
~Benih awal suatu hubungan adalah rasa sayang/cinta.
Pupuk nya adalah perhatian yang tulus.
Dan penegak nya untuk tetap berdiri kokoh adalah rasa percaya terhadap satu sama lain.~
***
Keesokan paginya, Anna bangun seperti biasa. Ia shalat subuh berjamaah dengan Daffa, sarapan di rumah dengan hidangan yang sudah Daffa pesan dari restaurant di dekat apartemen, dan berangkat ke kampus dengan diantarkan oleh Pak Kiman bersama Daffa.
Saat masuk ke dalam mobil dan melihat Pak Kiman, Anna tiba-tiba saja teringat kembali dengan percakapannya bersama Daffa saat sarapan tadi pagi.
Flash back on.
"Saya kemungkinan akan pulang larut malam lagi, gak apa-apa ya Ann? Ada beberapa masalah yang terjadi di kantor.." tutur Daffa seraya menyantap nasi omelet nya.
"Apa masalahnya berat?" Tanya Anna spontan.
Daffa tersenyum hangat. Merasa senang dengan perhatian Anna kepada masalahnya.
"Bukan masalah besar kok. Cuma ada sedikit kerusakan di salah satu sistem keamanan yang baru kita launching dua minggu lalu.." sahut Daffa mencoba memberikan jawaban yang menenangkan.
"Oh.. mm.." Anna sempat diam sejenak. Sebelum ia mulai bertanya lagi.
"Daff.. Pak Kiman itu udah lama kerja sama kamu?" Tanya Anna kembali pada topik yang berbeda.
"Sebelum jadi sopir saya, Pak Kiman sudah lebih dulu jadi staf kepercayaan Ayah Zion," tutur Daffa menerangkan.
"Ooh..hmm.. dia.. udah nikah belum, Daff?" Tanya Anna kembali.
Daffa menaikkan sebelah alisnya. Merasa heran dengan keingintahuan Anna terhadap sopir pribadinya itu.
Sementara itu, Anna tergagap berusaha menjelaskan kepada Daffa, saat ia melihat suaminya itu memberinya pandangan heran.
"Err.. aku penasaran aja! Cuma pingin tahu. Habis kelihatannya dia itu tipikal yang humble dan ramah.." jawab Anna asal.
__ADS_1
Daffa masih memandangi Anna lekat-lekat untuk beberapa detik berikutnya. Setelah dilihatnya wajah Anna sudah kemerahan karena malu, barulah ia menjawab pertanyaan istrinya itu.
"Belum. Pak Kiman masih lajang,"
"Di umurnya yang empat puluh tahun itu?! Masih lajang?!" Anna memotong ucapan Daffa secara tiba-tiba.
"Ya. Tapi saya dengar, Pak Kiman akan menikah sekitar tiga pekan mendatang. Kebetulan calonnya juga salah satu staf kepercayaan Ayah Zion yang sudah menjanda," papar Daffa panjang lebar.
'?! Sesuai dengan apa yang kudengar kemarin di warung soto,' Anna membatin dalam diam.
"Anna? You were there (Anna, kamu ada?)" Tegur Daffa kepada Anna. Saat dilihatnya Anna tertegun cukup lama.
"Uh? Yeah. Sorry..cuma lagi ngerasain omelet ini. Enak banget!" Sahut Anna dengan jawaban asal.
Daffa memberikan Anna, senyuman hangat. Ia lalu menjulurkan tangannya ke arah Anna. Lalu mengambil sebutir nasi yang menempel di ujung dagu Anna.
"There is rice (ada nasi). Kalau kamu suka omeletnya, saya pesankan lagi ya?" Tawar Daffa.
"Ah! Enggak. Gak usah! Udah mau kenyang kok!" Sahut Anna buru-buru.
"Maksudnya, makan di saat lapar, dan berhenti sebelum kenyang, begitu?" Ulas Daffa.
"Ya! Begitulah!" Anna tersenyum lebar.
"I see.. " balas Daffa dengan senyuman yang lebih lebar pula.
Flash back end.
Kembali ke saat ini. Saat Anna dan Daffa diantarkan oleh Pak Kiman dengan mobil Bentley nya.
"Hari ini perkuliahan kamu sebenarnya mulai jam sebelas kan? Kenapa kamu mau berangkat pagi-pagi?" Tanya Daffa.
Anna yang masih memandang ke jendela samping mobil, tak menyadari tatapan selidik yang dilayangkan okeh Daffa kepadanya.
"Aku mau jualan donat dulu sampe siang. Sekalian nyerahin bahan mading perpus ke senior. Biasanya juga gitu sih. Kalaupun jam perkuliahan ku siang, aku tetap berangkat pagi-pagi ke kampus," jawab Anna, masih dengan pandangan yang tertuju ke luar mobil.
__ADS_1
"Memangnya profit kamu perboks nya berapa?" Tanya Daffa penasaran.
Anna menengok ke Daffa. Ia pun lalu bercerita.
"Profit per boks nya lima belas ribu. Lumayan lah.. Aku pernah loh habis jualan sampe dua puluh boks donat. Waktu itu ada acara pensi di kampus. Profit yang kudapat bisa sampe tiga ratus ribu!" tutur Anna.
"Lebih untung lagi pas ada acara pesta, atau selamatan besar dari keluarga teman-teman di kampus. Aku bisa dapat profit sampe tujuh ratus ribu untuk 50 boks donat!" Seru Anna kembali dengan berapi-api.
"Ya. Sepertinya memang bisnis yang menguntungkan," Daffa berkomentar dengan tak lupa memberikan Anna senyuman santai nya.
Anna lalu tersadar dengan keadaan dan status Daffa. Terlebih lagi ia teringat dengan kartu hitam yang didapatnya dari Daffa. Di mana dalam kartu itu terdapat simpanan uang yang jumlahnya mencapai dua ribu M.
Menyadari kalau keuntungan hasil jualan donatnya sangatlah kecil bila dibandingkan dengan yang Daffa berikan kepadanya, Anna langsung menunduk malu. Dengan suara pelan, Anna lalu bergumam.
"Tapi tentu saja. Uang yang kamu hasilkan tentu jauh lebih menguntungkan, ya," gumam Anna.
Daffa tergelak melihat ekspresi Anna yang begitu cepat berubah-ubah. Diraihnya bahu istrinya itu dengan lembut, hingga menyandar pada dadanya. Sementara tangannya yang lain menggenggam jemari Anna yang terkepal.
Daffa lalu mencium mesra punggung jemari Anna. Membuat Anna langsung melirik ke kaca spion, untuk melihat reaksi Pak Kiman.
Dan, mata Anna tak sengaja bertemu dengan tatapan Pak Kiman. Anna pun berhasil menangkap kecanggungan di pandangan sopir mereka itu. Walaupun Pak Kiman bergegas kembali memfokuskan pandangannya ke depan.
Meski begitu, Anna tetap merasa jengah dengan perlakuan Daffa kepadanya itu. Anna berusaha untuk menjaga jarak dari suaminya itu. Namun kedua tangan Daffa menahan tubuh dan tangannya untuk tetap berada dalam kurungan lengan dan tangannya.
"Duduklah yang tenang, Ann.." tegur Daffa kemudian, saat Anna masih juga berusaha melepaskan diri.
"Saya bangga punya istri yang senang berwirausaha sendiri. Walaupun saya juga senang kalau kamu lebih bergantung dengan hasil nafkah dari saya, Ann.." ucap Daffa dengan suara yang hampir menyerupai bisikan.
"Kamu gak malu? Kalau aku tetap jualan donat?" Anna bertanya, seraya mendongakkan kepalanya ke atas, tepat ke wajah Daffa.
Daffa balas memandangnya. Lengkap dengan senyuman hangat.
"Kenapa saya harus malu? Toh usaha kamu itu usaha yang halal. I'm proud of you, dear.. (aku bangga padamu, Sayang)" ucap Daffa, sebelum menghadiahi Anna kecupan di kening putihnya, dan berlanjut ke bibir nya.
Di depan kemudi, Pak Kiman sudan sedari tadi menutup partisi yang memisahkan pemandangan ke bagian kursi belakangnya. Ia sudah memperkirakan kalau ia harus membiasakan menutup partisi saat mengantarkan Tuan dan Nyonya Muda nya itu mulai dari sekarang.
__ADS_1
***