Cinta Sang Maharani

Cinta Sang Maharani
Jajan di Situ


__ADS_3

~Tantangan dari Thor, nih!


coba hafalkan kalimat berikut ini:


"Siti makan soto satu sendok di Situ sama Seta"


terus coba kamu ucapin dengan sangat cepat dan berulang-ulang.


...


hati-hati kepleset lidahnya!😂😂~


***


Perjalanan motor yang mesti dilalui Anna tidaklah lama. Hanya sekitar 12 menit lamanya. Ketika Daffa menghentikan motornya, Anna mengetahui pemandangan indah yang dimaksud oleh Daffa.


Begitu turun dari motor, Daffa mengajak Anna berhenti di sebuah lahan kosong yang ramai oleh orang berlalu lalang. Yang menjadi daya tarik kawasan ini adalah sebuah Situ bendungan.


Beberapa pemancing terlihat menjaga kailnya di pinggiran situ itu. Pedagang makanan dan minuman pun banyak yang menjajakan dagangannya di sana.


Daffa lalu mengajak Anna duduk di salah satu bangku kosong yang tersedia di sana.


"Tunggu di sini. Kamu suka cilok? Siomay?" Tawar Daffa pada Anna.


Anna menjawab dengan tersenyum dan anggukan pelan.


"Oke. Sebentar, ya."


Anna menghirup udara segar kawasan Situ. Perlahan ia pun mengawasi pengunjung Situ itu. Kebanyakan adalah mahasiswa. Beberapa juga terlihat keluarga kecil yang terdiri dari ayah, ibu dan anak nya.


Anna kembali menghela napas. Setelah beraktivitas hampir seharian di kampus, rasa-rasanya jalan-jalan sore di Situ ini adalah hal yang menyenangkan.


"Ini. Cobain deh. Siomay di sini adalah yang terenak yang pernah saya makan." Daffa menawarkan sepiring siomay kepada Anna. Ia lalu duduk di samping Anna dan memakan siomay yang ada di tangannya.


Selama beberapa waktu berikutnya, Anna dan Daffa memakan siomay mereka dalam diam.


"Gimana, enak kan?" Tanya Daffa tiba-tiba.


"Mm...." Anna menyelesaikan kunyahannya terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan Daffa. "Iya. Ini memang enak."


"Selain siomay, jajanan lainnya juga-- uhuk! Uhuk! Uhuk!" Daffa tiba-tiba tersedak.


Anna merasa panik saat melihat tak ada minuman untuk diberikan pada Daffa. Lalu ia ingat kalau ia membawa air mineral botol dalam ranselnya.


Anna pun bergegas mengambil botol air itu, membuka tutupnya, dan menempelkannya ke mulut Daffa.


"Minum ini. Pelan-pelan!" Anna memperingatkan.


"Gulp.. gulp.. gulp.. terima kasih!" Ucap Daffa beberapa detik kemudian.


"Lain kali, habisin dulu kunyahannya. Baru ngomong!" Tegur Anna.


Daffa tersenyum malu. "Saya terlalu bersemangat untuk cerita ke kamu. Jadi.."


Anna mengulum senyum. Selama beberapa waktu, tak ada percakapan di antara keduanya. Keduanya asik menikmati kebersamaan mereka dalan keheningan menikmati udara sore Situ. Anna lah yang pertama kali memecah keheningan itu.


"Kamu banyak ngasih kejutan ke aku hari ini, Daff."


"Hm?"

__ADS_1


"Pertama, aku gak nyangka kalau kamu bisa naik motor. Tahu-tahu kamu datang bawa motor. Moge pula. Itu motor kamu?"


"Hei. Semua lelaki itu sejatinya adalah rider. Jadi gak mungkin gak bisa naik motor. Dan ya. Itu motor saya. Namanya Felix. Cantik ya?"


Anna memandang Daffa aneh.


'Ucapannya tentang semua cowok adalah rider mungkin ada benarnya juga,' Anna bermonolog.


"Dan kenapa kamu bisa ngira kalau saya gak bisa naik motor?" Daffa menuntut penjelasan Anna.


"Well.. kamu.. terlihat seperti.." Anna terdiam. 'Orang yang terlalu kaya untuk naik motor,' lanjut Anna dalam hati.


Daffa seolah mengerti apa yang ada di benak Anna. Ia pun tak memaksa Anna untuk melanjutkan kalimatnya.


"Lalu, apa lagi yang membuatmu terkejut tentang saya?" Tanya Daffa kembali.


"Tempat ini. Kamu kok bisa tahu tempat yang 'merakyat' seperti ini. Dalam pandanganku tentangmu, kamu tuh kayak yang biasa makan di tempat-tempat semacam resto atau hotel bintang lima," Anna menjelaskan.


Daffa menaikkan sebelah alisnya.


"Lihat deh outfit kamu... Aku tahu semua pakaian branded yang kamu pakai itu gak murah. Jadi jelas, kamu bukan orang biasa. Aku gak salah kan?"


Daffa menatap Anna dalam diam. Dan Anna balas menatapnya dengan berani, walau hanya untuk beberapa detik. Karena beberapa detik kemudian, Anna menunduk malu.


"Apa status kekayaan saya jadi pertimbangan kamu untuk menikah dengan saya?" Tanya Daffa kemudian dengan hati-hati.


Ia sangat berharap kalau Anna bukan seperti wanita lain yang kebanyakan memandang materi dibanding nilai pribadi.


Anna yang ditanya, kembali menatap Daffa. Ia menggeleng, sebagai jawaban darinya untuk pertanyaaan Daffa barusan. Dan, dengan nada lebih lembut ia mengungkapkan apa yang mengganjal di hatinya.


"Kenapa kamu memilihku, Daff?"


"..." Anna ikut terdiam. Menunggu penjelasan Daffa.


"Bukan saya yang memilih kamu, Anna. Tapi takdir lah yang memilih saya untuk menjaga kamu. Sulit untuk menjelaskan hal ini ke kamu."


"Tapi saya harap kamu bisa percaya kalau saya gak ada maksud lain selain ingin menjaga kamu dari bahaya. Terutama dari kondisi keluargamu seperti sekarang ini." Daffa memandang Anna tanpa berkedip.


Anna tak kuasa menahan pandangan mata Daff. Dan ia kembali menatap bendungan air situ yang tampak tenang di hadapannya itu.


"6 bulan." Ucap Anna tiba-tiba.


"?"


"Aku akan menikahimu selama 6 bulan. Jika setelahnya kamu merasa bosan untuk menjagaku, kita akan berpisah."


"Satu tahun. Enam bulan terlalu singkat buat saya. Beri saya waktu satu tahun!" Daffa menawar pada Anna.


Dalam hatinya ia membatin, 'akan saya buktikan kalau perasaan saya tulus sama kamu, An. Semoga kamu pun bisa memiliki perasaan yang sama seperti yang saya miliki terhadapmu.'


"... Oke. Tapi ada beberapa hal yang ingin aku tegasin ke kamu, Daff. Kuharap kamu konsis soal janji di awal kamu yang membolehkan aku untuk mengajukan syarat."


"Silahkan!" Seru Daffa.


"Pertama, aku mau kamu gak maksain aku untuk ngelakuin hal-hal yang gak aku mau."


"Oke."


"Kedua, aku mau kamu gak ikut campur soal privasi ku lagi. Maksud aku, jangan nguntit aku lagi."

__ADS_1


"...oke."


"Ketiga, aku harap pernikahan kita gak perlu dibesar-besarin. Kamu gak perlu bawa-bawa keluarga kamu."


"Memangnya kamu tahu siapa keluargaku?" Tanya Daffa memotong ucapan Anna.


Yang kemudian dijawab langsung oleh Anna dengan gelengan kepalanya. "Enggak tahu."


Anna diam sejenak. Lalu melanjutkan, "Tapi aku gak siap untuk ketemu keluarga kamu. Toh pernikahan kita hanyalah kontrak semata," Papar Anna.


Mendengar kalimat barusan Anna, meninggalkan nyeri di hati Daffa. Sebenarnya ia tak ingin menyertai pernikahan mereka dengan embel-embel perjanjian/kontrak. Tapi jika hanya itu yang bisa membuat Anna mau menikahinya, ia akan menyanggupinya.


"Oke. Jadi maksud kamu, pernikahan ini cukup kita dan keluargamu yang boleh tahu?" Tanya Daffa untuk memperjelas.


"..Ya.. kira-kira begitu. "


"Tapi bagaimana kalau pernikahan kita tak sengaja diketahui oleh orang lain? Apa perjanjian kita semuanya batal?" Tanya Daffa kembali memperjelas.


"Itu.. kurasa gak apa-apa. Tapi aku harap sebisa mungkin kita merahasiakan pernikahan ini dari tersebar ke orang banyak."


"..Saya akan mempertimbangkan usulan ini. Tapi Anna, saya jelas tak akan bisa merahasiakan soal pernikahan kita pada keluarga inti saya. Bagaimana jika mereka hendak menjodohkan saya dengan wanita lain?"


"Itu.. oke. aku ralat. Keluarga inti kamu boleh tahu soal pernikahan kita."


"Juga beberapa sahabat terdekat saya," sambung Daffa kembali.


Anna memelototi Daffa. Merasa kesal dengan usaha pemuda itu untuk merubah peraturannya hingga mengikuti kemauannya.


Selama beberapa detik, keduanya beradu tatap. Hingga akhirnya Anna putuskan untuk mengalah.


"Oke. oke. Cukup keluarga dan teman dekat kita aja yang boleh tahu."


"Ya.." sahut Daffa dengan wajah seperti habis memenangkan sesuatu.


"Terakhir, aku mau ada perjanjian tertulis di antara kita yang isi klausulnya berlaku cuma sampe 1 tahun aja," lanjut Anna.


"Oke."


"..."


"Udah?"


Dan Anna mengangguk pelan.


"Sekarang giliran saya. Saya cuma mau kamu bisa nerima semua tindakan preventif saya yang bertujuan untuk melindungi kamu," Jelas Daffa.


"..Deal."


"..Deal."


Selama sejenak, keduanya terlihat asik dengan isi pikirannya masing-masing.


Sampai kemudian, Anna kembali menanyakan sesuatu.


"Kapan kita akan menikah?"


Dan Daffa menoleh ke Anna. Ia tersenyum tipis dan menjawab dengan nada penuh keyakinan. "Sekarang juga, bisa".


***

__ADS_1


__ADS_2