenarnya dilakukan si breng*sek itu pada Karina?! Jangan-jangan...!' batin Tasya bertanya-tanya.

__ADS_1


Setelah keterkejutannya mereda, Tasya kembali mendekati Karina dan langsung saja memeluk sahabatnya itu.


"Karina! Ini aku, Anna! Kamu aman sekarang! Kamu aman!" Teriak Tasya berulang kali.


Sekitar tiga menit kemudian, Karina akhirnya berhenti meracau. Dan ia pun mulai sadar dengan keberadaan Tasya di dekatnya. Dengan suara serak, Karina memandang Tasya sedih.


"Anna..?"


"Ya, Rin Rin! Ini aku, Anna! Kamu aman sekarang.. kamu aman.." balas Tasya dengan suara terdengar yakin.


Dalam hatinya ia menahan pedih atas apa yang menimpa Karina. Sedikitnya, ia mulai bisa menebak apa yang sudah dialami oleh sahabatnya itu saat ia berada dalam sekapan Frans.


'Pemuda breng*sek itu! Sial! Sial! Sial! Kenapa ini harus terjadi pada Rin-Rin?! Kenapa Rin Rin harus mengalami ini?!' batin Tasya berselimut rasa pedih atas apa yang menimpa sahabatnya itu.


Tak lama kemudian, Karina menangis. Ia menangis kencang sekali seraya sesekali berucap, "Anna... Dia.. me..melukaiku...dia.. memaksakan dirinya pa..padaku... Hiks..hiks.."


Dan hati Tasya dirundung pilu kala mendengar penuturan sahabatnya itu. Dengan suara serak, Tasya berusaha mengucapkan kalimat penguatan untuk Karina.


"Ya.. ya.. aku tahu, Rin.. aku tahu.. kita akan balas Frans dengan berkali kali lipat. Atau kita buang saja dia ke tengah lautan. Biar dia dimakan hiu nanti. Kita balas dia ya Rin.. kamu sekarang aman.. kita hadapi semuanya bersama-sama ya.. kamu masih punya aku dan semuanya.. kamu harus kuat ya Rin.." ucap Tasya masih sambil menahan pilu.


Kedua sahabat itu terus saling duduk berpelukan di atas lantai kamar mandi. Hingga perlahan isak tangis Karina menjadi pelan dan semakin pelan hingga tak terdengar lagi.


Saat dilihat, ternyata Karina sudah jatuh tertidur. Mungkin merasa sangat letih atas apa yang dihadapinya seharian ini..


Tasya mengusut ingus nya dengan lengan baju. Ia masih merasa sangat sedih atas nasib Karina.


"Kita harus memindahkan dia segera ke kamar tidur, Sayang.. tubuhnya perlu mendapatkan perawatan.." suara Daffa terdengar tiba-tiba dari muka pintu kamar mandi.


Tasya seketika menoleh, dan mengangguk mengiyakan saran sang suami.


Selanjutnya, dua orang wanita yang sepertinya adalah pelayan, menggotong tubuh Karina ke atas kasur. Masih dalam balutan selimut. Sementara itu Daffa menarik bahu Tasya untuk keluar dari kamar Karina.


"Frans.. sepertinya dia sudah.." Tasya tak mampu melanjutkan kalimatnya. Syukurlah Daffa memahami perasaan istrinya itu.


"Ya, Sayang.. kita akan buat perhitungan pada Frans. Sementara itu, kita harus memenangkan diri terlebih dahulu. Wajahmu terlihat pucat. Baju mu juga basah. Ayo segera ganti baju sebelum kamu kena demam, Sayang.."


Ajak Daffa seraya menarik bahu Tasya menuju kamar mereka kembali.


Namun, baru beberapa langkah mereka beranjak dari kamar Karina, tiba-tiba saja Tasya ambruk dan tak sadarkan diri. Syukurlah Daffa sigap menangkap tubuh sang istri.


"Tasya! Tasya! Bangun, Sayang! Bangun!"

__ADS_1


***


__ADS_2